Cintai Aku Adikku

Cintai Aku Adikku
Kegelisahan Garvin


__ADS_3

Tanpa menunggu keputusan Maura yang nantinya akan membuatnya sakit hati. Garvin melenggang pergi meninggalkan keluarganya yang masih berada di ruangan tersebut. Meskipun Eglar berkali-kali memanggilnya namun Garvin tak sekalipun menggubrisnya Bahkan menolehpun enggan.


Garvin tak siap mendengarkan bibir mungil itu menerima perjodohan gila yang dilakukan mamanya tersebut.


Dibeberapa menit kemudian, Mobil yang dikendarai Garvin sudah mendarat sempurna di basement apertement sang karib. Ya, Garvin memang berniat singgah di apertement sang karib karena menurutnya dirinya butuh menenangkan fikiran sebelum bertemu kenyataannya.


Garvin main nyelonong memasuki kamar yang sangat diyakininya sebagai tempat tinggal Tara sahabatnya. Apalagi kini kedua sahabatnya sudah berada didalam unit apertement menunggu kedatangannya.


Seperti biasanya Tara sang player tak sendiri, ia tengah beraktivitas panas bersama salah satu ****** yang siap melayaninya. Meskipun Garvin berjalan didepannya namun aktivitas tersebut masih saja tak terjadi, sungguh tiada rasa sungkannya.


Buggghhhh....


Garvin mendudukkan bokongnya secara kasar tepat di depan sofa yang tengah diduduki Tara dan wanita yang hampir saja bugil atas ulah Tara.


Sang pelaku utama hanya mnedengus sebal karena Garvin dirasanya sangat mengganggu aktivitasnya. Padahal nafsu birahinya sudah mencapai ubun- ubun namun dengan terpaksa Tara menyuruh wanita yang melayaninya pergi dari apertementnya.


Tara berjalan dengan hentakan kesalnya ke arah sang sahabat dengan jari yang tengah sibuk mengancingkan kemejanya.


"Kenapa lagi vin?" Tanya Tara yang sudah duduk di samping Garvin, walau dirinya dongkol karena aktivitasnya terganggu. Namun Tara tetap memprioritaskan sahabatnya yang setaunya dalam keadaan tak baik- baik saja.


Garvin tak menjawab namun kelakuannya tak dapat membohongi Tara yang masih bisa menangkap raut wajah kegelisahan di mata Garvin. Tara tau jika masalah yang dihadapi Garvin sangatlah tak mudah untuk dilalui. Mungkin saja jika Tara yang ada diposisinya saat ini, dirinya takkan mampu menghadapinya fikirnya.


"Kenapa lagi dengan Maura.?" Tanya Tara yang bisa menebak kesedihan yang terpampang nyata di raut wajah sang sahabat.


Bersahabat bertahun- tahun dengan Garvin, membuat Tara merasa iba dengan apa yang tengah terjadi. Apalagi sepengetahuannya, Garvin jarang sekali menampakkan kesedihannya namun kali ini rasa sedih itu nampak jauh lebih besar dari sifat aslinya.


"Dia dijodohin." Ungkap Garvin menatap langit- langit apertement Tara, karena memang sekarang posisi Garvin terduduk dengan bersandar di kepala sofa. Tak lupa kepalanya ia rebahkan di kepala sofa tersebut.


"What the ****, dijodohin . Sama siapa Vin.?" sergah Tara dengan spontannya. Karena menurutnya ada yang tidak beres dengan ucapan yang baru saja terlontar dari bibir Garvin. Apalagi mengingat orang tua Gsrvin dan Maura baru saja menikah, masak iya anaknya secepat itu menyusul.


Brakkk....

__ADS_1


"Epribadehhh brother." Ucap seseorang yang baru saja keluar dari kamar tamu dengan muka bantalnya.


Bara, ya Bara yang baru saja terbangun dari tidurnya karena mendengar suara yang tak asing ditelinganya. Dirinya memilih tidur di ruang tamu karena Bara merasa muak dengan tingkah Tara yang tak bosan- bosannya bergonta- ganti pasangan.


Tak seperti dirinya dan Garvin yang menetap di satu hati walaupun kisahnya tak sepahit yang dimiliki Garvin. Karena Bara dalam waktu dekat ini akan melangsungkan pernikahan dengan wanita yang teramat dicintainya. Melepas masa lajang yang teramat membosankan, apalagi mengingat percintaannya yang tak mulus- mulus amat.


"Kenapa?" Tanya Bara ke arah Tara kala Garvin tak menggubrisnya dan masih setia menatap langit- langit apertement Tara.


"Maura dijodohin." ungkap Tara membuat Bara yang baru saja mendudukkan bokongnya di sofa berseberangan dengan Garvin melototkan matanya. Serempak mata Bara bergulir ke arah Garvin yang mengeram frustasi dengan menyunggar kepalanya kebelakang.


"Kenapa bisa.?" Tanya Bara tak mengerti dengan situasi saat ini, Benerkah apa yang diucapkan Tara fikir Bara.


"Lu tanya ke gua, dan gua gak tau jawabannya." Ujar Tara ikut menyandarkan punggungnya di kepala sofa.


"Vin, kenapa bisa begitu." Ujar Bara dengan mata menelisik raut wajah Garvin yang nampak gelisah.


"Nyokap ngebet pengen jodohin Maura, katanya permintaan terakhir almarhum bokapnya Maura." Timpal Garvin menangkup wajahnya dengan tangan kekarnya.


"Terus lu percaya?" Tanya Bara menatap tajam ke arah Garvin yang seperti tengah pasrah dengan keadaan.


