
Gadis yang tengah terduduk bersama Garvin tersebut menampilkan senyuman leganya. Karena Garvin bersedia membantunya dengan berlapang dada.
Begitupula Garvin yang tak bisa menahan kebahguiaannya di kala masalahnya akan secepatnya clear tanpa dirinya bersusah payah. Seketika Garvin mematung kala tubuh Gadis yang sedari tadi menangis dan pada akhirnya kini bisa tersenyum tiba- tiba memeluk dirinya dari samping.
Bukannya menolak malahan Garvin membiarkan gadis tersebut mencari kenyaman pada pelukannya. Risih sebenarnya namun rasa tak teganya lebih dominan mengalahkan rasa risihnya.
Seseorang yang sedari tadi melihat interaksi keduanya nampak tertunduk lesu. Maura memang sengaja mengikuti Garvin karena takut akan emosi Garvin yang dilihatnya sangatlah tak biasa. Dirinya bahkan masih khawatir dengan keadaan Garvin ketika emosi Garvin belum lenyap. Hingga dirinya tiba di tempat dimana Garvin berada, dan yang membuatnya heran kala mobil sang karib berada disana juga.
Maura menerka- nerka tentang keberadaan mobil Garvin dan sang karib yang kebetulan bersamaan berada di tempat yang sama. Mereka janjian atau memang tak sengaja bertemu fikir Maura.
Hingga Maura memutuskan untuk mencari keberadaan Garvin dan sahabatnya di tepi danau. Namun sebuah fakta membuatnya terkejut ketika menyaksikan tatapan Garvin pada sang sahabat nampak berbeda. Hatinya tercubit merasakan cemburu yang mendalam.
"Seperti inikah yang kamu rasakan kak, ketika aku dan Jo bersama dan memutuskan menikah secepatnya." Batin Maura mencengkram batang pohon yang dibuatnya untuk melihat kedekatan keduanya. Walaupun tak mendengar apa yang dibicarakannya namun melihat tatapan Garvin saja membuat Maura menafsirkan hal yang lainnya.
Air matanya tak sengaja menetes tanpa dimintanya, Ingin kembali namun dirinya masih ingin tau seberapa kedetakan antara keduanya. Air matanya kembali meluruh kala melihat sang sahabat memeluk Garvin begitu eratnya. Seperti enggan melepaskan dan Garvinpun tak ada tanda- tanda penolakannya.
Wanita mana yang kuat ketika pria yang dicintainya begitu menikmati pelukan wanita lain. Ya, meskipun semuanya sudah menjadi bubur dan takkan bisa diulangi lagi karena Mauralah yang memilih melepaskan bukanya memperjuangkan.
"Mungkin ini karma untukku karna berkali- kali sudah menyakiti kak Garvin. Semoga kalian bahagia kakakku dan sahabatku." Ujar Maura berbicara pelan sebelum meninggalkan tempat tersebut.
__ADS_1
Dengan memundurkan tubuhnya namun pandangan masih mengarah ke arah dua sejoli yang masih nampak berpelukan. Kejadian naas tiba- tiba saja menimpa Maura kala sebuah batang pohon yang dirinya tak sadar berada di belakangnya. Alhasil Maura terjatuh terduduk di atas rerumputan karna kecerobohannya.
"Akhhhh..." pekik Maura kala bokongnya mendarat sempurna di atas tanah menyisakan rasa nyilu di area tersebut.
"Kenapa lu ada disini sih kayu, dasar begok. Gak tau apa kalau gua lagi galau kayak gini." Ujar Maura lirih namun matanya tak lepas dari kedua insan yang masih saja berpelukan seakan tak terganggu dengan suaranya yang menurutnya ranying.
"Mereka budek kali." Timpal Maura lagi mengusap kasar air matanya . Ia berdiri dan berjalan dengan kesalnya ke arah taksi yang sedari tadi ia suruh menunggu.
Sekuat apapun Maura menyangkal bahwa dirinya tak mencintai Garvin namun hatinya tak bisa dibohongi. Begitu sakit melihat Garvin menatap wanita lain dengan tatapan berbeda walaupun berbeda dengan caranya menatapnya. Namun itu sanggup membuat Maura cemburu dan sakit hati.
