Cintai Aku Adikku

Cintai Aku Adikku
Diusir


__ADS_3

Dengan perasaan tak terbendung lagi karena kecewa dengan tuduhan Sherly pada ibu kandungnya. Garvin melakukan mobilnya dengan kecepatan di atas rata- rata di jalanan ibukota yang lumayan lenggang karena hari sudah menjelang malam. Dirinya sudah tak peduli lagi dengan apa yang menjadi tujuannya datang ke restorant tersebut bersama Maura.


Bahkan Maura saja di acuhkan dan di tinggal di restorant tersebut. Hatinya kalut mendengar cerita tentang masalalu sang bunda yang sangat berbanding terbalik dengan kepribadiannya yang ditujukan selama hidupnya. Meskipun Garvin kalau itu masih beranjak remaja, namun dirinya sudah bisa membedakan baik buruknya sifat seseorang.


"Gak mungkin, Wanita itu hanya memfitnah bundaku." Celoteh Garvin menggenggam erat kemudinya, Marah tentu saja.


Hingga dipersekian jam membelah jalanan ibukota, Kini mobil yang di tumpangi Garvin sudah terparkir sempurna di bagasi rumahnya. Secepat kilat juga Garvin berjalan dengan langkah lebarnya ke dalam rumahnya.


Rumah besar nampak sepi karena penghuninya tak tau pada kemana. Hingga dirinya melihat hilir mudiknya seorang pelayan yang tengah menuruni tangga. Tanpa pikir panjang, Garvin bertanya dengan melangkahkan kakinya ke arah sang pelayan.


"Papa dimana?" Ujar Garvin, Tatapannya sudah sangat tak seperti biasa. Pelayan tersebut hanya bisa menelan ludah ketika melihat tatapan Garvin yang sudah di tebak tengah menahan amarah.


" Tuan ada di atas den" Sahut sang pelayan dengan kepala menunduk, Namun dipersekian detik kepalanya mendongak ketika Garvin berjalan menaiki tangga dengan tergesa- gesa.


Sang pelayan hanya bisa mengusap dadanya ketika Garvin pergi dari hadapannya. Bahkan para pelayan dirumahnya sudah hafal betul dengan sifat Garvin. Tanpa di jelaskanpun mereka sudah tau.


"Pa....." Panggil Garvin kala sudah membuka pintu ruangan Agler tanpa mengetuk pintu tersebut.


"Apa- apaan kamu vin, bukannya mengucapkan salam dulu . Malah nyelonong kayak gini, dimana sopan santunmu." Ujar Agler terjingkat kaget kala Garvin tiba- tiba saja masuk ke ruangannya dengan suara keras pula.


"Apa benar Bunda adalah wanita penghibur pa?" Tanya Garvin tanpa menjawab apa yang di ucapkan Agler. Karena jika menjawab ucapan Agler itu akan banyak berbasa- basinya.


"Jaga ucapanmu vin, Jangan berbicara hal yang tidak- tidak. Mana mungkin bundamu seperti itu." Sergah Agler berdiri dengan menggebrak meja karena kaget mendengar penuturan Garvin.


" Aku takkan berbicara kalau tidak ada yang memberitahu ku pa, Jawab saja. Apa benar bunda dulunya wanita penghibur." Tanya Garvin lagi tanpa banyak kata.

__ADS_1


"Siapa yang lancangmemfitnah almarhum bundamu Garvin?" Tanya Agler dengan suara meninggi, Dirinya harus tau siapa yang dengan kurang ajarnya menyebar berita bohong tentang almarhum istrinya.


"Aku...." Suara seseorang wanita yang tanpa permisi memasuki ruangan Agler.


Sontak saja Agler dan Garvin menoleh ke arah sumber suara, Mata Agler membulat sempurna ketika melihat siapa yang berada di tengah pintu tersebut.


"Kamu...." Tunjuk Agler pada wanita tersebut, Ia menggelengkan kepala melihat kehadiran wanita itu di ruangannya.


***Flashback on...


Plakk***......


Richard melototkan matanya kala melihat apa ya g dilakukan Sherly pada Maura. Rahangnya mengeras dan meradang kala menyaksikan apa yang dilakukan Sherly di depan matanya.


"Bajingann.... " Sentak Richard melangkahkan kakinya ke depan Sherly dengan tangan terulur mencekik leher Sherly.


