Cintai Aku Adikku

Cintai Aku Adikku
Kebersamaan empat sekawan


__ADS_3

Baik Maura dan keempat sahabatnya tiada henti- hentinya bercerita ngalor ngidul. Bahkan terkadang terdengar suara tawa melengking dari keempat wanita didalam kamar bernuansa estetik tersebut.


Bagi Maura sendiri, Tiada hari tanda tertawa jika tengah berkumpul di tengah- tengah sahabatnya. Candaan yang absurd dan penuh keisengan membuat suasana nampak hidup dan mampu membuat seorang Maura melupakan masalahnya sejenak.


Tawa mereka terhenti seketika kala terdengar ketukan pintu dari luar kamar. Maura yakin jika yang tengah mengetuk pintu tersebut adalah bik Ina. Pelayan yang disuruh Eglar membantu Maura membersihkan apertemen miliknya.


ceklekkk...


Kepala Maura menyembul keluar kala pintu kamarnya sudah dibukanya. Maura tak mau bik Ina melihat keadaan kamarnya yang sudah tak berbentuk karna ulah sahabatnya. Karna pastinya bik Ina akan melaporkannya pada sang papa fikir Maura.


"Ada apa bik." Ujar Maura yang sudah berhasil mengeluarkan tubuhnya dari kamarnya. Tanpa melepas genggaman handle pintu tersebut, ia menutup pintu kamarnya kembali.


"Ada den Garvin non, di depan." Sahut bik ina membuat Maura bernafas kasar kala nama itu yang disebut wanita paruh baya di depannya.


Baru saja masalahnya lenyap dari fikirannya namun kini nama tokoh utama dalam masalahnya hadir di apertementnya. Maura menggelengkan pelan kepalanya kala bik ina masih berdiri di depannya. Dirinya masih enggan bertemu Garvin untuk saat ini apalagi disini juga ada sahabatnya. Bisa- bisa Garvin akan di gombalin habis- habisan dan Maura tak suka itu.


"Bilang aku udah tidur bi, Kecapean gitu ya." Timpal Maura melenggang masuk lagi ke dalam kamarya. Maura tak mau bik Ina bertanya terlalu panjang lebar nanti padanya jika dirinya tak lekas masuk ke dalam kamar. Berkumpul bersama para sahabat yang selalu menemaninya.


Setelah pintu tertutup sempurna bik ina menyampaikan apa yang diucapkan Maura . Meskipun itu semua bohong namun demi menjaga kepercayaan Maura, ia tetap menjalankannya.


"Huffftt...." Hembusan kasar dilayangkan Maura sembari bersandar di belakang pintu kamarnya. Tak taukah jika kelakuannya itu dapat terlihat oleh ketiga sahabatnya hingga membuat ketiganya mengernyitkan dahi.


"Abis liat setan Ra?" Tanya Devina penuh tanda tanya.

__ADS_1


Yang ditanya bukannya menjawab malah melotot ke arah ketiganya. Saking gugupnya dirinya hingga melupakan bahwa di kamarnya bukan hanya dirinya. Akibat dari kedatangan Garvin ke apertementnya membuat Maura yang tadinya hendak menyimpan rapat- rapat masalahnya kini mau tak mau bercerita . Karena jika dirinya masih tetep mencoba menyembunyikan fakta yang ada. Maura yakin seyakin- yakinnya ketiga sahabatnya akan marah padanya walaupun itu takkan berlangsung lama.


"Setan pala lu pitak." Sahut Maura berjalan ke arah ketiganya.


"Ya kali Ra, lu aja ngos- ngosan gitu." timpal Devina lagi.


Maur terduduk di sebelah Devina dengan tampang yeng tengah berfikir keras untuk menceritakan masalahnya atau tidak. Jika dirinya menceritakan kepada ketiganya mungkinkah dirinya bisa berfikir untuk mengambil keputusan. Baik keputusan dari Garvin dan ketiga temannya, dirinya bisa mempertimbangkannya.


"Guys, Gua mau cerita nih." Ujar Maura final setelah berfikir keras antara cerita atau tidak. Karena dirinya takut jika masukan yang diberikan Garvin membuatnya terjebak dalam situasi yang sangat runyam nantinya.


"Cerita apaan, bukannya lu dari tadi udah cerita non." Celtuk Arin sembari memainkan handpone pintarnya.


"Gua serius ogeb, Gua dijodohin sama almarhum bokap gua." Papar Maura membuat ketiganya secara spontan menoleh ke arahnya.