Apalagi tadi ada adegan berpelukan segala membuat Maura tak henti- hentinya memikirkannya. Kapan awal keduanya dekat hingga sampai seperti saat ini. Berpelukan dan diam- diam bertemu, apa selama Garvin masih menjadi kekasihnya keduanya sering diam- diam bertemu. Tapi untuk apa mereka berselingkuh di belakangnya fikirnya Maura.
Rasa penasaran dan cemburunya tak sampai disitu , Tangisannya semakin pecah kala dirinya sudah sampai di dalam kamarnya pribadinya. Sengaja memang mengunci kamarnya agar bik Ina tak bertanya- tanya dan menyampaikan apa yang dilakukannya pada Eglar tentunya.
...****************...
Garvin spontan menoleh ketika mendengar suara rintihan dan suara orang terjatuh. Belum sempat melihat kebelakang dengan sempurna, Tangan gadis yang masih berada di sebelahnya mengahalanginya dengan suara seperti berbisik- bisik.
"Jangan menoleh, ada Maura di belakang." Ujar si gadis menghalangi arah pandang Garvin dengan telapak tangannya.
__ADS_1
"Maura , serius.?" Tanya Garvin ingin membalikkan tubuhnya namun ucapan gadis tersebut membuatnya mematung.
"Jangan nengok kak, Biarin Maura tau siapa sebenarnya pria yang dicintainya Jo atau lu kak." Timpalnya lagi semakin mempererat pelukannya pada Garvin.
"Heh... Jangan bertindak bodoh kayak gini. Gimana kalau dia nyangka kita ada apa- apa hahh. Lepasin.." Pinta Garvin mencoba melerai pelukannya namun tak membuat si gadis melepaskannya. Malahan pelukan itu semakin erat saja menurut Garvin.
"Lepas bodoh, gimana gua bakal ngejelasin ke Maura kalau dianya marah dan gak mau ketemu gua lagi." Ucap Garvin lagi mencoba melepaskan lagi namun usahannya sia- sia karna yang dilawannya adalah wanita hamil. Dirinya takut jika berbuat kasar akan menyakiti keduannya.
"Dengar kak, Jangan bodoh jadi seorang pria hanya karna cinta. Biarin Maura intropeksi dulu, jika Maura marah atau kesel itu tandanya dia masih cinta sama lu. Tapi kalau dianya biasa aja , fixs dianya gak pernah cinta sama lu." Ujar gadis tersebut dengan melerai pelukannya pada Garvin kala melihat taksi yang ditumpangi Maura sudah hilang dipandangannya.
Garvin terdiam mendengar penuturan gadis tersebut ehh ralat maksutnya wanita karena slogan gadis tersebut hanya untuk perempuan yang masih perawan. Dan yang disebelah Garvin adalah sesosok perempuan yang tengah hamil walaupun belum menikah.
"Aappa Maura terlihat marah?." Ujar Garvin menoleh kebelakang namun sudah tak ada siapa- siapa disana. Matanya melihat keseluruh penjuru tepi danau , siapa tau Maura masih berada disana .
"Sudah balik dia kak, kamu tenang aja. Maura keliatan Marah kok sampek nangis malahan tadi. " Ucapnya sembari berusaha berdiri karena hari sudah menjelang sore.
"Mau kemana?" Tanya Garvin ketika melihat wanita hamil tersebut melangkah pergi menjauhi dirinya.
"Aku pulang dulu kak, besok aku akan kekantor lu. Dna lihat bagaimana marahnya Maura melihat lu bermesraan dengan wanita lain." Ujarnya lagi tanpa melihat ke arah Garvin.
__ADS_1
Dengan terus melangkah, tangannya mengelus perutnya yang masih rata dengan gerakan lembut. Air matanya lagi- lagi menetes meratapi nasibnya yang entah bagaimana endingnya. Entah pria yang menghamilinya akan bertanggung jawab atau malahan lari dari tanggung jawab. Sungguh membuat masa depannya hancur sehancur- hancurnya. Mengingat malam kelam itu, membuatnya seakan dikelilingi rasa penyesalan yang luar biasa. Apalagi hingga hadirlah seorang malaikat kecil di dalam rahimnya .
"Aku ikhlas Ra, jika memang dia yang benar- benar kamu cintai. Aku takkan mengganggumu sahabatku." Ujarnya menjalankan mobilnya dengan air mata membanjiri pipinya.