Cintai Aku Adikku

Cintai Aku Adikku
Resmi bertunangan


__ADS_3

Dengan kelincahan Eglar dalam mengalihkan pembahasan yang terucap dengan tak senonohnya dari bibir Sherly. Kini kedua keluarga nampak bercengkrama dan diselingi canda tawa. Bahkan Maura bisa dengan mudahnya berbaur di dalam keluarga Lubis tanpa harus bersusah payah. Maura yang sedari tadi duduk diapit antara Richard dan Claudia hingga membuat Maura merasakan kenyamanan dalam keluarga sesungguhnya. Apalagi sedari tadi Cludia tak melepaskan apitan lengannya pada lengan Maura. Mereka berdua sudah seperti seorang ibu dan anak yang tengah menuntaskan kerinduan ,Namun faktanya diantara keduanya baru saja bertemu.


Brummmmm......


Deru mobil yang baru saja memasuki pekarangan rumah keluarga Eglar, membuat seseorang yang tadinya berbicara serius diselingi candaan harus terhenti.


Eglar sangat mengenal deru mobil tersebut hingga membuat wajah yang tadinya ceria kini sudah tertutup kabut amarah. Ya, Garvin datang dengan segala ketidaksopanannya. Akankah Eglar akan memarahi tingkah Garvin ketika tamunya sudah hengkang dari kediamannya?.


Dengan langkah lebarnya dan tanpa memperdulikan siapa tamu yang tengah bertandang dirumahnya. Garvin melewati ruang tamu tanpa sekalipun menyapa pada tamu bahkan kedua orang tuanya. Namun belum sempat kaki Garvin menaiki tangga , tiba- tiba saja suara Eglar membuat Garvin membalikkan tubuhnya tepat di depan tangga.


"Garvin, ada tamu kaluarga Lubis disini. Berilah salam padanya." Ujar Eglar berdiri sembari memandang nyalang pada putra semata wayangnya.


" Ohh ada tamu rupanya." Ujar Garvin berjalan ke arah kursi yang kosong di sebelah Eglar, Tangan bersedekap dada dengan tatapan sangat nyalang pada sosok Maura yang tak sekalipun melirik ke arahnya.


"Garvin, Beri salam pada tamu papa?" Pinta Eglar dengan penuh penekanan, Garvin hanya menanggapinya dengan seutas senyuman smirk namun tetap dilakoni permintaan sang papa.


Bukan hanya pada Maura saja tatapan Garvin nyalang dan penuh emosi. Namun ketika netranya bersitubruk dengan mata elang Richard, Tatapan nyalang itupun juga di tujukan pada Richard lubis. Garvin tak habis fikir jika seorang Jo adalah putra kandung dari Richard Lubis. Tempo lalu dirinya tak sekalipun tau jika marga Richard dan Jo sama , sehingga dirinya tak sekalipun berfikiran tak terduga.


"Selamat datang di keluarga Eglar ,Tuan Lubis yang terhormat." Sapa Garvin dengan tatapan tak biasa pada Richard apalagi cengkraman tangannya sangat erat ketika bersalaman dengan Richard. Hingga membuat Richard hampir saja terpekik karena saking eratnya.

__ADS_1


"I- ya, terima kasih." Sahut Richard dengan nada yang lumayan pelan karena terlalu bingung dengan tanggapan dari seorang Garvin. Mungkinkah dirinya ada salah sehingga Garvin sepertinya sangat tak menyukainya. Dilihat dari tatapan dan perlakuannya membuat Richard percaya bahwa Garvin sangatlah tak menyukai kedatangannya.


Begitupun selanjutnya, Garvin menyalami bergantian Claudia dan berhenti pada Jo yang tersenyum manis padanya. Namun senyuman tersebut hanya disambut decihan ringan oleh Garvin, Muak tentu saja ketika lawannya harus menang sebelum berperang.


"Jangan senang dulu, karena masalahmu berada dalam genggamanku." Bisik Garvin pelan ketika dirinya mencoba memeluk tubuh Jo untuk memperlihatkan pada semua kala dirinya berbahagia dia atas kebahagiaan Jo dan Maura.


Belum sempat membalas ucapan Garvin, Tiba- tiba saja Garvin melepas rengkuhannya dengan sepihak. Dan kembali mendudukkan dirinya di tempat semula.


