
Dengan gesitnya Maura mendekap tubuh rapuh Sherly dengan eratnya. Sungguh Maura sangatlah tak berdaya ketika wanita yang sudah melahirkannya dengan bertaruh nyawa harus menangis di depan matanya. Dan hal yang membuatnya menangis hanya karena dirinya yang terlalu egois.
"Maafkan Rara ma, Rara hanya kecewa saja dengan ucapan mama tempo lalu. Bismillah ma, Aku yakin pilihan mama bisa membuatku bahagia nantinya walaupun untuk saat ini masih dalam proses pengenalan." Ucap Maura mengusap punggung bergetar sang mama dengan penuh penyesalan.
Tanpa menjawab ucapan Maura, namun pelukan semakin dieratkan oleh Sherly. Dibalik punggung Maura tersebut, Terbitlah seutas senyuman sinis dari bibir Sherly karena apa yang di maunya sudah berada di depan matanya. Air mata yang sengaja di keluarkannya, dihapusnya dengan senyuman kemenangan. Tak peduli resiko apa yang diambilnya nanti jika apa yang selama bertahun- tahun di rahasiakan akan terbongkar.
Yang terpenting bagi Sherly untuk saat ini adalah semua rencananya berjalan dengan lancar tanpa halangan apapun.
" Udah ya mama jangan nangis lagi, Rara udah nurutin apa yang mama mau dan papa mau. Doakan saja Rara akan bahagia nantinya dengan Jo." timpal Maura lagi melerai pelukan nya sembari menatap lekat wajah sayu Sherly.
"Bahagia banget Ra, apalagi ketika Rara mau mengorbankan sesuatu yang berharga buat mama" Sahut Sherly dengan senyuman terbit dari ujung bibirnya.
Bibir Maura melengkung mendengar ucapan Sherly walaupun hal itu masih belum di mengertinya, namun dari pada adegannya berkepanjangan apalagi Maura sudah mendengar deru mobil saling bersahutan di depan rumahnya.
"Mereka tiba Ra," Ujar Sherly sangat antusias, sembari berlari kecil menyingkap gorden kamar Maura dengan rasa tak sabarnya.
Jika harusnya Maura yang sangat bahagia dan antusias berbeda dengan apa yang seharusnya dilakukan saat ini. Malahan posisi seperti itu diambil alih oleh sang mama. Hingga membuat Maura bertanya- tanya sendiri dalam batinnya dengan kalakuan Sherly.
"Segitu bahagiannya mama melihat keluarga Jo datang, berasa bukan aku yang bakal di lamar melainkan mama." Batin Maura melihat gerak- gerik Sherly yang terlampau senang.
Sherly berjalan ke arah meja rias milik Maura, tak lupa juga dirinya menambahkan sedikit bedak dan liftik milik Maura untuk di kenakannya. Tak taukah jika penampilan Sherly saat ini sangatlah cettar di penglihatan Maura.
"Bagaimana Ra penampilan Mama. Sudah elegant atau belum.?"Tanya Sherly memuatar- mutar tubuhnya di depan Maura layaknya seorang wanita yang tengah jatuh cinta.
"Usah udahlah ma, Harusnya kan yang harusnya tampil seperti itu Rara bukannya mama. Ingat ma , Mama udah ada suami dan jangan harap Jo mau melirik mama ya." Canda Maura namun mampu membuat Sherly bungkam dan salah tingkah karena terlalu berlebihan mengapresiasikan kebahagiaanya.
__ADS_1
Belum juga Sherly berucap namun ketukan pada pintunya mengurungkan Sherly untuk berbicara.
Tokk...tok...tokk....
"Non Maura, Tamu sudah datang . sama tuan disuruh ke bawah non" Ujar salah seorang pelayan yang disuruh Eglar memanggil Maura.
"Iya bik, saya turun bentar lagi." Sahut Maura dari dalam kamarnya.
Maura dan Sherly kembali bersiap sebelum turun kebawah. Bagi Maura sendiri tampil sederhana tanpa embel- embel elegant sudah sangat cukup banginya. Meskipun dirinya mantan model namun kesederhaannya sudah mendarah daging hingga saat ini.
