Cintai Aku Adikku

Cintai Aku Adikku
Predikat menjijikkan


__ADS_3

Maura merutuki kebodohannya karena telah bertanya sesuatu yang membuat hatinya kembali terusik. Dengan tatapan mengarah kedepan dan kosong, Hingga dirinya tak mendengar apapun ucapan Garvin yang masih setia disebelahnya.


Bukannya kebingungan melihat tingkah Muara yang seperti itu, Wajah tampan tersebut terukir sebuah senyuman yang samar. Tak dipungkiri jika hatinya bahagia melihat tingkah menggemaskan Maura saat ini.


"Ngapain bengong aja, Gak percaya kala kakakmu ini sudah sangat handal membuat anak." Ujar Garvin mengusap bahu Maura dengan lembutnya, namun hal itu sanggup membuat Muara terjingkat kaget.


Sebenarnya Garvin sangat enggan memanggil dirinya sebagai seorang kakak bagi Maura . Tetapi apa mau di kata, karena memang faktanya sekarang Maura adalah adik tirinya.


Maura mendelikkan matanya ke arah Garvin ketika dengan percaya dirinya Garvin membanggakan predikat yang sangat menjijikkan menurut Maura. Tak taukah Garvin, Bahwa sekarang ini hati Maura tengah teriris mendengar pengakuan gamblangnya fikir Maura.


"Bodo, Sana pergi dari kamar gua." Ujar Maura mendorong dada Garvin hingga membuat tubuh kekar itu terhuyung ke belakang.


"Bodo juga, Gua gak mau keluar dari sini." Sahut Garvin tak memperdulikan cecaran gadis yang hampir saja meneteskan air mata di depannya ini.


Penglihatan Garvin tak lekang dari wajah Maura yang saat ini melihat ke arahnya . Mungkin jika Maura tak mengusirnya dengan kasar, Garvin tak dapat melihat setetes cairan bening itu meluncur di pipi gadisnya.

__ADS_1


Wajah Garvin berubah sendu ketika Maura kembali membelakangi. Garvin bahkan tau jika Maura tengah mengusap kasar air matanya dengan telapak tangannya. Mungkin Maura berfikir dengan cara membelakangi Garvin, Garvin takkan bisa melihat kerapuhan pada dirinya. Namun faktanya, Semua sudah terlanjur dan tingkah Maura membelakangi Garvin hanyalah sia- sia hanya karna takut ketahuan jika dirinya dalam keadaan tak baik- baik saja.


"Maura kamu kenapa?" Tanya Garvin mencoba membalikkan tubuh Maura agar melihat ke arahnya.


Dengan keras kepalanya juga, Maura sangat enggan melihat ke arah Garvin. Maura takut jika Garvin berfikir yang macam- macam tentang dirinya ketika melihatnya menangis di depan matanya.


"Gak apa kak, lu pergi aja dari kamar gua." Sahut Maura tanpa melihat ke arah Garvin namun tangannya menunjuk ke arah pintu yang terbuka. Berharap Garvin mendengarkan kemauannya dan pergi dari sisinya.


"Mana mungkin aku pergi dengan keadaanmu saat ini, aku ada salah sampai membuatmu membelakangiku seperti ini" Papar Garvin yang terus saja bertanya, Berharap Maura berterus terang dan membuang egonya.


"Oke, Fine. Kamu jijik sama aku, Aku gak masalah. Dan camkan omonganku Maura Alexio, Lambat laun kamu akan berkali- kali lipat rasa jijiknya pada calon suamimu. Dan jika itu terjadi, Berdoalah jika rasa sayangku padamu masih ada walaupun sebutir debu." Papar Garvin dengan rahang mengeras dan tangan terkepal. Dirinya dengan cepat melenggang pergi dari kamar sang adik sebelum emosinya meluap dan menghancurkan rencanannya yang sudah disusun dengan matang.


"Jo orang baik, Jadi bermimpilah jika nanti aku akan mengemis cinta padamu tuan." Teriak Maura kala punggung Garvin menghilang , didengar atau tidaknya oleh Garvin tak membuat Maura berfikiran menyusul dan berucap di depannya.


