
Setelah kejadian dimana Garvin mengetahui apa yang membuat Maura tak ingin memperjuangkan cintanya. Garvin sangatlah tak tenang apalagi dirinya belum memberi penjelasan yang sebenarnya. Padahal jika Garvin bertanya alasan, Jawaban Maura hanya takut kedua orang tua mereka kecewa. Tetapi jika difikir lagi oleh Garvin, Tak ada masalah jika Maura dan Garvin menyatukan cintanya . Tetapi jika Maura sudah berkehendak tak mau memperjuangkan cintanya , Garvin bisa apa. Toh, percuma juga ketika dirinya berjuang tetapi Maura tetep kekeh dengan pendiriannya.
Dan akhir- akhir ini , Ucapan Maura selalu membuat hati Garvin mencelos. Dengan pengungkapan Maura yang mengaku mencintai seorang Jonathan Lubis.
Hati siapa yang tak sakit hati jika gadis yang selalu berada dalam fikirannya berucap kata laknat seperti itu. Ingin marahpun tak bisa, karna sang gadislah yang membuat api di hatinya semakin membara. Garvin tak mampu menyakiti hati gadis yang teramat di cintainya, Apalagi sampai menyakiti fisiknya.
Meskipun berkali- kali Maura mematahkan hati dan batinnya karena ucapan dan sikapnya.
Kini tiba saatnya jam pulang, dan selama itu pula Garvin tak sekalipun keluar dari ruangannya. Makan siang dan apapun yang dibutuhkannya sudah ada office boy yang memenuhinya. Biasanya dirinya akan menyuruh Maura untuk membantu memenuhi kebutuhannya. Walaupun alasan utamanya hanya ingin berduaan dengan Maura walau sering adu cekcok dengannya.
Langkah kaki Garvin terhenti di depan ruangan Maura dengan pintu yang sudah tertutup. Sekilas Garvin mengintip di sisi cendela yang menampakkan Maja kerja Mau yang sudah kosong beserta lampu ruangan yang mulai redup. Itu tandanya sang pemilik ruangan sudah pulang.
Seketika langkah Garvin semakin mempercepat ketika handponenya memperlihatkan sebuah gambar gadis yang tengah menunggu jemputan di depan lobby kantor. Garvin berusaha meluruskan kesalahpahamannya agar hubungannya dengan Maura bisa kembali seperti sedia kala. Syukur- syukur Maura berlapang hati membatalkan perjodohan gila tersebut.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Disisi lain seseorang wanita nampak menunggu seseorang dengan tidak sabaran. Jari- jari lentikknya nampak mengetuk- ngetuk jari lentiknya di atas meja. Sudah dua jam lamanya dirinya menunggu namun seseorang yang ditunggunya tak kunjung datang.
"Sialann, Beraninya dia permainkan aku." Batin Sherly mengepalkan tangannya karena merasa dipermainkan oleh seseorang yang ditunggunya.
Ketika Sherly hendak meninggalkan Cafe yang sedari tadi membuatnya harus menunggu berjam- jam. Suara bariton pria yang selalu dirindukannya muncul di belakang punggungnya.
"Maaf jika kamu sudah menunggu lama" Ujar Rich yang baru saja sampai sembari berjalan ke arah kursi didepan Sherly hanya tersekat meja.
"Dua jam aku menunggumu Rich, tapi tak apalah demi cinta aku rela lakukan itu." Timpal Sherly menyanggah dagunya memandang wajah Richard dengan penuh senyuman menawan.
__ADS_1
"Cihhh, Gombalanmu sangat basi Li, Dan itu takkan berpengaruh untukku." Sahut Richard berdecih pelan.
"Tetap sama, Seberapun usahaku mencoba mencuri hatimu lagi. Tapi tetap pemenangnya si penyakitan itu." Sergah Sherly tersenyum miring dan itu sukses terlihat oleh Richard.
Entah apa yang membuat Richard dulu sangat mencintai wanita di depannya ini. Dan kini dirinya tau betapa liciknya sosok polos dan lugu yang dikenalnya dulu.
"Apa yang ingin kau bicarakan Li, aku tak banyak waktu apalagi meluangkan waktuku hanya untukmu." Tanya Richard tanpa basa- basi karena terlalu muak dengan wanita di depannya ini.
