Cintai Aku Adikku

Cintai Aku Adikku
Permintaan Claudia


__ADS_3

Setelah acara makan malam berlangsung ,tak ada satupun yang berbicara hanya dentingan sendok dan garpu saling barsahutan. Dengan perasaan aman dan nyaman di tengah- tengah keluarga Lubis membuat Maura ingin menghabiskan waktu berlama- lama disana. Matanya melihat ke arah Claudia dan Richard secara bergantian. Entah apa yang membuat perasaan dan hatinya sangat betah di tengah- tengah mereka, namun yang Maura yakini adalah perhatian dan kecerian dari keluarga Richardlah yang membuatnya enggan berjauhan.


Berbeda sekali ketika dirinya berada di rumah Agler yang tak kalah mewahnya dengan rumah Richard. Mama yang dulunya sangat perhatian padanya kini sudah berubah total apalagi setelah pernikahannya dengan Agler. Yang membuat Maura betah dirumah milik Agler hanyalah papa sambung yang selalu mengutamakan kepentingannya.


Maura saja bingung sekarang, kenapa papa sambungnya terlihat lebih sayang padanya daripada mama yang telah melahirkannya. Jika sifat Sherly berubah karena menikah dengan Agler, bukannya sifatnya akan bertambah perhatian padanya melihat sifat yang di tujukan Agler padanya.


"Nak kenapa?" Tanya Claudia sekilas melihat ke arah Maura yang terlihat melamun sembari mengaduk makanannya.


"Ahh aku tak apa- apa kok tan." Sahut Maura gugup ketika ketahuan tengah melamun.


"Cerita aja sama kami jika ada sesuatu yang mengganjal di fikiranmu, kami siap mendengarkannya. Iya kan pa" Tutur Claudia lagi dengan penuh kelembutannya tak lupa tangan yang selalu setia merangkul pundak Maura.


Mendengar penuturan seperti itu dari Claudia, mata Maura mulai berkaca- kaca karna masih ada yang mau memperhatikan dirinya. Matanya bergulir ke arah Richard yang mengganggukkan kepala menyetujui apa yang Claudia bicarakan.


Seketika itu air mata yang sedari tadi ditahannya tumpah dengan dengan sendirinya. Tangan Maura menarik tubuh Claudia kedalam dekapannya. Seoalah mengerti apa kemauan Maura, Claudia membalas dekapan hangat itu dengan kasih sayang berlipat ruah. Tak seperti ketika bersama Sherly, Rasa aman dan nyaman itu tak bisa di dapatkan di dalam dekapan Sherly. Malahan ketika bersama Claudia rasa itu muncul secara tiba- tiba walaupun baru pertama kalinya bertemu.


" Aku beruntung kenal kalian, Aku seperti punya orangtua yang utuh" Celtuk Maura semakin mengeratkan pelukannya.


"Memnagnya mama kamu kenapa nak, apa mama kamu berlaku tak adil. Maaf nak, Tante bukan bermaksut mencampuri urusan pribadimu nak." Tanya Claudia mengusap punggung bergetar milik Maura.

__ADS_1


"Aku juga bingung tan, entah ini perasaanku atau gimana. Setelah mama menikah dengan papa Agler, aku merasakan bahwa ada yang berubah dari mama." Sahut Maura semakin menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Claudia.


Biasanya Maura sangat enggan menceritakan masalahnya pada siapapun. Meskipun ke sahabatanya sendiripun jika dirinya tak berkenan bercerita, Maura akan menutupi selama dirinya mau. Tetapi dengan Claudia ataupun Richard, dirinya tak ada niatan menutupi masalahnya.


"Mungkin hanya perasaanmu saja nak, Mamamu gak akan mungkin mengurangi perhatiannya pada sosok anak kandungnya. Atau kemungkinan mamamu lagi ada urusan sehingga perhatiannya berkurang. Kamu jangan berfikir yang tidak- tidak ya nak, Karena selamanya perhatian dan kasih sayang seorang mama tidak akan berubah pada darah dagingnya." Papar Claudia mengusap bahu dan rambut hitam berkuncir milik Maura.


