Cintai Aku Adikku

Cintai Aku Adikku
Apa iya?


__ADS_3

Garvin memutari mobilnya tanpa menjawab pertanyaan- pertanyaan yang terlontar dari bibir Jo. Membuka pintu mobilnya dengan pelan dengan Jo yang terus membuntutinya, Hanya ingin Garvin menjawab pertanyaannya.


"Queennn.." Seru Jo ketika melihat tubuh Maura sudah berada dalam gendongan Garvin, Rasa cemas menghantuinya kala Garvin tak mau menanggapinya. dirinya berfikir tengah terjadi sesuatu pada Maura hingga Garvin harus repot- repot menggendongnya dengan mata Maura yang terpejam.


"Kecilkan suaramu bajingan.” Sergah Garvin menyorot tajam ke arah Jo karena dirinya tak ingin Maura terbangun dsri tidurnya karena ulah Jo.


"Maaf, tapi apa yang terjadi.?" Tanya Jo terys mengekori Garvin yang tengah menggendong Maura. Meskipun sikap Garvin teramat dingin padanya namun demi Maura apapun akan dilakukannya.


Dengan langkah yang juga lebar, Jo menyamakan langkahnya dengan langkah Garvin agar bisa bertanya dengan detail pada sang calon kakak ipar.


Garvin hanya diam tanpa bereaksi apapun ketika Jo terus- terusan bertanya- tanya dengan keadaan Maura. Garvin berfikir bahwa Jo hanyalah cari muka di depannya walaupun pada kenyataannya kekekhawatiran yang paling mendasari. Bahkan ada sedikit rasa cemburu pada Garvin ketika Maura berada di dalam gendongannya.


”Sayanggg..." Sapa seseorang yang baru saja keluar dari dalam lift, membuat kedua pria yang saling melangkah dengan lebarnya menghentikan langkahnya.


Mata Jo membulat mendapati wanita yang baru saja keluar dari dalam lift. Apalagi wanita tersebut berjalan ke arahnya sungguh membuatnya gelisah di tempatnya berdiri.


"Sayang.." Sapanya lagi menghampiri Garvin dan mengelus bahu sang kekasih.


Garvin hanya terdiam tak menggubris ucapan Arin . Hingga tiba- tiba tangan Jo dengan lancangnya ingin merebut tubuh Maura yang berada dalam gendongannya secara kasar. Alhasil wanita yang tengah tertidur nyenyak tersebut terbangun ketik merasa aneh dengan tubuhnya yang melayang dan berasa ditarik- tarik pula.


"Euggghhh...." Lenguhan Maura berhasil membuat antara Garvin dan Jo berhenti saling tarik tubuh Maura. Mata Maura terbuka dengan pelannya, dan hal yang membuatnya terkejut adalah ketika pemandangan pertama yang dilihatnya adalah dua sosok pria tampan. Maura yang tak percaya berusaha mengerjabkan matanya berkali- kali namun hasilnya tetap sama. Hingga di oersekian menit kemudian, ketika netra matanya bergulir ke samping Garvin. Sosok Arin sang sahabat tengah menahan kesal bisa dilihat dari wajahnya yang ditekuk.


"Arin." Sergah Maura teebangun namun dirinya tak tau jika dirinya berada di gendongan Garvin hingga membuat Maura terjatuh karena tingkahnya sendiri.

__ADS_1


"Awwww......" Seru Maura memegang pantatnya yang di rasa nyilu.


Kadua pria tampan nampak terkejut dengan aksi yang dilakukan Maura. Keduanya tak menyangka jika Maura sangatlah ceroboh dalam bertingkah hingga mengakibatkan kecelakaan kecil seperti ini.


”Kenapa di lepas sihh.?" Tanya Maura kesal sembari menggosok- gosok pantatnya yang dirasa nyilu .


"Kamunya yang ceroboh, ngapain tiba- tiba bangun. udah tau kamu aku gendong." Ujar Garvin yang tengah berjongkok di sebelah Maura bersamaan dengan Jo yang ikut berjongkok.


"Sayang..." panggil Arin lagi dengan nada manjanya. Tanganya tak henti- hentinya mengelus perutnya yang rata.


Ketiga sontak mendongak secara bersamaan, Garvin memutar bila matanya jengah menatap sikap Arin. Sedangkan Maura wajahnya sangat kentara jika dirinya tengah menahan sesuatu, tetapi entah itu apa. Lain halnya dengan Jo yang memandang sinis ke arah Arin, Ingin sekali Jo membawa Maura pergi jauh dari sisi Garvin dan Arin.