"Apa yang disembunyikan kak Garvin, Apa iya Jo bejat melibihi kak Garvin." Fikir Maura bertanya- tanya setelah dirinya menutup bahkan mengunci pintu kamarnya.

__ADS_1


"Plis Ra, Berfikir positif. Mungkin aja kak Garvin ngomong gitu karna ada alasan tersendiri. Bisa jadi kak Garvin udah ada rencana buat ngebatalin pernikahan gua. Gak boleh di biarin nih, Gua harus minta saran nih sama para oncom." cecar Maura lagi berjalan mondar - mandir seperti setrikaan. Mungkin saja jika ada yang melihat kelakuan Maura akan pusing dibuatnya.


Ponsel pintar sudah berada di genggamannya, Namun niatnya di urungkannya ketika mengingat sesuatu tentang salah satu sahabatnya. Tak myngkinkan jika Maura mengabari para sahabatnya lewat grub, pastinya Arin akan tau apa yang tengah di perbincangkan. Apalagi ini kasusnya ada sangkut paut tentang Arin juga.


Maura melempar ponsel pintarnya diatas kasur dengan kasarnya. Biarlah besok dirinya akan menghubungi sahabatnya satu persatu. Dan mengajak mereka hangout sekalian menghilangkan raaa kangen setelah beberapa hari tak bertemu karena kesibukan masing- masing.


Maura menelentangkan tubuhnya di atas kasur sembari menatap lekat atap kamarnya. Dimana dalam pandangannya , Munculah sesosok pria tampan yang selalu dipujanya di kampus . Hingga pada hati kelulusannya, Si pria itu datang padanya dan berbasi- basi bersama ketiga temannya. Dan finalnya, Terjadilah pengungkapan perasaan dari diri sang pria pada gadis yang juga memujanya. Tak pernah sekalipun terbayangkan jika pria yang di idolakannya mempunyai perasaan yang sama padanya. Kemungkinan perasaan si pria jauh lebih besar dari dirinya karena pada waktu itu, Maura hanya berfikir jika dirinya hanya kagum saja pada sosok tersebut.


Ya, Bayangan Garvin kembali muncul lagi dengan segala kekecewaan yang ada. Menyesalpun percuma karena telah mengagumi sosok pria bejat seperti Garvin fikir Maura. Namun mengapa sangat sulit melupakan pria bejat macam Garvin, Bukankah sudah dua bulan lebih dirinya memutuskan hubungan meskipun kadang- kadang dirinya dan Garvin satu rumah.


Kemungkinan besar jika status mereka tak berubah menjadi seorang adik kakak. Hubungan asmara keduanya masih berlanjut hingga saat ini. Dan yang membuat Maura bersyukur atas kejadian ini adalah ketika keburukan Garvin terungkap. Jika Maura tak mengetahui keburukan Garvin kemungkinan kekecewaannya berkali- kali lipat ketika dirinya tau.


"Pliss Ra, jangan nangis. Lu gak guna nangisin lakik modelan kakak lu yang sok itu. Pliss cukup, ini air mata terakhir yang lu keluarin buat nangisin dia." Papar Maura mengusap air matanya dengan kasar, Mencoba menetralkan hatinya yang mulai acak kadut karena ulah Garvin.


"Gak nyangka sih kenapa kak Garvin tega gitu menjalin hubungan sama Arin. Dia kan udah tau kalau gua dan Arin sahabatan. Masak gak ada lagi wanita di dunia ini selain sahabat gua. Gak laku kali ahhh......" Ujar Maura menutupi wajahnya dengan selimut, Yang tadinya ingin menguatkan hati namun pada kenyataannya air matanya dengan kurang ajarnya kembali merajalela.

__ADS_1


Berteriak dan menangis adalah salah satu cara seorang wanita agar masalahnya susah untuk dihadapinya. Apalagi Maura adalah sosok gadis yang anti menceritakan permasalahannya kepada orang lain. Yang dulunya selalu terbuka dengan sang mama namun kini entah mengapa merasa asing pada sosok tersebut, Perubahan yang seknifikan fikir Maura.


__ADS_2