
Sesuai apa yang tengah di fikirkan Maura, Jika Agler akan marah- marah walaupun bukan kepadanya. Melainkan pada Garvin yang sudah di kabari beberapa jam lalu namun tak sekalipun digubrisnya.
Reaksi Maura dan Garvin sangatlah berbeda. Dimana Maura menunduk ketakutan dan Garvin melahan menempelkan earpone di telinganya. Hal itu sukses membuat Agler semakin meradang dibuatnya.
"Garvin, dengar papa atau tidak???" Sergah Agler menjewer telinga Garvin dengan keras, Hingga membuat Garvin terpekik kesakitan gegara ulah tangan Agler.
"Sakit paa...." Pekik Garvin mencekal lengan Agler agar berhenti menjewernya. Tak taukah Agler jika Garvin sangat tersiksa dengan apa yang dilakukan Agler.
"Dengar atau tidak Garvin" Sergah Agler lagi semakin keras menjewer telinga Garvin.
"Aww.... Denger pa, Sumpah denger." Ujar Garvin menarik bahu Maura yang berada disampingnya. Mencoba mencari pembelaan dari gadis yang melihatnya dengan tatapan iba.
Agler yang melihat lengan Garvin terulur mengapit bahu Maura. Dengan gesit Agler memukul lengan itu hingga suara terpekik dari Garvin keluar.
Garvin semakin pasrah dengan apa yang dilakukan Agler. Apalagi Maura tak sekalipun berkutik membantunya. Sembari memejamkan mata, Garvin meresapi rasa nano- nano yang timbul dari telinga yang dijewer Agler.
" Kapan kamu akan berubah vin, papa sudah tua. Dan kamu satu- satunya meneruskan apa yang papa punya sekarang" Sahut Agler melepaskan jeweran itu dengan mata masih setia menelisik wajah Garvin. Apalagi mata Garvin masih saja terpejam .menikmati sensasi yang luar biasa.
"Kalau aku menikah, Garvin janji akan berubah." Timpal Garvin membuka matanya secara pelan.
Matanya menyiratkan kesungguhan dalam ucapannya. Bahkan nerranya juga membalas tatapan Agler yang nampak tak biasa melihatnya.
Wajah Agler dilanda kebingungan mendengar penuturan Garvin. Apakah Garvin ingin menikahi gadis yang pernah diceritakan padanya. Bukankah tempo lalu, Garvin pernah sempat berucap jika mencintai sang adik tiri. Secepat itukah Garvin memalingkan hatinya.
__ADS_1
"Siapa yang akan kamu nikahi, bilang pada papa. Papa akan secepatnya melamar dia untukmu. Atau kekasihmu itu, yang pernah kamu ceritakan pada papa.???" Cecar Agler membuat Garvin menyunggingkan senyumannya. Tak lupa netranya melirik sekilas ke arah Maura yang tengah membuang muka. Mungkinkah Maura cemburu dengan apa yang dimaksud Agler .
Agler memandang secara bergantian antara Garvin dan Maura. Hatinya lega melihat Garvin masih mau memperdulikan Maura meskipun Maura anak kandung Sherly. Sesosok wanita yang telah memfitnah ibunda tercintanya dengan kurang ajar. Bahkan Agler lebih memilih meninggalkan Sherly namun tidak dengan Maura. Ia akan tetap mengganggap Maura anaknya walaupun statusnya dengan Sherly nantinya sudah berubah.
Dan untuk Maura, Dirinya bahkan belum tau jika Sherly sudah di depak dari rumah mewah milik Agler. Yang ia tau hanyalah Sherly dengan lancangnya membicarakan aib bunda Garvin didepan Ricahrd sang calon besan. Bukankah itu tak pantas, Apalagi tak lama lagi dirinya dan Richard akan berbesanan.
"Apa papa yakin akan menikahkan aku dengan kekasihku." Ujar Garvin lagi dengan suara mantapnya, Matanya tak lupa melirik sekilas ke arah Maura. Ingin tau bagaimana reaksi Maura nantinya. Cemburu kah????
" Ya, bicaralah. Papa akan melamarnya untukmu asalkan kamu berubah lebih bijak lagi." Timpal Garvin mendudukkan bokongnya di kursi kebesarannya. Memandang bergantian kedua sejoli yang berbeda reaksi wajahnya.