Entah apa yang membuat Jo bersikap seperti itu pada Arin, hanya Jo dan Arinlah yang tau jika seumpamanya keduanya tengah ada masalah.


"Queen kita pergi dari sini." Timpal Jo yang ingin cepat- cepat hengkang dari tempatnya saat ini.


"Baru tau gua, kalau sikap Arin kayak ulet bulu." Batin Maura sesekali menoleh ke arah Garvin dan Arin hingga masuk ke dalam lift.


Menurut Maura sikap Arin berubah ketika Arin dan Devina berdebat karena dirinya meminta pendapat. Hingga kini Maura baru ingat, Jika pada waktu itu Arinlah yang melaran dirinya untuk bersama Jo dan tetap meluruskan perasaannya pada Garvin. Namun apa yang dilakukannya kini membuat Maura tak habis fikir, Bagaimana bisa Arin memberi saran seperti itu jika sekarang Arinlah yang resmi menjadi kekasih Garvin.


"Maunya apa sih? Apa kak Garvin bohong ketika bilang udah lama naksir gua, Kalau emang udah lama kenapa cepet banget move onnya. Kenapa gua gak bisa kayak gitu." Batin Maura berperang dengan otaknya hingga panggilan kesayangan dari Jo tak di hiraukan nya karena keadilan melamun.


"Queen.” Panggil Jo yang kesekian kalinya kala tak ada jawaban dari Maura hingga tangan Jo terulur mengusap bahu Maura.

__ADS_1


"Ya, kenapa?" Tanya Maura to the point sekilas melihat ke arah Jo.


"Kenapa? Apa ada masalah" Tanya Jo yang sedari tadi memperhatikan raut wajah Maura ketika dirinya berhasil berduaan dengan Maura di dalam lift.


"Emang kenapa?" Tanya Maura santai.


"Aku tadi merhatiin kamu Queen, Dari wanita gak tau diri itu datang. kamu jadi pendiem kayak gini." Ujar Jo mengeluarkan semua unek- unek yang sedari tadi bersarang dihatinya.


" Gak tau diri kamu bilang, emang kamu kenal sama Arin sampai mengecap Arin wanita gak tau diri? "Tanya Maura mengerutkan keningnya bingung kala Jo tiba- tiba saja berucap demikian. Apa sebelumnya Jo dan Arin sudah saling mengenal fikir Maura.


"Oh itu Queen. Itu cuma asumsiku saja, dilihat dari gelagatnya sepertinya begitu." Sahut Jo dengan menghembuskan nafas lega kala ucapannya dipercaya oleh Maura.


Maura hanya manggut- manggut mendengar penjelasan Jo. Karena memang dirinya tak begitu antusias dengan semua itu, yang ada didalam fikiran nya Maura saat ini adalah sikap Arin padanya mengapa berubah. Apa salahnya hingga Arin sepertinya Enggan bertegur sapa dengannya bahkan tingkahnya tadi membuat Maura menerka- nerka hal yang mustahil terjadi.


"Enggak, Gak mungkinkan semua itu terjadi." Ujar Maura tanpa sadar berucap demikian menyangkal apa yang terjadi. Tapi semua itu belum tentu benar sebelum dirinya menyelidiki.


Jo yang mendengar penuturan pelan Maura merasa bingung. Bukankah dirinya sedari tadi tak berbicara sepatah katapun, tetapi mengapa Maura berbicara walau dengan suara pelan.


"Queen, ada apa?" Tanya Jo semakin mendekatkan dirinya pada Maura, berniat mencari tau apa yang sebenarnya terjadi pada Maura.


"Jo, Apa wanita yang sering bersama dengan pria bisa hamil?" Tanya Maura dengan polosnya ketika dirinya tersadar dari terkaannya.


Jo mengangkat alisnya bingung dengan pembahasan Maura. Apa yang sebenarnya di fikirkannya hingga pertanyaan tanpa filter seperti itu dengan gamblangnya terucap dari bibirnya.

__ADS_1


" Apa yang kamu bicarakan Queen, mana ada wanita dan pria sering bersama bisa hamil kalau tidak melakukan begituan. Kamu aneh- aneh aja." Sahut Jo kembali menarik tangan Maura ketika pintu lift kembali terbuka. Maura hanya manggut- manggut dan pasrah mengikuti langkah Jo.


Bersambung...


__ADS_2