
Rania dan Maura bergantian memandang Devina dan Arin yang masih cekcok tentang cerita yang baru saja di sampaikan Maura. Entah mengapa Arin sangat kekeh dengan saran yang di tujukan Devina pada Maura.
Apakah ada sesuatu yang Arin tau tentang Jonathan sehingga Arin sangatlah kekeh menolak perjodohan Maura dengan tuan muda Lubis.
"Apaan sih kalian, Jangan bikin Maura nambah kebanyakan masalah dong. Biarin Maura mengambil keputusnnya sendiri dari pada minta saran malah buat kalian bertengkar kayak gini." Sahut Rania yang sedari tadi hanya diam saja, namun kini berucap karena terlalu muak melihat perdebatan sengit antara Arin dan Devina yang tak ada ujungnya.
Devina dan Arin saling diam kala ucapan Rania memecahkan perdebatan antara keduanya. Mata keduanya memandang lekat Maura sembari menantikan keputusan yang akan di sampaikan Maura.
"Hufffhhh... Kalau menurut lu gimana Ran?" Tanya Maura meminta pendapat pada Rania yang memang sedari tadi terdiam sembari menghembuskan nafas kasar.
"Kalau menurut gua sih ya, Lu mending nyoba buka hati lu buat cowok itu deh Ra. Gak ada salahnya kan mencoba. Gak bakalan susah kok buat lu buka hati secara lu kan temen kecilnya juga. Dan buat kak Garvin, kalau menurut gua mending lu lupain aja sih ucapannya. Sekuat apapun kalian ingin bersatu, toh pastinya bakal nyakitin nyokap dan bokap lu. Ya itu aja sih saran gua, Coba aja dulu buka hati. Siapa tau nantinya lu bisa ngelupain kak Garvin seiring berjalannya waktu." Saran Rania membuat Arin memelototkan mata padanya.
Namun Arin hanya bisa memendam kekesalannya dalam hati karena takut akan membuat Maura berfikir yang macam- macam tentangnya. Tapi saran yang disampaikan Devina dan Rania barusan sangat mengganggu fikirannya.
Arin mengambil tasnya dan memakainya segeralah dirinya melenggang pergi dari kamar Maura tanpa sepatah katapun. Membuat ketiga temannya mengernyitkan dahinya termasuk Maura. Bingung tentu saja, harusnya kan Arin menghargai keputusan yang lainnya tak perlu pergi dan marah seperti itu fikir ketiganya.
"Kenapa dia?" Tanya Rania mengikuti arah pandang tubuh Arin yang hilang di balik pintu.
"Ya biasalah, Mungkin dia emosi karna pendapatnya gak dapat dukungan." Sahut Devina merasa bodoh amat sembari bersedekap dada.
"Nanti dia bakal balik kok, gak heran kan kalau persahabatan kita awet hingga saat ini." Celtuk Devuna lagi merobohkan tubuhnya di kasur milik Maura.
__ADS_1
"Mm jadi menurut kalian gua harus nyoba buka hati gua dulu gitu ya? Tapi yang bikin gua risih sama si jo itu waktu awal ketemu malah nemplok kayak cicak ke gua. Apalagi dia udah liat tubuh gua yang lagi polos." Ujar Maura menangkup wajahnya, merasa malu dengan kejadian tempo lalu. Dimana Jonathan yang melihatnya telanjang bulat di depan matanya.
Devina dan Rania menganga seakan tak percaya dengan ucapan Maura . Namun mereka percaya saja dengan perkataan Maura, apalagi Maura sangat anti berbohong.
"Lu sih Ra, kenapa ceroboh banget hah.? Ya kali kucing gak bakal nemplok kalau ada hidangan menggungah selera di depanya." Sahut Rania dengan senyum jailnya.
"Yaudah sih gak perlu malu, toh dia bakal tau rasanya juga hahha." Timpal Devina membuat Maura mencebikkan bibirnya.
Meskipun tak ada rasa dengan Jonathan tetapi jika sudah begitu bagaimana tak malu. Walaupun juga nantinya dirinya dan Jonathan menerima perjodohan tersebut.
