
Langit sudah menampakkan warna jingganya dan itu pertanda hari akan menjelang malam. Sudah satu jam lebih dirinya duduk bercerita panjang lebar di depan pusara sang papa. Kini dirinya akan beranjak pergi dari tempat itu dengan pandangan masih fokus pada tempat peristirahatan terakhir Alexio.
Dengan berjalan pelan ke arah gerbang TPU , Maura meyakinkan diri semuanya akan baik- baik saja selama niatnya dimantapkannya.
Niat hati ingin berjalan ke arah jalan raya karena memang di jalan menuju TPU tersebut hanyalah gang kecil yang sangat sepi. Tak banyak orang yang berlalu lalang melewati jalan tersebut. Tinggal beberapa langkah lagi dirinya sampai di tepi jalan raya. Tiba- tiba saja mobil berwarna merah berhenti di depannya.
Tubuh Muara tercengan melihat mobil yang sangat familiar tengah berhenti di depannya ini. Ingin menghindari namun sesosok pria jangkung keluar dari dalam mobil tersebut dengan tampang kusut tak beraturan. Sorot matanya tak lepas dari Maura yang akan di hampirinya.
"Mati gua, Gimana bisa kak Garvin tau kalau gua disini." Batin Maura dengan saling meremat jarinya.
Ya, Lelaki jangkung tersebut adalah Garvin yang sedari tadi uring- uringan karena Maura tak mau ditemuinya. Bahkan Garvin tau jika tadi bik Ina beralasan hanya karena titah Maura. Garvin hanya berpura- pura tak tau menau tentang itu semua dan memilih pergi tanpa sepatah katapun. Namun niatnya yang masa bodoh dengan Muara yang tak mau ditemuainya harus buyar kala handpone Maura tak menerima panggilannya.
Garvin bertanya- tanya dengan sikap Maura yang berubah drastis. Bukannya semalam dirinya dan Maura sudah mulai bercanda dan saling menerima tetapi kenapa sekarang sepertinya Maura acuh tak acuh lagi padanya. Apa ada ucapan yang membuat Maura terluka hingga membuatnya kesal padanya fikir Garvin.
"Kenapa menghindar lagi?." Tanya Garvin to the point sembari menelisik wajah Maura yang menunduk seperti tak nyaman berada di dekat Garvin.
"S-iapa yang menghindar?." Sahut Maura gugup, bukannya menjawab malahan dirinya berbalik bertanya.
"Masuk mobil?" Titah Garvin seakan perintah yang tak terbantahkan.
"Anu kak, A-ku udah pesan Taxi bentar lagi nyampe kok." Ujar Maura mengecek hpnya karena memang tadi Maura sempat memesan taksi online sembari berjalan menuju jalan raya.
"Masuk mobil atau aku gendong sekarang." Timpal Garvin lagi membuat Maura melototkan matanya ke arah pria tinggi di depanny ini.
"K-ak." Rengek Maura namun tarikan tangan Garvin membuat Maura mau tak mau harus masuk ke dalam mobil mewah milik sang kakak.
Garvin mengambil handpone Maura secara paksa hanya karna ingin membatalkan pesanan taksi yang akan ditumpangi Maura. Setelah usai dengan tugasnya, Garvin memutari mobil dan duduk di kursi kemudi bersebelahan dengan Maura yang tengah mencebikkan bibirnya.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang karena hari menjelang malam dan membuat jalanan ibukota nampak macet. Maura hanya mendengus sebal selain handponenya tak di kembalikan oleh Garvin, dirinya juga merasa di campakkan. Apalagi tak ad sepatah katapun yang keluar dari bibir Garvin sedari masuk kedalam mobil.
__ADS_1
Sesekali pandangan Maura menoleh ke samping kirinya yang menampakkan lelaki tampan tengah fokus menyetir. Niatnya seakan goyah jika berada di dekat pria tersebut. Apalagi dirinya tak dihiraukan, membuat Maura mati- matian menahan suara agar tak bersuara sedikitpun . Maura takut jika dirinya berucap dan membuat Garvin membuka mulutnya, Rasa nyaman yang berusha di lupakannya kembali lagi.
Maura sudah sangat memantapkan hatinya untuk on the way melupakan Garvin dalam hatinya dan mencoba membuka hati untuk Jonathan.
Setelah menempuh beberapa jam di perjalanan yang sangat membuat hati Maura berdegup kencang. Kini Maura bis bernafas lega kala mobil yang di tumpanginya sudah terparkir sempurna di basement apertement.
Namun ras lega tersebut tak berlangsung lama ketika Garvin malah menarik tangannya menuju lift. Dengan gerakan lincah pula jari jemari Garvin memencet tombol di samping lift tersebut tanpa ragu.
