
Seorang wanita dengan perut buncitnya memasuki ruangan Maura tanpa permisi. Hingga keduanya yang tengah beritual, terpaksa menghentikan kegiatannya.
Suara desisan Garvin sangat jelas terdengar di indera pendengaran Maura. Apalagi ketika tau siapa yang telah membuka pintu ruangannya tanpa permisi.
"Kamu apa- apaan sih kak, aku kesakitan terus- terusan kamu malah enak- enakan berduaan disini sama Maura. Inget dong, siapa yang bikin aku sakit kayak gini sampek...." Ucap wanita itu terhenti kala tangannya sengaja ditarik oleh Garvin keluar ruangan Maura dengan kasar. Tak peduli dengan kondisi wanita tersebut yang tengah hamil muda.
Ya, Arin yang telah memergoki Garvin dan Maura tengah melakukan ciuman bibir. Tak peduli baginya dengan rasa malu, Karena menurutnya mempertahankan cintanya itu lebih penting.
Didepan ruangan Garvin suara adu mulut saling bersahutan. Garvin yang berbicara pelan namun tanggapan Arin malah melebihi batas. Dimana para karyawan melihat ke arah keduanya kala suara cekcok itu menggema.
Para karyawan yang melewati keberadaan Garvin mulai berbisik- bisik dengan ketidaktahuan Garvin yang masih cekcok dengan Arin.
Tak memerlukan waktu lama, berita tentang cinta segitiga antara Maura ,Arin dan Garvin beredar. Dimana yang mendengarnya secara sepihak, tentu saja menyalahkan Maura. Yang notabenya adalah adik tiri dari Garvin.
" Aku hamil anakmu dan kamu malah memikirkan Maura, Ingat vin . Dia adikmu, Hapuslah perasaanmu padanya. Dan biarkan aku mencacinya karena sudah menjadi wanita murahan yang memberikan tubuhnya pada kakak angkatnya sendiri." Papar Arin menunjuk- nunjuk ke arah ruangan Maura. Maura yang mendengar ucapan itu tentu tak tinggal diam.
Apalagi yang terjadi disini bukan murni kesalahannya. Melainkan hanya sebuah ketidak sengajaan yang dilakukan Garvin.
Langkah Maura berjalan dengan wajah datarnya. Apa yang keluar dari mulut Arin seakan membuatnya semakin emosi. Meskipun Garvin membelanya namun rasa emosi iti tak sekalipun lenyap. Bahkan semakin bertambah dua kali lipat naiknya.
" Jika belum tau pastinya berhenti berucap yang tidak benar nona Arin, Saya tau anda kekasih dari kakak saya. Tapi tolong jaga kesopanan anda dalam berbicara apalagi ini ranah publik. Apa anda tidak malu ???" Ucap Maura dengan bijaknya, dan hal itu hanya mampu membuat Arin berdecih.
" Cihhh... Kamu berkata rasa malu Ra. Lalu dimana rasa malumu ketika bercumbu dengan kakakmu sendiri. Apa itu bukan malu namanya. Memalukan...." Papar Arin berjalan ke arah Maura agar lebih dekat.
Garvin yang melihat itu juga semakin mendekati keduanya. Takut tentu saja, Apalagi jika Maura dalam keadaan marah. Seperti kejadian beberapa minggu lalu. Ketika Arin sampai harus dilarikan ke rumah sakit.
Mungkin saja Arin takkan kecelakaan seperti itu jika dirinya tak menggangu Maura. Entah apa masalahnya tapi banyak yang berkata bahwa kejadian itu disebabkan oleh kaki Arin terkilir. Banyak yang mencemooh Arin kala iti, Karena sudah tau dirinya hamil, masih saja menggunakan heeghils tinggi.
Maura mlengos mendengar penuturan Arin, Bukannya takut malahan bibirnya melengkungkan senyuman. Dimana senyuman itu penuh banyak arti di dalamnya.
__ADS_1
"kamu mengira aku yang tak tau malu, lalu perutmu seperti itu karena apa.?? apa karena masuk angin hmm??? "Tanya Maura bersedekap dada memperhatikan wajah Arin yang kalah telak darinya.
Alis Maura di naik turunkan kala melihat wajah pucat pasi milik Arin. Apalagi tatapannya mengarah pada karyawan yang masih standby menyaksikan aksi debatnya.
