Cintai Aku Adikku

Cintai Aku Adikku
Arin masuk IGD


__ADS_3

Tanpa fikir panjang Maura mengikuti kendaraan yang tengah melaju dengan kencangnya. Dengan perasaan berkecamuk dalam hatinya sembari diiringi air mata yang membasahi pipinya. Merasa bersalah tentu saja, meskipun Maura tak merasa menyakiti Arin namun tatapan seseorang yang menolong Arin sangatlah menyayat hatinya.


Bisa dibilang Maura takut jika seseorang yang menolong Arin membencinya. Ya, seseorang yang menolong Arin dan menatapnya nyalang adalah Garvin sang kakak. Harusnya yang Maura rasakan adalah senang karena memang itu yang diinginkannya.


Tetapi lain halnya yang Maura rasakan saat ini, Dirinya harus merasakan kecewa ketika melihat Garvin menyalahkan dirinya bahkan mata Garvin terlihat sangat marah padanya.


"Apa benar apa yang aku fikirkan selama ini, kalau kak Garvin memang cintanya sama Arin tapi malah melampiaskan semuanya sama aku." Monolog Maura dengan dirinya sendiri sembari matanya tak lekang dari mobil yang tengah melaju dengan kecepatan cepat di depannya.


Setelah menempuh perjalanan yang cukup menegangkan karena memang Maura harus mengejar mobil Garvin. Maura berfikir jika dirinyalah wajib ikut dalam pemeriksaan yang dilakukan Arin. Karena Maura bersangkutan dalam jatuhnya Arin walaupun dirinya tak merasa menyakitinya.


Tatapan Maura tak lepas dari sosok Garvin yang tengah membopong tubuh ringkih Arin dengan rasa khawatir dan gelisahnya. Segitu khawatirnyakah Garvin pada Arin hingga tampang panik tersebut tepampang nyata.


"Bener dugaan ku kalau ternyata Arin hamil. Tapi anak siapa? Dilihat dari kepanikan kak Garvin , Apa iya bayi yang ada di dalam kandungan Arin benih kak Garvin." Batin Maura sembari menutup pintu mobilnya dengan netra menatap nanar ke arah Garvin yang sudah mendorong brangkar Arin ke dalam ruang IGD.


Kaki Maura terus melangkah mengikuti arah kemana beberapa suster dan juga Garvin mendorong brangkar yang digunakan Arin.


"Bapak tunggu di luar sebentar, karena dokter akan segera melakukan pemeriksaan pada istri bapak."Ujar Suster memberhentikan langkah Garvin ketika brangkar Arin sudah masuk ke dalam ruang IGD.

__ADS_1


"Baik sus, usahakan selamatkan semuanya sus. Saya gak mau ada hal yang terjadi dengan keduanya." Papar Garvin dengan segala kepanikannya.


" Kami akan berusaha pak, bapak berdoa saja." Sahut sang suster sembari meninggalkan Garvin yang tengah menyunggar rambutnya ke belakang. Frustasi tentu saja ketika hal yang dinanti- nantikan akan lenyap begitu saja.


Semua interaksi dan perhatian yang ditujukan Garvin membuat seseorang yang tadinya ingin melihat keadaan sang sahabat diurungkannya. Ya, Maura menghentikan langkahnya kala suara Garvin penuh pilu meminta permohonan kepada suster. Hati Maura terasa tersayat dengan apa yang diucapkan Garvin, seperti tak mau kehilangan salah satu dari keduanya.


Maura semakin yakin jika anak yang berada dalam kandungan Arin adalah buah cinta dari mereka berdua . Melihat dari sikap Garvin yang nampak frustasi sembari menantikan kabar dari dokter yang masih berusaha membantu keselamatan Arin.


"Omong kosong kak, semua omongan lu tak ada gunanya lagi. Gua benci lu kak." Monolog Maura menitikan air mata merasakan kecewa terhadap ketulusan Garvin.


Maura mengurungkan niatnya untuk melihat keadaan Arin. Sudah cukup dirinya mendengar dan melihat sesuatu yang membuat hati dan batinnya terluka. Kenyataan yang dari kemarin di terkanya kini sudah jelas di depan matanya. Dan semua itu mengharuskan dirinya merasakan sakit hati yang mendalam.


