Cintai Aku Adikku

Cintai Aku Adikku
Terkuaknya kesalahpahaman


__ADS_3

Dalam keadaan yang masih gelisah, Maura masih saja menyempatkan diri melamun di setiap langkahnya memasuki kantor. Tak terhitung beberapa karyawan lain yang ditabrak oleh Maura kala dirinya melintas di depannya.


Entah apa yang di fikirkan Maura hingga berjalanpun dirinya tak konsen. Hingga tepat di depan ruang kerjanya, tiba- tiba saja seseorang melintas di depannya dengan langkah lebar. Tentu saja Maura yang masik kelihatan melamun dan gelisah dengan spontan menabrak bahu kanan pria tersebut hingga terpental ke lantai. Bahkan umpatan kasar dilayangkan Maura kala merasakan panasnya pantat yang tengah mencium lantai dengan kasarnya.


"Anjing..Mata lu gak liat hahhh? "Pekik Maura hingga di detik kemudian matanya melotot secara sempurna ketika melihat siapa yang sudah membuatnya terjatuh.


"Apa.? "Sahut Garvin datar dengan bersedekap dada.


"Ihh lu, Kalau jalan tuh pake mata dong kak. Kan jatuh gua." Sahut Maura mencoba berdiri bersusah payah karena merasa ngilu di bagian pantatnya.


"Jadi orang jangan bego, Kalau jalan tuh pake kaki tolol." Ujar Garvin menonyor dahi Maura yang tengah membersihkan rok spannya.


Maura melototkan matanya ke arah Garvin yang sudah melenggang pergi dari hadapannya memasuki ruangannya. Entah melihat atau tidaknya Garvin ketika tampang Maura semakin kesal saja dibuatnya.


"Ihh dasar kakak gila, Untung lu kakak gua kalau bukan gua gibas baru tau rasa lu." Cecar Maura melayangakan tinjuannya ke udara.


Melihat tampang Garvin yang datar saja membuatnya gelisah apalagi kini ditambah kedengkian Garvin padanya. Mungkin saja dirinya takkan fokus pada pekerjaan untuk saat ini.


Maura berjalan menghentak- hentakkan kakinya memasuki ke ruangan miliknya. Tak peduli dengan tatapan karyawan lain yang tengah memantau gerak- geriknya. Cukup baginya dirinya nyaman tanpa memikirkan celotehan orang lain yang sama sekali tak berguna menurutnya.


Tuuutttt....


Belum juga pantatnya menyentuh kursi kebesarannya, Tiba- tiba saja telfon yang berada di atas mejanya berbunyi. Dengan gerakan gesit pula Maura mengangkatnya, hingga dipersekian detik telfon tersebut sudah dibanting oleh tangan lentik milik Maura.


Bagaimana tidak kesal jika orang yang baru saja menelvonnya menyuruh dirinya membuatkan kopi dalan waktu yang sangat seknifikan. Lima detik waktu yang akan membuat Maura keliplmpungan sendiri Nantinya.


"Sumpah kakak tiri gua udah gila" Cecar Maura berjalan lebar ke arah pantry. Walaupun dirinya keberatan dengan perintah Garvin, namun dirimu tetap mengerjakannya walaupun dengan berat hati. Apalagi setiap kali Garvin menyuruhnya, nama Agler selalu tersemat di dalamnya dan hal itu tak bisa membuat Maura berkutik.


"Awas lu ya.." Monolog Maura dalam hati sembari berjalan tergesa- gesa ke arah ruangan sang atasan sekaligus sang kakak. Dengan tangan memegang nampan tak membuat Maura takut akan tumpahnya kopi yang berada di atas nampan, apalagi langkahnya tak seperti biasa.


Ceklekkk.....


Maura membuka pintu ruangan Garvin dengan tangan sebelahnya.


"Ketuk pintu dulu kalau mau masuk" Sahut Garvin tanpa melihat ke arah Maura, pandangannya fokus pada komputer yang berada di depannya.

__ADS_1


" Mau ngetuk pakek dahi." Sergah Maura menghentak- hentakkan kakinya ke arah meja kebesaran sang wakil direktur.


"Hmmmm." Sahut Garvin melirik sekilas ke arah Maura.


"Kakak aja coba ketuk tuh pakek dahi, siapa tau tuh dahi nambah lebar kayak lapangan." Cecar Maura mencebikkan bibirnya sembari meletakkan nampan di atas meja Garvin dengan kasarnya.


