
Setelah beberapa jam lamanya dengan beberapa sesi makan malam yang sedikit banyaknya tegang karena gaya pemikiran Jo dan Garvin berbeda. Kini waktunya Keluarga Lubis berpamitan untuk pulang ke kediaman setelah beberapa jam lamanya bertamu di rumah Eglar.
"Jangan sungkan- sungkan main kesini ya Rich.? "Ujar Sherly ketika Richard sudah mengemudikan mobilnya sembari melambaikan tangan.
Ketiga orang yang juga ikut mengantar kepulangan keluarga Lubis menjadi terheran- heran. Apalagi ketika mendapati Sherly sangatlah akrab pada Richard dari pada istrinya Claudia Lubis. Bahkan Sherly sepertinya sangat enggan menyapa atau mengobrol dengan Claudia.
"Ma, Mama tolong dong jaga perasaan tante Claudi. Gak seharusnya mama ngomong kasar kayak tadi ke tante Claudia." Timpal Maura yang tak suka dengan sifat Sherly yang mengabaikan perasaan Claudia dan Eglar ketika bertamu tadi.
Dimana Sherly nampak tak bosan- bosannya mencari cela berdekatan dengan Richard ataupun mencari pembahasan lain agar Richard mau berbicara padanya. Sherly seolah tak memtingkan perasaan Eglar yang sedari tadi nampak memasangkan wajah murungnya.
Eglar ingin menegur sikap Sherly, namun dirinya takut akan mempermalukan Maura nantinya jika sampai dirinya dan Sherly sampai adu mulut.
"Cihhh, ternyata mamaku ini adalah seorang rubah." Batin Garvin melenggang pergi dari depan terasnya. Malas sekali fikirnya jika mendengar alasan klasik dari Sherly .
Eglar juga ikut pergi dari tempat tersebut menyisakan Sherly dan Maura yang masih berbicara panjang kali lebar. Biarkanlah dirinya disebut anak durhaka karena telah mengajari mama tentang adap. Toh, Dirinya memang benarkan jika apa yang dilakukan Sherly sangatlah salah. Bisa saja Sherly bukan hanya menyakiti Eglar namun juga menyakiti hati Claudia sebagai istri sahnya.
"Apaan sih Ra, mama gak diluar batas kok jadi wajar ajalah" Sahut Sherly melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumahnya meninggalkan Maura yang masih dongkol dengan sifat Sherly.
"Gak diluar batas gimana sihh, papa aja sampek murung gitu mukaknya. Dasar bini gak peka." Gerutu Maura yang juga melenggang memasuki rumahnya dan menaiki tangga. Menurutnya percuma menasehati mamanya yang tak serba benar menurutnya sendiri.
" Gak sopan ngatain mama sendiri"Ujar Garvin yang sedari tadi memperhatikan tingkah Maura bahkan gerutuan Maura saja Garvin mendengarnya.
Maura menghentikan langkahnya di pertengahan tangga kala suara Garvin tiba- tiba saja terdengar. Dengan gaya pongahnya Gatvin bersedekap dada sembari memandang ke arahnya.
Hingga dipersekian menit, Maura semakin melebarkan langkahnya seperti berlari ke arah Garvin. Tinjuan mentah dilayangkan oleh Maura pada Garvin karena telah membuat moodnya kembali berubah.
__ADS_1
"Lu lagi, dasar gila." Umpat Maura setelah meninju bahu Garvin, ia kembali berlari ke kamarnya tanpa peduli Garvin berkali- kali memanggilnya.
"Dasar bocah, Masih nyempetin mukul." Sergah Garvin berusaha membuka handle pintu Garvin namun naasnya pintu kamar Maura sudah terkunci oleh pemiliknya.
Tokkk...tokk...
"Hehh bocah, buka nggak?" teriak Garvin sembari mengetuk pintu kamar dengan kasar.
Tak ada jawaban dari Maura hingga membuat Garvin berfikiran dengan cara lainnya yaitu mendobraknya. Garvin kesal ketika dirinya menunggu lama kehadiran Maura namun yang dia terima malah tinjuan dan malah ditinggalkan. Niat hati , Garvin ingin mengungkapkan segala kebenarannya pada Maura agar tak salah paham lagi.
Tetapi sepertinya akan lain ceritanya jika Maura sudah bersikap seperti itu. Bukan berterus terang ,malahan adu mulut lagi seperti sebelumnya.
