
Maura nampak bahagia kala papa Eglar mau menuruti kemauannya, dan yang membuat Maura bahagia adalah sang papa telah menyiapkan Apertement untuknya selama tidak tinggal di rumah. Sungguh papa yang sangat pengertian bukan walau hanya papa tiri tapi kasih sayangnya sungguh luar biasa.
"Syarat dari papa, kamu harus tinggal di apertement pemberian papa. Dan jika kamu menolak jangan harap papa izinin kamu pergi dari rumah ini." Ujar Eglar yang membuat Maura senang bukan main. Apalagi dirinya sudah disediakan tempat tinggal oleh sang papa jadi dirinya tak perlu bingung mencarinya.
Dengan bersiul ria Maura membuka jubah mandinya kesembarang arah. Dirinya terlalu senang sehingga tak tau menau siapa yang telah masuk kedalam kamarnya.
Maura dengan santainya memasang pakaiannya di depan cermin namun ketika hendak memasang kancing di bajunya. Tiba- tiba penglihatannya nampak serius melihat ke arah cermin. Sesosok pria berjas tengah duduk dipinggiran ranjangnya.
Sontak saja Maura membalikkan badannya dan benar saja sosok pria asing tengah mengamati dirinya.
"S-iapa kamu.?" Tanya Maura dengan suara meninggi tak lupa dirinya nampak was- was kala pria tersebut malah menghampirinya.
"Kamu siapa.?" tanya Maura lagi namun kini dengan suara pelan karena pria itu sudah berdiri tepat dihadapannya.
"Kamu indah sekali Queen." Ujar Pria berparas tampan itu sembari mencoba membelai wajah Maura. Namun dengan gesit Maura menghempaskan tangan pria itu sebelum menyentuh kulit wajahnya.
"WOow... Galak sekali dirimu queen. Padahal dulu kamu sering sekali memintaku untuk memegangmu." Sergahnya lagi dengan memasukkan tangannya ke saku celananya namun matanya tak sekalipun beralih menatap Maura.
"Gila..." Bentak Maura mendorong tubuh Pria itu dengan kasar karena tubuh pria itu semakin menghimpit tubuhnya di depan meja rias. Maura risih dengan kelakuannya hingga tanpa aba- aba Maura mendorong tubuh itu hingga terhuyung ke belakang.
Hal itu membuat Maura bergegas melarikan diri menuju pintu keluar. Namun baru saja memegang handle pintu, tiba- tiba tangannya di tarik lagi oleh pria itu dan didekapnya.
"Brengsek lepasss..." umpat Maura memberontak dalam dekapan pria itu, Maura enggan dipeluk seperti ini apalagi dalam keadaan di paksa.
__ADS_1
"Lepass... Tolonggg......" Teriak Maura sembari kakinya menendang- nendang pintu yang ada dibelakangnya. Namun tangan pria tersebut malah membekap mukutnya apalagi pelukan itu semakin erat saja.
Brakkkk.....
Ketika Garvin akan turun ke bawah , ia harus melewati depan kamar Maura. Dan seketika tubuhnya mematung kala mendengar berbagai umpatan dari Maura. Garvin berfikir bahwa Maura tengah berbicara lewat telvon bersama teman- temannya sehingga Garvin kembali melangkahkan kakinya ke arah tangga.
Namun dipersekian detik, Garvin berbalik kala umpatan Maura semakin nyaring dan di tambah lagi gedoran pintu yang lumayan keras. Tanpa pikir panjang lagi Garvin mendobrak pintu itu dengan semua tenagannya.
Pemandanga pertama yang dilihat Garvin begitu pintu terbuka sempurna. Maura dalam dekapan seorang pria yang memakai pakaian formal dan dengan mulut Muara yang di bekap oleh pria tersebut.
"Siapa kamu?." Tanya Garvin semakin mendekatkan dirinya pada pria yang tengah mendekap Maura.
"Jangan ikut campur urusanku brother, pergilah karena kamu takkan mengerti." sergah pria itu membelai wajah ayu Maura yang semakin membuat Garvin meradang.
Garvin menonjok pria itu dengan penuh kemarahan, Apalagi melihat Maura yang nampak tertekan dalam dekapannya.
Pria itu memudurkan tubuhnya beberapa langkah kala pukulan Garvin mengarah pada pelipisnya. Hingga pegangan dan bekapannya pada Maura harus terlepas karena rasa sakit yang luar biasa.
"Kamu gak apa- apa." tanya Garvin menangkup wajah Maura dengan penuh kekhawatiran. Garvin takut jika pria yang sedari tadi mendekp Maura berbuat yang macam- macam padanya.
Maura menggeleng manandakan bahwa dirinya tak apa- apa, Malahan hatinya senang kala tatapan Garvin nampak khawatir padanya.
"siapa dia?." Tanya Garvin lagi tanpa melepas tangkupan pada wajah Maura.
__ADS_1
"Aku gak tau kak, tiba- tiba dia di kamarku." Ujar Maura menoleh sekilas ke arah Pria asing itu.
Sherly dan Eglar berlari ke arah lantai dua kala mendengar keributan disana tepatnya kamar Maura. Seketika langkah Sherly terhenti kala tamunya tengah babak belur di kamar sang putri.
"Jo..." Seru Sherly kala melihat tamunya sudah babak belur.
"Mama mengenalnya.?" Tanya Maura kala Sherly menghampiri jo yang tengah mengelap darah yang mengalir dibibirnya.
"Dia Jonathan ra, anak om Richard." Ungkap Sherly memapah Jonathan ditepi ranjang Maura.
"Tapi kenapa ada dikamarku ma." Tanya Maura dilanda kebingungan. Setaunya dia tak mengenal pria yang bernama Jo itu tapi kenapa tiba- tiba dia nyelonong masuk ke kamarnya tanpa permisi.
"Mama yang menyuruhnya kekamarmu ra, karena disini kamu yang mengenalnya." Papar Sherly membuat Maura mengernyitkan dahinya, seingatnya Maura tak mengenal pria itu.
"Ma, dia bukan anak gadis seperti Maura ma. Dia pria, yang tak pantas buat dia masuk kedalam kamar anak gadis. Apa mama tau apa yang dilakukannya tadi sama Maura." bukan Maura yang berucap melainkan Garvin yang sangat geram dengan sifat sang mama.
"Kamu melakukan apa jo?" Tanya Sherly pada Jo yang tengah membersihkan darah di ujung bibirnya.
"Aku hanya menyapa queen tante, Gak melakukan apa- apa" Papar Jo beralibi karena itu tidaklah penting menurutnya.
"Mengakulah brengsek." Umpat Garvin yang hendak memukul Jo lagi namun suara Eglar menghentikan aksinya.
"Hentikan Garvin, dan untukmu Ma. Gak sepantasnya kamu menyuruh pria yang bukan makhrom Maura masuk kedalam kamarnya. Itu dosa ma, Mama masak gak mengerti tentang itu semua." Papar Eglar kemudian berlalu meninggalkan semuanya yang ada disana.
__ADS_1
Kecewa sudah pasti dengan apa yang dilakukan istrinya apalagi ini menyangkut anak gadisnya.