Cintai Aku Adikku

Cintai Aku Adikku
Maura keras kepala


__ADS_3

Garvin memejamkan mata sembari mendongak di kepala ranjangnya. Memikirkan rencana apa yang akan di ambilnya untuk membatalkan niat sang mama. Agar perjodohan yang dilakukan Sherly untuk Maura berhasil dicegahnya.


Setelah kepergian Maura satu jam yang lalu, kini Garvin berfikir dengan sangat kerasnya bahkan untuk terpejampun sangatlah sulit dilakukannya. Namun dilubuk hatinya yang paling dalam ada secercah harapan untuknya bisa bersama dengan sang adik.


"Kau takkan bisa menggapainya tuan muda Lubis." Ujar Garvin tersenyum miring sembari membayangkan wajah tertekan Jonathan di depan umum.


Meskipun Garvin tidak tau kehidupan Jonathan, namun informasi yang di berikan Tara sangat membuatnya lega. Bukannya Tara tak mengenal Jonathan , malahan Tara dan Jonathan satu frekuensi. Dimana mereka berdua sama- sama penjahat kelamin.


Bukan hal yang sulit untuk Tara tau seluk beluk seorang Jonathan yang juga sering mengunjungi club tempatnya bertandang.


Garvin mencoba memejamkan matanya sembari mencoba merangkai rencana yang akan dijalankanya. Dan perihal Maura, Garvin sangat menyayangkan sekali jika Maura harus pindah dari rumahnya ini, dan memilih menetap di apertement yang sudah di siapkan Eglar. Bukan apa- apa Garvin memikirkan itu, hanya karna Garvin khawatir dengan keselamatan Maura yang hanya tinggal seorang diri.


Berbagai macam cara tadi Garvin meyakini Maura untuk tetap tinggal namun kekeras kepala Maura sungguh membuatnya kelimpungan.


Flasback on.


Setelah asyik bersendau gurau karena kejahilan Maura, kini Garvin dan Maura sama- sama terdiam meresapi situasi yang membuatnya bahagia. Senyuman tak pernah pudar dari keduanya kala semua unek- unek yang berada dalam benak keduanya terungkap.


Hingga keheningan tersebut dipecahkan oleh suara Maura yang membuat Garvin mematung dan serempak menoleh ke arah Maura.


"Aku akan tinggal di apertemen kak.?" Ujar Maura menoleh ke arah Garvin.


Garvin yang tadinya mengembangkan senyumannnya malahan kini merasa kaget dengan ucapan Maura .Senyuman itu tiba- tiba luntur di bibirnya bahkan kelu untuk berucap.

__ADS_1


"Apa papa dan mama mengizinkannya?" Tanya Garvin dan berharap Maura menggelengkan kepala jika Maura belum meminta izin pada Eglar ataupun Sherly.


Serasa dihantam batu besar ketika Maur mengganggukkan kepala. Itu berarti sang mama dan sang papa sudah memberi izin untuk Maura pergi dari kediamannya.


"Kamu seorang wanita, Gak baik tinggal sendiri di apertement . Enggak, aku pokoknya gak setuju." Timpal Garvin menggelengkan kepala, menolak apa yang di ucapkan Maura padanya.


"Iss.. Kakak gak izinin , aku gak masalah. Asal udah dapat izin dari mama dan papa." Sarkas Maura melipat kedua tangannya di dadanya. Enak aja gak izinin padahal Maura udah mati- matian merayu Eglar agar mengizinkannya fikir Maura.


"Besok aku akan bilang ke papa buat batalin semuanya." timpal Garvin lagi tak mau kalah dengan perkataan Maura.


"Kakak apa- apaan sih? Aku udah susah payah minta izin . Ehh malah mau di batalin, pokoknya enggak kak, aku akan tetep tinggal di apertement ." Papar Maura .


"Jangan keras kepala Maura, Ini juga demi keselamatan kamu. Aku gak mau ada hal- hal buruk nantinya." Ungkap Garvin berdiri di depan Maura yang masih terduduk.