"Kak, Gak perlu kayak gini kak." Seru Maura mencoba melepas cekalan tangan Garvin yang sedari tadi tak dilepaskannya.
Garvin masih diam saja tak menggubris seruan Maura namun cekalan tanggannya agak di longgarkan agar Maura tak merasakan kesakitan. Bukannya tak memperdulikan Maura yang berada dalam genggamnnya namun dirinya masih peduli dengan Maura . Bisa dilihat jika Garvin sesekali mencuri pandang ke arah wanita yang tengah merajuk di sampingnya ini.
"Kakk..." Seru Maura lagi kala Garvin kembali menarik tangannya kala pintu lift sudah terbuka sempurna.
Maura masih tak mengerti kemauan Garvin yang tak mau berbicara padanya. Hanya saja menarik tangannya tanpa mau melepaskannya.
"Buka." Titah Garvin ketika sudah sampai di depan unit Apertement mili Maura. Kalau saja Garvin tau paswordnya mungkin saja suara itu takkan keluar.
Ketika pintu terbuka dengan sempurna, Tangan Maura kembali di tariknya. Tangan Garvin satunya menutup pintu apertemen dengan kasar hingga membuat Maura terjingkat kaget.
"Kak, kakak apa- apaan sih kak." Ujar Maura kala dirinya di dorong dengan kasar di sofa ruang tamu.
"Kamu yang apa- apaan hah? Bukannya semalam kita sudah baikan kenapa sekarang kamu menghindar lagi hah?." Tanya Garvin dengan tangan bertempu ke kepala sofa sehingga membuat tubuh Maura terkurung di antara tangan Garvin.
"Kak, jangan kayak gini." Seru Maura mencoba melepas tangan Garvin yang bertengger di kepala sofa. Ia takut Garvin takkan terkendalikan nantinya jika posisinya terus- terusan seperti itu.
"Kenapa? Kamu takut" tanya Garvin dengan tersenyum miring.
"Jangan gila kak." Celtuk Maura masih bersikeras membuka kurunan tangan Garvin.
__ADS_1
"Jangan harap aku akan melepaskanmu sebelum pertanyaan yang aku tanya terjawab olehmu." Timpal Garvin membuat Maura bernafas dengan kasar. Bingung tentu saja, alasan apa yang akan di ucapkan saat ini pada Garvin fikir Maura.
"Pertanyaan yang mana kak?." Tanya Maura merasa bodoh.
Cihhh...
Garvin berdecih mendengar penuturan Maura, Iya sangat tau jika Maura hanya ingin mencari cela agar bisa lepas darinya tanpa menjawab pertanyaannya.
***Cupp...
"Kakak..." Pekik Maura kala kecupan hangat mendsrat sempurna di bibirnya. Siapa lagi kalau bukan kelakuan Garvin yang tak tau diri.
"Mau lagi." Tanya Garvin menaik turunkan alisnya di depan Maura.
" Mau kakak apasih kak, Kakak sudah gila hahh.? Sergah Maura menahan amarah karena kelakuan tak senonoh sang kakak.
"Iya aku gila, Gila karna kamu yang seolah- olah menjauh dariku padahal kita semalam baik- baik saja. Apa mamamu menghasutku dan membuat kamu jadi kayak gini hah." Tanya Garvin yang mulai tersulut emosi.
"Jaga ucapanmu kak, Aku kayak gini bukan karna mama tapi karena aku hanya ingin menjauh dari kamu yang selalu saja merasa benar sendiri." Ujar Maura yang sudah berhasil mendorong tubuh Garvin hingga membuat pemilik tubuh kekar itu mundur beberapa langkah.
"Cihh... Merasa benar sendiri kamu bilang. Kenapa baru bilang sekarang dan kemarin- kemarin kemana saja. Waktu kita pacaran saja kamu fine- fine aja, ouhh... Apa karna pria itu kamu jadi kayak gini ke aku.?" Ujar Garvin mengepalkan tangannya membayangkan kemarin Jonathan dengan sangat berhasrat memeluk Maura.
"Tebakan anda benar sekali kakakku. saya memang sangat mencintai tuan muda Lubis dari kecil hingga sekarang. Dan yang kemarin kami berpelukan itu sebenarnya aku sangat menikmatinya . Tapi ...
" Hentikan Maura , berhenti berbicara omong kosong seperti itu." Sergah Garvin membuang barang- barang yang masih baru itu dengan brutalnya.
Pyarr...
Pyarr..
__ADS_1
"Pergi dari sini kak, jangan buat tempatku hancur karena kelakuanmu." Tunjuk Maura ke arah pintu yang tertutup***.