
Tak ada yang bisa Garvin lakukan untuk saat ini selain menenangkan diri terlebih dulu. Dan setelah tenang, Dirinya akan memikirkan lagi rencana selanjutnya.Dirinya tak mau jika disaat tengah emosi munculla ide yang semakin membuat masalahnya bertambah runyam .
Tujuan Garvin saat ini adalah danau buatan yang pernah di singgahi dirinya dan Maura dulu. Bukan hanya dengan Maura saja dirinya mempunyai kenangan di tempat tersebut. Bahkan ada sesosok wanita cantik yang berperan penting dalam diri Garvin hingga mengetahui tempat indah nan asri tersebut.
Ya, sosok wanita cantik tersebut adalah cinta pertama seorang Garvin . Yang telah meninggalkannya tanpa berpamitan terlebih dulu. Seorang wanita yang rela mengorbankan nyawanya hanya untuk memperlihatkan dunia yang fana ini pada putranya.
Tumbuh bertahun- tahun dengan kasih sayang seorang mama tak mampu dilupakannya begitu saja. Hingga dirinya beranjak di usia 14 tahun sang mama harus pergi meninggalkannya karena sebuah penyakit yang sangat mematikan. Hidup Garvin berubah drastis pada masa itu. Yang awalnya mama selalu memberi kasih sayang yang lebih besar padanya namun pad waktu itu hanya seorang babysister yang memberikan itu semua.
Apalagi Eglar pada kala itu sangatlah frustasi dan tak memperdulikan Garvin sama sekali. Hingga di umur Garvin menginjak 17 tahun barulah Eglar bisa menerima dengan ikhlas kepergian sang istri tercinta dan kembali memperhatikan putra tunggalnya.
Rasa bersalah muncul kala Garvin tak mau ditemuinya dan memilih menyendiri dikamarnya meskipun dirinya bersekolah namun setelah sampai dirumah tak ada sepatah katapun , ia langsung masuk ke kamar hingga pagi menjelang. Jangan ditanya makannya bagaimana karena ada pelayan khusus yang membawakannya ke kamar Garvin.
"Mama, Lihatlah papa. Kenapa papa tak mau merestui perasaanku pada Maura ma. Kami bukan sedarah, apa salahnya jika kami bersatu." Ujar Garvin terduduk di rumput hijau dengan pandngan mengarah pada danau luas di depannya.
Tak ada yang mengubris ucapan Garvin hanya saja semilir angin yang mampu dirasakannya.
Kepala Garvin menunduk di sela lengannya, Memikirkan hal- hal yang akhir- akhir ini menimpa kehidupan asmaranya.
Hingga sebuah suara membuat seorang Garvin mendongak ke arah seseorang yang memanggilnya.
"Kak Garvin." panggil sesosok gadis dengan rambut sebahunya tak lupa mata merah seperti habis menangis.
__ADS_1
"Loh , Lu kenapa ada disini." Ujar Garvin memperhatikan gerak- gerik gadis yang duduk di sebelahnya tanpa di persilahkan oleh Garvin.
"Kakak kenapa, Mikirin Maura.?" Tanya gadis tersebut dengan sok taunya, Namun apa yang dikatakan memang benar adanya.
"Aku tau kalau kakak gak bakalan jawab pertanyaanku yang sok tau ini. Tapi aku pastikan jika ucapanku benar adanya." Ujarnya lagi membuat Garvin menoleh ke arah gadis tersebut yang tengah memandang lurus ke depan.
"Dari mana lu tau tempat ini?" Tanya Garvin mengalihkan pertanyaan yang diketahuinya adalah salah satu sahabat Maura.
"Gua dari kemarin nyari keberadaan kakak. Dan sekarang inilah gua berhasil nemuin lu kak." Ujarnya lagi melihat sekilas ke arah Garvin dan pandngannya kembali lagi ke arah danau.
"Nyari gua, ada perlu apa? " Sahut Garvin mengerutkan dahinya kala gadis tersebut mencarinya. Ada perlu apa fikir Garvin hingga membuat sahabat Maura ini mengikutinya hingga ke tempat privacy baginya dan Maura.
