
Setiba di meja kerjanya tepatnya disebelah ruangan wakil direktur, Maura menghembuskan nafas kasar. Dirinya juga berdoa jika niatnya takkan goyah kembali dan membiasakan diri untuk bisa sportif pada pekerjaannya. Karena memang inilah kemauannya dan keputusannya yang telah diambil.
Maura membuk beberapa file bahkan schadule yang telah di resmikan oleh mantan sekertaris Garvin. Lagi- lagi Maura menghembuskan nafas kasar kala banyak schadule yang mengharuskan dirinya dan Garvin bersama. Tak mengerti atau sedang dilanda cemasakah seorang Maura saat ini. Hingga fikirannya saat ini tengah merutuki pekerjaan seorang sekertaris yang mau saja berduaan dengan atasannya.
"Gila kali gue yak, kan emang kerjaan sekertaris begitu. Dasar oon" Ucap Maura memukul pelan dahinya merutuki kebodohannya.
Tringggg....
Pandngan Maura beralih ke arah handponenya yang baru saja berbunyi. Notif pesan dari pria yang ingin dihindarinya muncul dengan menampakkan profil yang begitu menyayat hati.
Kak garvin: Keruanganku sekarang.
Meskipun profil tersebut menampakkan punggung saja namun Maura tau betul jika salah satu punggung di profil itu adalah sahabatnya yang kemarin ia buntuti di danau.
"Ishhh... Dipake profil lagi." Batin Maura tak menghiraukan isi pesan tersebut.
***Tringgg...
Kak Garvin : Sekarang***...
Bunyi pesan lagi hingga membuat Maura memutar bola matanya jengah. Beginilah yang tak disukainya kala harus menjadi suruhan orang, Meskipun dirinya gak mood namun mau tak mau dirinya harus menjalankan tugas. Ya, walaupun menurutnya itu sangatlah tak penting.
"Dasar, bos killer lu. Kalau bukan bos lu udah gua depak.. Ishh kak Garvin ngeselin. Baru aja nyampek." Ujar Maura berjalan keluar ruangannya dengan menghentak- hentakkan kakinya.
Didepan pintu bertuliskan Wakil direktur , Maura masih sempatnya berkomat- kamit. Tangannya terulur mengetuk pintu ruangan tersebut hingga suara bariton dari dalam ruangan bersuara.
__ADS_1
"Masuk..." Ucap Garvin dengan suara khasnya.
Ceklekk.....
Kepala Maura menyembul dari cela pintu kala dirinya mendengar suara bariton Garvin. Dirinya begitu hanya bermaksut mengecek dahulu siapa saja yang berada di dalam karena takutnya ada sang papa yang bakalan marah lagi nantinya.
"Ngapain kayak maling.? " Timpal Garvin tanpa melihat ke arah Maura yang masih celingak- celinguk memperhatikan keadaan sekitar.
Maura nampak malu ketika telingannya mendengar suara Garvin yang seakan menuduhnya karena tingkah konyolnya. Tangan Maura membuka sempurna pintu ruangan Garvin tanpa menutupnya kembali. Langkahnya seakan gugup , antara terus maju atau berbalik. Namun mau berbalikpun percuma karena dirinya sudah masuk ke dalam ruangan milik Garvin. Apalagi kini tanpa dipersilahkan duduk, Maura tanpa ragu mendudukkan dirinya di kursi tepat di depan Garvin . Karena menurutnya ketika berjalan kakinya dirasa bergetar tak tentu.
"Siapa yang menyuruhmu duduk ? " Tanya Garvin meletakkan penanya secara kasar diatas mejanya. Sorot matanya sangat mengintimidasi ke arah Maura yang tercengang.
"Gak ada kak " Sahut Muara dengan suara gugupnya apalagi netranya melihat dengan jelas betapa emosinya pandangan Garvin padanya.
"Hehhh.. aku disini bukan menjabat sebagai kakakmu. Sopanlah dengan atasanmu Maura Alexio." Timpal Garvin menggebrak mejanya hingga membuat Maura terjingkat kaget dengan gebrakan yang dilakukan Garvin.
"Oh iya satu lagi, buatkan kopi sekarang. No gula." Ujar Garvin kembali melakukan aktivitasnya dengan penanya.
