Cintai Aku Adikku

Cintai Aku Adikku
Maura tak sadarkan diri.


__ADS_3

Dengan penuh emosi dan penuh kekesalan dihatinya. Garvin membopong tubuh lemah Maura ala bridestyle. Bara dan Tara hanya mengedihkan bahunya kala Garvin melewati mereka begitu saja. Keduanya juga nampak bersalah karena ulahnya, Maura hampir saja habis di tangan Jo jika ketiganya tak datang tepat waktu.


***Flashback on.....


Tinggg***.....


Satu notif masuk ke dalam handphone Maura kala dirinya baru saja mendudukkan bokongnya di sofa.


📥 Bara: Ra, Garvin gak apa- apa . Gua bohong.


Satu pesan singkat membuat hati Maura lega membacanya. Bahkan senyuman bisa dengan jelas tercetak di wajah ayunya.


"Syukur deh kalau mereka bohong, Gua fikir mereka beneran." Batin Maura memasukkan lagi handphone miliknya ke dalam tas.


Bibir Maura ingin berucap agar Jo mengantarkan dirinya pulang. Namun sesuatu yang di tujukan Jo sangat membuatnya penasaran. Ditambah lagi wadah yang tak pernah sekalipun di temuinya. Semakin membuatnya melupakan niat awalnya.


Flashback off......


Bara dan Tara mengikuti langkah Garvin hingga diparkiran. Namun ketika Garvin memasukkan Maura di kursi belakang, Garvin melempar kunci mobilnya ke arah Bara. Dengan sigap Bara mengambilnya dengan kebingungan, Buat apa Garvin memberikan kunci mobil padanya fikir Bara.


"Anterin gua ke apartemen Maura, No bacot." Papar Garvin menutup pintu mobil bagian belakang.


"Syukurin, Rasain tuh. Makanya gak usah julid." Cecar Tara membuat Bara yang mendengarnya tak segan- segan menjitaknya. Sungguh laknat jika sang teman malah menertawainya ketika dirinya dilanda musibah.


Dengan keterpaksaan, Bara memasuki mobil Garvin dengan keadaan menggerutu. Bahkan bisa dengan jelas, Bara melihat Tara tak lagi menahan tawanya ketika mobil yang dikendarai Bara mulai melaju.


"Ini semua juga gara- gara Lu Tara. Enak aja gua yang nanggung sendiri." Batin Bara melihat tawa tengil dari Tara dari kaca spion.

__ADS_1


Bara akan memberikan pelajaran pada Tara esok hari. Bahkan jika perlu, Bara akan melakban bibir Tara agar tawa yang terkesan tengil bagi Bara tak lagi terdengar. Apalagi kebohongan yang dilakoninya juga ada campur tangan dari Tara, bukan hanya dirinya yang terlibat.


"Vin, ini ada air putih. Coba siram Maura, Siapa tau bangun." Usul Bara memberikan sebotol air mineral ke arah belakang tanpa melihat reaksi wajah Garvin yang sudah berubah.


"****** Lu Bar, Lu mau Bini Gua kedinginan dan masuk angin hahh.. " Sergah Garvin memelototkan matanya ke arah Bara, Bara yang melihat Garvin dari spion nampak mengehela nafas panjang. Apalagi melihat mata melotot Garvin, ingin rasanya dicolok tuh mata fikir Bara.


"Lu bego gegara cinta apa gimana sih Vin, Sumpah gua pengen juga nyiram lu biar gak ogeb- ogeb amat." Papar Bara kembali menaruh air mineral di samping kursi kemudianya.


Bara semakin kesal saja dengan perlakuan Garvin. Bukannya apa yang diucapkan masih masuk akal di fikiran. Tetapi respon Garvin seakan membuatnya bodoh.


"Biarin aja dulu Bar, Gua gak mau dia masuk angin. Biarin nanti kalau sudah ada di apertement" Ujar Garvin mengusap wajah Maura yang terdapat beberapa helai rambutnya.


Hati Garvin teramat membenci Sherly meskipun Maura anak kandung dari Sherly. Tetapi rasa benci pada diri Maura tak sekalipun bersemi. Bahkan dirinya berfikir akan semakin gencar mendapatkan Maura lagi dalam pelukannya. Tak rela melihat gadis yang kini berada dalam pangkuannya ini menjadi pribadi seperti Sherly.