"kakak perlu tau tentang Jo kak, Karena aku sangat mengenalnya." timpalnya lagi membuat Garvin kembali menoleh ke arahnya.
"Sudah kuduga lu gak bakal percaya kak, lihatlah." Ujar gadis tersebut menyodorkan sebuah amplop kertas pada Garvin dengan arah pandang ke danau. Taklupa cairan bening ikut meluruh bersamaan dengan Garvin membuka amplop tersebut.
Hanya Garvinlah yang saat ini diharapkannya untuk membantu masa depannya. Entah pada siapa lagi nantinya jika seorang Garvin menolak untuk membantunya. Tangan gadis tersebut terulur mengusap perutnya yang masih rata, sangatlah berdosa bagi dirinya jika sampai malaikat kecil yang berada di rahimnya tak diakui oleh ayahnya kandungnya.
"Jjaaadd..." Sergah Garvin tergugu dengan mata yang mulai berair. Apakah semua ini mimpi fikirnya, baru saja dirinya ingin melepaskan dengan ikhlas namun kedatangan gadis tersebut ibarat angin yang menyegarkan jiwanya.
Percuma menurut Garvin berusaha sekuat tenaga jiks hati Maura masih berpegang teguh pada Jo. Ya, walaupaun proses melupakan tersebut sangatlah sulit dan berat.
__ADS_1
"Kakak pasti kaget kan, Tapi itulah kebenarannya kak. Aku harap kakak bisa membntuku." Sahut gadis itu yang menampakkan cairan beningnya dihadapan Garvin. Menunjukkan betapa rapuhnya dirinya setelah malam itu.
"Kenapa kamu gak bilang sendiri sama Maura , Kenapa harus lewat gua." Tanya Garvin penuh antusias dengan jalan fikiran gadis di depannya ini.
"Aku butuh bukti kak, Kemarin sewaktu Maura bercerita aku ingin sekali mengungkapkan betapa busuknya calon suaminya. Tetapi aku takut dikira ngada- ngada. Jadi aku cari bukti sendiri tanpa melibatkan siapapun. Dan untuk saat ini, aku hanya ingin tau seberapa cintanya Maura pada lu kak, Karna setauku Maura cinta banget sama lu tapi kenapa dengan mudahnya dia berpaling gitu aja." Paparnya lagi menjelaskan keinginannya dengan detail.
"Kenapa ingin cari tau? Apa Maura ada cerita tentang aku." Tanya Garvin lagi dengan tubuh memiring agar memperjelas penglihatan dan pendengarannya.
"Privacy kak, Aku hanya ingin tau seberapa cintanya Maura ke kakak. Kalau memang Maura mencintsi Jo, Aku ikhlas kak. Asal sahabat gua bahagia." Ungkapnya lagi, dan lagi- lagi air matanya luruh.
Garvin merasa terenyuh dengan penuturan gadis berambut sebahu di depannya ini. Sungguh sulit menurutnya disaat hamil, pria yang menghamilinya malah berniat menikahi sahabatnya sendiri. Namun yang membuat Garvin kagum adalah ketika dirinya dalam keadaan terpuruk namun masih bisa mengutsmakan kebahagiaan sahabatnya.
Sungguh bodoh pria yang meninggalkannya apalagi kini ada malaikat kecil yang bersarang dirahimnya.
"Aku akan membantumu mengungkapkan kebengisan si bsngsat itu. Apa lu ada rencana?" Tanya Garvin menatap lamat wajah gadis di depannya ini.
Sigadis mengangguk dengan antusias, lalu dirinya membisikkan sesuatu pada Garvin hingga membuat bibir Garvin melengkunkan senyuman.
Tawa lepas di tunjukkan oleh keduanya kala gadis tersebut usai membisikkan sesuatu pad Garvin. Entah apa yang di tertawakan namun bagi Garvin sangatlah lucu mengungkap kedok Jo nantinya. Apalagi melihat Jo mengemis maaf pada Maura dan sekeluarga.
Dan yang membuat Garvin bangga adalah melihat gadis di sampingnya ini tertawa di kala masalahnya belum usai namun mampu dikendalikannya.
__ADS_1
Tak semua masalah dapat di atasi dengan emosi, Sabar dan tawakal adalah salah satu solusinya.