
***Plakkk....
Plakkk....
"Bagaimana bisa kamu berfikiran begitu Garvin." Bentak Eglar menunjuk wajah Garvin dengan tampang garangnya***.
Membuat Maura dan Jo memberhentikan langkahnya ketika mendengar bentakan tersebut. Maura mematung melihat amarah Eglar yang menguap di depan matanya. Baru kali ini Maura melihat langsung betapa bengisnya seorang Eglar jika tengah marah.
"Pa, ada apa?." Ujar Maura melangkahkan kakinya ke arah Eglar dan meninggalkan Ji yang masih di pertengahan pintu.
Eglar menoleh ke arah Maura sekilas sebelum dirinya mendudukkan dirinya di kursi kebesarannya sembari menyunggar rambut rapinya kebelakang. Jo seakan mengerti dengan situasi di dalam ruangan hingga membuatnya berinisiatif pergi dari ruangan tersebut sebelum suara Eglar membuatnya mengurungkan niatnya.
"Siapa yang menyuruhmu keluar." sentak Eglar kala melihat Jo berbalik keluar ruangannya.
Jo kembali berbalik dan menatap mata elang Eglar dengan tatapan kebingungan. Adakah salah dirinya hingga Eglar menatapnya seperti itu fikir Jonathan.
"Maaf tuan, Saya fikir jika saya pergi. Tuan akan dengan leluasa membahas hal privacy keluarga tuan tanpa ada orang luar yang mengetahuinya termasuk saya." Papar Jo membalas tatapan mata Eglar dengan santainya.
"Cihh, Sombong sekali kau anak muda. Jangan bilang orang luar karna tak akan lama lagi kamu akan menjadi anggota keluarga kami." Ujar Eglar sembari mengayunkan tangannya agar Jo mendekat ke arahnya.
"Pa...." Rengek Garvin namun Eglar tak sekalipun menggubrisnya bahkan melihatnya.
__ADS_1
"Maaf tuan , maksut anda bagaimana.?" Ujar Jo yang sudah berdiri di depan Eglar hanya tersekat meja kebesarannya.
"Saya tau kamu pastinya mengerti anak muda, berhentilah bersikap bodoh seperti itu. Atau cintamu pada anakku membuatmu bodoh seperti ini." Sergah Eglar menatap Maura dan Jo secara bergantian.
"Apa yang dibilang kak Garvin sama papa bukannya papa maish belum menyukai Jo dan kenapa dari kata- katanya saja papa sepertinya menyetujui perjodohan kami." Batin Maura enggan mendongak karena terlalu takut dengan pandangan Eglar padanya.
"Maaf tuan, bukannya saya lancang tapi bukankah tuan masih belum bisa menerima kehadiran saya. Lalu bagaimana bisa anda berucap seperti itu. Bukankah itu terlalu cepat.?" Ujar Jo masih menduga- menduga dengan sikap yang ditujukan Eglar.
"Terlalu cerdik dirimu tuan muda Lubis, tak salah jika Richard mempercayakan semua kejayaannya padamu." Sahut Eglar menepuk tangannya karena merasa tersanjung dengan ke was- wasan seorang tuan muda Lubis.
"Jangan terlalu memuji tuan karena saya tak secerdik itu. Dan sangatlah jauh dari kata sempurna." timpal Jo lagi masih dilanda kebingungan dengan maksut Eglar.
"Pa, Bagaimana papa bisa melakukan itu sama Maura. Dengar pa, dia hanya anak tirimu dan papa gak berhak meminta si bangsat ini buat serius sama Maura pa. Maura itu cintanya sama ak...."
"Rara mau secepatnya menikah dengan Jo pa." Ujar Maura memotong ucapan Garvin yang akan membuat masalahnya semakin runyam.
"Ra..." seru Garvin sangat tak percaya dengan ucapan yang baru saja terlontar dari bibir Maura. Bagaimana bisa Maura menerima perjodohan dengan pria macam Jo fikir Garvin.
