
Sesosok pria berpakaian rapi melihat dengan sorot yang tak biasa di dalam mobilnya yang baru saja memasuki pelataran kantor. Namun sesaat mobilnya terhenti ketika melihat pemandanga yang begitu menyayat hati baginya. Dimana wanita yang masih sangat di cintainya bermesraan dengan pria lain di dalam mobil. Apalagi senyuman kedua sejoli tersebut merekah dengan bahagiannya.
"Apa benar ucapanmu malam itu." Batin Garvin mencekram erat kemudinya.
Hatinya tercabik- cabik kala apa yang bersarang di otaknya benar adanya. Apalagi melihat interaksi keduanya yang sangat akrab dan penuh canda tawa. Akankah Garvin sanggup melihatnya ketika mereka berdua ada di hadapannya.
"Enggak, Maura tak mencintainya. Itu hanya alasannya saja biar aku menjauhinya. Iya, Maura sangat mencintaiku. Aku tau itu." Ujar Garvin sembari melajukan mobilnya ke arah parkiran khusus direktur. Sebelum sampai ke tempat parkiran, mobil yang mengantar Maura tersebut hendak pergi dikala Maura sudah masuk ke dalam kantor. Namun mobil yang tak kalah mewahnya dengan mobil milik Jo tiba- tiba saja menghadangnya ketika dirinya hendak menancapkan pedal gas.
"Shiittt...." Umpat Jo ketika dirinya harus mengerem mendadak walau masih pelan.
Garvin turun dari mobil dengan gaya pongahnya dan dengan emosi yang lumayan meninggi. Jo nampak memperhatikan wajah familiar Garvin yang tengah menahan gejolak emosinya.
"Oh shittt, dia kan kakak tirinya Maura." Ujar Jo mengingat wajah Garvin pada malam itu. Apalagi kini wajah itu sangat dekat dengannya hanya bercela kaca cendela mobil miliknya.
"Buka bangsat." Umpat Garvin menggedor pintu mobil Jo dengan kerasnya, Mungkin saja jika bukan mobil mahal nan mewah kaca tersebut bisa retak karna ulah Garvin.
Tanpa menunggu lama, Jo membuka pintu mobilnya dengan tampang kebingungan. Ada salahkah dirinya hingga Garvin nampak marah padanya, apa karna malam itu hingga membuat Garvin tak bisa memaafkannya.
Bughhh....
Belum juga menutup pintunya ,tiba- tiba saja bogeman mentah mendarat sempurna di pipi kiri Jonathan. Siapa lagi kalau bukan ulah Garvin yang sedari tadi menahan amarah dan kecemburuannya.
"Kak, apa- apaan ini.?" Ujar Jo berhati- hati karena memang Garvin patut di hormati karena dirinya tak lama lagi akan menjadi adik iparnya.
"Gua bukan kakak lu, Gak usah sok manggil gua kakak." Ujar Garvin mencekram kerah jas Jo dengan kasarnya. Emosinya tak bisa terbendung lagi ketika mengingat tadi apa yang dilakukan Jo pada Maura.
__ADS_1
"Gua calon adik ipar lu ya, kalau lu bukan kakak Maura gak sudi gua manggil lu kakak." Sahut Jo yang juga ikut tersulut emosi.
"Batalin perjodohan lu sama adik gua. Gua gak sudi punya ipar macam lu bangsat." umpat Garvin lagi hendak melayangkan bogeman lagi namun secepat kilat Jo manangkisnya. Sebenarnya Garvin sangat enggan mengakui Maura sebagai adiknya namun semua itu hanya demi Maura.
"Gak akan, Lu tau seberapa lama gua cari adik lu itu. Dan sekarang gua ketemu tapi lu maksa gua buat ngelepasin lagi. Itu gak akan pernah terjadi, meskipun lu berusaha sekuat apapun ngebatalin perjodohan gua." Sarkas Jo menghempaskan tangan Garvin dengan kasarnya pula.
"Harus lu tau tuan muda Lubis jika gua sama Muara melebihi seorang adik kakak. Kami adalah sepas....
