
Tanpa memandang lawan bicaranya karna dirinya berusaha mengeluarkan segala kegundahan hatinya. Tak peduli respon Muara nantinya akan sedih atau marah karena dirinya membentaknya.
"Kamu mengiyakan ucapan ku beberapa hari yang lalu, tapi kamu mengacuhkannya setelah bertemu dengan Jo. Kamu berciuman di mobil dengannya, Aku melihatnya Maura. Apa kamu fikir aku gak sakit hati melihat semua itu hahhh." Sergah Garvin lagi dengan mengguncang bahu Maura dengan kasar.
Maura yang sedari tadi menyimak ucapan Garvin tak bisa membendung lagi air matanya. Setitik hingga dua titik air mata mulai membasahi pipi Maura dengan kurang ajarnya.
"Lalu apa urusannya dengan kakak, Itu hakku. aku mau berciuman dengan siapapun itu hakku. Kak Garvin hanya kakakku yang gak seharusnya mengekangku."Tutur Maura mengusap air mata di wajahnya dengan kasar.
Garvin hanya berdecih mendengar celoteh dari bibir Maura. Walaupun pada kenyataannya dirinya sakit hari mendengarkannya.
"Lalu apa maksutmu mengiyakan ucapanku?" Tanya Garvin berusaha menetralkan emosinya yang meluap.
"Buka pintunya, Karena aku gak mau papa berfikir macam- macam tentang kita." Bukannya menjawab, Malahan Maura menitah Garvin agar pintu kamar yang terkunci bisa dibuka.
Garvin juga sama, Tak langsung menuruti apa yang diucapkan Maura. Malahan dirinya mendudukkan bokongnya di tepi kasur king sizenya. Tak heran jika Maura kesal dibuatnya karena kelakuan Garvin.
"Kakk..."Panggil Maura dengan gigi bergemelatuk, Kesal tentu saja ketika apa yang diucapkannya dianggap angin lalu oleh Garvin.
"Jawab dulu pertanyaanku baru aku akan membukannya" Sudah seperti simbiosis mutualisme yang saling menguntungkan tetapi tidak dengan Maura yang merasa terganggu dengan pertanyaan nyeleneh Garvin.
"Meskipun aku gak jawab, Kakak pastinya sudah tau jawabannya." Sahut Maura singkat, Dan berlalu ke arah pintu. Mencari cela agar pintu yang terkunci itu bisa dibuka dengan keahliannya.
"Bego, gua kan ada jepit. Siapa tau bisa kayak di film." Batin Maura mengambil jepit rambutnya, namun sayangnya ketika mengambil jepit tersebut tangan seseorang mencekalnya dan membalikkan badan Maura hingga punggungnya membentur pintu kamar Garvin.
__ADS_1
"Kamu pembohong besar Maura, aku tau dan sangat yakin jika kamu sama sekali tak mencintai Jo. Itu hanya omong kosongmu Maura." Sergah Garvin mencekal kedua tangan Maura hingga diatas kepala. Hal itu membuat Maura kesulitan terlepas dari cekalan tangan Garvin.
"Aku gak bohong kak, aku cinta sama Jo. Buat apa aku menerima lamarannya kalau kau gak cinta sama dia." Sahut Maura dengan suara yang tak kalah tingginya dengan Garvin.
Maura kesal dengan sikap Garvin yang masih memetingkan pengakuan dirinya . Sedangkan dirinya sudah menjerat wanita lain bahkan menghamilinya.
"Jangan egois kak, Kamu masih menginginkan aku tapi kamu sudah menghamili wanita lain." Cecar Maura yang sudah tak bisa menahan emosinya lagi. Sudah cukup selama ini dirinya diam dengan tingkah tak mengenakkan dari Garvin. Mungkin dengan begini, Garvin dapat menimbang- nimbang lagi keputusannya.
"Siapa yang menghamili hah, Aku sekalipun tak pernah menyentuh wanita selain bunda dan kamu Maura. Apalagi sampai hamil, Kamu jangan mengada- ngada." Tungkas Garvin membela diri, Tak taukah Garvin jika Maura sangat kesal karena Garvin tak mengakui kesalahannya.