Maura enggan membuat kesan tak manis dipertemuan pertama dengan keluar Jo. Biarlah hatinya yang menangis namun wajah yang sedih bisa disembunyikannya demi berlangsungnya niat yang pernah goyah.


Dengan keyakinan hati , Maura akan tetap melanjutkan niatnya dan berusaha menutup perasaannya pada sang kakak serapat- rapatnya. Mungkin Arinlah yang dipilih Garvin untuk menjaga Garvin nantinya ketika dirinya sudah memilih jalannya sendiri.


Malam sudah menjelang dan warna jingga yang tadinya begitu memanjakan penglihatannya kini sudah mulai memudar. Maura berkali- kali mematut wajahnya dan penampilannya di depan cermin saking gugupnya. Dirinya takut jika awal perkenalan pertama nya dengan keluarga Jo tak sesuai ekpetasinya hingga mengakibatkan Maura tak henti- hentinya melihat pantulan dirinya di depan cermin.

__ADS_1


"Semoga ini adalah pilihan yang tepat untuk melupakannya dan mencoba menerima keadaan yang pernah terjadi." Batin Maura menoleh ke arah pintu kamarnya kala terdengar suara pintu terbuka dari luar.


”Cantik sekali anak mama" Ujar Sherly ketika netranya melihat ke arah Maura yang juga melihat ke arahnya.


Maura tak membalas ucapan Sherly karena dirinya masih terlalu dongkol dengan sikap yang di tujukan Sherly padamu tempo lalu. Ketika dimana seorang ibu akan berusaha membahagiakan putrinya bagaimanapun caranya. Namun berbeda dengan Sherly yang memaksakan kehendak meskipun dengan keadaan terpaksa Maura menerima perjodohan itu dengan lapang dada.


Bukan karena paksaan dari Sherly yang membuat Maura menerima perjodohan itu. Tetapi saran dan suport dari para sahabat nya lah yang membuat Maura memilih jalan tersebut.


"Rara kenapa? Apa masih marah sama mama" Tanya Sherly memegang bahu Maura kala tatapan Maura tak seperti biasanya padanya. Sherly berasumsi bahwa ada hal yang tak beres pada Maura hingga mengakibatkan Maura acuh padanya.


"Meskipun marah pun percuma karena mama sudah menang dari segala hal." Ujar Maura merapikan rambutnya yang dibiarkan Curly di ujungnya.


Dahi Sherly mengkerut dengan sendirinya kala ucapan Maura seperti tengah mengungkapkan sesuatu yang dirinyapun masih tak mengerti. Tapi ucapan itu mampu membuat seorang Sherly seperti ditohok dengan sempurnanya.


"Maksut kamu gimana Ra, apa selama ini kamu berfikir mama selalu mengekangmu tanpa alasan. Ini yang mama maksut Ra, Kamu mama larang untuk pacaran karna pesan dari papamu bukan karna mama yang berinisiatif sendiri." Papar Sherly mendudukkan bokongnya di pinggiran ranjang milik Maura. Maura hanya mendengarkan tanpa menyela ucapan sang mama. Pandangan Maura hanya lewat pantulan cermin sembari memandangi ungkapan Sherly diiringi linangan air mata.


"Mama sayang sama kamu Ra, Jadi mama bukan tak sembarangan memilih suami untukmu. Mama yakin Jo adalah pria yang sangat bisa menjaga perasaan dan segala kekurangan kamu." Paparnya lagi sembari mengusap air matanya dengan kasar.

__ADS_1


Tubuh Maura yang tadinya membelakangi Sherly kini sedikit demi sedikit memutar memandang tubuh bergetar Sherly yang tengah menangis dalam diamnya. Maura sangat tak tega melihat Sherly menangis apalagi semua itu karna dirinya. Maura berjalan secara perlahan dan berhenti di depan Sherly yang masih setia terduduk di pinggiran ranjangnya.


"Ma...." Panggil Maura hingga membuat Sherly mendongak ke arahnya.


__ADS_2