Sherly hanya menanggapinya dengan senyuman tipis. Sherly juga tahu, jika Richard sangatlah anti berlama- lama dengannya. Tetapi itu sangatlah disayangkan jika harus mempersingkat waktu bagi Sherly.
Malahan Sherly berusaha memperlambat waktu hanya bisa berlama- lama bersama dengan Richard.
"Percepat pernikahan Jo dan Maura Rich?" Sergah Sherly dengan penuh keseriusan, senyuman yang sedari tadi di tujukan kini sudah berubah menjadi raut wajah datar.
"Kenapa? Apa yang telah kamu rencanakan Li." Tanya Richard dengan wajah dua kali lipat keseriusannya.
"Benalu? Benalu apa maksutmu Li. Siapa yang kau sebut benalu? Apa ada orang ketiga dalam hubungan mereka." Tanya Richard mulai antusias dengan apa yang dikatakan Sherly.
"Cihhh, Bapak model apa kamu ini Rich. Perasaan banyak pengawal yang kamu kerahkan untun jadi penguntit peri kecilmu. Tapi hal sekecil itupun kamu gak tau." Sahut Sherly berdecih, tersenyum kecil pada kebodohan Richard.
"Apa yang kamu maksut itu anak tirimu itu.?" Tanya Richard tang tak suka dengan ucapan yang teramat meremehkan dirinya.
"Tepat sekali" Sahut Sherly sembari meminum minuman yang dipesan ketiga kalinya kala Richard tak kunjung datang.
Bukannya tak tau menau tentang kegiatan Maura. Namun Richard berusaha diam dengan privasy peri kecilnya. Bahkan untuk pekerjaan model saja, Richard juga harus turun tangan. Jika tidak, mungkin sampai saat ini Maura masih menjadi bulan- bulanan wartawan yang penasaran dengan resignnya Maura. Dan yang di takutkan Richard adalah hal tersebut akan membuat Maura tertekan dan takut untuk keluar bebas seperti selayaknya.
__ADS_1
"Apa yang membuatmu tak bisa menerima hubungan mereka Li, aku melihat dan bisa menilai bahwa anak tirimu itu pria baik- baik.? " Tanya Richard penasaran dengan keputusan Sherly. Meskipun Jo bukan anak kandungnya dan sudah dianggap sebagai anak kandung bagi dirinya. Tetapi ras was- was itu ada, Apalagi dirinya mengetahui tabiat Jo dan keburukan yang tak semua orang tau.
Richard hanya takut jika peri kecilnya nantinya takkan bahagia hidup bersama Jo. Jika tau sisi kelam yang dimiliki Jo apalagi Jo tak bisa merubah sifatnya.
"Aku tak menyukainya karna dia anak Tania Rich." Sergah Sherly dengan tangan terkepal, Menandakan bahwa adanya dendam tersembunyi di dalamnya.
Richard hanya bisa mengerutkan keningnya, Apalagi dirinya tak tau menau tentang Tania yang dimaksut Sherly.
"Siapa Tania Li, apa aku juga mengenalnya? " Tanya Richard semakin penasaran dengan cerita yang disampaikan Sherly.
"Kamu tak mengenalnya Rich, Karna aku kenal dia sewaktu kita sudah break dan mengenal Agler." Ucap Sherly menerawang kembali masa- masa kelamnya yang masih teringat rapi di dalam ingatannya.
"Jika kamu membenci ibunya silahkan Li, Tapi stop menyakiti anak kandungnya. Ya, benar dia anak kandung dari Tania itu tapi dia tidak ada sangkut pautnya dengan masalahmu dan Tania itu Li." Seru Richard mencoba bernegosiasi dengan dendam yang belum putus di hati Sherly.
"Cihhh... melupakan kamu bilang. Setelah dia membuat hidupku jadi kayak gini. No Rich, apa yang dilakukan dia sudah mendarah daging disini. Aku menikahi Agler juga dalam misi balas dendam." Sahut Sherly mengusap dadanya yang sakit ketika mengingat masa itu.
***Hai bestie mohon dukungannya ya.
Like❤
Coment💌
Vote🥳
Hadiah🌹
__ADS_1
Bersambung***....