Cintai Aku Adikku

Cintai Aku Adikku
Tangisan pilu


__ADS_3

Dengan jalan yang lunglai dan malasnya namun Garvin masih saja menyanggupkan diri untuk pulang kerumahnya. Ya walaupun nanti dirinya akan menghadapi kenyataan yang sangat menyakitkan dari adik tirinya sendiri.


Sekuat apapun Garvin menyangkalnya namun pada kenyataannya dirinya dan Muara kini sudah berstatus berberda. Namun salahkah jika dirinya melarang perjodohan sang adik tiri yang masih bersemayam di hatinya.


Ya, benar apa yang di ucapkan Bara sang sahabat. Jika status mereka sudah tidak bisa di rubah untuk perasaan cinta yang dimilikinya masing- masing.


tekk...


Sebelum kaki Garvin mengayun menaiki anak tangga, tiba- tiba saja seseorang menghidupkan saklar lampu hingga ruangan yang tadinya remang- remang nampak terang benerang.


Sesosok wanita cantik berdiri di dekat saklar lampu dengan muka bantalnya. Ya, Maura yang telah menghidupkan saklar lampu tersebut. Sengaja memang menunggu sang kakak pulang karena dirinya merasa khawatir karena kepergian Garvin tadi membuat Maura sangatlah tak tenang.


Ditambah dengan raut wajah yang penuh emosi, Maura takut jika Garvin tidak akan fokus mengenderai kendaraannya dalam keadaan yang terlampau emosi . Hingga Maura memutuskan menunggu sang kakak di sofa ruang tamu bahkan tak sadar sampai ketiduran.


"Kenapa.?" Tanya Garvin kala Maura berjalan pelan ke arahnya dengan raut yang sulit di artikan.


Garvin mengernyitkan dahinya kala Maura tak menggubris ucapannya. Bahkan langkahnya kini sudah berhenti di depannya dengan tatapan tak lepas dari wajah Garvin.


"Kak.." Seru Maura sembari menarik Garvin dalam pelukannya. Air mata yang ditahannya sudah tak bisa terbendung lagi . Hingga keluarlah cairan bening dari matanya dan meluruh di kedua pipinya.


"Kenapa.?" Tanya Garvin kala dirinya merasakan punggung mungil milik Maura berguncang. Garvin sangat yakin jika Maura kali ini tengah menangis di dalam pelukannya. Apa yang terjadi setelah kepergiannya, hingga membuat Maura sampai menangis sesegukan seperti ini fikir Garvin.


Garvin mencoba melerai pelukannya namun jeratan tangan Maura pada punggungnya seakan menahannya agar tak melepaskan pelukan tersebut.

__ADS_1


"Jangan lepas kak, aku butuh ketenangan untuk mengeluarkan air mataku ini kak." Ujar Maura yang semakin menelusupkan wajahnya pada dada Garvin.


Garvin tak bergeming namun tangannya terulur mengusap punggung Maura yang bergetar. Meskipun Garvin tak tau apa yang terjadi namun dirinya yakin ada sesuatu yang menimpa Maura ketika dirinya pergi.


"Kita ke balkon kamar kakak ya, takut ada yang liat dan berfikir kakak macem- macem sama kamu." Ujar Garvin membuat Maura mendongak ke arahnya karena memang Garvin lebih tinggi darinya. Benar apa yang diucapkan Garvin jika ada orang yang tau, mungkin urusannya akan runyam.


Maura tak berfikir sampai kesana karena yang ada dalam hatinya tadi hanyalah sebuah ketenangan. Dan ketenangan dirinya tersebut ada pada sang kakak tiri.


Maura dan Garvin berjalan beriringan menaiki tangga tak lupa sebuah rangkulan pada bahu Maura. Karena Garvin takut keseimbangan tubuh Maura akan terpengaruh karena habis menangis.


...Ceklekkk.......


Bak cinderella di negeri dongeng, Seorang Garvin membukakan pintu kamarnya untuk sang adik. Rasanya kebahagiaannya tak bisa di ungkapkan kala Maura memeluknya dan menjadikannya tempat ternyaman untuk berkeluh kesah.


Tak peduli nantinya apa yang akan terjadi selanjutnya . Yang terpenting untuk saat ini, membuat sang adik tercintanya nyaman berada di dekatnya.


Setelah membawa Maura kebalkon kamarnya, Garvin melenggang pergi masuk ke kamarnya lagi meninggalkan Maura yang masih terpesona dengan taman yang dilihatnya dari atas.


