Cintai Aku Adikku

Cintai Aku Adikku
Nguping


__ADS_3

Maura merasa kikuk di hadapan Richard dan Claudia, Apalagi dirinya sudah ketahuan mengintip dan menguping apa yang di ucapkan Claudia.


Mengapa tadi dirinya tak langsung menghampiri Claudi saja dan malah memilih mendengarkan apa yang di ucapkan fikir Maura .


"Kenapa nak?" Tanya Claudia yang berada di sebelahnya tak lupa tangannya mengusap bahu Maura dengan penuh kasih sayang.


Bukannya menjawab, Malahan Maura menggaruk kepalanya yang tak gatal di selingi cengiran khasnya. Ingin meminta maaf tetapi lidahnya seakan kelu untuk berucap.


"Mm anu tan, Maaf nih ya bukan maksut aku nguping tadi." Ujar Maura berusaha berucap walaupun tergagap, Ingin rasanya Maura tenggelam di dasar kolam agar wajah malunya tak dapat dilihat oleh Richard ataupun Claudia.


"Kalau bukan nguping apa tadi hmm?" Tanya Richard menimpali ucapan Maura. Richard sengaja bertanya seperti itu hanya karena menggoda gadis yang akan menjadi menantunya nanti.


Lagi- lagi Maura menggaruk kepalanya yang tak gatal setelah mendengarkan apa yang diucapkan Richard. Wajahnya bersemu merah ketika Richard dan Claudia kembali melihat ke arahnya.


"Gak nguping sih om, cuma nyimak aja." Sahut Maura merasa cengo dengan situasi saat ini.


Tawa Richard dan Claudia menggema di dalam ruangan tersebut ketika mendengar ucapan Maura dan melihat raut wajahnya. Pastilah rumah yang nampak sepi ini bisa hidup kembali ketika nanti Maura sudah berada disisinya. Richard hanya bisa pasrah bagaimana nanti reaksi Maura ketika tau yang sebenarnya . Ingin berterus terang saat ini, Namun dirinya masih memikirkan dampak negatif terlebih dulu . Tak semudah itu Sherly meluruskan jalannya dalam menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.


Richard hanya berfikir, Yang terpenting putrinya baik- baik saja dalam pengawasannya. Untuk Claudia, Pelan- pelan dirinya akan menjelaskan karena tidak memungkinkan bagi kesehatan Claudia jika harus to the point.


"Queen, kamu disini. Bukannya tadi kamu sama kak...." Cecar Jo yang baru saja masuk ke dalam rumahnya dan netranya langsung tertuju pada sosok Maura yang berada di tengah- tengah keluarganya.


" Mana sopan santun mu Jo, main masuk tanpa permisi." Celtuk Claudia dengan tak sukanya ketika melihat Jo masuk tanpa salam.


"Dari mana kamu?" Tanya Richard datar dengan pandangan seakan menusuk ke arah Jo.

__ADS_1


"Akuu tadi habis dar...." Belum selesai ucapan Jo, Claudia menimpali dengan ketidaksukaan cara Richard mencecar Jo. Apalagi didepannya ada calon istri dari Jo, sangat memalukan fikir Claudia.


"Pergilah ke kamarmu Jo, bersihkan dulu tubuhmu." Timpal Claudia mengusir Jo secara halus.


Jo hanya bisa menuruti ucapan Claudia, apalagi pandangan Richard seperti ingin memakannya mentah- mentah. Apalagi Jo sangat hafal betul dengan sifat Richard. Entah kesalahan apa yang dilakukan dirinya hingga membuat Richard nampak emosi melihatnya.


"Cepatlah Jo, kita akan menunggu di meja makan untuk makan malam." Timpal Claudia lagi hingga di persekian detik Jo melangkahkan kakinya menaiki tangga.


Jo masih bingung dengan kehadiran Maura di rumahnya dan sikap Richard padanya. Dirinya bahkan mengingat- ingat sehari inj dirinya tak melakukan keslahan apapun baik di kantor ataupun diluar kantor.


Tapi melihat sikap Richard padanya tadi membuatnya yakin jika ada kesalahan yang mungkin dirinya tak sadar.