Kepala Garvin menggeleng- geleng tak percaya dengan ucapan spontan Maura namun menusuk hatinya. Apa benar yang diucapkannya tempo lalu jika dirinya hanya di buat tempat pelampiasan saja . Setega itukah Maura padanya hingga cinta tulusnya tak pernah ternilai dimatanya.
"Jangan berbohong Ra, aku tau jika ucapanmu itu hanya bohong belaka." Sahut Garvin mencoba memegang tangan Maura namun Maura berusaha menghindar. Maura sebenarnya berat melihat kerapuhan di mata Garvin namun tekadnya sudah bulat untuk menjauh dan menghilangkan perasaannya pada Garvin.
__ADS_1
"Aku tak berbohong kak, Apa kakak lupa ucapanku malam kemarin jika aku dan Jo sama- sama saling cinta sejak kami kecil. Apa salah aku ingin menyatukan cinta kami dengan menikah." Tegas Maura menahan air mata yang hendak merembes di pipinya.
"Maafin gua kak, ini yang terbaik buat kita." Batin Maura menatap nanar punggung kokoh yang membelakanginya. Karna kini Garvin tengah memandang keluar cendela sebelum Maura menyelesaikan ucapannya. Maura tau jika apa yang diucapkannya sangat menyakiti Garvin tetapi biarlah Garvin membencinya agar perasaannya pada Maura cepatlah lenyap begitupun sebaliknya.
"lupakan cinta kita kak, lupakan wanita jahat ini kak. Gua yakin, lu bisa dapetin yang lebih dari gua kak." Batin Maura menundukkan kepalanya hingga tak terasa cairan bening meluncur dipipinya. Namun dengan gesit Maura segera menghapusnya dengan kasar agar tak ada yang bisa melihatnya.
Tetapi semua itu terlihat jelas di mata Garvin ketika air mata Maura meluruh dipipinya. Walaupun ia membelakangi namun lewat pantulan cermin cendela, Garvin dapat melihat dengan jelas jika Maura juga tengah rapuh sama seperti dirinya.
"Aku tau kamu hanya terpaksa melakukan itu agar aku benci sama kamu Maura. Sampai kapanpun aku akan memperjuangkan cinta kita walaupun kamu selalu menolak bahkan mengungkapkan tak mencintaiku." Batin Garvin mengepalkan tangannya dengan erat hingga munculah buku- buku putih di sela- sela jarinya.
"Bagaimana Jo, Kamu sudah siap mempersunting putriku. Rara sudah mengkode tuh." Ujar Eglar membuat Jo memandang Maura yang tengah menunduk. Dimata Jo, Maura malu mendengar ucapan yang terlontar dari bibir Eglar.
Senyuman mengembang kala Maura melirik ke arahnya dan mengangguk seperti tengah mengkode agar Jo mau menyetujui ucapan Eglar. Jo sangat yakin jika apa yang dibicarakan Maura pada Garvin memang benar adanya. Bahkan senyuman kemenangan terukir jelas di bibir Jo kala Maura memandangnya dengan binar kebahagiaan.
"Saya siap tuan, dan secepatnya saya akan membae keluarga inti saya ke kediaman tuan . Dan mengadakan tukar cincin dihari itu juga. Agar Maura takkan bisa pergi lagi dari sisi saya." Ujar Jo mantap sekilas melirik ke arah punggung Garvin yang masih kokoh di depan cendela memandang ramainya ibukota dari ketinggian.
"Tersenyumlah untuk saat ini Bangsat, tapi jangan harap lu bisa memiliki dia." Batin Garvin yang sudah tak kuat dengan interaksi antara Eglar dan Jo. Tanpa permisi, dirinya melenggang pergi dari ruangan tersebut sembari membanting pintu ruangan Eglar hingga membuat yang berada di dalam terjingkat kaget.
Eglar bernafas kasar ketika melihat kelakuan putranya yang di luar ekpetasi. Apalagi Garvin tadi mengaku bahwa dirinya telah mencintai Maura dan berakhir Eglar menampar Garvin.
Bukannya apa- apa Eglar mempercepat pernikahan Maura dan Jo, karena Eglar takut jika perasaan Garvin akan semakin menjadi pada sang adik cantiknya.
__ADS_1