
Pagi menjelang, dengan ditemani selingsing cahaya matahari dari ufuk timur dan semilirnya embun di pagi kala itu. Terlihat sesosok pria berpenampilan yang sangat memukau, Dimana keringat bercucuran dari tubuh sixpack miliknya.
Dengan rasa gerah dan keringat yang semakin membanjiri tubuhnya. Tak membuat Garvin mengistirahatkan tubuh yang sedari tadi berolahraga tanpa jeda. Bisa dilihat jika olahraga yang dilakukan Garvin layaknya kesetanan, Apalagi wajah tersebut penuh dengan emosi.
Para pelayan yang sedari tadi hilir mudik memperhatikan Garvin, merasa enggan untuk mengusik sang tuan muda. Mereka sangatlah faham jika saat ini sang tuan muda sedang tidak baik- baik saja . Mereka takut akan jadi amukan Garvin layaknya samsak yang sedari tadi tempat pelampiasan Garvin
"Bajingannnnn....." Teriak Garvin kesekian kalinya ketika bogemannya mengarah pada samsak yang sedari tadi di pukulinya.
Bukan hanya pagi ini saja yang memperlihatkan Garvin layaknya orang kesetanan. Bahkan semalaman dirinya tak bisa memejamkan matanya dan berakhir mengacak seluruh kamarnya hingga pagi. Para pelayan yang bertugas membersihkan kamar sang tuan muda hanya bisa menggelengkan kepala tanpa bisa menegur. Toh, Itu sudah memang tugasnya dan harus dijalani dengan keikhlasan hati.
"It's oke jika itu sudah menjadi keputusanmu, Kita lihat siapa diantara kita yang sanggup memenuhi keinginanmu. Jika kamu yang gak sanggup, Entah bagaimana nanti finalnya." Monolog Garvin sendiri sembari memegang samsak yang sedari tadi di pukul secara membabi buta.
Garvin melenggang pergi keluar dari ruangan gym dengan hati yang lumayan lega karena telah melampiaskan kegundahan hatinya. Biarkan semuanya berjalan sesuai alur yang sudah di tetapkanNya. Dirinya hanya bisa pasrah dan menerima walau terkadang itu sangatlah sulit bagi dirinya.
Dibeberapa menit lamanya, Semua keluarga Agler sudah siap akan melaksanakan sarapan pagi dimeja makan. Tetapi kehadiran Maura yang masih ditunggu- tunggu tak kunjung menampakkan diri. Bahkan sudah sekitar 20 menit lamanya Agler dan Sherly melihat ke arah tangga, Siapa tau Maura turun. Namum nihil, masih tak ada tanda- tanda Maura keluar dari kamarnya.
"Pelayan panggil Rara diatas "Pinta Sherly pada pelayan dengan kejengkelan yang mulai dirasakannya karena terlalu lama menunggu.
Belum juga pelayan melenggang pergi dari ruang makan tersebut, Suara heeghels menuruni tangga membuat yang berada di dalam ruangan tersebut menoleh ke atas tanpa terkecuali. Maura turun dengan gaya anggunnya dan tak lupa tatapan make up natural yang begitu memanjakan wajah ayunya. Garvin yang tersadar segera menggelengkan kepalanya ketika mengingat niatnya yang sudah direncanakan tadi pagi. Namun tak bisa dipungkiri jika pesona Maura untuk saat ini sangat sayang untuk dilewatkan.
Bersamaan dengan bersahutannya suara heeghels milik Muara. Suara bariton dari arah depan tepatnya ruang tamu membuat pandangan mereka mengarah ke arah pria yang tengah berjalan ke arah meja makan. Ya, Jo memang sengaja bertandang kekediaman Agler pagi buta hanya untuk menuruti kemauan dari sang tuan putrinya.
"Permisi, Om Agler dan Tante Sherly." Ujar Jo menyalami Agler dan Sherly secara bergantian bahkan dirinya tak sadar jika ada sepasang mata yang melihatnya dari pertengahan tangga dengan tatapan penuh iba .
" Selamat pagi kak Garvin." Ujar Jo lagi berjalan mendekat ke arah Garvin tak lupa mengulurkan tangannya pada sosok Garvin.
