Cintai Aku Adikku

Cintai Aku Adikku
Gagal Resign


__ADS_3

Tanpa menunggu persetujuan seseorang yang masih setia membatu menyaksikan gerak- gerik dirinya.


Semua karyawan nampak tercekat menyaksikan kehadiran Garvin di tempat yang sangat anti sekali didatanginya. Tetapi untuk saat ini, mungkin Garvin akan keseringan datang ke tempat tersebut hanya untuk menyusul Maura. Restoran yang tadinya ramai karena pengunjungnya saling berbincang- bincang kini nampak sepi karena kehadiran sang wakil direktur.


Ketika Maura tersadar dari membatunya, Dirinya berusaha pergi dari tempat itu tanpa melihat Garvin yang nampak kesal karena Maura tak menggubrisnya.


Belum genap dua langkah Maura melangkah namun suara Garvin membuatnya menoleh ke arahnya.


" Berhenti disana atau kamu akan saya pecat." Sergah Garvin kembali berdiri dari duduknya mensejajarkan berdirinya dengan Maura.


"Itu yang aku harapkan bapak Garvin yang terhormat." Ujar Maura berlalu pergi dari tempat itu tanpa memperdulikan panggilan Garvin.


Semua yang berada didalam restoran tersebut hanya bisa memperhatikan tanpa ada yang berani ikut campur. Mereka juga berasumsi bahwa keduanya tengah ada masalah pribadi hingga membuat keduanya tak akur.


Garvin nampak meradang mendengar penuturan Maura ,hingga tanpa sadar kakinya menendang kursi bahkan meja yang berada di sekitarnya.


"Haahhhh..... " Sarkas Garvin meninju meja dibelakangnya dengan kekuatan yang lumayan hingga membuat meja kaca tersebut retak.


Karyawan yang menyaksikan itu berisik ngeri melihat kemarahan Garvin yang tak jarang diperlihatkan di depan karyawannya.


Setelah dirasa emosinya kembali stabil, ia bergegas mengejar Maura yang diyakininya masih berada di dalam kantornya. Tak ada yang mampu dilakukan Garvin selain meluruskan kesalahpahaman diantara keduanya. Garvin tau jika kekesalan Maura disebabkan karena dirinya cemburu dengan kemesraan dirinya dan Arin.


Langkah Garvin terhenti ketika pintu lift yang akan dinaikinya terbuka dan nampak lah Maura tengah menenteng tas kerjanya dari dalam lift. Dengan sikap yang acuh tak acuh ketika melihat Garvin, membuat yang diacuhkan kembali meradang. Dan secepat kilat tangan Garvin mencekal lengan Maura dan menariknya ke arah parkiran.


Tak sekalipun ucapan Maura di gubris oleh Garvin hingga membuat Maura pasrah mengikuti langkah sang kakak. Ketika berada di samping mobil milik Garvin, Secara kasar Maura didorong masuk ke dalam mobil miliknya.

__ADS_1


"Akhh..... " seru Maura kala tulang keringnya tak sengaja menyentuh bagian mobil.


Tanpa merasa bersalah, Garvin menutup pintu tersebut dengan kasarnya. Bahkan pekikan Maura tak dihiraukannya sakingeradangnya hati Garvin.


Garvin memutari mobilnya dan mendudukkan dirinya di kursi kemudi. Tak lupa memasang sabuk mengaman untuk dirinya dan Maura meskipun sang wanita bersikeras menolaknya.


" Berhenti melawan atau aku akan membawamu ke KUA meskipun tanpa persetujuan papa dan mama. " Ujar Garvin kala tangan Maura berusaha menolak tangan Garvin memasang saltbelt untuknya.


"Lu gila kak. " Pekik Maura memukul- mukul lengan Garvin kala tangan Garvin kekeh dengan pendiriannya.


Seberapapun usaha Maura berontak namun pada kenyataannya, Kekuatannya sangat jauh diatas Garvin. Bisa dilihat ketika dengan gampangnya Garvin memasang saltbelt itu meskipun Maura bersikeras melarangnya.


"Sekuat apapun kamu melawan dan sebisa mungkin aku akan mengagalkan semua niatmu Maura Alexio. " Ucap Garvin setelah menancapkan pedal gasnya.


