Cintai Aku Adikku

Cintai Aku Adikku
Colek


__ADS_3

Matahari sudah nampak berada di atas kepala namun tak sekalipun membuat sosok Maura membuka matanya. Setelah membersihkan diri dan kembali tertidur di apertemen miliknya . Ditemani Garvin yang juga tidur di kamar tepatnya di sofa, sebenarnya tak masalah jika harus meninggalkan Maura yang tengah tertidur. Tetapi Garvin berfikir , takut jika Maura akan melakukan hal- hal aneh ketika terbangun tanpa sepengetahuannya. Apalagi efek alkohol yang sudah diminumnya masih bereaksi.


Dengan keputusan final, Garvin memilih stay di dalam kamar Maura. Agar dirinya dengan leluasa memantau apa yang dilakukan Maura.


"Hey bangun." Ujar Garvin menepuk pelan pipi Maura, Tak lupa netranya berkali- kali memandang jam tangan yang melingkar ditangannya.


Jam sudah menunjukkan pukul 09:55 tapi Garvin masih sibuk membangunkan tuan putri yang masih tertidur. Jika tak ada rapat penting, mungkin saja Garvin akan membiarkan tuan putri tersebut dengan bebasnya tidur . Tetapi hari ini bukan hanya dirinya yang dibutuhkan melainkan Maura sebagai sekertaris juga diwajibkan hadir dalam acara penting tersebut.


Eughhh.....


Maura melenguh sembari meregangkan otot- ototnya. Matanya dengan perlahan terbuka kala merasakan pipinya tercubit oleh Garvin.


"Apa..???? " Ketus Maura membalikkan badannya tanpa melihat penampilan Garvin yang sudah rapi dengan pakaian formalnya. Matanya kembali tertutup, namun secepat kilat membola kala mendengar ucapan Garvin.


" Biarin papa marah nanti kalau liat kamu dan aku gak datang rapat hari ini." Ujar Garvin menuruni ranjang yang di tempati Maura. Garvin angkat tangan dalam membangunkan putri tidur yang satu ini.


"OMG, kakak kenapa gak bangunin aku." Serta Maura meloncat dari ranjangnya, berlari memasuki kamar mandi dengan pakaian tidurnya.


"Dihh bilang gak dibangunin, perasaan hampir setengah jam yang bangunin. Kamu gak bangun- bangun , Dasar kebo." Teriak Garvin kala Maura menutup pintu kamar mandi dengan kasar.


Ceklekkk...


Ketika mendengar pintu terbuka lagi, Garvin menoleh ke arah sumber suara. Nampaknya Maura membuka pintu lagi sembari menggosok giginya.


"Kenapa lagi.??" Tanya Garvin ketika melihat Maura keluar dengan busa yang berada di mulutnya

__ADS_1


Maura hanya diam sembari menggosok giginya namun matanya melihat ke arah jam dinding dengan mata kembali membulat.


Secepat kilat Maura kembali memasuki kamar mandi sembari menutupnya secara kasar.


Brakkk.....


Garvin nampak terjingkat kaget dengan ulah Maura. Namun di detik kemudian senyuman geli di tunjukkan di bibir tebalnya.


Otaknya mengarah pada keluarga harmonis yang selalu berwarna. Tak ada masalah yang menghampirinya dan kebahagiaan selalu mendampinginya. Garvin sangat memimpikan saat- saat dimana dirinya dan Maura nanti akan bersatu. Merajut sejuta impian bersama- sama.


"Untung masih cinta." Ujar Garvin menggeleng- gelengkan kepala melihat tingkah menggemaskan dari Maura.


Garvin masih dan terus berharap jika nanti dirinya dan Maura akan terikat sebuah hubungan serius. Tanpa ada pengganggu seperti Jo dan Sherly tentunya.


Garvin melangkahkan kakinya keluar kamar, Kopi yang sedari tadi diseduh mungkin sudah dingin karena terlalu lama membangunkan putri tidur. Apalagi roti bakar yang sudah disediakan untuknya dan Maura sebagai sarapan. Tetapi mengingat momen- momen itu membuat Garvin kembali tersenyum geli.


