Cintai Aku Adikku

Cintai Aku Adikku
Terbongkarkah


__ADS_3

Maura nampak terganggu dengan ucapan Garvin yang mengarah padanya. Ingin marah seakan percuma jika dirinya dan Garvin masih satu ruangan dengan Agler. Takutnya Agler akan bertanya- tanya lebih dalam lagi menyangkut hubungannya dan Garvin .


Masih dalam pemikiran yang sama bagi Maura. Yaitu takut membuat sang mama kecewa walaupun tingkah Sherly sangatlah diluar batas dugaannya.


Bahkan sampai saat ini, Maura tak tau menau tentang Sherly yang sudah terusir dari rumah mewah Agler. Meskipun semalam Garvin bersamanya, tetapi tak ada satu kata terucap menyangkut Sherly.


Apalagi saat ini, Maura sangat enggan menghubungi Sherly terlebih dulu. Kecewa sudah pasti, tentang apa yang sudah dilakukan Sherly padanya.


Ingatan Maura teralih ketika ucapan Richard juga masih terngiang di kepalanya. Ucapan dan perlakuan Richard membuat Maura merasa lebih dihargai dan dilindungi.


Berbeda ketika bersama Sherly yang dirasanya selalu tertekan. Walaupun secara diam- diam Maura merasakan sifat Sherly yang terkadang baik dan penuh perhatian. Namun terkadang juga sifat itu seperti tekanan baginya.


Flashback on....


Richard memandang punggung kedua wanita yang tengah bersendau gurau di meja makan. Sebelum langkah kakinya menuju tempat kedua wanita tercintanya duduk. Richard berucap lirih, namun siapa sangka jika ucapannya malah terdengar oleh pelayan rumahnya yang terkesan latah.


"Putri kecilku sudah tumbuh menjadi gadis yang sangat istimewa. Menjadi putri kesayanganku." Ujar Richard dengan suara pelannya namun sanggup membuat salah satu pelayan yang mendengarnya membuka mulut.


Hingga dipersekian detik kemudian, Suara pelayan itu membuat baik Richard, Maura dan Claudia melihat ke arahnya.


"Jadi non Maura putri tuan." Ujar sang pelayan membekap mulutnya dengan mata melotot. Sungguh gila fikirnya ketika suaranya tiba- tiba menjadi pusat perhatian. Apalagi tatapan Richard seolah menghunus di relung hatinya.


"Maksut kamu apa mbok???" Tanya Claudia yang memperhatikan reaksi Mbok na yang terkesan kaget. Apalagi bibirnya di bekap dengan tangannya sendiri.


"Itu Nya, Non Maura putrinya bapak ehhhh.." Ujar Mbok na lagi, lagi- lagi mulutnya kembali di bekapnya. Tatapannya langsung mengarah pada Richard yang senantiasa memandangnya dengan lekat.

__ADS_1


"Pa, apa yang dimaksud mbok na sih???" Tanya Claudia mengerutkan keningnya mendengar celoteh Mbok na yang tak bisa di rem.


"Bukan apa- apa kok ma. Iya kan Mbok.??" Timpal Richard memandang ke arah mbok na dengan sekilas memelototkan matanya.


"Iya Nya, Cuma kata tuan kalau non Maura ehhh...." Seru Mbok na lagi ketika matanya mengarah kembali pada Richard. Mata elang yang bisa saja menghunus membuat mbok na langsung kicep dibuatnya.


Mbok na tak ingin lagi membuat masalah dengan Richard. Hingga dia membungkukkan diri, secepat kilat pergi dari hadapan Richard yang masih saja melihatnya.


Maura yang juga mendengarnya merasa bingung. Namun dilubuk hatinya di bagian dalam, tersimpan kebahagiaan tersendiri .


" Mana ada sih Ra, jangan bloon deh. Masak iya kamu anaknya om Richard. Terus mamamu siapa,?? Om Richard selingkuh gitu dibelakang tante Claudia." Gerutu Maura dalam hatinya sembari menggeleng- gelengkan kepala.


Claudia yang melihat kelakuan Richard dan Maura hanya bisa mengerutkan dahinya. Seakan wajah dan kebiasaan sama hingga ketika sedang ada masalah gelengan kepala adalah obatnya.


" Ada - ada si mbok, Tapi kan gak mungkin kalau mbok na keceplosan dengan sengaja. Aku yakin ada yang di sembunyikan papa dibelakang ku." Batin Claudia yang melihat Richard mendudukkan diri tepat di depannya.