"Buka atau aku dobrak Maura," Ujar Garvin lagi yang mulai mengambil ancang- ancang menjauhkan tubuhnya dari pintu kamar milik Maura.
Brakk....
Tangan yang tadinya terulur ke handle pintu harus diurungkannya kala pintu yang berada di depannya tiba- tiba terbuka. Untung saja Maura dengan cepat menghindar, namun naasnya tubuh kokoh seseorang dengan berani menindihnya.
Dengan mata terpejam, Maura mesin merasakan nyerinya dipunggungnya saking kerasnya benturan tadi. Hingga membuatnya terlentang dan ditambahi bobot seseorang yang sangatlah berat.
Mata Maura terbuka dengan perlahan ketika sesuatu di atasnya yang dirasakannya semakin berat saja. Sontak saja matanya membulat ketika sang kakaklah yang berada di atasnya dengan senyuman yang menurut Maura menyebalkan.
"Berat kakk." Ucap Maura mencoba mengangkat tubuh Garvin dari tubuhnya.
Seakan mengerti, Garvin dengan gerakan gesitnya terbangun dari atas tubuh Maura. Tak lupa juga dirinya membantu Maura berdiri walaupun sangat sulit saking kebanyakan dramanya.
__ADS_1
"Punggungku bengkok kak" Sahut Maura berusaha berdiri dan mendudukkan bokongnya di tepi ranjang.
"Salah sendiri pakek dikunciin segala" Timpal Garvin yang tak mau kalah. Dirinya memijat pelan tubuh Maura agar rasa sakitnya berkurang. Tak tega tentu saja melihat gadis didepannya ini kesakitan .
"Makin gak bisa move on kayaknya nih." Cibir Maura dengan senyuman jailnya, Karena dirinya ingin tau seberapa besar cinta Garvin padanya dan pada Arin sahabatnya.
"Yehhh, pd banget. Situ kali ya yang gak bisa move on." Timpal Garvin malah balik bertanya, Dirinya juga penasaran dengan pengakuan Maura. Walaupun Maura sudah berucap berkali- kali.
"Kan aku udah punya tunangan , ya pastinya udah move on dong dari Zaman belanda dulu." Sahut Maura , membuat hati Gavin kembali nyeri. Tak bisakah Maura berbicara jujur padanya, tak perlu membohongi perasaannya.
"Sama aku juga, Udah ada wanita cantik yang mau sama abangmu ini." Cecar Garvin menahan gejolak amarah di dadanya.
Mendengar penuturan Garvin, Sontak saja membuat Muara menoleh ke belakang karena memang posisi Garvin tengah memijat punggung Maura. Begitupun Maura, Ia juga merasakan hatinya tercubit mendengar pengakuan Garvin. Berarti dirinya sudah tak berarti apa- apa dalam hidup Garvin, tapi apa maksutnya tadi Garvin bertanya tentang perasaan di dalam kamarnya.
Maura kembali menatap lurus kedepan dengan mengangguk- nganggukkan kepala. Tak perlu membahas terlalu dalam fikirnya , jika hatinya saja sudah mulai tersayat.
"Arin bagaimana kabarnya kak?" Tanya Maura tanpa menoleh ke arah Garvin.
"Sudah membaik, Tapi harus banyakin istirahat ." Sahut Garvin .
"Apa benar yang dikandung Arin itu darah dagingmu kak?" Pertanyaan yang terlontar dari bibirnya seakan membuat hatinya semakin bergemuruh merasakan sakit. Namun dirinya hanya ingin memastikan bahwa kakak tirinya bukan pria bangsat yang tak mau bertanggung jawab dengan darah dagingnya sendiri.
"Buk... Jika iya kenapa?" Sahut Garvin memperhatikan ekspresi wajah Maura dari belakang. Dirinya tau jika Maura akan cemburu dengan ucapannya baru saja.
Tak bisa dipungkiri bagi Maura jika apa yang dikatakan Garvin membuat air matanya berderai dengan sendirinya. Bahkan Maura berfikir jika Garvin hanya mencintai Arin karena selama menjadi pacarnya, Garvin seperti enggan menyentuhnya melampaui batas. Tetapi ketika bersama Arin, Garvin dengan beraninya menyentuh Arin hingga hamil pula.
__ADS_1