
***Flasback on.
Sepeninggalan Garvin dari rumah mewahnya, Hati Maura mencelos dengan sendirinya. Menurutnya Garvin tak mengharapkan lagi cinta darinya. Sehingga memilih pergi ketimbang membatalkan perjodohan gila yang dilakukan sang mama padanya.
Bahkan Maura juga berniat mengejar Garvin namun kata- kata Sherly membuatnya mengurungkan niatnya.
" Jangan buat papamu kecewa Rara." Ucapan Sherly sanggup membuat air mata Maura meleleh namun masih bisa di tahannya. Karena Maura tak ingin terlihat rapuh di depan mamanya apalagi si biang kerok Jonathan.
"Tapi ma, Papa mungkin akan mengerti jika aku gak akan bahagia dengan pilihannya. Dan papa pastinya akan mengerti itu semua ma." Sangkal Maura mencoba bersimpuh di hadapan Sherly yang terduduk di sofa .
Sherly mendengus kasar dengan apa yang diucapkan Maura. Dirinya juga sudah memastikan bahwa Maura akan menolak kemauannya hanya karna sesosok pria yang selalu mengusik kehiduan Maura. Ya, Sherly tau siapa yang telah meracuni otak Maura agar membangkang padanya. Bahkan Sherly pernah memergoki Maura tengah bercengkrama dengan pemuda tersebut secara privacy. Namun bukan Sherly namanya jika tak tau apa yang mereka bicarakan.
"Mama dari dulu melerang kamu untuk berpacaran alasannya karena ini Rara. Mama gak mau kamu menolaknya hanya karna ada pria lain dihati kamu. Apa mama gak salah menduga jika di hati kamu ada pria lain saar ini?." Tanya Sherly melihat sorot mata Maura yang sepertinya kebingungan menjawab pertanyaan Sherly.
Eglar yang berada di samping Sherly hanya menyimak interaksi kedua wanita di dekatnya tersebut. Bukan tak mau membantu tetapi menurtunya itu bukan ranahnya untuk menimpali. Apalagi Jonathan yang terduduk di sebrang sofa, matanya terus saja melihat gerak- gerik Maura yang terlampau menggoda menurutnya.
"Mak...sut mama apa?" Tanya Maura dengan nada gugupnya, namun sebisa mungkin dirinya membentengi ucapannya agar tak keceplosan di depan sang mama.
"Siapa pria yang membuatmu jadi seperti ini Rara?" Tanya Sherly dengan penuh penekanan tepat di depan Maura yang masih bersimpuh di lanta mengahadap ke arah Sherly.
"Sudahlah ma, biarkan Rara yang menentukan sendiri pilihannya. Jangan bebani dia dengan perjodohan yang almarhum Alexio berikan . Toh, Rara ini putri tunggalnya mana mungkin Alex kecewa ." Papar Eglar mencoba memberi pengertian dikala emosi Sherly mulai naik. Dirinya bermaksut tak mau ikut campur namun berhubung dirinya adalah kepala keluarga . Mau tak mau Eglar menimpali perdebatan antara ibu dan anak tersebut. Toh, Eglar sudah sangat menyayangi Maura sebagai anak kandungnya sendiri.
__ADS_1
"Gak usah ikut campur pa, Ini ranah privacy kami." Ucap Sherly menoleh sekilas ke arah Eglar dan kembali memandang wajah Maura yang sudah tak bisa membendung air matanya lagi. Melihat kemarahan dari mata mamanya membuat hati Maura sakit.
"Tapi aku sekarang kepala keluarga disini. Dan kamu sekarang adalah istriku, jika kamu masih menghargai aku sebagai suamimu hargai juga keputusanku. Alex tak akan membiarkan putrinya menangis seperti apa yang kamu lakukan Sherly, Biarkan Rara memilih masa depannya sendiri. Kita sebagai orang tua hanya bisa mendukungnya bukan malah menekannya seperti ini." Sahut Eglar yang juga mulai emosi bahkan dirinya sekarang sudah berdiri menunjuk- nunjuk ke arah wajah Sherly.