"Maura Alexio pa, Dialah wanita yang ingin aku nikahi." Papar Garvin dengan gamblangnya, Jarinya menunjuk ke arah Maura yang dilanda keterkejutan.
Deggg....
Sekilas juga pandangan Maura melihat ke arah Agler yang tengah menopang dagu melihat ke arahnya dan Garvin. Bisa- bisanya Garvin membuat lelucon seperti itu fikir Maura.
Kaki Maura terarah menginjak kaki Garvin yang terbalut sepatu fantoufal hitam mengkilat. Hingga membuat Garvin terpekik mengangkat satu kakinya ke atas.
" Awww, Sakit Maura." Pekik Garvin terpincang- pincang dengan satu kakinya. Rasanya diluar dugaan, Dimana gadis mungil bisa memberikan rasa yang terlampau luar biasa.
"Pa, kak Garvin lagi mabuk. Jangan dengarkan dia, Aku pamit dulu keruanganku pa. Lagi ada tugas yang belum aku selesaikan." Ujar Maura berpamitan, Dirinya enggan mendengarkan celoteh ngawur dari bibir Garvin lebih panjang lagi. Malu tentu saja, apalagi didepannya ini ada sang papa yang tengah memandangnya tak biasa.
Dengan secepat kilat Maura berlari kecil keluar dari ruangan Agler. Tanpa menunggu respon Agler, Kaki mungil Maura meninggalkan ruangan tersebut.
__ADS_1
"Gila kak Garvin." Gerutu Maura dalam hatinya, ketika ucapan Garvin masih terngiang- ngiang di otaknya.
Agler yang melihat tingkah Garvin dan Maura hanya menggeleng- gelengkan kepala. Jika memang keduanya saling mencintai, Agler tak ada alasan lagi melarangnya. Apalagi dirinya akan mengambil keputusan yang nantinya akan membuatnya berpisah dengan Sherly.
Namun disisi lain, Maura terlihat sangat enggan menjalin hubungan dengan Garvin. Kemungkinan besar, apa yang dikatakan Maura tempo lalu benar adanya. Jika dirinya sangat mencintai Jo mulai dari keduanya kecil. Dan tak mungkin bagi Garvin untuk menjadi orang ketiga diantara Maura dan Garvin.
" Apakah Maura adikmu yang dulunya kamu ceritakan pada papamu ini vin???" Tanya Agler ketika melihat Garvin mendudukkan dirinya di depan Agler.
"Iya pa, Semuanya kandas karena ulah papa dan wanita ular itu." Sergah Garvin terasa emosi ketika mengingat wajah Sherly
"Dan kamu tak ada bilang sama papamu ini vin." Ujar Agler lagi tak mau kalah dengan apa yang diucapkan Garvin.
"Aku berniat memberi tahu pa, tapi Maura melarangnya bahkan dia bersujud dan menangis didepanku. Aku bingung harus melakukan apa pa." Seru Garvin mulai terang- terangan membicarakan masalalunya dengan Maura.
" Tapi kenapa Maura berbicara seakan tak ada perasaan padamu vin, Seakan dia sangat mencintai Jo." Papar Agler lagi yang melihat ketidak adanya perasaan Maura pada Garvin.
Agler merasa bingung dengan cinta segitiga yang dilalui anak- anaknya. Ingin rasanya ikut campur, namun keadaan Mauralah yang tidak memungkinkan. Dimana penjelasan Maura sangatlah bertolak belakang dengan apa yang dibicarakan Garvin padanya.
" Itu hanya akal- akalan Maura saja pa, karena aku yakin jika Maura masih mencintaiku. Dan papa harus tau, Alasan Maura berbicara seperti itu semata- mata hanya demi wanita ular itu agar tak kecewa padanya." Seru Garvin semakin terang- terangan bercerita panjang lebar.
Agler hanya mengangguk- anggukkan kepala mendengar ucapan Garvin. Apalagi kini Garvin tengah membisikkan sesuatu pada Agler. Agler hanya manggut- manggut menanggapinya tak lupa senyuman mengembang disudut bibirnya. Keduanya bekerja sama dalam melakukan rencana yang akan membuat Maura mengaku akan perasaannya. Untuk keluarga Lubis, biarkan semuanya akan difikirkannya belakangan.
Bersambung....
__ADS_1