
Garvin merasakan sakit ketika Maura selesai bercerita tentang kejadian beberapa jam yang lalu. Tanpa basa- basi pula Garvin membawa tubuh rapuh itu kedalam dekapannya. Kini tekadnya sudah bulat untuk tetap memperjuangkan cintanya walaupun status menghalanginya.
Toh, Eglar sangat menyayangi Maura dari apa yang diceritakan Maura saja sudah meyakinkan bahwa Eglar takkan membuat Maura kecewa.
"Lakukan apa yang mama minta tapi ingat jaga hatimu sayang." Ucap Garvin sanggup membuat Maura melongo apalagi mendengar panggilan Garvin padanya. Membuat Maura seperti orang bodoh dibuatnya.
"Maksut kakak apa?" Ujar Maura mengernyitkan dahinya sembari menatap Garvin yang berada disampingnya.
Bibir Garvin tersungging mendengar penuturan Maura yang sepertinya kebingungan. Tangan Garvin terulur menggapai tangan Maura yang saling bertaut di atas pahanya. Digenggamnya tangan itu tak lupa dikecupnya berulang kali dengan penuh kelembutan.
"Kak...." Timpal Maura hendak menarik tangannya yang berada di genggaman tangan Garvin. Seakan tau apa yang akan dilakukan Maura, Garvin semakin memepererat genggaman tangan itu hingga Maura mengurungkan niatnya.
Maura berfikir jika apa yang dilakukan Garvin tak pantas dilakukan pada dirinya karena dirinya bukan kekasihnya lagi. Namun jika Garvin bersikeras seperti itu, Maura tak tau harus berbuat apa. Karena hidupnya semakin runyam fikirnya.
"Jangan buat hidupku bertambah hancur dengan sikapmu seperti ini kak." Pungkas Maura pelan namun mampu yang mendengarnya merasa tertohok oleh ucapan tersebut.
"Itu takkan terjadi sayang, Dengarkan aku untuk kali ini saja." Ujar Garvin dengan gerakan cepatnya menangkup wajah Maura sehingga membuat Maura kalah gesit dengan tindakan Garvin.
"Lihat dan dengarkan baik- baik." Timpal Garvin lagi, matanya sangat menyorotkan keseriusan.
"Lakukan apa yang diminta mama, Dan kamu gak perlu khawatir dengan masalah yang sekarang menimpa kamu. Aku janji akan membuka kebusukan calon suami kamu didepan keluarga kita. Dan akan aku pastikan , sebelum berlangsungnya pesta itu. Semua bukti akan berada di tanganku. Jadi aku mohon berhenti berfikir yang tidak- tidak. Karena aku takkan membiarkan kamu menikah dengan pria macam dia." Papar Garvin membuat hati Maura sedikit lega. Namun maskipun begitu ada sedikit di hatinya rasa yang mengganjal tetapi dirinya berusaha meyakinkannya bahwa semuannya akan baik- baik saja.
"Kak, kenapa kakak lakuin itu. Bukankah kakak membenciku." tanya Maura menggapai tangan Garvin yang masih bertengger di wajahnya.
__ADS_1
"Benci kamu bilang.?" sahut Garvin dengan dahi berkerut sembari menarik tangannya yang sudah berada dalam genggaman tangan Maura. Wajah Maura terlihat lesu karna dirinya berfikir Garvin tak mau disentuhnya.
"Bagaimana akau bisa membencimu jika hati ini semuanya terisi namamu. Bahkan aku tak sanggup jika tak melihatmu barang sedetikpun Maura." sahut Garvin tanpa menoleh ke arah Maura , tatapannya mengarah kedepan dengan tatapan kosong dan penuh pengaharapan.
Maura dibuat bingung dengan ucapan Garvin, bukannya selama Maura tinggal di rumahnya. Garvin seoalah- olah menghindarinya bahkan Maura sempat berfikir jika Garvin jijik melihatnya. Namun pengakuan Garvin barusan membuat bunga layu kini kembali berseri namun terhalang oleh keadaan.
"Mak..suttnya..? Bukannya kakak selalu menghindar ketika ada aku. Lalu itu apa kalau bukan benci." Pertanyaan itu sanggup terlontar dengan sendirinya dari bibir Maura. Dari melihat Garvin menghindarinya membuat Maura bertanya - tanay, apakah ada salah yang di ucapkannya sehingga Garvin memilih menghindar darinya.
