Cintai Aku Adikku

Cintai Aku Adikku
Rapuh


__ADS_3

Setelah kepergian Bara yang sedari tadi berbicara penuh kewas- wasan. Kini Garvin kembali mendudukkan dirinya di sofa yang berada di dalam kamar Maura. Matanya memandang dengan lekat wajah yang masih setia memejamkan mata. Dengan kedua jari saling bertaut di bawah dagu, fikiran Garvin kembali kacau kala teringat beberapa jam yang lalu.


Dimana kata- kata Sherly selalu terngiang diingatannya. Sedangkan Agler tak sedikitpun membenarkan ucapan Sherly. Namun jika apa yang dibilang Agler benar adanya, Mengapa Sherly sangat kekeh dengan apa yang terlontar dari bibirmya mengenai ibu kandungnya.


"Haaahhhh.... Gak mungkin bunda kayak gitu. Itu semua hanya omong kosong." Seru Garvin dengan suara meninggi tak lupa sembari menyunggar rambutnya kebelakang. Fikirannya sedari tadi kacau , apalagi Sherly berbicara jika dirinya bukanlah anak kandung Agler.


Meskipun masalahnya sekarang memaksa dirinya untuk berfikir ektra. Namun Garvin tak ada keinginan memutuskan kesadarannya dengan meminum minuman beralkohol. Mengunjungi bar bukan berarti ingin memutuskan saraf otaknya tetapi memikirkan langkah apa yang harus dilakukan selanjutnya.


Fikirannya bertambah kalang kabut ketika Bara berucap menyuruh Maura datang ke bar hanya untuk membujuknya. Hatinya gelisah , ditambah hari sudah semakin larut. Tak baik bagi anak gadis keluar malam fikir Garvin.


Flashback on...


"Lu gila Bara, Gimana kalau terjadi apa- apa sama Maura hah??? Lu gak mikir sebelum bertindak." Sergah Garvin mencengkram kaos milik Bara karena saking jengkelnya. Bagaimana bisa sang karib berfikir sedangkal itu. Padahal Bara di cap sebagai pria bijaksana dalam berucap diantara dirinya dan Tara. Tetapi ini , Sungguh kesalahan yang fatal bagi Garvin.


Bara tak berkata- kata lagi karena dirinya juga merasa bersalah. Sebelum Maura melangkah lebih jauh lagi, Bara berinisiatif menghubungi nomor Maura yang diambilnya diam- diam dari handphone Garvin.


Mengetikkan sesuatu agar Maura mengurungkan niatnya untuk menjemput Garvin. Namun sayang beribu sayang, Ketika Maura tak membalas notif dari Bara. Malahan sebuah sharelok yang dikirim Maura untuknya.


"Vin, Maura udah nyampe. Sekarang dia ada diruang VIP nomor 17." Ujar Bara menunjukkan layar hanponennya tepat di wajah Garvin.


"Ngapain dia kesana??" Tanya Garvin penuh tanda tanya. Setaunya, Maura tak pernah memasuki bar yang kini tengah dikunjunginya.


"Jo, Itu ruangan privacy Jo vin. "Pungkas Tara yang sedari tadi hanya mendengarkan adu mulut antara Bara dan Garvin.


"Bangsattt....." Sergah Garvin dengan langkah lebarnya mencari ruangan yang diyakini ada Maura di dalamnya.

__ADS_1


Dengan tangan terkepal hingga jari- jari bukunya nampak memutih. Setiap lorong ia datangi bahkan setiap pintu ia amati dengan seksama. Mencari nomer 17 sangatlah tak muda baginya apalagi nomornya tak tersusun melainkan di acak. Siapa saja akan dongkol dibuatnya fikir Garvin.


Ketika beberapa menit lamanya mencari pintu dengan nomor 17 VIP. Tiba- tiba dua orang penjaga datang menghampirinya, Menghalau Garvin ketika ingin memegang handle pintu tersebut.


"Maaf tuan, didalam sedang ada tamu" Ujar salah satu dari penjaga yang ditugaskan Jo.


"Jonathan Lubis???" Tanya Garvin dengan gigi bergemelatuk, Hingga membuat kedua penjaga dengan tubuh kekar nampak saling pandang.


"I-ya tuan" sahut keduanya bersamaan dengan gugup, Wajahnya menunduk karena tak berani melihat mata nyalang milik Garvin.


"Bersama wanita????" Tanya Garvin lagi dengan mencengkram kerah jas yang dipakai salah satu penjaga tersebut.