Dengan tampang cengo dan begonya ketiga nampak terdiam tanpa berucap sepatah katapun. Maura menelisik satu persatu wajah sahabatnya, dirinya juga berfikir jika ketiganya akan tak percaya dengan apa yang diucapkannya.


"Sakit oon." ungkap Arin ketika bantal itu mendarat cantik diwajahnya.


"Biarin, orang lagi cerita malah di mangapin, lu kira gua mie ayam yang otw lu santap." Sahut Maura kesal, karena ketiganya tak ada yang meresponnya.


"Seriusan lu dijodohin Ra, sama siapa? Tajir kagak." Pertanyaan beruntun dari Devina dilayangkan pada Maura hingga membuat Maura memutar bola matanya jengah.


"Lu tanya kayak mobil patroli yang lagi ngawal presiden , tanpa jeda dan bikin mual saking panjangnya." Sahut Maura.

__ADS_1


"Ehh mana ada sih mobil patroli ngawal presiden, lu halu atau udah mulai kongslet sih ra. Masak gara- gara di jodohin lu jadi kayak gini." Semprot Devina membuat Arin dan Rania tertawa , namun tidak dengan Maura yang semakin kesal dengan ucapan Devina.


"Lu mau dengar cerita gua atau gimana? bukannya ngedengerin malah ngatain. Dasar mak erot." Sahut Maura bersedekap dada.


"Okelah tuan putri, jangan dengerin omongan Dev. Lu cerita aja ke gua sama Arin." Celtuk Rania final tanpa sergahan dari Devina ataupun Arin.


Sebelum bercerita panjang lebar , Maura menghembuskan nafas kasar dengan beratnya. Dirinamya meyakinkan hatinya untuk tetap bercerita pada ketiga sahabatnya.


"Gua dijodohin sama Jonathan Lubis." Sahut Maura mantap tanpa keraguan namun hatinya merasa sulit untuk menerimanya.


"What? Tuan muda Lubis. Yang kaya raya itu dan hartanya gak bakal habis tujuh turunan." Sergah Devina terkejut, karena setahunya Jonathan itu adalah pewaris tunggal dari keluarga Lubis. Bagaimana dirinya tak terkejut jika sahabatnya akan dijodohkan oleh milyader ternama di indinesia mungkin juga sampai mancanegara.


"Beneren kah Dev, jika cowok yang dijodohkan Muara adalah seoarang milyader?." Tanya Arin yang tak tau menau , namun dihatinya ada rasa menggangjal.


"Iya, lu ketinggalan zaman sih. Keluarga Lubis kan udah trending di tv." Sahut Devina dengan mata berbinarnya.


"Lu mau Ra?" Tanya Arin yang mulai tak tenang, entah apa yang difikirkannya saat ini.


"Ini masalahnya guys, G- ua sama kak Garvin disuruh pura- pura nerima tapi nantinya kak Garvin yang akan membuatnya batal karena kak Garvin akan menguak minusnya pada diri Jonathan." Ungkap Maura membuat Devina sepontan menggelengkan kepalannya.


Devina sangatlah tak setuju dengan apa yang diucapkan Garvin perihal perjodohan Maura. Devina juga berfikir jika Garvin hanyalah akan membuat hidup Maura akan menjadi tertekan nantinya. Apalagi Garvin adalah mantan terindah bagi Maura, bisa saja nanti Maura akan nurut dengan ucapan Garvin.


"No double no Ra, jangan ikutin perkataan kak Garvin. Fiks, gua ngira dia itu ada rencana buat lu. Apalagi dia belum bisa move on sama lu, gua saranin buat nerima perjodohan itu dengan tangan terbuka tanpa kepura- puraan . Gak rugi kok terima pria macam Jonathan yang super kaya itu jadi laki lu." papar Devina dengan tampang berapi- api.

__ADS_1


"Lu jangan maksa si Dev, biarin aja Maura nerima saran dari kak Garvin. Siapa tau apa yang diomongin kak Garvin ada benarnya." Bukan Maura yang menjawab melainkan Arin yang tak suka dengan saran yang diberikan Devina pada Maura.


"Lu gila Rin, gua yakin kalau kak Garvin itu bakal tetep ngebatalin rencana mama Sherly. Lu tau kan kalau Mama sherly pastinya gak bakal ngejerumusin Maura ke masalah. Dan gua yakin kalau kak Garvin nyuruh Maura kayak gitu karena dia masih belum move on. Dan asal lu tau, meskipun kak Garvin kekeh ingin bersatu sama Maura. Namun takdir gak bisa menerimanya Rin." papar Devina bersungut- sungut memandang nyalang pada Arin yang entah mengapa bertolak belakang pendapatnya.


__ADS_2