"Tapi ini permintaan terakhir mas Alex , dan mana mungkin aku tak mengabulkannya. " Ucap Sherly yang tak mau kalah, dirinya juga berdiri di hadapan Eglar yang sudah habis kesabarannya.
"Pa, ma udah cukup. Jangan bertengkar hanya karena aku." Ucap Maura melerai perdebatan orang tuanya dengan air mata yang sangat deras mengalir dipipinya.
"Kamu anak papa nak, Jangan berfikir papa akan diam saja jika ada yang membuatmu menangis meskipun itu mamamu sendiri." Timpal Eglar memeluk Maura dengan penuh kasih sayang. Eglar memang tak membandingkan dirinya dan Garvin. Menurutnya Maura dan Garvin adalah anak kandungnya walaupun pada kenyataannya tidak.
Maura hanya bisa menangis didalam pelukan teraman setelah papa kandungnya. Tak seperti Sherly yang selalu membuatnya tertekan tetapi Maura selalu menurutinya hanya karena demi kebahagian sang mama.
"Berhenti menangis, Jika kamu tak berkehendak dengan perjodohan ini. Papa akan selalu mendukungmu." Ujar Eglar mengusap air mata Maura yang masih setia mengalir.
Sekilas mata Maura bersitubruk dengan mata Sherly, namun seakan Sherly enggan menatapnya dengan memutuskan kontak mata terlebih dulu. Mungkin Mama masih marah padanya karena tak mau menerima perjodohan itu fikir Maura.
Maura mengangguk mendengar ucapan Eglar hingga senyuman tipis terbit di bibirnya kala Eglar juga tersenyum padanya. Hatinya bahagia ketika masih ada yang mendukung di belakangnya atas kekangan sang mama.
Pernah dulu Maura menolak permintaan sang mama untuk jadi model namun malah berakhir sang mama yang tak mau makan. Dan mulai saat itulah, Maura sangat enggan menolak apapun permintaan Sherly. Namun jika permintaan yang kali ini, Maura masih menimbang- nimbang sebelum mengambil keputusan yang tak akan membuatnya menyesal.
Eglar berlalu dari ruang tamu dengan langkah lebarnya meninggalkan ketiga manusia yang terdiam di tempat masing- masing.
__ADS_1
"Jika kamu tak mau menerima perjodohan ini, jangan anggap lagi aku mamamu Rara." Seloroh Sherly sembari mendudukkan bokongnya lagi di sofa.
Sontak saja perkataan Sherly membuat Maura membeku di tempatnya. Antara percaya tak percaya jika mamanya dengan mudahnya berkata seperti itu.
"Ma, mama mau sampai kapan ngatur kehidupan aku ma. Aku udah besar , bisa menentukan kehidupanku sendiri." Ucap Maura lumayan meninggi dan kembali bersimpuh di depan Sherly. Air mata yang belum mengering tersebut harus mengalir lagi membasahi kedua pipinya.
"Kamu sudah berani bilang kayak gitu ke mama Maura, seumur- umur kamu gak pernah berucap dengan nada tinggi seperti itu sama mama." Sahut Sherly yang juga mengeluarkan air matanya.
"Maa...aff ma, Aku hanya membela diri." Ungkap Maura merasa bersalah.
"Jangan buat papamu kecewa Rara, terima perjodohan ini atau kamu siap- siap mama coreng dari kartu keluarga." Sergah Sherly berlalu meninggalkan Maura yang masih bersimpuh di lantai.
Maura menutupi wajahnya dengan kedua tangannya , hal yang selalu dilakukannya ketika dirinya menangis . Hatinya bimbang dan bingung, di satu sisi dirinya menolak namun ancaman Sherly sungguh membuatnya tak berkutik sama sekali.
Maura yang selalu tegar ,kini harus bisa merasakan tangisan pilu yang menyesakkan dada. Menyalahkan almarhum sang papapun percuma hanya karna perjodohan konyol tersebut. Menangis yang mampu dilakukannya saat ini agar hatinya lega dengan sendirinya.
"Aku akan menjadi suami yang baik buat kamu." Timpal Jo yang ikut bersimpuh di dekat Maura.
Maura tak menjawab hanya suara segukan tangisan yang mewakili betapa pilunya hatinya saat ini.
Flasback off***...
__ADS_1