
Sontak saja Garvin melihat ke arah Maura dan benar saja tangan mulus itu sudah memerah. Tak menunggu lama Garvin menarik tangan Maura menuju pantry yang berada didalam ruangannya. Sembari menunggu Garvin yang berkutat di depan kulkas, Maura mendudukkan bokongnya di kursi pantry.
Hingga dipersekian menit datanglah Garvin dengan tangan membawa baskom yang sudah terisi air es.
Tanpa sepatah katapun tangan Garvin menarik tangan Maura dengan telatennya. Sembari mengompres tangan Maura yang sudah memerah dan hampir saja melepuh.
"Kenapa kamu ceroboh sekali?." Cecar Garvin sembari mengusap tangan Maura dengan penuh kehati- hatian.
Garvin kesal dengan sifat ceroboh yang dimiliki Maura namun kekhawatirannya lebih mendasari.
"Akhh pak ,perih. " Seru Maura kala usapan di kulitnya dirasa menyakitinya.
"Maaf, Apa masih perih.?" Tanya Garvin mendongak melihat wajah Maura yang lebih tinggi darinya karena posisi Garvin saat ini berjongkok di depan Maura.
Terlihat jelas dari mata Garvin jika dirinya sangatlah khawatir kepada Maura. Rasa peduli dan sikapnya seorang Garvin dalam membantu Maura tak bisa dibohongi bahwa dirinya masih mencintai Maura.
Setidaknya perlakuan Garvin saat ini membuat hati Maura senang walau sekejap hanya karna dirinya kesakitan . Entah bagaimana nanti jika dirinya sudah tak merasakan sakit, akankah perlakuan Garvin seperti sedia kala?
"Apa gua harus sakit dulu baru lu perhatian lagi kayak dulu lagi kak.? " Batin Maura memperhatikan gerak- gerik Garvin yang masih fokus pada tangannya.
Bibir Maura tersenyum samar melihat sifat Garvin perhatian lagi padanya walau hanya sementara. Namun Maura sangat bahagia akan hal itu.
" Sayang, udahan ngobatinnya. " Tanya Arin yang baru saja masuk kedalam pantry hingga membuat Maura spontan menarik tangannya yang berada dalam pegangan Garvin.
"Ohh iya. udah kok baby. " Timpal Garvin berdiri menghampiri Arin taklupa mencium keningnya. Dan hal itu tak luput dari penglihatan Maura yang hanya bisa menoleh ke sembarang arah agar tak melihat kemesraan keduanya.
"Ra, Apa itu sakit.? " Tanya Arin berjalan ke arah Maura dan mendudukkan bokongnya disamping Maura.
"Masih tanya lagi, sahabat macam apa sih ni orang. Udah tau tangan gua udah kayak tangan gajah gini. Masih sempet tanya. " Batin Maura merasa dongkol dengan Arin.
__ADS_1
"Maura Alexio, Kekasihku bertanya padamu. " Serah Garvin yang tak mendengar jawaban dari Maura. Garvin berfikir jika Maura enggan menjawab pertanyaan Arin karena Arin berstatus kekasihnya.
"Iya sakit banget malahan, Seperti ditusuk pakek tusuk sate. " Sahut Maura yang ikut kesal, dirinya melangkahkan kakinya keluar dari pantry. Dan dirinya juga berniat keluar dari ruangan Garvin namun belum memegang handle pintu ,suara Garvin membuatnya harus menghentikan langkahnya.
"Siapa yang menyuruhmu pergi? " Tanya Garvin bersedekap dada di tengah pintu pantry. Dirinya kesal ketika Maura tak ada sopan santunnya melewatinya bahkan bahunya sengaja disenggol oleh Maura meskipun tak keras.
"Saya mau BAB pak, apa anda menyuruh saya BAB disini. ? " Sahut Maura membalikkan badannya mengahadap lurus ke arah Garvin.
" Pamit yang sopan kalau mau keluar, jangan main nyelong aja kayak maling. " terang Garvin lagi membuat Maura meradang.
Tanpa sepatah katapun Maura melenggang pergi dari ruangan tersebut dengan membanting keras pintu tersebut. Tak taukah Garvin jika perkataannya sangatlah menyayat hatinya.
Brakkk....
Setelah kepergian Maura, baik Garvin dan Arin mematung menyaksikan pintu yang dibanting dengan kasarnya oleh Maura.
