Cintai Aku Adikku

Cintai Aku Adikku
Strees


__ADS_3

Garvin mengendarai mobilnya dengan perasaan berkecamuk dihatinya. Mengingat perkataan Sherly yang masih terngiang- ngiang dikepalanya. Apa maksutnya, dua kata itu yang sedari tadi tengah bersarang di otaknya.


"Apa yang sebenarnya mama sembunyikan dari kami, kenapa sepertinya mama menyembunyikan sesuatu . Tapi apa?." Batin Garvin bertanya- tanya dalam benaknya.


Ia sangat yakin jika ada sesuatu yang tidak beres pada sang mama tapi apa itu. Seakan tak percaya dengan perkataan yang baru saja terlontar dari bibir sang mama namun pada faktanya itulah yang terucap.


"Aku harus cari tau." Ujar Garvin bermonolog dengan dirinya sendiri. Tangan kirinya mengambil handpone pintarnya yang berada di sebelahnya hingga di persekian detik handpone pintar tersebut berbunyi.


***Tuuutttt......


" Cari tau apa yang aku perintahkan di pesan email" Ucap Garvin pada seseorang dibalik telvonya.


"Baik tuan." Suara beriton di balik telvon menjawabnya, tak ada keraguan pada seseorang di balik telvon tersebut. Hingga membuat Garvin yakin jika pesuruhnya dapat di andalkan.


Tuuuttt***...


Tanpa persetujuan seseorang di balik telvon seorang Garvin memutuskannya secara sepihak. Tak peduli jika diseberang sana tengah mengumpat bahkan mencemooh sifat ketidak sopanan Garvin.


Setelah selesai dengan rencanannya, kali ini Garvin mengendarai mobilnya dengan lumayan tenang . Karna cepat atau lambat semuanya akan terkuak jika dirinya yang meminta. Ditemani dengan lagu melow dan semilirnya angin pagi, ia baru teringat jika sekarang dirinya akan meeting bersama dengan sang papa.


"Kenapa jadi lupa sih." umpat Garvin kala dirnya mengingat sesuatu dan itu semua akan menjadi bulan- bulanan sang papa jika dirinya sampai.


"Jadi telat deh, gara- gara kepikaran sama yang gak guna." ujar Garvin menoleh kearah jam yang bertengger di tangannya. Dengan laju lambat ataupun cepatpun percuma karena memang kini dirinya sudah terlambat. Toh, gak bakal mempersingkat waktu pikirnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Seorang gadis cantik yang masih memakai piyama tidurnya tengah memandang keasrian kota di balkon apertementnya. Bukannya tak mau membantu para pelayan yang tengah membersihkan apertementnya namun ancaman Eglar membuatnya seakan mati kutu di tempat. Bahkan kata- katanya selalu terngiang- ngiang diingatannya .


"Jangan seklipun membiarkan putriku membantu kalian. Atau kalian akan tau akibatnya." Ujar Eglar yang tadi menyempatkan mampir di apertementnya.


Maura bersyukur di anak emaskan oleh ayah tirinya seperti ayah kandung Maura sendiri. Mengingat almarhum sang papa, Cairan bening meluncur di pipinya tanpa aba- aba.


Dimana wanita yang tak pernah menampakkan air matanya pada siapapun, kini harus memperlihatkan air mata itu pada sesosok pria yang masih bersemayam di hatinya. Bahkan nama itu sudah terpahat indah di dalam hati terdalamnya. Hanya karna perjodohan gila dan tak sedikitpun diinginkannya.


Apa salah Maura menentang perjodohan itu dan memilih mencari kebahagiannya sendiri. Atau sang papa akan marah jika dirinya bersikeras menentang perjodohan dengan pria bermarga Lubis.


Tapi mengingat perkataan Garvin semalam membawa angin segar tersendiri hatinya. Tapi apakah ucapan Garvin dapat di percaya atau malah sebaliknya. Mengingat ucapan Garvin membuat Maura sekelebat merindukan wajah yang semalam tengah tertawa bersamanya. Wajah tegas namun tampan itu salah satu alasan yang membuat Maura pergi meninggalkan rumah mewah milik Eglar. Jika Maura masih bersikeras mempertahankan untuk tinggal disana, kemungkinan besar rasa cintanya pada Garvin akan tumbuh dengan suburnya. Apalagi mereka satu atap dan kini baik Garvin dan Maura sudah mulai akur dan bercanda bersama. Situasi seperti itulah yang tidak di harapkan Maura, aneh bukan.