Apalagi kini ada sosok yang begitu gencar menginginkan Muara menjadi istrinya. Namun selama dirinya masih bernafas, Tak akan terjadi pernikahan antara Maura dengan lelaki manapun kecuali dirinya.


Bara yang mendengarnya hanya bisa memutar bola matanya malas. Penyesalan memang selalu ada dibelakang ketika ada masalah. Jika berada di depan namanya pendaftaran , bukan begitu???.


"Lu sekarang ngomong gitu vin, Pikun atau gimana sih. Tadi gua udah bilang tapi lu tetep ngotot." Monolog Bara yang tengah melihat kelakuan Garvin di kaca spion yang tepat mengarah ke arah Garvin dan Maura yang masih tak sadarkan diri.


Hingga di persekian menit, Tepatnya empat puluh enam menit menempuh perjalan yang lumayan lenggang. Kini mobil yang di tumpangi Bara dan Garvin sudah terparkir sempurna di basement apertement yang di tempati Maura.


Kenapa tak pulang saja?


Jawabannya hanya satu, Garvin tak ingin membuat Agler berfikiran macam- macam tentang Maura. Apalagi tadi Agler dan Sherly sempat bercekcok. Dan mengakibatkan Sherly terusir dari rumahnya. Garvin tak mau Agler berfikir menyamakan Sherly dengan Maura walaupun mereka masih sedarah.


Garvin kembali membopong tubuh Maura menaiki lift diikuti oleh Bara yang terus mengikutinya walaupun tak diminta. Bara hanya berjaga- jaga saja, takutnya Garvin khilaf dan semakin memperkeruh suasana.

__ADS_1


Apalagi kini Sherly akan selalu memantau baik Garvin ataupun Maura. Takkan diberi luang bagi Sherly untuk mencari kesalahan keduanya fikir Bara.


Tepat di depan pintu kamar Maura tanpa diminta pula , Bara membukakan pintu Apertemnet tersebut dengan kode yang diucapkan Garvin. Sudah seperti bodyguard yang siap siaga bukan????.


" Vin, Gua ingetin jangan ngikutin apa yang dibilang Tara dulu." Papar Bara yang terus saja membututi Garvin hingga masuk kedalam kamar Muara.


" Gua gak setuju banget dengan apa yang diucapkan Tara, Lu paham kan Vin." Timpal Bara lagi mendudukkan bokongnya di tepi ranjang Maura.


Garvin tak sekalipun mendengarkan ucapan yang terlontar dari mulut Bara. Dirinya sibuk menidurkan Maura di atas ranjangnya. Bahkan Garvin mencoba membuak kancing atas kemeja yang dipakai Maura. Sontak saja perlakuan tersebut membuat Bara memelototkan matanya tak percaya.


"Vin , insyaf vin. Lu bakal nambah masalah kalau kayak gitu." Sergah Bara mencekal lengan Garvin yang hendak memegang kancing kemeja Maura.


"Apaan sih Bar." Timpal Garvin menghempaskan tangan Bara.


" Dari tadi lu gak dengerin gua Vin, Jangan lakuin hal menjijikkan Vin. Jika dia jodoh lu meskipun Jo gak bakal bisa misahin Lu." Ungkap Bara memegang bahu Garvin dengan mata yang menyorot ke penglihatan Garvin.


Tuukkk....


Jari kekar Garvin mengetuk dahi Bara dengan kerasnya. Bahkan Bara mengadu kesakitan ketika mendapat serangan mendadak dari Garvin.


Tanpa menggubris kesakitan pada Bara, Garvin malah asik bersedekap dada melihat Bara.


" Lu pikir Gua Tara yang seenak jidat nidurin anak orang , Gua juga ngerti Bar. Gua bukan Tara dan Gua bukan Jo yang akan melakukan hal menjijikkan agar keinginan gua tercapa." Sahut Garvin bersedekap dada, mendudukkan bokongnya di tepi ranjang milik Maura sembari melihat wajah terpejam orang terkasihnya.


Bara bernafas dengan lega ketika mendengar penuturan Garvin. Berarti dirinya bisa meninggalkan Garvin dan Maura dengan tenang ketika dirinya memilih kembali ke rumahnya. Bahkan dirinya takkan berfikir yang macam- macam.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2