Hingga dibeberapa menit kemudian, Suara highells dengan terburu- burunya menuruni anak tangga. Ya, Siapa lagi kalau bukan Maura yang tengah tergesa- gesa dikejar waktu.


Segelas air minum dan satu roti bakar dilahap habis oleh Maura. Tak ada rasa jijik ataupun ilfiel yang ditujukan Garvin padanya. Lagi- lagi gelengan kepala ditambah senyuman mempesona di tunjukkan olehnya.


"Kenapa senyum , ada yang salah sama dandananku." Ujar Maura yang sekilas melihat Garvin tersenyum. Tangannya terulur mengusap pelan wajahnya yang hanya dilapisi bedak badat. Dengan bibir hanya di hiasi oleh liptin berwarna natural.


Maura berfikir jika ada kesalahan dalam riasan wajahnya. Karena dirinya sangatlah terburu- buru mengingat waktu sudah sangat mendekati jam rapat.


"Kamu cantik, mau seburuk apapun kamu dandan. Dimataku kamu tetap cantik Maura Alexio." Ujar Garvin berdiri sembari memegang dagu Maura.

__ADS_1


Bukannya terharu dengan apa yang diucapkan Garvin . Dilihat dari tanggapannya yang hanya menyengir kuda dan tiba- tiba saja menjitak dahi Garvin dengan kerasnya.


"Ahhh.. Apaan sih??." pekik Garvin mengusap dahinya yang lumayan panas karena ulah Maura.


"Mau di marahin papa hah, pakek acara gombal segala. Kalau mau dimarahin papa, Ya silahkan aku gak mau ngikut." Ucap Maura melenggang pergi meninggalkan Garvin yang menggaruk kepala bagian belakangnya yang tak gatal.


"Ehh ra, aku serius loh. kok tanggepan kamu kok marah gitu sih." Ujar Garvin mengejar Maura yang meninggalkannya.


"Bodo, Gua gak mau dimarahi papa karena dengerin bacot kamu kak." Sergah Maura yang tak menghiraukan Garvin yang terus saja mengejarnya.


"Masak reaksi minuman alkoholnya masih belum kelar sih, Perasaan kalau efek alkohol mabuk loh bukan malah marah- marah kayak gini." Gerutu Garvin sembari mengikuti langkah Maura dengan tangan yang masih setia menggaruk kepalanya yang tak gatal.


Didalam perjalanan ke perasaan milik Agler, didalam mobil keduanya nampak terdiam. Bukan keduanya sih, yang pasti itu Maura yang enggan menanggapi ucapan Garvin.


Garvin di buat bingung dengan sikap Maura, bukankah tadi di pertengahan malam masih baik- baik saja. Bahkan ada adegan romantis di dalam kamar tersebut. Walaupun Garvin sendirilah yang menghancurkan momen itu dengan candaan. Namun malah di tanggapi serius oleh Maura.


"Jangan diem aja sih, aku kan ngantuk kalau nabrak orang gimana nanti." Ujar Garvin sembari mengerucutkan bibirnya kala tak ada tanggapan sekalipun dari Maura. Siapa tau dengan cara dirinya merajuk, Maura mau berbicara menanggapinya.


"Bodo." Satu kata itu meluncur sempurna dari bibir mungil Maura.Dan hal itu sukses membuat Garvin melengkungkan bibirnya ke atas. Karena sudah berhasil membuat Maura menanggapi apa yang dikatakannya.


"Yakin, kamu bisa hidup tanpa aku yang tampan ini." Goda Garvin mencolek dagu Maura yang melihat ke arah luar cendela mobil.


"Jangan omong aja dong kak, fokus nyetir. Aku gak mau ya di marahin papa tiga hari tiga malam karena kelakuan kamu." Sahut Maura memelotokan matanya ke arah Garvin, Sungguh menggemaskan fikir Garvin.


"Gak bakal dimarahi Ra, kan ada Kakak yang selalu melindungi kamu dari segala cuaca." Timpal Garvin lagi mengedipkan mata sebelahnya.

__ADS_1


"Dikira no drop no bocor kali.," Ujar Maura memutar bola matanya jengah.


__ADS_2