"Indahnya..." Satu kata meluncur dari bibir mungil Maura dengan gamblangnya. Bagaimana tidak indah , jika taman yang ditumbuhi bunga warni- warni kini di terangi cahaya kelap- kelip yang nampak begitu menawan. Pantas saja Garvin sangat betah dikamarnya, ternyata pemandangan disini sangat memanjakan mata fikir Maura.


"Minum dulu." Ujar Garvin yang menyembul dari pintu sekat kamarnya dan balkon. Dengan kedua tangan memegang dua kaleng minuman dingin.


"Terimakasih." Sahut Maura menerima kaleng yang dijulurkan Garvin padanya.

__ADS_1


Tanpa harus sulit membuka penutup minuman tersebut karena Garvin terlebih dulu yang membukannya. Garvin takut jika Maura akan kesulitan nantinya hingga dirinya berinisiatif membukanya.


Mata Garvin meneliti wajah sembab Maura dengan penuh cinta. Memang sejak mengetahui fakta mengejutkan dari kedua orang tuanya, Baik dirinya dan Maura tak jarang bertegur sapa. Jika ada hal yang menurutnya penting barulah keduanya berbicara namun selalu diakhiri berselisih paham. Entah dari Maura yang marah ataupun Garvin yang selalu memaksakan kehendak. Garvin sangat menginginkan situasi seperti saat ini namun jika harus membuat Maura menangis terlebih dahulu. Sungguh takkan membuat Garvin mampu melakukannya. Melihatnya rapuh saja hatinya berdenyut nyeri apalagi harus menangis seperti baru saja yang dilakukan Maura.


"Bagaimana, sudah enakan.?" Tanya Garvin mendudukkan dirinya tepat disamping Maura.


Hembusan angin dan temaramnya cahaya bulan menjadi saksi betapa pilunya apa yang dirasakan Maura saat ini. Hingga lagi- lagi cairan bening itu kembali meluncur di kedua pipinya tanpa diminta. Seakan perkataan Garvin membuat Maura mengingat lagi masalah dan kepahitan dalam hidupnya tanpa disadarinya.


"No.. No.. Jangan nangis. Ada apa hmm, Ceritakan semuanya padaku." Seru Garvin kala netranya melihat cairan bening milik Maura kembali melucur deras dipipinya. Garvin menangkup wajah itu dengan lembutnya sembari menghapus cairan bening tersebut dengan penuh kasih sayang.


Sungguh hatinya sangat tercubit melihat gadis yang ada di hadapannya ini menangis pilu. Hingga membuat Garvin kelabakan sendiri, karena menurutnya kata- kata dirinyalah yang membuat gadis di hadapannya ini menangis.


"Ceritakanlah, Jangan dipendam sendiri. Ada aku disini." Ucap Garvin mendingakkan wajah Maura yang akan menunduk.


"Mama jahat kak." Timpal Maura disela tangisannya bahkan dirinya berusaha kembali menundukkan kepalanya. Karena terlalu malu menunjukkan kerapuhannya di depan Garvin . Mengingat apa saja yang kemarin- kemarin di lakukan Maura terhadapnya


"Jahat kenapa? Apa karena perjodohan itu." cecar Garvin yang tak mengizinkan Maura menundukkan kepalanya. Tangan Garvin masih setia menangkup wajah sang gadis yang nampak rapuh tersebut.


Maura menganggukkan kepala membenarkan ucapan Garvin. Maura terlalu kecewa dengan sang mama yang tak memperdulikan keinginannya. Meskipun itu wasiat dari almarhum papa kandungnya namun jika itu tak membuatnya bahagia bahkan tertekan.


Toh, papanya disana tak akan memaksa mengingat betapa sayangnya sang papa terhadapnya. Dan kini sang mama seakan terlampau memaksa kehendaknya hingga tak memperdulikan kebahagiaannya sama sekali.


Bahkan tadi saja Sherly dan Eglar nampak bersitegang kala Maura menolak perjodohan itu bahkan menangis bersimpuh di kaki Sherly. Namun hal itu tak membuat Sherly iba ataupun mengurungkan niatnya.

__ADS_1


"Jangan membuat papamu kecewa Rara." Ucapan itu yang selalu di keluarkan Sherly dan membuat Maura tak sanggup berkata- kata ataupun melawan.


Bersmbunggg....


__ADS_2