
Maura bukanlah gadis norak yang tak seperti anak zaman now. Tetapi penjagaan yang di berikan Sherly untuk Maura sangatlah ketat. Sherly tak ingin mendapatkan masalah dikemudian hari ketika para penguntitnya lapor pad atasanya. Dimana dirinya bertanggung jawab penuh atas apa yang terjadi pada Maura. Pernah dulu waktu SMA Maura diajak ke bar untuk acara perpisahan di sekolahnya. Dan berakhirlah adu duel antara penjaga yang selalu mengikutinya dengan beberapa orang yang berada di bar.
Dan pada saat itulah, momen terakhir seorang Maura menginjakkan kakinya di lantai bar dengan penuh hingar bingar.
Maura menggelengkan kepalanya ketika merasakan pening di kepalanya. Ditambah lagi kemunculan kunang- kunang yang tiba- tiba hinggap di kepalanya.
"Jo, pusing." Ujar Maura menyandarkan kepalanya di bahu Jo karena tiba- tiba merasakan pusing. Sudah dua gelas sloky tandas olehnya, dan itupun dengan paksaan Jo dengan berbagai rayuan.
Jo membawa tubuh sintal Maura ke dalam dekapannya tak lupa kecupan dipelipis diberikannya berkali- kali. Bibirnya tersungging dengan penuh kemenangan atas keberhasilan yang baru dilakukannya.
"Aku yakin sih, Queen gak bakal marah. Dan jika kepunyaanku sekali tembak langsung jadi, aku yakin pernikahan kita akan secepatnya terlaksana." Batin Jo mengusap perut rata Maura dengan sebelah tangannya.
"Jo...." Panggil Maura dengan suara lemahnya dan dengan mata terpejam. Apalagi kini tubuhnya sangat dekat bahkan tangannya erat memeluk tubuh Jo.
Jo berusaha berdiri sembari membawa tubuh Maura yang lemah. Diruangan tersebut bukan hanya ada satu ruangan melainkan ada pintu tersembunyi di balik sofa. Ya, tempat itu adalah tempat dimana Jo dan para kawannya berkumpul dan berpesta pora bahkan sering sekali berhubungan intim dengan lawan jenisnya.
Tubuh Maura bergelanyut manja di bahu Jo, ketika Jo menggiringnya ke arah ruangan yang sedari tadi tak terlihat dimata Maura.
Brakkk......
Jo terperanjat kaget kala pintu masuk di ruangan tersebut didobrak dari luar . Lain halnya dengan Maura yang sama sekali tak terganggu dengan suara memekak telinga. Dirinya masih saja setia beegelanyut manja di bahu Jo dengan mata terpejam.
__ADS_1
"Apa- apaan lu haahhh.... " Ujar Seseorang mencengkram atasan kaos yang dipakai Jo.
Ya, Garvin yang telah masuk ke dalam ruangan privacy milik Jo bersama kedua sahabatnya. Larangan penjaga yang berada di depan pintu tak dihiraukannya ketika sang adik kali ini dalam bahaya. Meskipun yang membawanya berstatus calon suaminya. Namun itu sungguh tak pantas menurut Garvin, apalagi sedikitpun rasa cintanya belum memudar sama sekali pada sang adik tiri.
"Brengsek, Kemana para penjaga itu." Batin Jo yang masih setia mendekap tubuh Maura sehingga membuat Garvin takut memukulnya. Jika Garvin memukul Jo, Jo akan limbung bersamaan dengan tubuh Maura yang berada dalam dekapannya.
"Mau apa hah, Dia sudah jadi hakku . Jadi kalian enyahlah dari sini." Sergah Jo semakin menyulut emosi Garvin.
Bara tadi menghubungi Maura karena Garvin enggan di ajak pulang oleh dirinya dan juga Tara. Hingga Bara dan Tara berinisiatif menghubungi Maura, Agar bisa membujuk Garvin yang tengah ditimpa masalah. Mungkin dengan bujukan Maura , Garvin mau pulang meskipun Bara terpaksa berbohong dengan kondisi sang karib. Karena sekali dua kali Bara menelvon Maura, Tak ada sahutan sama sekali dari Maura.