Dan pertanyaan itu sanggup keluar dari bibirnya saat ini, disaat dirinya dan Garvin saling mencurahkan isi hatinya.
"Bukannya kakak selalu menghindar, terus kenapa kakak bilang gak mampu kalau gak liat aku. Cihh... Mulut pria memang tak bisa di percaya." Decih Maura lagi, dirinya sangat kecewa dengan pengakuan Garvin namun tak sesuai dengan kenyataannya.
"Percaya atau tak percaya itu terserah kamu, tapi itu yang aku rasakan. Aku menghindar itu semua hanya untuk memegang janjiku padamu, karena aku tak mau kamu berfikiran bahwa aku adalah seorang pembohong. " Sahut Garvin yang masih enggan melihat wajah Maura.
"Maksutnya, kakak ngikutin aku gitu.?" Tanya Maura dengan memiringkan tubuhnya karena agar bisa mendengar dengan jelas penjelasan yang disampaikan Garvin.
"Gua diikutin mak, deg- degan kan jadinya." Batin Maura yang tak mengingat masalahnya hanya karena ucapan Garvin. Tangannya memegangi dadanya agar rasa gugupnya bisa di kendalikannya tanpa terlihat oleh Garvin.
Sekilas Garvin menoleh ke arah Maura yang dilihatnya tengah menghembuskan nafas kasarnya. Bibir Garvin terangkat ke atas melihat tingkah lucu gadis di sampingnya ini.
"Ngarep banget ya diikuti." Sahut Garvin menoel dahi Maura dengan lembut hingga membuat sang pemilik mencebikkan bibirnya.
"Isshh... Kan kakak sendiri yang bilang ngikuti. Gimana sihh?" timpal Maura bersedekap dada, hal itu membuat tawa Garvin lepas melihat betapa menggemaskannya sesosok gadis yang berstatus adiknya ini.
__ADS_1
"Baiklah, jujur aku ngikutin kamu dari kampus kadang ke cafe sama temen- temenmu itu. Dan aku juga tau kalau kamu udah dapat kerja." papar Garvin membuat Maura membulatkan mata. Sampai sejeli itu Garvin mengikutinya bahkan sesuatu yang belum diceritakan ke siapaun Garvin juga tau.
"Dari mana kakak tau, apa kakak melihatku masuk ke kantor besar itu dan menyangka aku sudah dapat kerja." Sergah Maura membuat Garvin yang mendengarnya kembali tertawa lepas.
Maura kebingungan dengan respon yang diberikan Garvin , apa ada yang lucu dengan ucapannya sehingga Garvin tertawa setelah mendengar ucapannya.
"Kok ketawa lagi si kak, kakak ini ada status baru ya?" ujar Maura yang sudah kehilangan kesabaran karena Garvin yang tertawa tanpa sebab.
"Status apaan?" sahut Garvin di sela tawanya.
"Orang gila kali." Celtuk Maura membuat Garvin memelototkan matanya ke arah Maura.
Tanpa bersalah pada Garvin, Maura terlihat cekikikan melihat reaksi Garvin didepan matanya. Hingga dipersekian detik suara melengking Maura terdengar kala Garvin mengapit leher Maura dengan lengannya.
"Sakitt bego" Sergah Maura menahan tangan Garvin agar tak terlalu mencekiknya. Padahal itu hanya akal- akalan Maura yang merasa tersakiti.
"Apa iya" Timpal Garvin melepas apitan tangannya pada leher Maura. Tangannya terulur mengecek leher gadis tersebut namun malah dirinya mendapat jitakan dikepala bagian belakangnya.
"Tapi boong, hahaha..." Tawa Maura lepas dalam suasana balkon yang nampak sepi tersebut. Garvin menelisik wajah penuh tawa itu yang tadinya dibanjiri air mata.
"Dasar bayi gesrek." Sergah Garvin mencubit kedua pipi Maura dengan gerakan lembut. Si pemilik berhenti tertawa karena mendapat sentuhan yang kembali menggetarkan hatinya.
"Dengar ya, Kantor yang kamu kunjungi itu milikku jadi wajarlah kalau aku tau." ucap Garvin tepat di depan wajah Maura hanya berjarak beberapa senti saja. Dan itu sukses membuat wajah Maura bersemu merah bak tomat.
__ADS_1