__ADS_1
Bukannya langsung menaut tangan Jo yang masih setia menggantung. Wajah Garvin menoleh ke samping ,Tak suka tentu saja dengan kedatangan Jo.
"Vin.." Tegur Agler saat melihat Garvin tak menghiraukan uluran tangan Jo.
Nampak Garvin menoleh sekilas ke arah Agler hingga detik kemudian pandangannya mengarah pada Jo yang mengharapkan balasan uluran tangan darinya. Dengan berdecih pelan, Garvin menjabat tangan yang menggantung itu dengan keterpaksaan.
"Mau jemput Rara nak Jo" Tanya Sherly mendudukkan dirinya lagi pada kursinya.
"Mari sarapan dulu nak, " Ujar Agler menerima piring yang tadi disiapkan Sherly untuknya.
Jo hanya mengangguk dengan penuh kesopanan, Dan hal itu tak luput dari tatapan Garvin yang tak menyukai sikap munafik yang dimiliki Jo.
"Saya mau ngajak sarapan Queen diluat tan, Apa boleh?" Tanya Jo penuh kehati- hatian dengan pandangan mengarah pada Agler.
Menurut Jo, Aglerlah yang patut ditakutinya karena disaat awal perkenalan dengan dirinya sungguh tak berkesan. Dan membuat sosok Agler nampak tak menyukai kehadirannya . Namun dengan berjalannya waktu, Dengan segala cara yang dimiliki Jo. Agler bahkan Garvinpun bisa menerima kehadirannya dengan lapang dada.
Jo berfikir jika Maura sengaja berdiam diri di pertengahan tangga hanya untuk melihat dirinya secara diam- diam. Bibir Jo melengkung dengan penuh kelewat batas manisnya. Kakinya melenggang pergi menaiki tangga hanya untuk menjemput sang tuan putri. Tak bisa dipungkiri hati Jo sangatlah bersyukur bisa memiliki pasangan hidup seperti Maura. Meskipun dirinya masih bertemu berminggu- minggu lamanya namun hati Jo yakin jika Mauralah gadis yang akan menjadi pendampingnya kini hingga kelak.
"Kamu sangat cantik Queen, Sampai aku gak rela berbagi dengan yang lain. Cukup aku yang bisa melihat kecantikanmu." Ujar Jo ketika sudah berdiri di depan Maura. Tak lupa tangannya terulur mengambil tangan Maura yang menggantung.
Cupppp...
Suara kecupan itu terdengar ditelinga Maura hingga muncullah semburat merah di pipinya. Apalagi Sherly dan Agler nampak melihat ke arahnya dan Jo. Sungguh malu fikirnya jika kemesraan yang ditujukan Jo harus dilihat oleh keluarganya.
"Halalin dulu anak tante Jo, Kalau belum dihalalin tahan dulu jangan dipandang terus takut khilaf." Ujar Sherly nampak cekikikan setelah berucap.
__ADS_1
Pranggg....
"Maaf , Aku berangkat dulu pa. Ada meeting mendadak baru aja aku dikabarin." Ujar Garvin melenggang pergi setelah dirinya tak sengaja menyenggol gelas hingga pecah berserakan dilantai.
" Vin, bukannya nanti siang jam 9 meetingnya" Sahut Agler yang ikut berdiri.
Garvin tak menjawab, Bahkan dirinya terkesan tak menggubris ucapan Agler . Semua yang menyaksikan nampak aneh dengan sikap Garvin namun tidak dengan Sherly yang tersenyum miring melihat tingkah Garvin.
Tak sia- sia dirinya merayu Agler agar menerima perjodohan tersebut. Dan kini hasilnya, Agler dengan tangan terbukannya menerima kehadiran sosok Jo yang dikenal sopan dimatanya.
Entah apa yang disembunyikan Sherly selama ini pada seluruh keluarganya. Namun ada pepatah mengatakan jika seseorang yang menyimpan bangkai dengan sebaik- baiknya. Lambat laun bau busuknya akan menguar keluar dan mampu membuat siapapun bisa menciumnya.
Maka berhati- hatilah dalam berbuat sesuatu jangan sampai merugikan diri sendiri dan berakhir penyesalan.
***Jangan lupa dukungannya ya bestie..
Like❤
Coment💌
Vote🥳
Hadiah🌹
Terimakasih,
__ADS_1
bersamabungg***....