
Hati Maura merasa tak tenang sedari tadi, apalagi ketika Richard memintanya untuk bermain ke rumahnya. Niat hati ingin menolak karena dari tadi fikirannya selalu mengarah pada Garvin. Tetapi ketika Richard malah membahas Claudia, Rasa tak biasa kembali hadir di lubuk hatinya yang paling dalam. Apalagi melihat wajah iba Richard yang membuatnya tak tega.
Entah mengapa Maura tak berperilaku bagaimana mestinya ketika menanggapi orang yang hanya dua kali bertemu dengannya. Perasaan senang dan penuh dengan rasa antusias menguar di hatinya.
Walaupun tadi dirinya juga menyaksikan apa yang dilakukan Sherly dan Richard di depan matanya. Namun seakan kesalahan itu tertutupi dengan rasa aman dan nyaman yang di berikan Richard padanya.
"Kenapa?" Tanya Richard ketika melihat kecemasan di wajah Maura yang tengah duduk di samping kemudi.
"Aku lagi kepikiran sama kak Garvin om, dia kayaknya tersakiti banget sama ucapan Mama." Ujar Maura memandang keluar cendela mobil dengan perasaan hampa.
"Bagitukah, om fikir kamu sangat perhatian dengannya nak?" Tanya Richard sembari mengusap rambut Maura. Richard hanya ingin tau bagaimana isi hati Maura, Terkekang kah dengan perjodohan tersebut atau malahan sebaliknya.
Sontak saja perkataan Richard membuat Maura spontan melihat ke arahnya. Segitu kentara kah wajahnya fikir Maura.
"Perhatian tentu saja om, Kan kita keluarga." Sahut Maura mencoba menampakkan senyumannya di depan Richard.
Richard tak menjawabnya namun senyuman yang di tujukannya membuat Maura lega. Setidaknya Maura mengira bahwa Richard memepercayai ucapannya.
Namun sedetik kemudian, Wajah yang tadinya dipenuhi dengan senyuman tiba- tiba saja memudar. Senyuman itu tergantikan dengan wajah datar dan piasnya. Maura saja yang melihatnya dibuat bingung oleh perubahan tersebut. Netra Maura mengikuti arah pandang mata Richard agar dirinya tau apa yang membuat wajah Richard dengan cepatnya berubah.
Pandangan pertama yang dilihat Maura adalah sepasang kekasih yang tengah bertengkar di pinggir jalan. Dan yang membuat Maura mengernyitkan dahinya adalah sang pria sangatlah familiar di matanya. Walaupun tubuh itu membelakanginya dan hanya di terangu lampu temaram jalan. Seakan hatinya yakin dengan apa yang tengah difikirkannya.
"Om, Apa itu....." Belum usia apa yang di ucapkan Maura, Perkataan Richard seolah meyakinkan dirinya bahwa apa yang tengah difikirkan hanyalah praduganya.
__ADS_1
"Mungkin hanya postur tubuhnya yang sama." Sahut Richard seakan mengerti apa yang tengah di fikirkan Maura.
Maura hanya manggut- manggut menanggapi ucapan Richard tanpa ambil pusing. Toh, walaupun pria itu benar dengan yang ada di fikirannya. Dirinya tak sekalipun merasa gelisah, Yang ada di fikirannya saat ini hanya wajah Garvin yang tengah terluka.
Setelah menempuh perjalanan beberapa jam lamanya. Kini mobil yang di tumpangi Richard dan Maura sudah terparkir sempurna di bagasi.
Maura turun dengan tampang cengonya ketika netranya melihat puluhan mobil mewah terparkir di dalam bagasi tersebut. Bahkan koleksi mobil milik Richard jauh lebih banyak dan mewah di bandingkan dengan apa yang dimiliki Alex papa kandungnya dulu.
"OMG Om.... Om jualan mobil apa gimana nih? banyak banget mobilnya.?" Tanya Maura masih setia terfokuskan pada pemandangan di hadapannya. Sungguh luar biasa kekayaan Richard ketika mobil langkah di duniapun juga ikut dikoleksinya. Maura masih tak percaya, Hingga dengan tampang konyolnya. Dirinya mengetuk beberapa kali dahinya saking tak percayanya.