"Bodo amat dah, pusing seharian banyak masalah. Belum lagi kelakuan cewek rese itu." Ujar Jo ketika sudah memasuki kamar pribadinya, sehari full otaknya bekerja ektra saking banyaknya masalah yang menghampiri dirinya.


Dibawah tepatnya di ruangan makan, Maura dan Claudia masih asik bercengkrama sembari menunggu hidangan. Richard nampak nyaman dengan situasi saat ini, bila perlu dirinya akan mengajak Maura ke rumahnya setiap hari agar kesedihan Claudia berkurang.


" Tan, Jo itu sebenarnya masih ada saudara kah? " Tanya Maura yang penasaran dengan apa yang di dengarnya tadi sewaktu Claudia berada di taman belakang seorang diri.


Deggg....


Mendengar ucapan Maura, sontak saja membuat Claudia dan Richard saling pandang. Apalagi kini wajah Claudia nampak puas dan pucat, Hingga membuat Maura bingung dibuatnya.


Netra Maura memandang silih berganti antara Richard dan Claudia. Ketika netranya melihat ke arah Claudia, wajah pias itu membuat Maura tertegun. Adakah yang salah dengan pertanyaan yang baru saja terucap fikir Maura.


" Ma.... " Belum selesai berujar, tiba- tiba saja Richard menimpali hingga membuat Maura mengurungkan lanjutan ucapannya.

__ADS_1


"Kita makan malam saja ya, Papa yakin kamu pastinya lapar kan?" Tanya Richard menyendokkan lauk pauk di piring Claudi dan Maura secara bergantian.


"Kok papa lagi si om, Aku bukan Jo ya." Peringat Maura lagi dengan bibir yang mencebik hingga membuat Claudia tersenyum lagi melihatnya.


"Ma , pa maaf Jo lama ." Ujar Jo yang tiba- tiba muncul di belakang Claudia tak lupa mendaratkan kecupan hangat di dahi sang mama.


"Kebiasaan deh kamu Jo, Bisanya cuma ngagetin mama saja." Timpal Claudia memukul pelan bahu sang anak karena telah mengagetkan dengan kemunculannya secara tiba- tiba.


Jo tak membalas ucapan Claudia hanya saja senyuman khas yang selalu di tujukannya. Jo mendudukkan dirinya di sebelah depan Claudia tepat di sebelah Richard. Bukannya tak melihat Richard tapi Jo memang sengaja menghindari bertatap muka dengan Richard. Biarlah jika nantinya ada masalah, Richard akan memanggil dan berbicara empat mata dengannya.


"Makan yang banyak nak, biar nanti kamu bisa lebih besar lagi." Celtuk Claudia menaruh beberapa lauk ke piring Maura.


Maura yang mendengar celoteh Claudia ,sontak saja terbatuk- batuk . Dengan gesitnya pula, Claudia memberikan segelas air putih untuk Maura . Tangan Claudia terulur mengusap tengkuk Maura agar batuknya cepat mereda.


"Pelan- pelan dong nak" Timpal Richard mendatangi kursi Maura dan duduk di sebelah Maura. Tangannya terulur mengambil gelas yang di berikan Claudia pada Maura, Richard bergantian menyuapi Maura dengan gelas yang berada di genggamannya.


"Mama sih bilang kayak gitu, Dia kan insecure mungkin ma" Celtuk Richard menaruh gelasnya kala batuk yang di derita Maura sudah mulai membaik.


" Kenapa dengan ucapan mama sih pa?" Tanya Claudia, Seingatnya tak ada yang salah dengan apa yang diucapkannya. Tetapi reaksi Maura sungguh di luar batas fikirnya.


"Jangan gitu tante , kalau aku melar nanti gak ada yang mau sama aku." Sahut Maura sembari menyuapkan lagi makanan ke mulutnya. Tak lupa dengan cebikan bibirnya yang menggemaskan dimata siapapun yang melihatnya.


Mendengar penuturan absurd Maura, Ketiga manusia yang berada di sana tak bisa lagi menahan tawanya. Apalagi Richard sampek memegangi perutnya saking gemasnya dengan penuturan Maura.


"Ada - ada aja deh, Makan ahh jangan ngelawak mulu nak" Sahut Claudia mengusap pelan bahu Maura.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2