Cintai Aku Adikku

Cintai Aku Adikku
Garvin


__ADS_3

Maura tak tau harus berkata apalagi, percaya atau tak percayanya bisa dibuktikannya nanti ketika bangkai yang Jo tutupi pastilah akan tercium juga. Maura berusaha mempercayai apa yang diucapkan Jo meskipun itu sangat berbanding terbalik dengan kepercayaan hatinya.


Dari pada percecokannya semakin runyam dan panjang, Biarlah Maura akan mencari kebenarannya sendiri. Toh, percuma jika harus meminta penjelasan pada Jo. Karena pastinya Jo akan terus menyangkalnya.


"Iya gua percaya, Udah cepet anterin gua." Sahut Maura melerai pelukan Jo dengan perlahan. Ia tak mau Jo curiga jika dirinya masih belum mempercayai ucapannya karena sifatnya.


" Baiklah Queen. Aku akan membuktikan bahwa apa yang aku ucapkan memang benar adanya." Timpal Jo menghidupkan mesin mobilnya yang tengah menepi di pinggir jalan hanya untuk memberi penjelasan pada Maura. Hatinya merasa tersiram air es ketika Maura mempercayai ucapannya dengan mudahnya. Ya ,walaupun dirinya harus memelas terlebih dulu agar semuanya terlihat sempurna.


Dengan kecepatan sedang, Mobil milik Jo kembali membelah jalanan ibukota dengan hati yang riang. Tak dapat dipungkiri bahwa gadis yang berada di sampingnya ini setulus itu menyayanginya. Jo berfikir, Jika Maura tak tulus menyayanginya takkan mungkin Maura dengan mudahnya mempercayai ucapannya. Dan terus saja meminta untuk membatalkan perjodohan tersebut karena kebodohannya.


"Cepat Jo, gua capek pengen istirahat." Ujar Maura yang memutar matanya jengah ketika Jo sangat lambat membawa mobilnya. Tak taukah Jo jika Maura sangatlah khawatir dengan keadaan sang kakak ketika tadi melihat tampang tak terbaca di wajah Garvin.


Mungkin saja sekarang Maura sudah berada di samping Garvin. Seandainya dirinya mengejar Garvin dan menolak ajakan Richard. Sedari tadi hati Maura tak henti- hentinya berdoa agar Garvin tak melakukan hal bodoh.


Tuttt......


Tiba- tiba saja handphone yang berada di dalam tas Maura berbunyi. Dengan gesit Maura mengambilnya, Namun dipersekian detik dahinya mengkerut melihat nomor asing yang tertera di layar handphonenya.


Seakan tak penting karena nomer yang tertera tersebut baru. Bahkan Maura berfikiran itu hanya orang iseng yang tengah menghubunginya. Membuat Maura merasa enggan mengangkatnya.


Tuuuttt.....

__ADS_1


Ketiga kalinya nomer itu kembali menghubunginya. Dengan wajah kebingungannya , Maura menatap ke arah Jo agar Jo bisa memberikan pendapat untuk mengangkatnya atau tidak. Karena Maura berfikir jika nomer baru yang menghubunginya membuat dirinya malas , Apalagi ujung- ujungnya orang iseng yang melakukannya.


"Angkat aja , siapa tau penting buktinya itu nelvon mulu." Seakan tau apa yang tengah dipinta Maura ketika melihat ke arahnya.


Maura mengangkat telvon tersebut dan di letakkan di telinganya. Tanpa bersuara pula, Maura menunggu seseorang yang disebrang sana berbicara terlebih dulu.


Jo yang melihat Muara mengangkat telvon yang nampak ragu itu sesekali melirik ke arahnya. Bisa diliat jelas dimata Jo jika Muara sangatlah terganggu dengan nomer asing yang tiba- tiba menghubunginya.


"Sharelok kak, Aku segera kesana." Timpal Maura yang membalas ucapan seseorang yang menelvinnya. Dirinya juga tak bisa menyembunyikan lagi kegelisahannya. Apalagi setelah telvon itu mati, Jari jemarinya saling bertaut saking gelisanya.


"Kenapa Queen?" Tanya Jo yang melihat kegelisahan pada diri Maura. Bukannya mau ikut campur namun pada kenyataannya Maura adalah calon istrinya yang harus dijaganya sepanjang waktu.