Maura tak menggubris ucapan Garvin tetapi dirinya mencengkram dengan kuat kursi yang di duduknya kala Garvin mengendarai mobilnya terkesan ugal- ugalan.


"Bisa mati kalau kayak gini. " Monolog Maura dalam hatinya sembari memejamkan mata saking takutnya dengan kecepatan mobil milik Garvin.


"Kak ,plis hentikan kak." Ujar Maura dengan suara lantangnya namun matanya masih terpejam.


"Aku gak akan berhenti sebelum kamu mengurungkan niatmu untuk resign dari kantorku." Ujar Garvin ketika sekian menit terbungkam karena kesal.


Maura tak langsung menjawab namun dirinya berusaha menimbang- nimbang ucapan Garvin walau dalam keadaan mencekam. Hingga di perempatan jalan, tiba- tiba saja Garvin membelokkan mobilnya ke kanan hingga mengakibatkan Maura terhuyung. Tanpa sadar dirinya berucap kata- kata yang tak seharusnya terucap dari bibirnya.


"Baiklah, gua gak jadi resign sampai kapanpun." Sergah Maura ketika dirinya terhuyung. Mendengar penuturan tersebut membuat Garvin juga spontan menepikan mobilnya.

__ADS_1


Tubuh Garvin memiring agar dirinya leluasa melihat Maura yang berusaha membenarkan posisinya dengan mata terpejam. Bibir yang sedari tadi kaku untuk tersenyum, kini bisa melengkung samar .


Segitukah caranya untuk merayu Maura agar niatnya diurungkan nya. Harus cara extream dan nyawa taruhannya, Bukan malah cara yang romantis atau semacamnya. Sungguh wanita yang di luar dugaan menurut Garvin.


"Buka matamu? " Pinta Garvin memandang dengan jeli wanita yang masih setia memejamkan mata.


Bukannya langsung membuka matanya, Malahan Maura membuka satu matanya hanya untuk memastikan. Ketika dirasa sudah aman, Mata keduanya terbuka dengan sempurnanya. Helaan nafas bisa di dengar di indera pendengaran Garvin hingga senyuman samar lagi- lagi tak dapat ditahannya.


"Huffffttt..... " Seru Maura menoleh ke arah Garvin dengan tampang sangarnya.


" Bapak gila atau gimana hah? Kalau mau mati jangan ajak- ajak. Mati sendiri aja sana. " Timpal Maura mengeluarkan kekesalan hatinya kepada Garvin.


Bukannya membalas dengan kedongkolan juga namun senyuman merekah ditujukan Garvin di depan Maura. Lagi- lagi hal itu membuat Maura semakin kesal hingga memukul bahu Garvin dengan membabi buta.


" Jangan senyum mulu, gua nambah kesel sama lu bego" sergah Maura dengan terus memukul bahu Garvin.


" Kamu maunya gimana hmmm? aku marah kamu kayak tertekan. Aku senyum disangka gila. " Seru Garvin memegang kedua tangan Maura dan tak lupa tangan satunya menonyor pelan dahi Maura.


Maura terdiam tak mampu berkata- kata, memang benar apa yang diucapkan Garvin baru saja. Tetapi respon Garvin sangat tidak etis fikir Maura hingga membuat Maura bertambah kesal saja.


"Kamu gila bapak Garvin wakil direktur yang tampannya gak ketulungan." Sergah Maura menarik tangannya yang sedari tadi di pegang Garvin.


" Hemm begitu ya, Aku tampan gak ketulungan. kamu mengakui ketampananku sampek gak bisa move on dari aku.?" Tanya Garvin dengan nada jailnya sembari menaik turunkan alisnya. Sengaja memang menggoda Maura yang tengah kesal dan akan bertambah kesal nantinya.


Mata Maura melotot ke arah Garvin kala ucapannya membuat hati Maura terenyuh. Apa iya dirinya tak bisa move on darinya fikir Maura. Hingga dipersekian detik Garvin berucap lagi dan membuat Maura seakan tersadar dari lamunannya.

__ADS_1


"Batalkan niatmu menikah dengan Jo Maura. " Pinta Garvin membuat Maura menoleh kembali ke arahnya.


"Jangan ngomong yang macem- macem pak, Aku akan tetap menikah dengan Jo walaupun bapak berusaha mengahalaunya. " Timpal Maura melihat ke arah luar cendela dengan bersedekap dada.


__ADS_2