Cintai Aku Adikku

Cintai Aku Adikku
Kesabaran Claudia


__ADS_3

Setelah melihat reaksi Maura yang nampak bahagia dipinang Jo. Garvin melangkahkan kakinya ke arah tangga tanpa sepatah katapun, Dirinya butuh sendiri tanpa ada siapapun yang mengusiknya.


Hatinya hancur melihat kenyataan yang sangat meluluh lantakan fikiran dan batinnya. Ingin mencoba menggagalkan namun Maura seperti sangat bahagia dan antusias menanti malam ini.


Haruskah Garvin berhenti meyakinkan hatinya bahwa sang adik tiri bisa di gapainya, Ataukah Garvin lebih memilih melanjutkan perjuangannya yang sudah sampai di tengah jalan. Namun ketika melihat raut wajah Maura tadi, Garvin yakin jika ada kejanggalan yang dirasakan Maura. Tetapi Garvin tak tau itu apa, Yang ia tau bahwa dirinya bisa membaca wajah Maura walaupun dirinya tersenyum.


Di sunyinya malam dengan diiringi suara jangnkrik dari taman bunga karena saat ini Garvin berdiri dibalkon kamarnya. Hingga membuat Garvin dapat mendengar hewan apapun yang berada di taman. Apalagi tamannya juga sudah disulap sangat indah untuk di jadikan tempat makan malam untuk para tamu yang masih asik bercengkrama.


Para pelayan tak henti- hentinya hilir- mudik menyiapkan sajian sempurna untuk tamunya. Hingga dipersekian menit tibalah Eglar menggiring para tamunya ke taman belakang tak lupa candaan yang selalu dikeluarkan diantara Eglar dan Richard. Namun berbeda dengan Sherly yang nampak risih dengan keberadaan Claudia yang tengah duduk di kursi roda sembari di dorong oleh Maura.


"Apa anda tidak capek duduk di kursi roda nyonya Claudia?" Tanya Sherly dengan senyuman sinis di bibirnya.


"Ma...." Sentak Maura memperingati Sherly untuk berhenti berbicara hal yang tak penting menurutnya.


Claudia memegang tangan Maura agar diam tak membalas ucapan Sherly, Karena menurutnya itu takkan ada gunanya.


"Gak apa- apa nak. Tante memang pantas mendapatkan perlakuan seperti itu." Timpal Claudia mengelus tangan Maura.


Maura berjongkok kembali di hadapan Claudi, Entah kesabaran macam apa yang dimiliki Claudia hingga tak sekalipun membalas ucapan yang tak nyaman di dengarnya. Bahkan Claudia hanya berucap bahwa dirinya baik- baik saja diperlakukan seperti itu.


"Tante sabar banget sih, Aku pengen banget kayak tante." Sahut Maura mengembangkan senyumannya pada sosok Claudia. Karena tak sekalipun dirinya bertemu dengan wanita yang sabar seperti Claudia sebelumnya. Hati Maura seperti tersiram air es ketika melihat ketabahan dan kesabaran yang dimiliki Claudia. Apalagi ketika dirinya di cemooh masih saja bisa menampakkan senyuman di bibirnya.


"Mama ada masalah apa sih sama tante Claudia, Kok kayaknya ada masalah yang belum terselesaikan diantara keduanya. Tapi cara Tante Claudia menyikapi biasa saja, Apa hanya mama yang ada masalah?" Batin Maura mendongak, sekilas menangkap siluit bayangan hitam di balkon kamar Garvin .


Maura yakin jika itu adalah bayangan Garvin yang enggan melihat keberadaannya. Hingga Garvin memutuskan masuk ke kamarnya ketika melihat dirinya menoleh ke arah balkon kamarnya.


"Masih marah ya, kayak muak lihat aku."Batin Maura lagi berdiri dan kembali mendorong kursi roda milik Claudia hingga sampai meja makan.


" Garvin gak dipanggil pa?" Tanya Sherly melihat sekitar tak ada tanda- tanda kehadiran Garvin di taman belakang.

__ADS_1


"Biarin Rara yang manggil kakak pa" Timpal Maura berinisiatif memanggil Garvin di kamarnya. Maura ingin sekali bertanya tentang keadaan Arin pada Garvin, karena menurutnya Garvin pastilah tau keadaan Arin saat ini.


"Ra....." Seru Eglar yang tak mau jika Maura yang memanggil Garvin. Eglar takut jika Garvin masih terobsesi pada Maura.