Dengan menghembuskan nafas kasar, Arin juga ikut bersedekap dada. Biar semua tau jika apa yang diucapkannya adalah benar. Apalagi ketika dirinya tak ada rasa takut sedikitpun pada Maura.
" Ya memang kami melakukannya tapi atas dasar cinta sama cinta. Bukan kayak Lu yang kegatelan." Ujar Arin membuat Maura melayangkan tangannya namun cekalan tangan seseorang membuatnya mengurungkan niat.
Ya, Dia Jonathan Lubis.
Sekarang pria yang sedari tadi menyaksikan perdebatan itu di balik tembok. Niat hati ingin menghampiri sang pujaan hati namun nyatanya malah mendapat kejutan yang spektakular .
" Quuen, Jangan sakiti dia. Ada bayi yang harus kita jaga." Ujar Jo membawa tangan Maura kedalam genggamannya.
" Bodo, Bayi siapa juga gak penting buat gua." Ujar Maura meninggalkan tempat itu menuju keruangannya.
Tangannya dengan gampangnya menggaet tangan Jo yang masih setia di tempat. Garvin dan Jo yang saling bertatap dengan bahasa mata masing- masing . Membuat mata Arin yang melihat kejadian itu tak sekalipun mengerti .
Bagi Maura pergi dari hadapan kedua orang itu adalah jalan satu- satunya. Tanpa perlu menyakiti dan menjadi orang yang akan disalahkan nantinya.
"My prince, ayo pergi. Ada setan bin mak lampir disini." Ujar Maura sebelum pergi mengapit lengan Jo.
Ucapan dan matanya itu tertuju pada Arin hingga membuat Arin kesal. Apalgi ketika bibir Maura tersungging, menurut Arin seperti tengah meremehkannya.
" Dasar jal...." Ucapan Arin terhenti ketika mata Garvin melotot ke arahnya.
Garvin sangat membenci seseorang yang menyakiti Maura apalagi sampai berucap yang tak mengenakkan tentang Maura.
"Simpan ucapan kotormu itu Rin, Maura bukan wanita ****** dan yang pantas dipanggil ****** itu adalah kamu bukan Muara." Papar Garvin meninggalkan Arin seorang diri yang masih berdiri di depan pintu ruangan Garvin.
__ADS_1
Brakk.....
Garvin menutup pintu dengan kerasnya, hingga membuat dentuman teramat keras di lorong tersebut. Apalagi Arin yang berada di depannya hingga terjingkat saking kagetnya.
"Apa bagusnya sih si Maura, kemana- mana juga masih cantikan aku." Seru Arin sembari mengelus perutnya. Mungkin sang jabang bayi juga ikut terkejut atas ulah Garvin hingga mengakibatkan perutnya merasakan kram.
"Ini gara- gara Maura, Gara- gara dia anakku kesakitan lagi ahhhh.... " Pekik Arin merasakan sakit yang begitu terasa.
" Kak Garvin tolong...." pekik Arin mencoba menggedor pintu ruangan Garvin. Tubuhnya merosot kebawah karena tak mampu menahan sakit di perutnya.
Brakk... brak... brakkk....
" Vin tolonggggg akkkkhhhh..... " pekik Arin lagi, hingga terdengar oleh salah satu karyawan yang akan ke pantry.
Sang karyawan berlari ke arah Arin dan berusaha membantunya. Arin menggeleng seakan tak mau menerima pertolongan dari karyawan yang bernama Ega tersebut.
Brak...brakk...
" Vin... tolong.... jangan diam aja, panggil bosmu cepattt akhbb....." Seru Arin lagi, meskipun dirinya sakit namun masih bisa marah- marah.
Tokkk...tokkk.... tokk...
"Pak, buk Arin kesakitan pak." Ujar Ega sang karyawan yang juga ikut panik meskipun pertolongannya tak di hargai sekalipun.
" Suruh dia pergii...." Suara bariton dari dalam ruangan membuat Arin berhenti mengeluh. Bahkan rasa sakitnya bisa ditahannya ketika suara seperti bentakan itu terdengar ditelingannya.
"Syukurin, siapa suruh sok gak mau dibantuin" Batin Ega yang dongkol dengan sifat Arin.
Bersambung...
__ADS_1