
Pada malam harinya di rumah mewah keluarga Lubis tengah melakukan ritual makan malamnya. Richard sebagai kepala keluarga membiasakan keluarganya tak berbicara ketika makan berlangsung. Hanya suara dentingan sendok dan Garbu saling bersahutan.
"Jo, Jangan masuk ke kamar dulu. Papa mau bicara denganmu." Ucap Richard kala usai dengan makan malamnya sembari mengelap sudut bibirnya dengan tisu.
Jo dan Claudia istri dari Richard Lubis nampak saling pandang karena tak biasanya sang papa mau berinteraksi dengannya walaupun dalam keadaan mendesak. Jo hanya mengangguk mengiyakan ucapan Richard.
"Pa, tadi mama bertemu dengan Sherly. Apa iya anaknya Sherly itu yang akan dijodohkan dengan Jo?" Tanya Claudia dengan suara lemahnya, Dirinya memang tak tau menau tentang perjodohan yang akan dilakukan suaminya.
Bukannya tak menyayangi Jo namun penyakitnya yang membuatnya dilarang berfikir keras oleh dokter yang menanganinya. Sampai- sampai hal terpenting untuk anaknya sendiri tak ada yang memberi taunya.
Uhukkk....uhukkk....
Richard spontan terbatuk ketika mendengar sang istri menyebut nama wanita yang selalu dihindarinya. Kapan sang istri bertemu dengan Sherly, hingga perkataan seperti itu terucap dari bibir wanita terccintanya.
"Pa? " Panggil Claudia lagi ketika Richard malah melamun dan tak menyahutinya.
" Mama, Ketemu dimana sama Sherly?" Bukannya menjawab , Richard malah balik bertanya.
"Tadi aku gak sengaja ketemu dia di mall pa, Mama sumpek di rumah jadi ngajak Runi keluar." Timpal Claudia dengan suara lemahnya.
"Dia ngomong apa aja sama mama?" Cecar Richard mendorong kursi roda yang diduduki Claudia ke arah teras depan, Menjauh dari Jo yang masih terduduk di meja makan.
Claudia menggeleng bahwa tak banyak yang dibicarakan antara dirinya dan Sherly. Hanya membahas tentang perjodohan yang segera dilakukan oleh Jo dan Maura putrinya.
__ADS_1
Richard berjongkok di depan sang istri tak lupa jari lemah tak bertenaga itu di genggamnya dengan penuh cinta. Merasa bersalah dirinya ketika belum sempat membicarakan perihal perjodohan ini. Apalagi Eglar sudah mengundang keluarganya untuk bertamu ke rumahnya.
"Ma, Maaf. Bukannya papa mau menyembunyikan berita gembira ini dari mama. Tapi papa takut mama bersikeras berfikir dengan kelangsungan acara Jo. Mama tak perlu turun tangan, Papa gak mau mama kenapa- kenapa" Tutur Richard dengan tangan satunya membelai wajah pucat istrinya. Walaupun dirinya di jodohkan dengan Claudia, tetapi sebisa mungkin Richard menghargai Claudia layaknya istri yang sesungguhnya.
"Iya mama mengerti pa, papa lakuin itu semata- mata menjaga mama agar tak berfikir terlalu berat. Makasih ya sudah mau menjaga mama dan bertahan dengan mama dengan kondisi seperti ini." Sahut Claudia membalas genggaman tangan Richard.
"Ayo masuk pa, Kasian Jo menunggu kita." ucap Claudia lagi ketika mengingat jika tadi Richard dan Jo ada hal yang harus di bahas berdua.
Richard mengangguk dan kembali mendorong kursi roda milik Claudia masuk kedalam rumahnya. Dari jarak jauh bisa dilihat Jo yang masih setia terduduk di meja makan nampak tersenyum sembari melihat handphone pintarnya. Entah apa yang dilihatnya hingga membuat Jo tersenyum sendiri.
"Anak mama kenapa hmmm? Kok senyum sendiri."Tanya Claudia kala Jo masih tak sadar kehadiran orang tuanya.