"I- ya tuan, " Sahutnya lagi bertambah gugup, Mereka tau siapa Garvin dengan segala kekuasaanya. Walaupun kekayaannya setara dengan keluarga Lubis, namun keluarga Agler satu tingkat lebih unggul dari keluarga Lubis.


"Cirinya gimana?" Bukan Garvin yang menjawab melainkan Tara yang sedari tadi muak melihat kedua penjaga. Wajah dan tubuhnya sangar tetapi di gertak sedikit saja terlihat letoy tak bertenaga.


Tanpa menunggu penjaga t membukakan pintu untuknya. Kaki Garvin menendang pintu tersebut hingga bergema di ujung lorong.


Mata Garvin semakin berapi- api ketika melihat Maura tak sadarkan diri dalam pelukan Jo. Ingin sekali dirinya membunuh Jo dengan tangannya sendiri . Tetapi akal sehatnya masih menguasai dirinya.


Flashback off.....


Lamunan Garvin buyar ketika Maura membalikkan tubuhnya ke tepi Ranjang. Dengan mata yang setia terpejam, Dirinya mengeluarkan semua isi yang berada dalam perutnya. Tak ada rasa jijik bagi Garvin, bahkan Garvin semakin mendekat dan memijit tengkuk leher Maura dengan penuh kelembutan.


"Ra, sadarlah." Ucap Garvin menepuk- nepuk pelan pipi Maura ketika selesai memuntahkan semua isi perutnya.

__ADS_1


"Gua udah mati ya???" Ucap Maura dengan mata yang masih tertutup. Jari jemari lentiknya memijit pelipis yang dirasa pening.


"Hey, Buka matamu." Timpal Garvin kembali menepuk pipi Maura pelan.


Hingga dipersekian menit, mata sipit itu nampak membuka dengan perlahan. Matanya langsung saja terpusat pada sosok pria yang tengah memangku kepalanya.


Maura berusaha mendudukkan dirinya dengan sisa tenaga yang dia punya. Tak peduli rasa pening yang mendera kepalanya, niatnya hanya satu. Memastikan bahwa Garvin dalam keadaan baik- baik saja.


" Kakak.... " Pekik Maura menubruk dada bidang Garvin. Hatinya lega ketika penglihatannya bisa melihat keadaan Garvin yang nampak baik- baik saja.


Air mata kegelisahan yang sedari tadi di tahannya. Kini sudah tumpah dengan sendirinya, Apalagi ia juga meraskan balasan pelukan dari sang kakak.


"Hey kenapa?" Tanya Garvin mengurai pelukannya, menatap manik mata gadis tercantiknya.


"Aku fikir kakak kenapa- kenapa kak. Aku gelisah banget tadi gak ngikut kakak." Sahut Maura kembali memeluk tubuh Garvin dengan eratnya. Rasanya sangat enggan melepaskan dekapan hangat dari sang kakak.


Bibir Garvin melengkungkan senyuman lega ketika Maura masih mengkhawatirkannya. Apalagi rasanya Maura enggan melepaskan pelukannya. Seakan Maura tengah mengobati kerinduan yang mendalam pada dirinya. Setelah banyak masalah yang selalu menghampiri baik dirinya dan sang gadis.


"Cie... masih ada yang mengkhawatirkan aku rupanya. Kirain gak ada yang menginginkan aku lagi." Celtuk Garvin membuat Maura melerai pelukannya dan mendongak. Melihat wajah Garvin yang tersenyum namun terdapat banyak luka didalamnya.


"Sampai kapanpun aku akan selalu mengkhawatirkanmu kak, tolong jangan ngomong kayak gitu. Kami, Aku dan papa Agler sayang sama kakak." Ujar Maura menangkup wajah Garvin dengan air mata bercucuran.


Walaupun Garvin berbicara dengan senyuman. Tetapi bagi Maura yang mendengarkannya nampak tersayat hatinya.


"Ra, kamu bau sekali." Seru Garvin membuat suasana yang tadinya terharu kini nampak cengo. Apalagi Maura kini mencium aroma tubuhnya sendiri dengan wajah aneh dipandang.

__ADS_1


" Hehe iya kak, Sehari gak mandi. Pas diajak kakak ke restoran itu sampai sekarang." Ujar Maura menggaruk kepalanya yang tak gatal, Apalagi senyuman malu- malu kucing di perlihatkannya di depan Garvin. Sungguh malu fikirnya.


Bersambung....


__ADS_2