"Maksutnya apa Garvin.?" Tanya seseorang yang baru saja tiba, Disampingnya terdapat Maura yang juga ikut turun kala bertemu Eglar di depan pintu lift. Eglar menyuruh Maura ikut karna security kantor melaporkan bahwa Garvin tengah bercekcok dengan pria yang tadinya mengantar Maura.
Banyak para karyawan dan security yang menyaksikan adu cekcok antara Garvin dan Jo namun mereka takut untuk mendekat. Hingga ada salah satu security melaporkan kejadian tersebut ketika Garvin mulai melakukan kekerasan pada lawannya.
"Kamu dan Maura melibihi seorang adik kakak, maksutnya apa Garvin?" Tanya Eglar lagi kala Garvin tak menjawabnya.
Bahu Maura meluruh karna sedari tadi tegang karna takut Garvin akan membocorkan rahasianya. Sungguh ceroboh fikir Maura jika Eglar mendengar ucapan Garvin yang tak bisa membungkam rahasia.
"Queen" Panggil Jo yang melihat Maura masih terdiam dan melamun di tempatnya.
"Ehh ..Jo. Aku fikir kamu sudah pulang. Kenapa kamu masih disini Jo." Ujar Maura menarik tangan Jo agar masuk ke dalam kantor tepatnya di ruangan Eglar. Maura memang sengaja melakukan itu supaya Garvin bertambah kecewa padanya ketika dirinya tak menggubris Garvin sama sekali.
Garvin nampak mengepalkan tangannya kala melihat sikap Maura pada Jo yang sangat perhatian. Apalagi kini ketiganya berada di dalam lift dan itu membuat Garvin bertambah panas dan semakin emosi. Ingin rasanya Garvin membunuh Jo yang sok tampan itu dengan tangannya sendiri. Garvin serasa muak pada senyuman Jo yang di tujukan untuk Maura.
"Ini pasti sakit ya Jo." Tanya Maura mengelus pipi Jo yang sudah lebam tersebut.
"Enggak Queen. Lebih sakit ketika bertahun- tahun aku mencarimu namun setelah bertemu kamu malah mengecewakan aku." Sahut Jo menggenggam tangan Maura yang berada dipipinya.
__ADS_1
"Bangsattt." Umpat Garvin mendorong Maura hingga membuatnya terhuyung kebelakang, untung saja ada dinding lift jika tidak mungkin saja Maura sudah terduduk dilantai saking kerasnya dorongan Garvin.
"Kakak." Pekik Maura kala Garvin lagi- lagi memukul Jo hingga membuat Jo tersungkur di pojokan lift.
"Kakak apa- apaan hah? Jo salah apa sama kakak ." Sergah Maura memeluk Jo yang masih terduduk di lantai lift.
"Kamu masih tanya , salah dia apa? Kamu gak mikir kalau dia udah buat kamu ngejauh dari aku. Kamu gak paham tentang perasaanku Maura." ucap Garvin melangkahkan kakinya keluar dari lift yang sudah terbuka meninggalkan kedua sejoli yang terduduk di lantai lift.
Maura membantu Jo untuk berdiri walaupun kenyataannya Jo bisa berdiri sendiri. Maura merasa bersalah melibatkan Jo dalam masalah yang memperumit dirinya saat ini. Ingin mundur namun dirinya dan Jo sudah sampai setengah jalan dan hampir saja mencapai finish, masak iya pengorbanannya harus sampai disini.
"Udah aku bisa sendiri Queen, nanti kamu capek." Uajr Jo menolak pelan pertolongan yang diberikan Maura padanya.
"Udah gak apa, anggap saja ini sebagai ucapan maaf dari kak Garvin yang udah buat kamu kayak gini." Sahut Maura membukakan pintu ruangan Eglar agar Jo tak kesusahan memasukinya.
***Plakkk....
Plakk***...
Baru satu langkah Maura dan Jo memasuki ruangan Eglar, tiba- tiba saja dirinya di kagetkan dengan suara tamparan menggema di ruangan tersebut.
Siapa lagi kalau bukan Eglar yang tengah menampar Garvin di dalam ruangan tersebut.
Kenapa Eglar menampar Garvin dengan sorot kemarahan yang tak bisa di kendalikan lagi, Jawabannya baca episode selanjutnya ya guys...
Bersambung...
__ADS_1