
Pagi menjelang dengan lentera cahaya yang memanjakan mata. Tak ada seorangpun yang bisa menandingi keindahan sang mentari tersebut.
Burung berkicau dengan riangnya menyaksikan dengan detail keelekon sang surya. Sesosok gadis yang baru saja terbangun karena terganggu dengan cahaya yang menyorot dari cela gorden kamarnya.
Mata sembabnya tidak bisa membohongi jikalau sedari semalam dirinya menangis. Ingin sekali memberhentikan air matanya namun seakan bandel.
Kaki mulusnya menapaki lantai marmer dengan begitu lesunya seperti tak bertenaga sama sekali. Namun dirinya harus tetap bangkit dari keterpurukannya karena keputusannya sendiri.
Sudah beberapa menit lamanya dirinya menyelesaikan ritual mandinya. Kini tinggal mengoles bedak natural pada wajahnya taklupa liptin yang membuat wajah itu nampak manis.
Sebelum melenggang pergi, Maura mematut dirinya di depan cermin dengan penuh kepasraan. Tak taukah dirinya jika apa yang selama ini dilakukannya pada Garvin akan membuatnya menyesal. Dan kita hanya menunggu waktu itu tiba.
"Lu harus bisa Maura karena lu udah ngambil keputusan yang tepat." Ujar Maura meyakinkan kembali hatinya yang mulai goyah.
Maura melenggang pergi dari kamarnya untuk kembali bekerja di perusahaan Eglar. Niatnya ingin resign dari perusahaan tersebut, Karena pekerjaan dirinya sebagai sekertaris seorang Garvin membuatnya takut akan kembali goyahnya hatinya.
Tetapi niat itu hanya angan- angan saja karena dirinya tak ingin membuat Garvin bertanya- tanya alasannya apa.
"Queen." Panggil Jo yang baru saja keluar dari dalam mobilnya ketika penglihatannya melihat seorang Maura hendak memberhentikan taksi di depan apertemntnya.
"Jo, Sejak kapan disini.?" Tanya Maura yang melihat Jo berjalan tergesa- gesa ke arahnya.
"Aku kan udah chat kamu, kalau aku bakalan jemput Queen." Ujar Jo menetralkan deru nafasnya karena tergesa- gesa kala melihat taksi yang diberhentikan Maura pintu penumpangnya sudah terbuka.
Maura mengambil hanpone yang berada di dalam tasnya, dan benar saja banyak sekali notif bahkan panggilan tak terjawab dari Jo. Rasa bersalah seketika mencuat kala dirinya mengingat telah mengabaikan Jo hanya karna keasyikan menangis meratapi kisah asmaranya.
__ADS_1
"Maaf Jo aku dari semalam tak melihat handpone, ini baru masuk semuanya." Ujar Maura menunduk lesu sembari menunjukkan handponenya pada Jo.
Jo hanya tersenyum kecil manyaksikan wajah lesu Maura hanya karna mengabaikan dirinya. Hingga berfikir betapa besarnya pembalas cinta Maura padanya.
"Neng ini gimana ,jadi apa nggak.?" Tanya sang sopir taksi yang sedari tadi mengaksikan interaksi antara Maura dan Jo.
"Maaf pak di cancel ya pak, ini saya kasih uang kerugiannya ya." Bukan Maura yang menjawab melainkan Jo sembari merogoh dompetnya. Ia tak mau nama Maura dikenal jelek di mata masyarakat hanya karna mencancel dengan sepihak.
Sang sopir sangat berterima kasih pada sosok Jo yang tak main- main memberikan uang tips padanya. Uang yang lumayan dan sangat banyak jika dibandingkan dengan tujuan Maura yang hanya memakan beberapa puluh ribu doang. Namun uang yang diberikan Mauru lima kali lipat dari pembayaarannya.
Dirinya tiada hentinya bersyukur karna mendapat nikmat yang diluar dugaannya.
"Terima kasih mas, mbak. Semoga langgeng ya dan cepat menuju ke pelaminan." Timpal sang sopir membungkuk di hadapan Maura dan Jo memberikan salam hormat.
"Amiin pak, InsyaAllah doa bapak akan segera terkabul." Sahut Jo mengembangkan senyumannya.
