Cintai Aku Adikku

Cintai Aku Adikku
Digrebek satpam


__ADS_3

Garvin bingung harus menyampaikan bagaimana lagi pada Maura. Jika calon suaminya bukanlah pria baik - baik yang difikirkannya. Ingin rasanya Garvin membuka kebusukan Jo di depan Maura namun dirinya akan bersabar lebih dulu agar Jo mendapatkan ganjaran atas apa yang di perbuatnya.


Biarlah rahasia yang hendak dibocorkannya di depan Maura berusaha ditutupinya kembali. Toh, takkan seru jika tak mempermalukan Jo di depan keluarga besarnya.


" Apa yang buat bapak berfikir jika Jo tak pantas untukku? Apa karna bapak masih belum mampu melupakanku." Timpal Maura bersedekap dada tanpa memandang ke arah Garvin yang mulai menjalankan mobilnya.


"Cihhh.... Percaya diri sekali kamu bocah." Ujar Garvin menonyor pelan dahi Maura dari samping membuat Maura kembali terhuyung ke belakang.


Maura mengusap dahinya yang dirasa lumayan panas dengan perlakuan Garvin barusan. Bibirnya mencebik ketika nama bocah disematkan untuknya, ingin memukul tetapi teringat jika saat ini Garvin tengah mengemudi.


"Bocah- bocah gini banyak pria yang naksir bahkan gak mau ditinggal." Sergah Maura kembali bersedekap dada dengan melirik ke arah Garvin dengan ekor matanya.


Garvin menoleh sekilas ke arah Maura dengan decihan pelan. Bahkan Garvin tak henti- hentinya tersenyum setelah Maura berucap seperti itu. Terlalu percaya diri mungkin itulah yang di fikirkan Garvin.


"Nyindir atau gimana bocah? " Tanya Garvin dengan kekehan pelan.


"Kagak nyindir, ya kalau situ merasa berarti kan... Ya gitu deh. Males aku yang mau ngomong." Sahut Maura mencari posisi yang nyaman ketika dirinya merasakan ngantuk.


"Lah situ yang mulai , kenapa dia juga yang males" batin Garvin melirik sekilas ke arah Maura, Mata sayunya membuat Garvin mengerti kenapa Maura males berbicara.


"Pantesan males ngomong, Udah melek merem tuh mata. Gemes pingin digigit." Batin Garvin lagi menggeleng- gelengkan kepala sembari terkekeh geli.


Ketika tak ada masalah dengan Maura, Garvin rasa hubungannya takkan renggang karena statusnya. Bahkan bisa jadi lebih hangat dan jangan lupa perasaannya akan sangat susah untuk move on. Entah siapa yang salah diantar keduanya ketika saling marah bahkan tak bertegur sapa.

__ADS_1


Tetapi jika Maura dan Garvin bersama, Semuanya akan damai walaupun ada perasaan yang harus dibatasi. Menurut Garvin pribadi, Hubungannya dan Maura masih normal- normal saja karena status mereka hanya saudara tiri. Namun kekeras kepalaan Maura membuat Garvin pasrah dan menerima segala kemauan sang wanita. Dan untuk melupakan, Jangan harap dilakukannya oleh Garvin karena itu semua mustahil terjadi.


Apalagi bertahun- tahun lamanya Garvin memendam perasaan tersebut. Jika untuk melupakan itu takkan bisa dan sangatlah sulit.


"Hentikan panggilan konyol mu Maura, Panggilah seperti biasanya" Timpal Garvin yang melihat tubuh Maura bergerak.


"Kan lu yang minta dipanggil bapak. Udah tua pantes kok. " Timpal Maura dengan mata terpejam, seperti tanpa sadar berucap seperti itu.


Mata Garvin mendelik mendengar penuturan Maura. Hingga tiba dibasement apertement Maura, Garvin kembali memiringkan tubuhnya agar bisa melihat Maura dengan gamblangnya.


"kamu tidur bisa nyakitin aku apalagi kalau sadar, pastinya lebih sakit sayang." Timpal Garvin mengusap lembut pipi Maura.


Cuppp...


"Aku teramat mencintaimu Maura" ucap Garvin pelan sembari menyatukan dahinya dengan dahi Maura.