"Berani kamu nyuruh saya? " Ujar Baru bersedekap dada dengan menyandarkan punggungnya di kursi kebesarannya. Tak lupa netranya begitu menghunus pada sosok gadis yang nampak kesal di depannya.


" Kenapa gak berani? Gak perlu melotot juga tuh mata takut copot kan serem." Timpal Maura hendak meninggalkan ruangan Garvin, Tapi niatnya diurungkan kala suara Garvin membuatnya tertegun.


"Aku akan menikahi Arin"


Deggg...


Empat kata itu mampu membuat Maura berdiri mematung di depannya. Namun sebisa mungkin Maura menutupi keterkejutannya tersebut dengan senyuman.


Maura membalikkan tubuhnya sembari melemparkan senyuman pada Garvin. Selalu seperti ini akhirnya, ketika keduanya sudah memberanikan diri berinteraksi. Jika tak bertengkar selalu saja ada cekcok masalah perasaan diantara keduanya.


"Lu emang pantas menikahi Arin kak, Jangan jadi pria pengecut yang lari dari tanggung jawab." Sergah Maura diselingi senyuman tragis.


"Siapapun akan berfikir seperti itu kak, bukan cuma gua aja. Apalagi lu sama Arin udah nusuk gua dari belakang." Timpal Maura mengibaskan tangan Garvin yang memegang bahunya.


"Nusuk apa, Aku dan Arin gak ada nusuk kamu dari belakang Maura. Kamu salah paham" Sahut Garvin mencoba memegang tangan Maura yang menggelantung.


"Mana ada maling mau ngaku kak, Lu sama Arin sama- sama bajingan. Kalian permainkan gua hahhh, Gua fikir lu cinta sama gua tulus tapi pada kenyataannya lu ada main sama Arin. sampek Arin hamil kayak gitu dan lu masih menyangkalnya." Cecar Maura menatap lekat wajah Garvin dengan penuh amarah.


Berbulan- bulan lamanya dirinya memendam sakit hatinya ini pada Garvin dan Arin tanpa mau melibatkan seorangpun dalam masalahnya. Maura memilih diam karena menurutnya percuma membahas hal ini karena Garvin akan tetap membuatnya tertekan.


Namun kali ini, Entah mengapa ucapan yang di pendamnya harus keluar begitu saja tanpa permisi. Apalagi harus diiringi air mata kenespaan.


"Kamu salah paham Ra, aku berani bersum.."


"Jangan berucap tentang sumpah, Dan untuk masalah ini gua harap gak perlu diungkit lagi. Lagi pula gak penting juga." Sergah Maura menyela ucapan Garvin sembari mengusap air matanya yang turun dengan kurang ajarnya.


"Tapi....."

__ADS_1


Brakkk....


Belum usai berucap, lagi- lagi Maura memotongnya namun kali ini dengan suara pintu yang keras karena Maura berhasil pergi dari ruangan Garvin.


Garvin tak mengejarnya namun dirinya mengeram frustasi atas apa yang selama ini di fikirkan Maura tentangnya. Pantas saja Maura sangat menolak memperjuangkan cintanya. Dan alasannya baru saja terungkap dan di dengarnya dari bibir Maura sendiri.


"Kamu nangis Maura, dan kamu bilang itu tak penting .Itu tandanya kamu masih mencintaiku Maura Alexio." Teriak Garvin dalam ruangannya, untung saja ruangan tersebut sudah dilapisi kedap suara.


Garvin berjalan mondar - mandir memikirkan masa depannya. Ia berfikir ketika Garvin berucap akan menikahi Arin, Maura akan jujur tentang perasaannya. Namun nihil, Maura malah mengeluarkan seluruh kegundahan hatinya yang dipendam sendiri.


Tuuuttt.....


📲 Garvin : Antar semuanya secepatnya di alamat yang sudah aku tujukan.


📱...... : Baik tuan, akan segera saya laksanakan.


📲 Garvin : Baguss.....


📱......: Tunggu saja bomnya akan meledak nantinya tuan, anda tinggal duduk manis dan biarkan saya yang bekerja.


Tutttt.......


Garvin menyunggingkan senyumnya setelah berakhirnya interaksinya dengan seseorang yang baru saja di hubunginya. Sebentar lagi apa yang diharapkannya akan terjadi.


***Mohon dukungannya bestie.


Like❤


Coment💌


Vote🥳


Hadiah🌹


terimakasihhh***...

__ADS_1


__ADS_2