Saudara tiri akan senang jika akur akan tetapi berbeda dengan Maura yang sangat tertekan dengan keakuran tersebut. Kalian pasti tau kan alasannya?..


Dalam keadaan rapuh seperti itu Maura tak mau nampak lemah di hadapan siapapun .Cukup pada Garvin di malam itu dan takkan terulang lagi. Maura menengok kebelakang kala suara pintu terbuka diikuti suara melengking mengganggu me time rapuhnya.


Secepat kilat, Maura menghapus sisa- sisa air mata yang masih nampak di pipinya. Bisa gempar dunianya jika ketiga sahabatnya tau bahwa dirinya tengah menangis.


"Maura, I'm coming baby." Teriak Devina ketika pintu kamar Maura terbuka.


"Maura, aku datang." Ucap Arin yang juga ikut masuk di belakang Devina.


"Rania yang cantik badai ini juga datang hon." Sergah Rania yang juga ikut masuk ke dalam kamar Maura.


Maura tak menanggapi hanya memutar matanya jengah melihat kelakuan absurd ketiga sahabtanya. Namun dirinya juga bersyukur karna adanya mereka , Maura takkan kepikiran lagi dengan masalah yang menimpanya.

__ADS_1


"Ngapain kesini, mau numpang makan apa tidur." Sahut Maura berjalan ke arah ketiga sahabatnya yang sudah terduduk di sofa kamarnya.


"Ya ellah, lu ma gitu ma kita Ra. Kita gak numpang dua- duanya kok . Cuma numpang cuci baju doang." Sahut Devina dengan tawa lepasnya. Membuat yang mendengarnya juga ikut tertawa pula.


"Kalau gua numpang nyuci daleman Ra, air dirumah mati belum bayar." Sahut Arin yang juga tertawa lepas .


"Udah pada kere kalian semua hah? Nyuci aja numpang. Kagak sekalian nanti bikin anak numpang juga." Ujar Maura membalas keabsuradan ke tiga temannya dengan bersedekap dada. Hal yang lumrah menurutnya ketika mereka berkumpul dan itu akan membuat seisi bumi hancur karna keabsuradan dan candaannya.


"Boleh di coba Ra, saranmu yang membagongkan." celtuk Arin dengan mulut menganga.


"Ihh amit- amit rin, lu mau kepunyaan suami lu ada yang tau. Iya kalau tegak menantang, lah kalau kayak jeli kepriben non.?" Sahut Devina menonyor pelan dahi Arin hingga membuatnya mengaduh kesakitan.


"Dev, mana ada kayak jeli. Yang ada itu kayak kadal atau iguana." Sahut Arin bersungut- sungut tak lupa pula bersedekap dada.


"Lu kira kebun binatang haah. Pakek nyamain sama kadal dan iguana. Lu mau di sengat kadal." Bukan Devina yang menyahutnya melainkan Rania yang sedari tadi terdiam menyimak interaksi ketiganya.


"Uww , Kukira dia cupu ternyata suhu." celtuk Arin membuat ketiganya terpingkal- pingkal. Bagaimana nantinya jika mereka menjalankan aktivitas masing- masing, pastinya akan jarang sekali bertemu dan berkumpul.


Persabatan yang terjalin bertahun- tahun dan membuat keempatnya menjadi satu server tidaklah mudah. Sempat salah satu dari mereka saling bermusuhan hanya karna seorang pria. Namun lambat laun persahabatan tersebut utuh kembali seperti sedia kala.


"Sumpah, gua bersyukur punya sahabat macam kalian. Meskipun agak stres tapi gua tetap bersyukur berkali- kali lipat." Ujar Maura memandang bergantian wajah para sahabatnya.


"Yakkk, dikata kita orang gila yak." Timpal Devina melayangkan sebuah bantal ke arah Maura, dan membuat siisi kamar menggema suara canda tawa keempatnya.


bersambung

__ADS_1


__ADS_2