Dengan menuruni tangga dengan gaya anggunnya, bak seorang cinderella yang dapat memikat siapa saja. Bukan hanya Jo yang terpesona dengan pahatan indah dan sempurna milik Maura. Claudia yang tadinya hanya bisa meremat jarinya di atas kursi rodanya nampak terpukau dengan penampilan dan paras ayu milik Maura. Hatinya nampak ditarik oleh sosok Maura ,hingga dipersekian detik wajah Claudia di banjiri oleh pinangan air mata.
"Jo apa dia calon mantu mama?"Tanya Claudia pelan dengan pandangan tak lepas dari sosok Maura yang tengah menyalami Richard dan yang lainnya secara bergantian.
"Iya ma, Dia Queenku." Ujar Jo yang juga tak bisa lepas pandangannya dari Maura.
Kini waktunya Maura menyalami Claudia, Wajah yang lumayan asing itu tak bisa mengingatkan dirinya pada kenangan terdahulu. Dimana dirinya dan Jo sering bermain bersama namun wajah Claudia tak pernah sekalipun di temuinya. Dan untuk saat ini , Awal pertemuan bagi dirinya dan Claudia namun mampu membuat Maura seperti sangat dekat dengan sosok Claudia.
" Tante nangis.? "Tanya Maura berjongkok di hadapan Claudia , tak lupa jari lentiknya mengusap lembut air mata yang menetes dari mata Caludia.
Entah bagaimana rasanya, namun yang mau rasakan saat ini sangat bahagia melihat wajah Claudia. Walaupun sebelumnya antara dirinya dan Claudia tak pernah bertemu sekalipun.
"Nama kamu siapa cantik? Ya, aku menangis karena melihat wajahmu mengingatkanku pada seseorang" Timpal Claudia membelai wajah Maura dengan penuh kasih sayang.
"Dia mirip banget sama kamu sayang ketika masih muda dulu" Timpal Richard yang sedari tadi melihat interaksi antara Maura dan Claudia.
__ADS_1
"Iya ma, Queen mirip mama . seperti anak kandung mama tapi nyatanya bukan." Sahut Jo dengan senyuman kecil namun mampu membuat semua yang ada disana menoleh ke arah Jo.
Claudia dan Maura saling pandang setelah mendengar penuturan Jo. Claudia dan Maura sama- sama menelisik wajah yang berada di hadapannya dengan jeli.
Bukannya rasa nyaman saja yang dirasakan keduanya bahkan banyak yang berucap jika Maura fotocopy dari Claudia muda. Banyak kemiripan dari keduanya dari segi wajah dan postur tubuh apalagi sifat.
"Sudah Maura, duduk disini nak. " pinta Richard agar Maura duduk di sebelahnya dan Claudia. Hingga posisi Maura terapit oleh Claudia dan Richard, sontak saja hal itu membuat seorang wanita nampak geram kala dirinya merasakan tercampakan oleh sosok Richnya.
" Tuan Rich, Apa anda tidak berencana mencari istri lagi?" Tanya Sherly dengan gamblangnya hingga membuat yang berada disana sontak saja melihat ke arah Sherly dengan memicingkan matanya begitupun Richard.
"Maaf saya hanya bercanda, Jangan dimasukkan dalam hati." Timpal Sherly lagi melirik ke arah Claudia yang tengah menundukkan kepala.
" Baiklah Nyonya Sherly, Saya faham dengan maksut anda. Saya tak berfikiran untuk menikah lagi karena buat apa mempunyai banyak wanita jiak satu saja tulusnya luar biasa." Ujar Richard menggenggam tangan Claudia yang tersekat oleh tubuh Maura. Namun hal itu tak membuat Richard mengurungkan niatnya untuk memperlihatkan keromantisan dan keharmonisannya dengan istri tercintanya.
"Maafkan istri saya tuan Rich, mungkin dia hanya bercanda agar suasananya tidak tegang. Begitu kan ma?" Tanya Eglar pada Sherly dengan tatapan yang sulit diartikan.
Eglar yang sedari tadi diam harus mengeluarkan suaranya kala mendengar ucapan tak senonoh istrinya. Sungguh membuatnya malu di depan tamunya yang sebentar lagi akan menjadi besannya.
***Jangan lupa dukungannya ya bestie...
Likeā¤
Comentš
Voteš„³
__ADS_1
Dan hadiahnya ya***....