"Gak ada Jo, turunin gua disini." Pungkas Maura tak ingin memberi tahu apa yang tengah terjadi pada Jo calon suaminya.


"Tolong Jo, Kak Garvin lagi mabuk aku harus segera kesana . Aku gak mau kak Garvin kenapa- kenapa." Sahut Maura yang berterus terang agar Jo tak lagi bertanya- tanya dan bukannya membuat rasa gelisahnya menghilang malahan semakin menjadi ketika Jo terus- terusan tak berhenti bertanya.


Air mata Maura menetes sedikit demi sedikit karena merasa bersalah telah meninggalkan Garvin sendiri tadi. Untung kedua sahabat Garvin menemaninya. Mungkin kalau tidak, entahlah apa yang akan terjadi pada sang kakak.


Bara, ya Bara yang telah menelvon Maura untuk menjemput Garvin di bar langganan Garvin dan kawan- kawan jika dalam keadaan banyak masalah. Lain dengan Tara yang tiada bosannya mengunjungi tempat seperti itu.


Bukannya tak mau membawa Garvin kembali ke rumahnya. Namun Garvin yang keras kepala menolak keras akan hal itu. Meskipun dalam keadaan Mabuk, entah mengapa sifat Garvin lebih menyebalkan dari pada dalam keadaan sadar. Hingga Bara berfikir mungkinkah jika Maura yang menyuruhnya pulang dan menjemputnya. Garvin akan senantiasa ikut dan menuruti apa kemauan Maura.

__ADS_1


"Seperhatian itu Queen sama kak Garvin, bukannya mereka hanya saudara tiri." Monolog Jo sekilas melihat ke arah Maura yang sangat kentara kegelisahannya.


"Jo cepat." Ungkap Maura lagi yang merasa Jo lelet mengendarai mobilnya. Apalagi dirinya harus cepat sampai tujuan karena khawatir dengan keadaan Garvin.


"Sabar Queen" Timpal Jo yang merasa perhatian Maura ke Garvin terlalu berlebihan. Walaupun sedari Jo kenal Garvin, Dan dipenglihatannya Garvin sangat membenci Jo. Dirinya tak sekalipun berfikiran ada hubungan khusus antara keduanya. Yang ada di dalam fikiran Jo, Garvin membencinya karena kejadian dimana dirinya masuk kedalam kamar Muara tanpa permisi. Dan yang lebih parahnya lagi, hampir saja dirinya menodai Maura jika Garvin tak datang tepat waktu.


Tapi melihat kekhawatiran di mata itu, Seakan fikirannya kembali terbelenggu. Bahkan Jo berfikir jika keduanya ada perasaan yang dipendam namun tak bisa diungkapkannya karena faktor status.


Tingggg....


Satu notif yang ditunggu- tunggu sudah masuk. Secepat kilat Muara memberikan alamat keberadaan Garvin saat ini pada Jo dengan tangan gemetar .


"Jo ikuti ini Jo, kak Garvin ada disana" Pangkas Maura memberikan handphonenya pada Jo.


Jo mengbil handphone itu dengan tampang mengkerut. Bukannya tempat yang dituju adalah tongkrongannya juga. Buat apa Garvin ada disana fikir Jo.


"Queen, Ini gak salah." Sahut Jo merasa was- was. Jika dirinya kesana kemungkinan besar orang yang mengenalnya akan menyapannya. Dan hal itu akan membuat Maura tau salah satu keburukannya.


" Lu ikutin aja Jo, bener enggaknya gua juga gak tau." Timpal Maura membenarkan posisinya saking khawatirnya.


Bahkan reaksi wajah Jo tak di tanggapinya sama sekali. Buat apa memikirkan reaksi wajah Jo ketika hatinya sangat mengkhawatirkan seseorang. Bukan membuat hatinya plong malah sebaliknya .

__ADS_1


"Tapi ini......" Belum usai Jo berucap, Maura menyelanya dengan tampang kesal. Menurut Maura, Jo keberatan mengantarkannya ke tempat dimana Garvin berada.


" Udah deh Jo, kalau lu gak mau nganterin Gua. Turunin gua disini. Lu fikir gua gak bisa nyampek situ tanpa lu." Papar Maura dengan raut penuh kekesalan dan kekhawatiran menjadi satu.


__ADS_2