"Gua gini karena takut kalau cinta gua ke lu gak bisa pudar kak." Batin Maura menatap lesu punggung kokoh Garvin yang tengah memunggunginya karena kini posisi Garvin berada di pinggir pagar. Hingga membuat Maura tak dapat melihat wajah emosi Garvin yang tengah disembunyikannya.


"Tempatmu kerja adalah kantorku Maura, kita berangkat bareng dan kamu akan aman di dalam pengawasanku." Sahut Garvin membalikkan badannya tak lupa nafas kasar dilakukannya berkali- kali agar emosinya tak dilihat oleh Maura.


"Ragaku aman tapi hatiku yang takkan aman kak." Batin Maura lagi menatap nanar wajah Garvin yang sudah memerah.


"Intinya aku tetep sama pendirianku kak, aku akan tetap tinggal di apetement sendiri." Sahut Maura melenggang pergi dari balkon kamar Garvin. Maura takut jika niatnya akan goyah karena rayuan Garvin. Tekadnya sudah final, apalagi mengingat dirinya kini sudah bersendau gurau dengan Garvin . Takutnya perasaan yang kemarin di batasi tak bisa di bendung lagi.


"Bagaimana bisa aku mencintai wanita keras kepala kayak kamu Maura." Batin Garvin menatap lesu punggung yang semakin menjauh dari pandangannya.

__ADS_1


"Stop Garvin, Biarin dia ngelakuin apa yang dia mau untuk saat ini. Dan tugasmu kali ini hanya menggagalkan rencana gila mama." Ujar Garvin berceloteh sendiri sembari berdiri di pagar pembatas. Taklupa sebatang rokok yang tadi berada disakunya menjadi temn dalam keheninganya.


Flasback off....


Matahari sudah mulai menyingsing dari ufuk timur ditambah lagi suara kicauan burung membuat suasana menjadi tersorot dengan indahnya. Namun keindahan itu terhenti takkala Garvin berteriak dari lantai atas memanggil nama Maura. Bahkan suara gedoran pintu membuat seisi rumah menengok ke lantai dua. Dimana disana ada tiga kamar dan salah satunya milik Garvin dan Maura.


"Ada apa Garvin, Pagi- pagi kok heboh." Ujar Sherly yang melihat Garvin tergesa- gesa menuruni anak tangga.


"Maura kemana ma?" Tanya Garvin ketika sudah melangkahkan kakinya ke tangga terakhir.


"Kamu gimana sih vin, adek kamu udah jalan dari tadi subuh sama pak omang dan bik ani. Kan hari ini niatnya mau pindah ke apertement. Sekalian mau bersih- bersih karena kan besok udah ditinggali." Papar Eglar sembari menyeruput kopi yang sudah di siapkan Sherly untuknya.


"Papa kenapa izinin Maura tinggal sendiri pa, dia cewek loh pa." Ucap Garvin yang masih tak bisa menerima keputusan sang papa.


" Ya mau gimana lagi vin, adek kamu terlalu keras kepala. Padahal kemarin papa juga berusaha membujuk dia buat tetep tinggal di rumah ini." Sahut Eglar berdiri karena sarapannya telah usai.


"Tapi kamu tenang saja, papa sudah menugaskan pengawal terbaik untuknya." Papar Eglar lagi mengusap bahu Garvin yang masih berdiri di samping tangga.


Eglar melenggang pergi karena hari ini akan diadakan rapat penting. Dan itu juga tak luput dengan peranan Garvin yang harus ikut dalam meeting tersebut.


"Jangan terlalu memikirkan Rara Garvin, karna yang pantas memikirkan Muara adalah Jonatan bukan kamu." sahut Sherly menatap tak biasa pada Garvin yang masih mematung.


"Maksut mama apa? jangan terlalu melampaui batas ya ma, apalagi menyangkut Maura yang berstatus anak kandung mama sendiri." Ujar Garvin melangkahkan kakinya mendekati Sherly. Dirinya sangat tak suka dengan perkataan yang baru saja terucap dari bibir Sherly tersebut.

__ADS_1


"Pergilah, tak perlu bertanya apa maksut mama. Karna mama yakin kalau kamu sudah mengerti tapi berlagak tak mengerti." Papar Sherly melenggang pergi meninggalkan seorang Garvin yang tengah mengepalkan tangannya.


__ADS_2