Seketika lamunan Maura buyar ketika ada tangan usil yang mengapit hidungnya. Bahkan tangan jail itu menarik hidung Maura hingga membuat Maura terpekik kaget.


Ya, Garvin. Pemilik tangan jail itu adalah Garvin yang sedari tadi berada diruangan Maura. Memperhatikan wajah Maura dari dekat yang tengah asik melamun. Hingga beberapa kali memanggil, tak sekalipun Maura menggubrisnya.


Kemungkinan saking kesalnya karena tak digubris. Sifat jail Garvin muncul, dan terjadilah tarik hidung milik Maura. Yang membuat pemiliknya terjingkat kaget saking asiknya melamun.


"Apaan sih kak?? sakit tau." Ujar Maura dengan nada kesal, tak lupa jari lentiknya mengusap hidungnya yang sudah memerah karena ulah Garvin.


"Suruh siapa ngelamun, dari tadi dipanggil juga gak nyaut. Ya, kalau gak digituin. kamunya masih aja bengong." Ujar Garvin menarik kursi yang berada di depan Maura ditaruh di samping Maura.

__ADS_1


Garvin enggan berjauhan dengan Maura. Sehingga kursi yang biasanya ada di depan Maura. Kini berpindah tempat menjadi di samping Maura.


"Ra, jawab pertanyaanku sejujurnya. Kamu masih cinta kan sama aku. Jangan pernah berbohong dengan apa yang kamu rasakan sekarang." Ujar Garvin menarik tangan Maura dan di genggamnya. Maura ingin menolak, namun gemggaman tangan Garvin semakin erat saja. Ketika Maura hendak menarik kembali tangannya.


" Jangan aneh- aneh ya kak, ini dikantor. Kalau ada yang liat gimana???" Sergah Maura mencoba melepaskan genggaman tangan Garvin.


"Aku gak bakal aneh- aneh kalau kamu gak seenak jidat menjawabnya. Aku ingin denger dari lubuk hatimu yang paling dalam ra." Seru Garvin menempelkan jari lentik Maura di dadanya. Biarkan Maura bisa merasakan detak jantungnya yang tidak normal ketika berada di dekatnya.


"Kak, Aku udah berapa kali sih bilang. Jangan lagi membahas hubungan kita. Aku dan Jo sudah sepakat akan menikah, hargai dong kak keputusanku." Papar Maura membiarkan tangannya dicekal dengan erat oleh Garvin.


" Kamu hanya membohongi perasaanmu Maura, coba tanyakan pada hatimu yang paling dalam. Dan aku yakin disitu masih ada namaku, bukan Jo." Papar Garvin semakin mendekatkan dirinya pada diri Maura.


Rasa was- was sudah hinggap pada diri Maura. Apalagi banyak cctv yang nantinya akan menyorot apa yang dilakukan dirinya dan Garvin diruangannya. Sungguh memalukan jika karyawan lain mengetahui sisi buruk dari atasannya.


"Kak, jangan aneh- aneh. ini di kantor." Ucap Maura memperingati, Apalagi kini tubuhnya sudah tak bisa berkutik karena tangan Garvin sebelahnya telah mengeratkan peganngannya.


"Tubuhmu saja tidak bisa menolak jika kamu masih mencintaiku." Celtuk Garvin mengendus belakang telinga Maura.


Membuat Maura yang tak pernah tersentuh oleh lelaki manapun, hanya bisa memejamkan mata. Menikmati sentuhan- sentuhan yang diberikan Garvin padanya.


"Jujurlah sayang" Ujar Garvin dengan suara beratnya, bibir tebalnya menggigit kecil cuping Maura dengan penuh kelembutan.


"Kak...Aww...." pekik Maura ketika telinganya dirasa agak panas. Wajahnya menoleh ke samping, tepat dimana Garvin memainkannya.


Seakan mendapatkan jackpot, Bibir tebal Garvin mendarat Sempurna di bibir mungil Maura. Bibir berwarna pink yang ingin selalu di cicipinya kini sudah berada dalam lumatannya.

__ADS_1


Tangan Garvin melepas cengkraman pada pinggul Muara . Dan bergantian mengusap perlahan tengkuk Maura agar sang gadis lebih menikmatinya.


"Garvin, Maura...." Seru seseorang yang baru saja memasuki ruangan Maura tanpa mengetuk pintu.


__ADS_2