Berasa lega hatinya, Maura mengurai pelukannya dan menatap lekat wajah yang setia pucat milik Claudia. Setiap apa yang diucapkan Claudia membuat dirinya seperti tengah dinasehati seseorang yang sangatlah menyayanginya. Hatinya terasa damai melihat wajah yang pucat tersebut apalagi melihat senyuman ketulusan di wajahnya.


"Iya mungkin saja ya tan, terima kasih udah mau mendengar ceritaku tan. Ohya maaf bukannya gak mau berlama- lama disini tapi ini udah malam tan, om. Saya mau pamit, dan terima kasih untuk makan malamnya yang luar biasa ini." Ujar Maura sekilas melihat jam yang melingkar di tangannya. Air mata yang tadi sempat menetes di pipi sikapnya dengan jari jemari lentiknya.


Jo yang mendengar penuturan Maura, Berdiri berniat mengantarkan sang pujaan hati pulang namun tatapan Richard membuatnya semakin kebingungan.


"Mau nganter Queen pa" Sahut Jo tanpa ada yang ditutupi, memang nyatanya Jo berniat mengantarkan Maura pulang kerumahnya.


"Gak perlu ,biar papa aja yang nganter Maura." Sahut Richard datar sembari bangun dari duduknya. Ketika akan melangkah ke arah Maura suara Claudia membuatnya harus menghentikan langkah.


"Apaan sih pa, biarin Jo yang nganterin. hitung- hitung biar lebih deket sebelum acara pernikahan mereka." Sahut Claudia mencekal tangan Richard agar duduk kembali ke tempat semula.


Richard mau tak mau kembali mendudukkan bolongnya di kursi semula. Saking cintanya terhadap Claudia ,apapun yang diucapkan Claudia selalu diturutinya. Tatapan Richard kini beralih ke arah Jo yang nampak tersenyum kemenangan karena Claudia mendukungnya.

__ADS_1


Langkah Jo mengarah ke arah tempat duduk Maura yang masih setia di pegang erat jari- jemarinya oleh Claudia. Dengan memakai kaos polo dan celana diatas lutut tak membuat ketampanan seorang Jo memudar. Hal itu membuat hati Maura gugup kala tangan Jo menggenggam tangannya. Apalagi ketika suara Jo terdengar di indera pendengaran Maura hatinya berasa bedenyut. Tetapi semua itu seakan terhalang oleh perasaan yang sudah termiliki oleh seseorang. Bahkan hati dan fikirannya sudah ada yang menempati hingga tak seorangpun bisa menggantikannya termasuk Jonathan Lubis.


"Mari Queen." Ucap Jo meraih pergelangan tangan Maura spontan pandangan Maura mengarah pada Jo hinnga dipersekian detik mata mereka saling bertemu.


Maura merasa gugup dengan tatapan lekat yang ditujukan Jo padanya. Hingga dipersekian detik kemudian, Maura memilih memalingkan wajah ke arah lain agar rasa gugupnya lenyap.


" Om, tante. Aku pamit dulu ya." Ujar Maura menyalami Claudia dan Richard secara bergantian.


Tatapan Claudia nampak enggan sekali berpisah dengan Maura . Namun dengan berat hati dirinya memperbolehkan Maura pulang.


"Sering - sering ya nak main kesini." Timpal Claudia mengikuti langkah Maura dengan kursi roda yang tengah di dorong oleh Richard.


Maura menoleh kebelakang tepatnya ke arah Claudia yang sedang meneteskan air mata. Entah apa yang membuat Claudia beruraian air mata. Namun hal itu sukses membuat hati Maura tercubit. Maura menghentikan langkahnya dan melepas cekalan tangan Jo yang masih bertengger di lengannya.


"Tante kenapa nangis, apa ada yang sakit." Ujar Maura berjongkok di depan Claudia yang terduduk di kursi roda. Jemarinya menggenggam tangan kurus Claudia dengan penuh kelembutan.


"Tante sayang sama kamu nak, Jangan pernah berfikir menghindar dari Jo apalagi membatalkan perjodohan ini ya nak. Tante sangat berharap kamu jadi anak mantu tante." Sahut Claudia mengusap rambut Maura dengan penuh permohonan. Claudia sangat berharap jika Mauralah yang bisa merubah keburukan Jo nantinya.


"

__ADS_1


__ADS_2