Arin tersenyum senang menyaksikan kentara nya kecemburuan di mata Maura padanya. Entah apa yang direncanakannya, tapi dirinya saat ini tersenyum penuh kemenangan.
"Kenapa? " Sahut Garvin setelah tersadar dari lamunannya ketika merasakan sentuhan di bahunya. Garvin menghindar dari sentuhan itu dengan berjalan ke arah kursi kebesarannya karena dirinya merasakan risih .
"Kakak liat sendiri kan kalau Maura cemburu. " Ujar Arin mengikuti langkah Garvin ke arah kursi kebesarannya.
"Arin, Berhenti disitu. Duduklah disana. " Sergah Garvin yang merasa risih kala melihat Arin kembali mendekatinya.
"Baiklah kak, aku mengerti jika kamu membutuhkanku ketika ada Maura. " Ujar Arin mendudukkan dirinya di kursi tepat di didepan meja kebesaran Garvin.
"Kamu tau itu, seharusnya jaga sikapmu ketika Maura tak ada. " Seloroh Garvin kembali beraktifitas dengan tumpukan berkas yang tiada habisnya. Wajah serius dan datar menambah ketampanan berkali- kali lipat seorang Garvin. Hingga membuat Arin yang memandangnya tak sekalipun berkedip melihat pahatan sempurna dari sang Pencipta.
"Bisakah kamu keluar, jika tak ada hal yang penting lagi." Ujar Garvin tanpa melihat wajah Arin yang tengah kesal karena ucapannya barusan.
__ADS_1
Dengan menghentakkan kakinya, Arin berjalan keluar dari ruangan Garvin. Mendengar suara pintu tertutup dengan lumayan kerasnya, membuat Garvin menghembuskan nafas kasar dan menyunggar rambutnya kebelakang.
Apakah salah dirinya melakukan hal tersebut , bahkan membuat wanita tercintanya merasakan sakit. Tetapi dirinya teringat ucapan Maura, yang dimana Maura sangat mencintai Jonathan. Dan tadi terbukti dengan jelas bahwa Maura sangat tersiksa melihat kemesraan dirinya dan Arin. Itu tandanya Maura berbohong bahwa dirinya mencintai Jo dalam jangka waktu yang lumayan lama.
"Kamu bohong Maura, Aku tau kamu melakukan itu hanya semata- mata ingin membuatku menjauh. tapi kita buktikan sekarang , siapa yang tak mampu menjauh. " Batin Garvin tersenyum simpul sembari mengambil gagang telepon untuk menghubungi seseorang.
***Tuttt.....
📞Garvin: keruanganku Secepatnya.
📞Maura: mau apa lagi sihh? Ogahh.
📞 Garvin : Sekarang atau kamu bakal tau akibatnya.
📞Maura : Bodo, gua laper.
Tutttt***.....
Tanpa menunggu persetujuan Garvin, Maura mematika sambungan telvonnya. Dirinya enggan bersitatap dengan Garvin untuk saat ini, apalagi mengingat kejadian tadi.
Maura merasa bodoh amat ketika nanti dirinya dipecat oleh Garvin karena itulah yang dia mau. Tersiksa tentu saja hati bahkan batinnya ketika satu perusahaan dengan pria yang masih bersarang di hatinya.
Dijam makan siang suasana restoran kantor lumayan ramai. Hanya karyawan kantor yang bisa silih berganti mendatangi restoran tersebut .
Namun seketika suasana yang tadinya ramai nampak sunyi ketika terdengar bunyi suara sepatu pantofel milik wakil direktur. Ya, Garvin baru pertama kalinya menginjakkan kakinya di lantai restoran kantor. Yang biasanya makan siang selalu di antar ke ruangannya kini sang wakil sendirilah yang mendatangi restoran tersebut.
"Kenapa jadi sepi, tadi rame. " Ujar Maura bermonolog dengan dirinya sendiri ketika melihat sekelilingnya nampak sunyi tak seperti beberapa menit yang lalu.
Mata Maura menelisik ke arah satu ke yang lainnya hingga tatapannya terhenti pada sosok pria berjas yang bersedekap dada di belakangnya. Seakan air liurnya sulit di telannya ketika melihat sorot mata dari pria tersebut.
__ADS_1
"Ngapain nih ****** disini. " Batin Maura dengan mulut yang menganga akibat terkejut dengan kedatangan Garvin yang tiba-tiba.
Bersambung.....