Richard hanya bisa memandang sendu wajah Maura. Betapa menyesalnya dirinya dan istrinya ketika mengingat kejadian beberapa tahun yang lalu.
"Kamu bisa memilikimu nak, Jangan sungkan pilihlah mana yang kamu mau" Sahut Richard membuat Maura menoleh ke arahnya dengan mata melotot.
"Pikiranmu ngelantur, Ayo masuk..." Sahut Richard menjitak dahi Maura pelan, Bisa- bisanya gadis di sampingnya ini berfikiran hal buruk tentangnya fikir Richard.
Maura hanya mengelus dahinya yang baru saja di jitak oleh Richard sembari mengikuti langkah Richard memasuki rumahnya. Hatinya menggerutu kala mengingat kebodohannya yang seenak jidat keluar dari mulutnya. Ingin rasanya Maura menenggelamkan wajahnya di kedalaman yang sangat dalam saking malunya.
"Nih bibir emang gak bisa dikompromi banget sih" Batin Maura memukul berkali- kali bibirnya. Tak etis sekali berbicara hal konyol seperti itu pada calon mertuanya fikir Maura.
Hingga di depan tangga, langkah Richard terhenti ketika melihat punggung Claudia yang tengah duduk di kursi berada berada di taman belakang. Richard hanya ingin membersihkan diri terlebih dulu sebelum menemui wanitanya.
"Pergilah kesana, Tante Claudia ada disana." Tunjuk Richard pada taman belakang.
__ADS_1
Maura mengikuti arah tunjuk jari Richard, dan benar saja. Claudia tengah duduk di taman belakang menyaksikan gelapnya malam sembari memegang sesuatu yang dipeluknya. Maura hanya menganggukkan kepala melihat keberadaan Claudi. Tanpa permisi, Maura berlalu dari hadapan Richard dengan menunduk. Rasa malu semakin mendominasi ketika Richard melihatnya.
Bahkan Maura berfikir bahwa Richard pastinlah menyangka dirinya adalah perempuan yang tak benar ketika ucapan keramat itu keluar dari bibirnya.
"Begokkk...." Ujar Maura pelan menonyor dahinya lagi. Merutuki kebodohannya terus- menerus itulah yang dilakukan Maura.
Langkah Maura terhenti di pintu sekat antara taman. Hatinya bergemuruh mendengar isak tangis yang diyakininya adalah suara Claudia. Kemauan hatinya ingin mendekat tetapi kata- kata yang terlontar dari bibir Claudia mengurungkan niatnya.
"Maafkan mama nak, Mama bukanlah orang tua yang baik untukmu. Hanya gara- gara nenek kamu tak menginginkan bayi perempuan. Hiksss... hikss.... " Seru Claudia memeluk kain lembut yang berada di genggamannya.
"Dan betapa bodohnya mamamu ini malah mengorbankan kamu nak, Mama sudah kehilanganmu anakku." Lanjutnya lagi sesekali mencium kain itu dengan penuh linangan air mata.
Maura yang mendengar itu ikut terharu bahkan tak terasa air matanya menetes saking ibanya dengan apa yang dirasakan Claudia saat ini. Meskipun dirinya dan Claudia baru bertemu sekali namun hatinya seperti sudah terpaut dengan mama dari Jo.
"Berarti Jo sebenarnya bukan anak tunggal, melainkan ada saudara yang sudah meninggalkannya."Batin Maura menerka- nerka dengan apa yang di lihatnya.
Maura termenung membayangkan kejadian masalalu Claudia ketika orang tuanya tak menginginkan anak perempuan. Hingga dipersekian menit saking asiknya melamun dengan haluannya. Dirinya di kaget kan dengan sebuah tangan yang memegang bahunya. Sontak saja hal itu membuat Maura terjingkat kaget dengan kelakuan seseorang di belakangnya.
"Hahhhh...... " Seru Maura terjingkat kaget hingga dirinya terjatuh ke lantai.
"Om apaan sih, kayak hantu aja deh" Pekik Maura berusaha berdiri.
Ya, dia Richard yang memegang bahu Maura. Bukannya bermaksut lancang, tetapi karena Maura sedari tadi di panggil tak di gubris sama sekali. Hingga Richard memegang bahu Maura dan reaksi Maura malah membuatnya tak bisa menahan tawanya lagi.
__ADS_1