"Ehh mama, Ini nih mah lagi chatingan sama Quenn." Sahut Jo tergugup ketika terpegok oleh mama dan papanya tak lupa mengusap ceruk lehernya yang tak gatal saking malunya.
Jo tersenyum samar ke arah Claudia hingga membuat Claudia yang melihatnya nampak kesal. Claudia berfikir jika Jo tak mendengarkannya karena sikap Jo yang dibalas dengan senyuman yang menyebalkan menurut Claudia.
Jo berdiri dari duduknya dan melangkahkan kakinya ke arah Claudia dan Richard. Jo berjongkok di depan sang mama tak lupa senyuman yang terus saja mengembang di bibirnya.
"Jo, Dengar yang mama ucapkan atau tidak? "Ujar Claudia lagi tak lupa tangannya menjewer teling Jo agar ucapannya bisa didengarnya.
"Aw ma.... Sakit. Iya aku udah dengerin ma." Sahut Jo menggosok telinganya yang lumayan panas akibat jeweran sang mama. Richard yang menyaksikan hanya bisa tersenyum simpul menyaksikan tingkah istri dan putranya.
"Ma dengerin, Queen itu Maura ma dan Maura itu.... Awww....." pekik Jo lagi kala telinganya kembali di jewer oleh Claudia.
__ADS_1
"Tadi Queen sekarang Maura, Mau sampai kapan kamu mempermainkan wanita Jo. Berhentilah nak, mamamu ini juga wanita. Hormatilah wanita seperti kamu menghormati mamamu ini," Ucap Claudia lagi Kembali melepaskan jeweran kedua kalinya pada telinga Jo. Air matanya menetes ketika melihat Jo tidak bisa merubah tabiat buruknya tersebut. Claudia merasa gagal membimbing Jo hingga membuat Jo mengambil jalan yang salah seperti saat ini.
Richard yang melihat bahu Claudi bergetar , spontan saja berjongkok di samping Jo. Dirinya tak mau jika rasa sakit yang dialami Claudia bertambah parah hanya karena masalah sepele yang dimiliki Jo.
"Sayang, Dengerin Jo dulu. Jo sudah berubah sayang. Maura itu adalah putri kandung dari Sherly dan Alex." Ujar Richard dengan malas menyebutkan nama dua orang di akhir kalimatnya.
Namun dirinya terpaksa mengatakan itu agar Claudia tak berprasangka buruk lagi pada Jo.
"Iya ma, Aku manggil Maura Queen. Apa mama melupakan gadis kecil yang cantik ketika papa masih dinas di semarang ma.Dia orangnya ma, Queenku sudah ketemu." Papar Jo sangat antusias menceritakan Queennya pada sang mama.
"Benarkah Jo, Apa mama bisa melihatnya Jo." Seru claudia juga nampak antusias dengan sosok gadis yang bisa membuat putranya hilang akal.
Jo merogoh saku celananya dan menampakkan foto Maura di hadapan Claudia. Dengan tangan gemetar , Claudia mengambil ponsel milik Jo dengan netra terfokus pada foto gadis cantik yang tengah tersenyum ke arahnya.
Deggg....
Jantung Claudia berdetak cepat ketika netranya tak henti- hentinya menelisik foto Maura. Ada yang aneh dengan perasaannya ketika melihat foto tersebut. Entah itu apa namun sanggup membuat Claudia seperti ada magnet pada diri gadis tersebut untuknya.
"Dia cantik sekali Jo, apa mama bisa bertemu dengannya." Tanya Claudia sangat antusias tak lupa pandangannya tak lepas dari ponsel tersebut.
"Tentu sayang, Besok kita akan melamar Maura untuk Jo dan kamu wajib ikut." Bukan Jo yang menjawab melainkan Richard yang merasakan tersayat melihat antusiasnya Claudia.
"Benarkah, baiklah mama akan mempersiapkan diri untuk bertemu dengannya. Dan untuk kalian berdua, Silahkan ke ruang kerja papamu Jo. Mama akan membuat sesuatu untuk calon mantu mama." Timpal Claudia, menjalankan kursi rodanya seorang diri. Meninggalkan Richard dan Jo yang masih setia berjongkok di lantai.
__ADS_1
Bersambung....