Maura hanya berdecih, Melihat ke sembarang arah ketika melihat tatapan Garvin mengiba padanya. Mungkin saja Garvin meminta Maura untuk mempercayai ucapannya.
"Cihhh... Dasar munafik. Selama di kantor Lu dan Arin bagaimana kabarnya bapak Garvin yang terhormat. Ohhh atau mungkin itu namanya bukan sentuhan melainkan nafsu."Cecar Maura berusaha lepas dari cengkraman Garvin namun sayangnya cengkraman tangan itu tidaklah mudah.
Ceklekkk....
Tanpa melepaskan cekalan tangannya, dan dengan tangan sebelah kanannya Garvin membuka pintu kamarnya dengan penuh kemenangan. Hal tersebut tak di sia- siakan oleh Maura ketika pintu tersebut terbuka.
Dengan segala kegesitannya, Maura terbebas dari cengkraman harimau kelaparan seperti Garvin.
Garvin juga ikut keluar dari kamarnya dengan bersiul Ria. Membuat Maura yang berjalan di depannya dengan langkah mungilnya di buat bingung.
Bukankah selama di dalam kamar, Garvin emosi bahkan dirinya sampek di bentak olehnya. Tetapi saat ini, Wajah berseri itu nampak di wajah tampannya.
__ADS_1
"Lahh bego, Gua kan niatnya tanya kondisi Arin. kenapa lain pembahasannya tadi?" Batin Maura merutuki kebodohannya dengan mengetuk dahinya.
Sontak saja ketika melihat tingkah Maura membuat Garvin memegangi dahi yang sedari tadi diketuk oleh tangan mungil milik Maura. Bukan apa- apa Garvin melakukan itu, hanya saja Garvin takut jika dahi lentik tersebut lecet bahkan terluka.
"Jangan sakiti semua fasilitasmu. jika sampai ada yang lecet kamu sendiri yang akan menanggung semuanya. " Ujar Garvin berlalu meninggalkan Maura yang masih terdiam di pertengahan tangga karena mendengar ucapan Garvin.
"Gila..." Monolog Maura dengan dirinya sendiri kala netranya melihat punggung Garvin menghilang diantara pintu penghubung ke taman belakang.
Dengan langkah lebarnya juga, Maura menuruni tangga dan menyusul tanpa rasa was- was.
Garvin nampak tersenyum kecil ketika melihat Maura berlari menyusulnya tak lupa nafas yang terengah- engah. Semua yang berada dimeja makan nampak melihat ke arah Maura yang baru saja tiba dengan nafas ngos- ngosan.
"Makanya jangan lari- lari, Jadi sulit nafas kan. Udah tau tuh idung kecil, masih aja sok- sok lari." Ejek Garvin membuat yang berada di meja makan tertawa lepas karena keabsurtan Garvin. Namun berbeda dengan reaksi Eglar yang penuh tanda tanya dengan ucapan Garvin. Bukannya Garvin mencintai Maura tetapi melihat interaksinya saat ini biasa saja. Tak ada tanda- tanda cinta di antar keduanya, Apalagi Maura dan Jo sudah resmi bertunangan . Otomatiskan Garvin harusnya cemburu atau sedih fikir Eglar.
"Mungkin apa yang di bilang Garvin kemarin itu hanyalah kekaguman seorang kakak pada adiknya." Batin Eglar memperhatikan interaksi Garvin dan Maura.
Eglar tadinya berfikir jika Garvin tak mengikuti acara pertukaran cincin Maura karena cemburu. Namun apa yang dilihatnya saat ini membuktikan bahwa Garvin semata- mata hanya kagum dengan sang adik tiri.
"Kamu kenapa sih Queen, Udah kayak dikejar hantu aja." Timpal Jo yang membantu Maura duduk disebelahnya. Bak sumpit yang tak mau terpisahkan untuk seorang Jo, Jo dan Maura akan menjadi best couple 2023.
"Setannya gede, Mukanya jelek, Udah gitu larinya cepet banget." Sahut Maura setelah meminum minuman yang tersedia di atas meja makan hingga tandas.
Garvin yang mendengar penuturan Maura spontan saja tersedak. Matanya melotot ke arah Maura, dan hanya ditanggapi juluran lidah yang semakin membuat Garvin meradang.
__ADS_1