Hingga Bara berfikir jika berbohong sedikit dapat membuat Maura khawatir dengan keadaan Garvin. Walaupun dalam kenyataannya, Maura sangatlah gelisah karena telah membiarkan Garvin pergi sendiri.
Tara sangatlah mengenal Jo bahkan Tara sangatlah membenci sosok Jo yang terkesan sombong. Apalagi keduanya suka nongkrong ditempat yang sama bahkan hampir setiap hari bertemu walaupun tak saling sapa.
Sosok sombong dan pongah yang dimiliki Jolah yang membuat Tara sangat enggan menyapa. Terkadang Jo juga memperlakukan wanita yang melayaninya layaknya binatang yang tak berperasaan. Ibarat manis sepah dibuang, begitulah karakter Jo.
"B-angke......" Ujar Jo tergagap kala cekikan yang dilakukan Tara semakin membuatnya kehabisan pasokan oksigen.
"Gua muak liat tingkah lu Jonathan Lubis, Gua gak rela Maura yang gua kenal sampek masuk kedalam perangkap Lu." Papar Tara melepaskan cekikannya hingga membuat Jo terbatuk- batuk.
Uhukkkk..... uhukkkk....
__ADS_1
"Bajingan lu Tar, Gua gak bakalan biarin kalian ngancurin pernikahan gua. Dan untuk lu Garvin, jangan mentang- mentang Lu kakak calon istri Gua. Dan gua bakalan hormat sama lu, Ciihhhh gak sudi." Ujar Jo dengan nafas tersenggal- senggal . Sembari berjalan ke arah Maura yang sudah di tidurkan disofa oleh Garvin. Garvin tak sedikitpun menjauh dari Maura walaupun ucapan Jo membuat dirinya emosi.
"Jangan mendekat Jo...." Bentak Garvin ketika Jo hendak mengambil tangan Maura yang tergeletak di atas perut ratanya.
"Apaan lu ngelarang Gua, Dia calon istri gua Garvin. Gua berhak atas dirinya." Ujar Jo menghempaskan tangan Garvin yang tengah menunjuk ke arah wajahnya.
"Jo, Lu hanya calon sedangkan Garvin adalah kakaknya. Jadi lu harus sopan sama Garvin." Tutur Bara memperingati, Bara sudah muak dengan kepongahan yang melekat sempurna pada diri Jo.
"Gak ngaruh buat gua, Biar Maura gua yang bawa pulang karena dia kesini sama gua." Timpal Jo lagi mencoba membawa Maura, namun lagi- lagi Garvin menghalaunya dengan mendorong Jo dengan keras. Tubuh kekar Jo terpental ke lantai saking kerasnya dorongan yang dilakukan Garvin padanya.
Garvin melangkahkan kakinya mendekat ke arah Jo . Ingin sekali Garvin menghabisi Jo malam ini juga karena telah membuat Maura tak sadarkan diri seperti saat ini. Namun niatnya kembali diurungkan ketika Bara menghalau langkahnya.
Bara memegang dada Garvin dan membisikkan sesuatu hingga emosi Garvin kembali stabil. Bukannya tak mau memberi pelajaran pada Jo, namun waktu dan tempatnya belum tepat fikir ketiganya .
"Pengawal, bawa dia pergi dari sini sebelum dia habis ditanganku." Panggil Garvin pada kedua pengawal yang tadinya setia menjaga ruang privasi Jo.
Dengan kepala menunduk, kedua pengawal tersebut berjalan ke arah Jo. Yang masih terduduk di atas lantai. Matang menyorot kebencian pada ketiga pria yang berada di hadapannya. Bukan tak gentle, namun difikirannya jika dirinya melawan sendiri bisa jadi takkan menang melawan ketiganya. Apalagi Garvin yang notabenya mempunya ilmu karate yang lumayan tinggi.
"Ingat kalian, Gua Jonathan Lubis. Gak bakalan memberi cela kalian bertiga buat ngehalangi pernikahan Gua sama Queen" Papar Jo sebelum berdiri dibantu kedua pengawal.
Bersambung bestiee....😉
__ADS_1