"Ya jangan salahin Jonathan dong, Itu lu yang ceroboh Maura. Kalau seandainya lu liat keadaan sekitar mungkin si Jo gak bakalaan kayak gitu." Sahut Rania dengan penuh keyakinan.
Maura terdiam memikirkan apa yang di ucapkan teman- temannya dan ada benarnya juga perkataannya. Dimana dirinya harus mencoba membuka hatinya untuk Jonathan yang telah dijodohkan almarhum Alex untuk dirinya. Dengan perasan bimbang, Maura harus bisa meyakinkan hatinya untuk mencoba membuka hatinya.
"Oke deh, gua bakal berusaha buat buka hati demi almarhum papa dan demi mama" Ujar Maura.
Bibir Devina dan Rania nampak melengkung sempurna kala Maura menerima sarannya. Apalagi dirinya bakalan berusaha semampunya. Bukannya Devina dan Rania tak menyukai hubungan Maura dan Garvin namun situasi saat ini sangatlah berbeda dengan situasi beberapa minggu yang lalu.
Dimana tak ada yang melarang hubungan Maura dan Garvin kecuali Sherly yang tak mau anak gadisnya menjalin hubungan dengan pria manapun. Namun kali ini, bukan hanya Sherly yang melarang hubungan tersebut. Ketiga sahabatnya sangat enggan mendukungnya apapun alasannya.
Setelah berjam- jam lamanya bercerita panjang lebar dengan kedua sahabatnya. Kini keduanya sudah pergi dari apertement Maura. Sudah cukup menurutnya bertandang di Apertement baru sahabatnya. Dan kini cuaca sudah semakin sore waktunya mereka pulang.
__ADS_1
Maura berfikir akan mengunjungi peristirahatan terakhir sang Papa. Untuk meminta keridhoannya dalam mengambil keputusan. Apalagi ini adalah keputusan yang sangat berat menurutnya.
Taksi yang ditumpangi Maura sudah berada di depan gerbang TPU . Dengan sebuket bunga yang berada di genggamannya karena diperjalanan menuju ke TPU , Maura masih menyempatkan membeli bunga di pinggiran jalan raya.
"Ditunggu atau gimana neng?" Ujar Sopir taxi kala melihat Maura menuruni taxinya.
"Ditinggal juga gak apa- apa pak, saya pastinya lama." Sahut Maura memberikan dua lembar uang bergambar Soekarno- hatta.
"Neng kembaliannya." Teriak sang sopir kala Maura akan memasuki TPU tersebut.
"Ambil bapak saja ya, itu rezeki bapak." Teriak Maura juga yang hanya menoleh ke arah sang sopir dengan kaki yang terus saja melangkah ke depan.
Terdengar sang sopir berterima kasih namun Maura tak menggubrisnya. Dirinya sangat ingin cepat- cepat sampai di rumah terakhir sang papa.
Maura berjongkok kala didepannya terdapat pusara bernisan Alexio binti Hendra Xio. Sudah lama dirinya tak mengunjungi peristirahatan terakhir sang papa hanya karna banyak sekali kegiatan di kampusnya.
Dengan tangan gemetar dan air mata meluruh di pipinya. Tangan Maura terulur menaruh bunga di samping nisan sang papa. Taklupa kecupan lembut penuh dengan kasih sayang dilayangkannya.
"Aku datang papa, Aku sangat merindukan papa tapi alam kita sudah berbeda. Semoga papa bahagia ya disana. Rara selalu berdoa, semoga papa ditempatkan di surgaNYA." ujar Maura membelai nisan hitam tersebut dengan senyuman.
"Bismillah ya pa, Rara menerima perjodohan yang papa lakukan untuk Rara. Dan semoga saja jika Jonathan adalah pria baik yang menjaga Rara seperti papa dan papa Eglar." Lanjutnya lagi namun hanya dibalas oleh desiran angin yang membuat kerudungnya nampak tertiup kesana- kemari. Seakan sang papa berada disampingnya dan angin sebagia simbolnya.
__ADS_1
Tak ada yang bisa dilakukannya saat ini selain mendoakan sang papa yang telah berpulang terlebih dahulu.