Tanpa melawan ucapan Garvin, Maura melenggang pergi dari ruangan tersebut. Hatinya seakan sakit mendengar dan diperlakukan kasar oleh Garvin seperti tadi. Baru kedua kali menurutnya Garvin melukai hatinya , Kemarin dengan sahabatnya hingga membuatnya cemburu. Dan sekarang dengan perkataan kasarnya hingga membuat hati Maura mencelos.
Maura berusaha tegar dengan keadaannya saat ini walaupun hatinya sangat terganggu dengan sifat kasar Garvin padanya. Mungkin ini sudah menjadi jalan terbaik baginya dan Garvin agar saling membenci, tapi entahlah. Benci atau malahan rasa cinta yang semakin berkembang nantinya.
Tak menunggu waktu lama kopi yang dimau Garvin sudah jadi. Sebelum melangkahkan kakinya kembali ke arah ruangan sang bos. Maura lagi- lagi mencoba menghembuskan nafas kasar untuk menetralkan rasa gugup dan sakit hatinya. Menguatkan hati dan mentalnya agar tak ada yang tau betapa tersiksanya batinnya saat ini.
"Hufftt.... Gak perlu mikirin Maura, Kak Garvin pasti benci banget sama lu. Itu kan yang lu mau ? " monolog Maura dengan dirinya sendiri sembari menghembuskan nafas kasarnya berkali- kali.
__ADS_1
Tangannya kembali terulur memegang nampan yang sudah terisi secangkir kopi untuk Garvin. Maura berjalan keluar pantry dengan gaya elegantnya namun seketika langkahnya terhenti ketika sudah berada di luar pantry. Netranya melihat Arin sahabatnya tengah masuk kedalam ruangan Garvin .
Hati Maura kembali berdenyut dengan sendirinya kala melihat sesosok sahabatnya memasuki ruangan tersebut. Apalagi kemarin dirinya melihat kemesraan diantara keduanya.
"Apa iya mereka akan bermesraan lagi, Apa kak Garvin bohong kalau dia udah lama naksir aku tapi kenyataannya malah naksir Arin." Ujar Maura kembali melangkahkan kakinya ke arah yang sama dengan Arin barusan.
Ceklekk.....
Mata Maura membulat sempurna ketika melihat posisi kedua sejoli yang berada di dalam ruangan. Ingin berbalik namun nasi sudah menjadi bubur kala keduanya melihat keberadaan Maura.
"Maaf pak, saya permisi." Ujar Maura berpamitan , namun langkahnya terhenti ketika mendengar ucapan Garvin.
"Siapa yang menyuruhmu pergi, Aku disini menyuruhmu membuatkan aku kopi bukannya pergi setelah mengganggu kesenanganku." Papar Garvin berdiri ketika Arin bangkit dari pangkuannya.
" Maura maaf, Aku kesini hanya ingin mengunjungi kekasihku dan maaf jika tadi kamu melihat kemesraan kami." Ujar Arin dengan wajah bersalahnya, wajahnya menunduk agar Maura tau jika dirinya merasa bersalah yang teramat.
"Gak usah minta maaf Baby, Kamu gak salah okey." Ujar Garvin membelai pipi Arin dengan lembutnya hingga membuat Maura melihat ke arah lain agar netranya tak melihat ke arah dua sejoli yang tengah mabuk asmara.
"Maura, letakkan kopinya di meja. Dan kerjakan tugas yang sudah aku siapkan diatas meja itu." ujar Garvin lagi menunjuk meja kebesarannya yang terdapat banyak berkas- berkas penting menurut Garvin.
Maura berjalan ke arah Meja namun sesekali netranya mencuri pandang ke arah Garvin dan Arin yabg tengah bermesraan di sofa. Entah bagaimana perasaan kedua sejoli tersebut ketika bermesraan di depan Maura yang berstatus mantan Garvin sekaligus adik tirinya.
"****** kalian berdua, Lu sahabat gua Rin tapi kenapa lu gaet kak Garvin bukannya lu tau kalau gua masih gak bisa move on." Batin Maura meletakkan secangkir kopi milik Garvin dengan kasarnya. Bahkan dirinya tak sadar jika tangannya tersiram kopi yang keluar dari cangkir tersebut. Menurutnya hatinya jauh lebih sakit dari pada tangannya yang baru saja tersiram air panas.
"Maura, tanganmu merah." Timpal Arin yang melihat dengan jelas ketika tangan Maura terkena air kopi panas.
__ADS_1
Bersambung.....