Maura yang sedari tadi memegang pipinya usai di tampar oleh Sherly. Seketika matanya membulat kala melihat apa yang dilakukan Richard pada Sherly. Seberapa kecewanya Maura terhadap Sherly namun rasa kasihannya muncul takkala melihat apa yang dilakukan Richard pada Sherly.


Karena mulai dari kecil hingga sampai dewasa kini. Sosok Maura sangatlah menyayangi Sherly, apapun yang dilakukan Sherly padanya selalu saja ditururinya. Apabila Sherly tersakiti, hati Maura terasa ******* melihatnya. Namun berbeda dengan saat ini, Rasa kasih sayangnya sedikit memudar sedikit demi sedikit melihat kelakuan Sherly yang sesungguhnya.


"Om lepaskan." Ujar Maura kala melihat Richard tak sedetikpun melepas cekikannya. Apalagi wajah Sherly sudah mulai membiru dengan nafas tersenggal- senggal.


Netra Richard bergulir ke arah Maura yang tengah mengiba padanya. Di detik kemudian, Cekikan itu terlepas dan sontak saja tangan Richard meraih tubuh Maura untuk di peluknya.


"Maafkan papa nak, papa lengang menjagamu." Ujar Richard sesekali mencium pelipis Maura.

__ADS_1


Degg....


Hati Maura tersentuh dengan ucapan dan perlakuan yang diberikan Richard padanya. Perasaan nyaman dan terlindungi menguar di hatinya. Dirinya juga bingung dengan perasaan yang kini di rasakannya.


"Omm... maaf, Aku bukan Jo anak om. Aku Maura." Timpal Maura mencoba melerai pelukannya walaupun rasa aman sudah memupuk dihatinya.


"Ohh iya, Tak apa nak. Anggap saja aku papamu. Jangan sungkan untuk mengakuiku seorang papa sama seperti Jo." Sahut Richard tergugup karena dirinya hampir saja keceplosan.


Sherly yang melihat interaksi keduanya nampak muak. Dengan menahan sakit di lehernya karena ulah Richard, dirinya melenggang pergi tanpa menghiraukan Maura dan Richard yang masih bercengkrama.


Menurut Sherly, tak sedikitpun rasa penyesalan menguar dihatinya ketika Garvin mendengar apa yang diceritakan dirinya pada Richard. Jika memang rahasia yang disimpannya bocor pada siapapun termasuk Agler. Dirinya sudah tak peduli, karena niatnya saat ini hanya satu, Membuat hati Richard kembali luluh padanya. Meskipun saat ini dirinya sudah mempunyai suami sah, namun menikah dengan Agler hanya ada rencana terselubung di dalamnya.


Flasbackoff.....


"Apa maksut kamu memfitnah Tania, Sherly?" Sergah Agler berdiri deli depan Sherly.


Sherly berdecih sebelum menjawab pertanyaan Agler. Tak lupa senyuman miring di tujukannya hingga membuat Agler yang melihatnya mengeraskan rahangnya.


"Apa kamu lupa Agler?, Kamu tak pernah percaya apa yang aku ucapkan dulu. Kalau aku hanyalah korban dari keegoisan Tania. Karena Tania sangat terobsesi padamu, tapi kamu malah mempercayainya dan membenciku bahkan mengusirku dari hidupmu." Cecar Sherly sembari menunjuk- nunjuk dada Agler.


" Jangan membalikkan fakta Sherly, Jangan melampaui batas dengan tingkah konyolmu ini. Tania bukanlah wanita penghibur seperti apa yang kamu bilang." Sergah Agler yang tak kala emosinya dalam berbicara.


"Ohhh kamu masih saja mempercayainya, Dan aku yakin jika Garvin ini pastilah bukan darah dagingmu Agler. Aku ingat sekali kalau Tania hamil sebelum kalian menikah kan?. Ya, Aku yakin jika Garvin adalah anak haram." Sergah Sherly lagi hingga membuat Agler naik pitan hingga tangganya melayang menampar pipi Sherly dengan kerasnya. Sudah cukup kesabarannya yang diberikan untuk Sherly.


Plakkk....

__ADS_1


"Sudah cukup omong kosong mu Sherly, Memang benar Tania hamil sebelum menikah denganku . Tapi asal kamu tau, Yang mengambil keperawanannya itu aku. Dan aku telah menodainya sebelum kami menikah. Pergi dari rumahku, Aku sudah muak melihat kamu." Papar Agler menunjuk keluar ruangannya. Biarlah dirinya berfikir terlebih dulu sebelum memutuskan apa yang akan diambilnya nanti.


Bersambung....


__ADS_2