Cintai Aku Adikku

Cintai Aku Adikku
Insident


__ADS_3

Seiring berputarnya waktu, yang tadinya malam kini muncullah sang surya dari timur dengan secercah harapan yang nyata. Begitupula dengan apa yang dirasaakan oleh Jo ketika keluarga besarnya sangat antusias memenuhi undangan Eglar. Ya, Walaupun pada awalnya Eglar seperti sangat membencinya namun berkat kejadian di kantor itu membuat Eglar merestuinya.


Tak masalah bagi Jo ketika dirinya harus babak belur di tangan Garvin. Yang terpenting Restu Eglar yang paling utama menurutnya.


Dengan bersiul ria, Jo menuruni anak tangga dengan tangan berada dalam saku celananya. Hingga membuat sang maid yang tengah berlalu lalang dirumah itu nampak bahagia juga. Karena sebentar lagi tuan muda di keluarga Lubis akan melangsungkan pernikahan.


Siapa yang tak tau dengan kelakuan bejat Jo, bahkan maidpun sering menyaksikan adegan panas antara Jo dan para jalangnya di di rumahnya ketika Richard tengah berada di kantor. Namun para maid berdoa agar kelangsungan acara pernikahan sang tuan muda dapat berjalan lancar tanpa hambatan.


Mereka terlalu sayang jika Jo harus bergonta- ganti pasangan dan semakin terjerumus ke dalam lembah yang salah.


"Pagi den, Senyum turun nih si aden" Sapa mumun ketika Jo berjalan ke arah taman belakang, Mumun adalah Maid yang mengabdi pada keluarga Lubis mulai dari Jo kecil.


"Pagi juga mbok, Begitulah mbok. Aku sekarang sangat bahagia sekali." Sahut Jo tak lupa senyuman manisnya.


"Mbok tau dan mbok berdoa semoga aden dan calonnya aden langgeng ya sampai kakek nenek." Doa Mumun dengan kebahagian nya yang selalu terpancar di wajahnya.


Jo sangatlah bahagia di kelilingi orang- orang yang mengayominya. Merasa bersalah, tentu saja ketika dirinya pernah melakukan kesalahan yang fatal hingga membuat sang mama menangis dan membuat Richard sangat dingin padanya. Ingin rasanya Jo mengulang masa itu dan membenarkan kekeliruannya jika pada akhirnya gadis yang selalu dimimpikannya sudah ditakdirkan berjodoh dengannya.Tapi semua itu sudah menjadi bubur , Bagaimanapun juga Jo harus bisa memperbaiki sikap dan tingkah lakunya.


"Amiin, semoga saja ya mbok." Timpal Jo berlalu pergi dari hadapan Mumun.

__ADS_1


Ingin rasanya Jo berolahraga agar terlihat lebih fres nanti malam ketika berkunjung ke rumah Maura bersama keluarganya.


Didekat taman terdapat ruangan olahraga yang begitu memadai dengan fasilitas yang sangatlah lengkap. Jo sangat antusias menanti malam tiba, dimana dirinya akan mengikat Queen kecilnya yang kini sudah menjadi Quenn di hatinya. Tak bisa dipungkiri kebahagiaan yang dirasakan Jo ketika keluarga besarnya juga sangat mengharapkan Maura menjadi menantu di rumahnya. Kebahagiaan yang selalu ditutupi dengan kesenangan sekilas kini nampak nyata dan alami.


"Demi kamu Quenn, aku akan merubah semua tabiat buruk ku."Batin Jo sembari mengangkat alat berat dengan ringannya.


...****************...


Disepanjang jam kerjanya, Maura sangatlah tak fokus dan keseringan melamun. Apalagi ketika Eglar tadi berpesan agar dirinya pulang ke rumah hanya karena keluarga Lubis akan bermain ke rumahnya. Tetapi yang membuat Maura berfikir kerasa dan tak konsen adalah ketika Eglar berucap kata- kata yang membuatnya bingung harus menjawab apa. Dan hasilnya, Dirinya lebih memilih pergi dan menghindari pertanyaan Eglar.


"Sudah sampai mana hubunganmu dan kakakmu Ra," Tanya Garvin sembari duduk di kursi kebesarannya. Matanya melihat dengan jeli wajah Maura yang tengah membatu dan masih bungkam dengan pertanyaannya tersebut.