"Mikir dong vin, jangan kebawa emosi dulu. Lu yang gua kenal sebagai seorang CEO yang anti dengan omongan yang belum tentu benar. Dan lu itu bakal mencari tau sendiri kebenarannya, dan lu yang sekarang malah sok pasrah kayak gini. Dimana Garvin yang gua kenal hahhh..?" Papar Bara membuat Garvin merasa tertohok dangan kemarahan Bara. Apalagi Bara tak pernah semarah ini pada dirinya ataupun Tara.


"Dan lu vin, Gua tau lu masih cinta sama Maura tapi mengertilah setuasi lu saat ini. Status lu dan Maura udah beda, dan gua tau kalau melupakan seseorang yang kita cintai tidak mudah tapi berfikirlah dewasa. Maura sekarang adik lu." Pungkas Bara lagi dan itu sanggup membuat Garvin spontan menoleh ke arahnya dengan tatapan berkabut amarah.


Dengan tatapan bengisnya, tangan Garvin mencengkram kerah kaos yang di pakai Bara. Dirinya tak terima dengan apa yang diucapkan Bara di akhir kalimatnya walaupun itu adalah kenyataannya.


"Berhenti omong kosong Bara, Maura memang benar anak kandung mama Sherly tapi sampai kapanpun gua gak bakalan ngakuin kalau dia adek gua. Gua gak punya adek, lu paham hahh..." Sergah Garvin mendorong cengkramannya hingga membuat Bara terhuyung kebelakang .


"Woy, stop jangan debat aja. Kita harusnya bersatu, cari cara gimana caranya batalin perjodohan itu." Timpal Tara yang sudah membawa Garvin duduk lagi ke tempat semula.


"Mau apalagi dibatalin. Toh, Garvin sama si Maura gak bakalan bisa berst...."

__ADS_1


Bughhhhh....


Belum usai perkataan yang terlontar dari bibir Bara, tiba- tiba saja pukulan mendarat sempurna di pipi kiri Bara. Hingga membuat Bara terjatuh ke lantai dengan spontan.


"Gua bakalan buktiin ke lu kalau gua sama Maura bakal bersatu. Lu tunggu waktunya." Ucap Garvin kembali ke posisi semula karena Tara lagi- lagi menariknya.


Tara membantu Bara bangkit dari tersungkurnya karena ulah Garvin. Begitulah jika para sahabatnya berselisih paham, akan terjadilah adu tonjok dan adu bacot. Namun lambat laun mereka akan kembali akrab lagi jika salah satunya ada yang meminta maaf terlebih dulu.


"Udah lu diem Bar, Garvin lagi emosi dan lu jangan nambah mancing emosinya bego." Bisik Tara yang berusaha mendudukkan Bara di sofa seperti semula.


Dengan memegangi wajah yang lumayan panas karena pukulan spontan Garvin. Bara terdiam namun hatinya teranat dongkol dengan sikap keras kepala yang dimiliki Garvin. Namun demi persahabatannya tetap utuh, Bara menuruti perkataan Tara agar tak berbicara dan memancing emosi Garvin lagi


"Kita cari solusinya masing- masing vin, lu gak usah khawatir. Iya kan bar.?" Ucap Tara meminta persetujuan pada Bara agar membenarkan ucapannya. Dan itu akan membuat perasaan Garvin menjadi sedikit lega.


Bara menganggukkan kepalanya dengan malas namun untung saja Garvin tak fokus melihatnya. Hingga menafsirkan bahwa Bara sudah tak marah padanya.


"Lu jangan berfikir sendiri vin. Ingat masih ada kita disini dan kamaren gau ngasih masukan tapi lu tolak mentah- mentah. Seandainya nih kalau masukan gua lu lakuain, mungkin aja Muara udah jadi bini lu dan nyokap bokap lu gak nikah kemarin." Sahut Tara lagi membuat Garvin dan Bara menoleh spontan kearahnya.


"Masukan apaan Tar ?" tanya Bara yang mewakili Garvin yang juga penasaran dengan pembicaraan yang Tara sampaikan.


"Perkosa si Maura." Sahut Tara dengan santainya, dan itu membuat Bara terlihat cengo di depannya.


"Masukan gak berbobot itu." Sergah Bara yang menampilkan ekpersi tak percaya pada Tara karena masukan yang diberikannya sungguh sangatlah sesat.


"Lahh gak berbobot gimana? , Kalau seandainya papanya Garvin tau kalau anaknya udah nidurin anak gadis orang. Gua yakin kalau papanya Garvin bakal ngelepas mamanya Garvin karena anaknya telah melangkahinya terlebih dulu." Papar Tara lagi namun mendapat tonyoran sepihak dari Bara yang tak mau otak Garvin terkontaminasi oleh masukan Tara.


"Lu bener tar." Jawaban singkat Garvin membuat Bara langsung melotok ke arah Garvin dan Tara secara bergantian.


Akankah Garvin akan melakukan masukan yang baru saja diucapkan Tara?.


Bara menggeleng pelan melihat ke arah Garvin yang juga melihat ke arahnya.

__ADS_1


"Pliss, Jangan ikutin Vin. Tara udah gila." Timpal Bara yang melihat Garvin menatapnya dengan tatapan lelahnya. Bara mencoba meyakinkan Garvin lewat sorot matanya agar niatnya diurungkannya.


Bukan apa- apa Bara melakukan itu karena Bara takut dengan kemarahan papa Eglar yang akan mencincang Garvin jika semua itu terjadi. Dan semua itu akan merugikan Maura tentunya.


__ADS_2