Tokkk... tokk....


Garvin yang hendak mencium kembali pelipis Maura harus diurungkannya kala ketukan pintu mobil disebelah kananya bersuara. Ya, Satpam penjaga apertement Maura yang mengetuk. Maksut dirinya sangatlah baik ketika seseorang yang baru saja tiba di basement apertement tak kunjung keluar dalam mobilnyan. Sang satpam mengira telah terjadi apa- apa didalam sana hingga dirinya memutuskan mengetuk pintu mobil tersebut. Untung kaca mobil milik Garvin tak tembus pandang, bisa- bisa digrebek satu apertement pikir Garvin.


Garvin menurunkan kaca mobilnya karena Sang satpam terus saja mengetuk kaca mobil miliknya. Garvin takut jika tidur Maura harus terganggu oleh ketukan satpam laknat tersebut.


"Ada apa pak? " Tanya Garvin memicingkan matanya ke arah Sang satpam ketika mata satpam tersebut seperti tengah menggeledah isi mobilnya.

__ADS_1


"Kenapa anda tidak keluar tuan, Bukannya sudah sedari tadi anda memparkirakan mobilnya disini. Atau anda akan berbuat hal yang aneh- aneh sama mbaknya ya?" Celtuk Satpam yang bernama Tejo di seragam bagian kanannya. Si satpam menerka- nerka ketika melihat lawan jenis bersama di dalam satu mobil. Apalagi kalau bukan begituan fikir Tejo sembari berisik ngeri.


"Anda lihat mata saya merah pak? " Tanya Garvin menunjuk matanya yang memang sudah memerah.


Sang satpam hanya mengangguk sembari menelisik mata yang ditujukan Garvin. Namun begitu dirinya sangat tak mengerti dengan apa yang diucapkan Garvin. Sungguh sangat jauh pembahasannya menurutnya.


"Kalau mata saya merah berarti saya baru saja tidur juga disini pak, Apa ada hak yang membenarkan ucapan bapak disini. Ohh atau bapak mau saya kasuskan ke pihak berwajib atas tuduhan pencemaran nama baik dan mengganggu kenyamanan penghuni apertement ini. " Sergah Garvin sembari membuka pintu mobilnya dengan perlahan agar tak membangunkan putri tidur didalam mobil.


Sang sopir tak berkata- kata lagi tetapi kepalanya menggeleng- geleng sembari mengangkat kedua tangannya. Terlihat seperti buronan yang baru saja tertangkap oleh polisi.


"Saya minta maaf Pak, Maaf atas kekeliruan saya. Saya mohon jangan laporkan saya ke polisi, karena saya masih harus menghidupi anak dan istri saya di kampung pak." Seru Sang satpam mengatupkan tangannya di depan dadanya tak lupa sesekali membungkuk agar Garvin mau memaafkannya.


"Kak Garvin. " Panggil seorang pria yang baru saja keluar dari dalam mobil mewahnya. Dirinya memberanikan diri menyapa Sang calon kakak iparnya walaupun calon iparnya tersebut seperti sangat membencinya. Entah hal apa yang mendasari Garvin tak menyukai Jo. Tetapi Jo merasa bodoh amat karena Maura sudah mau bersanding dengannya.


Sontak saja Garvin dan satpam yang tengah membungkuk di hadapan Garvin menoleh ke arah Jo yang baru saja tiba. Garvin mendengus kesal melihat pria yang sangat dibencinya kini berada dihadapannya.


"Bajingan ini ngapain ada disini. " Batin Garvin mengepalkan tangannya di balik jas mewahnya. Ingin sekali menghajar wajah sok tampan Jo namun dirinya selalu menahannya.


Dirinya tak mau membuat keluarganya malu dengan tindakannya. Biarkan nanti Jo sendiri yang akan menanggung akibatnya jika waktunya sudah tiba.


"Apa kakak tau keberadaan Maura? " Tanya Jo memegang bahu Garvin yang enggan melihat ke arah Jo.


"Kenapa? " Tanya Garvin datar tanpa melihat wajah Sang calon adik ipar tersebut.

__ADS_1


__ADS_2