"Biarkan saja Maura memanggil kakaknya, toh kakaknya bukan pysikopat kan?" Sahut Claudia dengan suara lemahnya, Richard yang tak tau apa- apa hanya manggut- manggut dengan apa yang diucapkan istrinya.


Setelah Claudia berucap seperti itu, Maura dengan beraninya melangkahkan kakinya ke arah dalam rumah. Tak peduli nantinya jika Eglar dan Sherly akan memarahinya karena dirinya hanya ingin tau keadaan Arin walaupun tadinya Maura sangat enggan mengetahui kondisinya. Tetapi setelah di fikir- fikir, Arin adalah salah satu sahabatnya yang telah menemaninya bertahun- tahun lamanya. Jika memang antara Garvin dan Arin sedang merajut kasih, dirinya bisa apa?.


Biarlah mereka berdua yang tau , Maura harus bisa ikhlas menerima kenyataan. Apalagi kini dirinya sudah resmi bertunangan dengan Jo.


Tokk...tok.....tok.....


"Kakak ini Maura, Sama papa mama disuruh ke bawah kak. Ayo, makan malam bersama.” Ucap Maura menempelkan daun telinganya di pintu kamar milik Garvin.


Tak ada sahutan dari dalam kamar, Bahkan kamar tersebut seperti tak berpenghuni.


Ceklekk....


Namun lagi- lagi tak ada jawaban dari kamar Garvin , namun lampu kamar yang tadinya menyala ketika Maura diluar kini nampak temaram dengan lampu tidur.


Maura sedikit kesusahan dengan minimnya cahaya di kamar Garvin. Ingin terus melangkah dan mencari keberadaan Garvin, namun lagi- lagi dirinya dikejutkan dengan pintu kamar Garvin yang tiba- tiba tertutup.


Bingung tentu saja , apalagi diruangan itu tak ada tanda- tanda Garvin berada.


" Kak , Gak lucu kak." pekik Maura melihat keadaan sekitar dengan keadaan yang sangat minim cahaya tersebut.


Grepppp......


Dan lagi, Maura dikejutkan dengan pelukan erat dari belakang tubuhnya. Sontak saja Maura memberontak dan berhasil menginjak kaki seseorang yang dengan kurang ajar nya memeluk dirinya.

__ADS_1


"Anjing lu..." Bentak Maura berlari ke arah pintu keluar namun sayangnya pintu itu sudah terkunci dari dalam.


Dengan keadaan kamar yang diterangi temaram lampu tidur. Membuat Maura sulit mengetahui siapa bajingan yang sudah berani memeluknya.


"Kak Garvinnn.... " Teriak Maura kala seseorang yang tadi memeluknya kembali mendekat ke arahnya . Maura ketakutan namun dirinya berusaha tenang agar lawannya tak semakin merasa menang.


Greppppp....


Belum selesai berancang- ancang lari, Seseorang itu kembali memeluknya namun kali ini dari depan. Pelukan erat itu tak mampu membuat Maura berkutik bahkan bernafaspun dirinya susah.


" Lepass bajingan..." Pekik Maura berusaha melepas dekapan erat pria tersebut.


"Aku bajingan karena kamu Maura Alexio." Sahutnya dengan nada datar dan dinginnya.


Degggg...


Seketika Maura terdiam mendengar suara familiar tersebut di telingannya. Bahkan Maura membiarkan sosok itu semakin mengeratkan pelukannya pada tubuhnya.


"Kak, Ini salah. Bukannya kita sudah mengambil keputusan masing- masing." Ujar Maura mencoba melerai pelukan tersebut dengan kasarnya, tak peduli tatapan nyalang Garvin yang menusuk indera penglihatannya.


Ya, Sosok yang sedari tadi memeluk Maura adalah Garvin. Sebelum Jo memasang kan cincin di jari manis Maura, Garvin memilih pergi dari pada melihat sesuatu yang membuat hatinya terbakar.


"Masing- masing apa maksutmu, Kamu yang memilih keputusan secara sepihak. Aku hanya bilang, terima perjodohannya saja bukan berarti menerima pertunangan gila ini Maura" Sergah Garvin tepat di depan wajah Maura.


***Jangan lupa dukungannya ya bestie..


Like👍


Coment💌

__ADS_1


Vote🥳


dan hadiahnya ya🌹☕***


__ADS_2