"Mm Queen, Kamu sudah mantap kan menikah denganku.?" Tanya Jo ketika dirinya teringat ucapan Maura di depan Eglar untuk cepat- cepat mensakralkan hubungannya.
Deggg.....
Maura spontan menoleh ke arah Jo, Dirinya bahkan merasa kaget dengan apa yang diucapkan Jo padanya. Padahal itu semua ucapannya sendiri di depan Eglar kemarin.
"Jo, Mmm jangan bahas ini dulu ya . Aku masih bingung." Pinta Maura menatap ke arah depan dengan tatapan kosongnya.
"Loh, Queen bukannya kamu sendiri yang bilang ke om Eglar jika sebisa mungkin kita menikah. Kamu gak lupa kan?" Tanya Jo yang merasa tertusuk dengan ucapan Maura. Dirinya terlanjur bahagia kemarin namun dengan cepatnya Maura membuatnya terjatuh kembali.
__ADS_1
"Mana mungkin aku lupa Jo, Aku ingat semua ucapakanku kemarin tapi aku mohin jangan bahas masalah menikah dulu ya. Kita jalanin aja dulu," Sahut Maura berusaha memberikan pengertian pada Jo agar tak keburu melangsungkan pernikahan tesebut.
"No Queen, Apa yang kamu ucapkan kemarin akan aku lakukan. Maaf, aku takkan menuruti ucapanmu untuk saat ini. Jika kamu tak mau membahasnya biarkan aku , papaku dan keluargamu yang membahasnya. Kamu cukup diam saja." Ujar Jo yang sangat terlihat kekesalan di wajahnya karena ucapan Maura.
Bukannya apa- apa Maura berucap seperti itu, Hanya karna dirinya masih merasakan cemburu pad sosok Garvin membuatnya berfikir ulang untuk menikah. Tetapi jika keinginan Jo sudah seperti itu, mau tak mau dirinya harus pasrah dengan resiko yang telah dibuatnya.
Mobil yang ditumpangi Maura dan Jo sudah membelok ke arah perusahaan pencakar langit milik Eglar. Sebelum turun dari mobil, Secepat kilat Jo menarik tangan Maura hingga terjadilah adegan berpelukan di dalam mobil. Bahkan Jo sesekali mencuri kecupan mesrah di pipi dan kening Maura.
"Jangan pernah berucap seperti itu Queen. Sungguh aku sangat kecewa." Ujar Jo menangkup wajah Maura dengan tatapan lembutnya.
"Maaf Jo, aku hanya masih bingung." Sahut Maura menundukkan kepalanyaa.
"Apa yang kamu bingungkan hmmm? Apa ada lelaki lain yang berusaha mengotori fikiranmu.?" Tanya Jo dengan tampang tak sukanya bisa dilihat jika Jo tengah cemburu berkata seperti itu.
"Jangan aneh- aneh Jo. Aku mau turun dulu ya." Pinta Maura agar Jo berhenti membahasnya. Dirinya takut akan kecrplosan nantinya jika Jo tak henti- hentinya membahasnya.
"Berjanjilah Queen, usir semua pria yang masih berada di hatimu. Ukirlah namaku dan jangan pernah kau hapus Queen." Pinta Jo membuat Maura tersenyum tipis namun tak membalas ucapan Jo. Maura bergegas menutup pintu mobil tersebut sebelum Jo kembali bersuara dan itu akan semakin membuatnya bersalah.
Maur melambaikan tangannya kala mobil Jo sudah bergerak meninggalkan halaman perusahaan tersebut. Tatapan lesunya kembali ditujukan ketika mengingat jabatan yang kini akan dilakoninya. Maskipun jabatan tersebut tinggi namun dirinya berusaha mati- matian membentengi hatinya.
"Yok Maura ,lu bisa jangan sampai bikin Jo bertambah kecewa sama Lu." Batin Maura melenggang masuk kedalam perusahaan milik Eglar.
Semua karyawan nampak menunduk ke arahnya karena mereka tau jika Maura adalah anak tiri dari bosnya. Jadi sebisa mungkin mereka menghormati Maura sama seperti pada Garvin.
Maura tak henti- hentinya membalas sapaan karyawan yang dilewatinya bahkan dirinya tak sadar jika sedari tadi ada kamera yang selalu memantau gerak- geriknya.
__ADS_1
Bersmbung....