Jo hanya bisa mengkode Garvin dengan tatapannya namun respon Garvin sungguh di luar nalar. Garvin sengaja tak melihat ke arah Jo agar Jo bingung dengan maksutnya. Biarkan Jo geram dengan tingkahnya apalagi ketika Garvin sekilas melirik ke arah Jo dengan tampang meremehkan.


"Jadi bagaimana tuan Eglar, Apa bisa kita lanjutkan pembahasan tentang penyatuan putra - putri kita." Ujar Richard yang tak terlalu mementingkan tingkah Garvin padanya.


"Queen, Maaf aku bukanlah pria yang romantis yang kamu inginkan. Inilah aku dengan segala kekurangan dan kelebihanku. Aku berharap kamu bersedia menerima semua kekurangan dan kelebihanku. Mmm maukah kamu menjadi pendampingku, menjadi ibu dari anak- anakku kelak, menemani di setiap langkah- langkahku dalam merajut mahliga rumah tangga bersamamu." Papar Jo dengan panjang lebarnya dengan tatapan menelisik ke dalam mata indah Maura.


Bukannya antusias mendengar ungkapan cinta yang baru saja di ucapkan Jo padanya. Fikiran Maura tak tertuju pada untaian kata indah yang ditujukan Jo, melainkan pada apa kejadian di kantor hingga dirumah sakit. Memang benar adanya Maura merasa enggan memikirkan itu semua namun entah mengapa otaknya tiba- tiba berfikir keras kembali. Hingga dipersekian detik lamunannya harus buyar ketika usapan lembut pada bahunya dirasakannya, siapa lagi kalau bukan Claudia.


"Nak, Ada yang kamu fikirkan?" Tanya Claudia yang sedari tadi melihat sikap Maura yang sepertinya kurang bahagia dengan perjodohan tersebut. Hingga Claudia berasumsi jika ada dalang pemaksaan dalam perjodohan antara Maura dan Jo.


"Enggak kok tan, Kepikiran kerjaan kantor saja." Sahut Maura melirik sekilas ke arah Garvin yang masih setia memandangnya dengan tatapan getirnya.

__ADS_1


Tetapi secepat kilat Maura memutuskan kontak mata tersebut dan memberikan jarinya pada Jo agar dipasangkan cincin indah yang sedari tadi berada di genggaman Jo. Maura takut ketika netranya bersitubruk terlalu lama dan itu akan mengakibatkan goyah keputusannya. Meskipun Garvin hanya diam namun tatapan itulah yang membuat Maura sangat iba dan mengurungkan niatnya, Maura tak mau itu terjadi setelah kejadian yang menimpannya beberapa jam yang lalu.


"Atas ijin Allah, Aku siap menerima setiap apa yang baru saja kamu ucapkan ." Ujar Maura membuat yang berasa disana bernafas dengan lega setelah bermenit- menit menunggu jawaban dari Maura.


"Terima kasih Queen" Ujar Jo dengan bahagia ketika sang wanita yang bertahun- tahun dicarinya kini akan menjadi pendamping hidupnya.


Jo yang hendak memeluk Maura, dengan gesitnya Claudia menahan dada Jo dengan spontan. Claudia tak mau jika sampai Jo melampaui batas sebelum kata sah berkemundang dari bibir penghulu dan para saksi. Tak taukah Claudia jika Jo sudah berhasil mencium pipi Maura tempo lalu tanpa sengaja. Sungguh hal yang tak bisa di ungkapkan dengan kata- kata ketika adegan live itu terjadi antara Muara dan Jo.


"Jangan Jo, pastikan kamu halalkan dulu Queenmu baru kamu bisa seenak jidat menyentuhnya tanpa halangan dari siapapun." Timpal Claudia menggerakkan jarinya di depan Jo. Jo hanya bisa menggaruk kepalanya yang tak gatal ketika sang mama melarangnya dengan tampang sangarnya.


"Baiklah ma, Secepatnya aku akan menghalalkannya" Sahut Jo mengedipkan mata genitnya pada Maura. Namun Maura hanya menanggapi dengan senyuman tanpa peduli apa yang dikatakan Jo baru saja.


***Jangan lupa dukung karya receh Author ini dengan.


Like❤


Coment💌


Vote🥳

__ADS_1


Dan hadiahnya 🌹☕ya bestie***.


__ADS_2