"Ra," Panggil Egkar setelah sekian detik menunggu jawaban Maura namun hasilnya Maura hanya terdiam tak menjawab sepatah katapun.


Tanpa menunggu izin dari Eglar, Maura melenggang pergi dari ruangan sang papa. Namun sebelum pintunya di tutup, Suara Eglar membuat kepala Maura menyembul dari cela pintu hanya untuk mengiyakan ajakan Eglar.


"Rara, nanti malam keluarga Jo kerumah. dan kamu wajib sekali pulang." timpal Eglar ketika melihat Maura terburu- buru keluar dari ruangannya


Maura yang mendengar itu hanya mengangkat jempolnya di balik pintu. Meskipun tak berucap, Jempol tersebut sudah mewakili bahwa dirinya bersedia pulang kerumah dengan keadaan terpaksa tentunya.

__ADS_1


Saking asiknya dengan fikirna yang melalang buana entah kemana. Bahkan Maura tak sadar jika sedari tadi ada sepasang mata yang memandangnya dengan perasaan iba. Entah apa yang dirasakan Arin ketika mendapati sahabatnya seperti tertekan dengan alur ceritanya. Namun itu semua kesalahan Maura sendiri karena tak mau menuruti sarannya dan memilih menelantarkan pria yang masih di cintainya.


"Woyyy..." Sentak Arin menggebrak meja kerja Maura hingga membuat Maura terjingkat kaget karena saking asiknya dirinya melamun.


"Anjing lu Rin, apaan sih main ngagetin aja." Sergah Maura yang mengelus dadanya karen ulah Arin. Tanpa merasa bersalah dan meminta maaf pada Maura, Arin mendudukkan dirinya di depan Maura bersekat meja kerja Maura.


"Anjing- anjing gini kakak lu cinta berat sama gua." Celtuk Arin dengan gaya sok cantiknya hingga membuat Maura memutar bola matanya jengah melihatnya.


Tanpa dirasakan oleh Maura namun kata- kata Arin mampu mencubit ulu hatinya yang terdalam. Tapi Maura tetaplah Maura yang sangat pandai menyembunyikan fakta yang sebenarnya.


"Oh iya Ra, apa Jo juga cinta banget sama lu sampek lu mau aja dikawinin sama dia. Btw gua ngira si Jo itu playboy deh." timpal Arin membuat Maura memelotokan matanya ke arhanya. Sungguh perkataan Arin membuat konsentrasinya buyar apalagi ini menyangkut ranah privacynya.


Bagi Maura , Arin sudah kelamewat batas dalam bicara. Apalagi Arin menjudge Jo yang jelas- jelas asing bagi Arin tetapi perkataan Arin seperti sudah sangat mengenal Jo lama melebihi dirinya.


"Jaga ucapan lu Rin, lu gak usah sembrono menuduh orang lain. Lu sendiri aja belum tentu kenal sama Jo." Tutur Maura terlampau kesal pada Arin yang sok tau.


"Well, Lu masih kurang pengenalannya sama Jo Ra. coba aja lu kepo sedikit tentang calon laki lu. Apa lu nantinya bakal nerima dia lagi, atau malah kembali ke seseorang yang udah bikin lu gagal move on kayak gini." Tutur Arin lagi hendak melenggang pergi dari hadapan Maura namun langkahnya tiba- tiba terhenti kala Maura mencekal lengannya dengan gesitnya.


"Maksut lu apa bilang kayak gitu hah, Gua jamin gak bakal..... " Belum usai ucapan Maura, penglihatannya membulat kala Arin terjatuh hingga mengalir cairan merah dari kakinya.

__ADS_1


Bukan berniat mencelakai Arin, namun Arinlah yang tak mau diam ketika Maura berbicara dengan mencekal lengannya. Arin berusaha melepaskan cekalan tangan itu walaupun Maura tak menyakitinya. Hanya karna highells yang di gunakan Arin kini membuat Maura dalam masalah besar.


"Apa yang kamu lakukan Maura? " Bentak seseorang yang baru saja tiba dengan sorot nyalangnya. Maura tak bisa berkata- kata lagi ketika sosok itu pergi sembari membopong tubuh lemah Arin.


__ADS_2