
Daniel masih menatap Akira lurus-lurus menanti jawaban. Namun, Akira masih diam dalam pikirannya sendiri. Daniel mengalihkan pandangannya lalu mendesah. “Senyummu itu, apa itu iya mu? Wanita biasa menjawab ia dengan diam atau tersenyum, kan? Tapi, kadang itu juga berarti penolakkan bagi sebagian wanita yang tak mampu
mengekspresikan perasaannya. Tapi, untuk senyummu, aku rasa kau butuh waktu untuk menjawabnya. Apa aku benar?”
Akira tertawa kecil. “ Lalu, jika aku butuh waktu, apa kau akan menungguku hingga aku menjawabnya?”
“Hmm. Aku pria yang cukup sabar untuk itu. Kau bisa menjawabnya kapanpun kau siap.”
“Benarkah?”
“Kenapa? Kau tak percaya?”
“Seberapa lama kapanpun milikmu itu?”
“Setidaknya tidak kurang dari dua tahun.”
Akira kembali tertawa. “Kau akan menunggu selama itu? Apa kau yakin?”
“Hey, aku serius! Kenapa kau tertawa seperti itu? Apa ada yang lucu?”
“Hhhh, terserah saja, asal kau tidak menyesal.” Jawab Akira akhirnya.
Giliran Daniel yang tertawa. “Kenapa harus menyesal?”
“Entahlah, kita baru saling kenal.”
Daniel tiba-tiba duduk di atas pasir menghadap laut dan matahari yang tengah kembali ke paraduannya. “Duduklah!” Pintanya pada Akira kemudian. Akira segera menyusul duduk tanpa bertanya. “Kau tahu, aku sudah tertarik dan menyukaimu sejak lama.”Lanjut Daniel tiba-tiba. Akira menoleh ke arah Daniel. Hatinya tersentak kaget.
Jantungnya seolah berhenti berdetak.
“Sejak kapan?” Tanya Akira memberanikan diri.
“Sejak pertama melihatmu.”
“Hah? Bukankah itu saat kau datang ke rumahku dan baru sekitar dua bulan yang lalu? Kau bilang itu lama?”
“Hhhh, sepertinya kau lupa. Kita pernah bertemu sebelumnya.”
“Benarkah? Kapan? Dimana?” raut wajah Akira berubah antusias dan penasaran.
__ADS_1
“Di Hotel Horison saat merayakan ulang tahun hotel yang ke-43, dua tahun yang lalu. Kau tidak ingat pernah melihatku? Kau bahkan menyebutkan namamu padaku saat ku tanya, meski kau langsung ngeloyor setelah itu sebelum aku sempat mengatakan namaku. Apa kau ingat sekarang?”
Akira mencoba membuka ingatannya. Namun, ia menggeleng. “Maaf, aku tidak ingat. Yang aku ingat saat itu aku sedang bad mood karena suatu masalah. Emosiku lepas kendali sehingga aku tak peduli siapa dan apapun.”
“Oh, aku hampir frustasi dua kali karena saat itu kau tak mempedulikanku dan karena kau bahkan juga tak mengingatku saat kita pertama bertemu di Korea bahkan setelah kita berkenalan lebih baik di rumahmu dua bulan sebelumnya…”
“Ah, maaf! Aku memang sangat payah dalam mengenali orang lain.”
“Aku beruntung untuk segera menyebutkan namaku saat kita bertemu di Korea. Dengan begitu, kau tak akan lupa lagi padaku. Sudahlah, jika itu dirimu, aku bisa menerimanya… bahkan jika kau lupa seribu kali namaku, sebanyak itu pula aku akan kembali memberitahumu…” Daniel tersenyum tulus mengakhiri ucapannya.
Akira turut tersenyum tulus menatap Daniel. “Apa kau benar-benar menyukaiku sejak dua tahun yang lalu?”
“Tentu. Kau tidak percaya?”
“Lalu kenapa kau tak mengambil langkah saat itu juga? Dan apa yang kau lakukan selama itu?”
“Aku… menyimpannya… di hatiku…”
“Menyimpannya? Apa kau tidak takut terlambat menyimpannya selama itu? Bagaimana jika besok kiamat? Atau mungkin seseorang mendahuluimu mendapatkannya? Kau tidak menyesal terlambat?”
Mata Daniel berkaca-kaca mendengarnya. “Maaf! Ada sesuatu yang membuatku tak berani berharap banyak. Aku hanya berani menyimpannya hingga suatu kesempatan datang…” air mata Daniel menetes.
Akira bingung. Kenapa Daniel menangis? Apakah dia tahu bahwa Aku telah menikah? Atau karena pertanyaanku begitu menyakitkan? Apakah aku harus jujur sekarang?
“Maaf, aku sungguh tak bermaksud…”
“Ssstt… jangan melanjutkannya!” Akira mengisyaratkan diam dengan telunjuk yang ia letakkan di depan bibirnya. “Kau hanya perlu tahu bahwa keterlambatan memiliki harga yang harus dibayar. Dan terkadang harga itu bukan sesuatu yang bisa dengan mudah kau terima atau berikan. Karena itu, untuk seterusnya meski terlambat lebih baik
dari pada tidak sama sekali, usahakanlah untuk tak terlambat lagi!”
Daniel kembali tersenyum. “Aku beruntung karena gadis yang ku sukai adalah dirimu… seseorang sepertimu…”
Deg. Perasaan bersalah mulai merayap di hati Akira dan terbawa ke ekspresi wajahnya. “Beruntung? Bagaimana bisa kau beruntung…?” Tanya Akira membatin.
“Oh, sudah hampir malam! Kita harus cepat makan. Kau pasti juga sudah lapar, kan?”
“Oh… tentu…”
Daniel berdiri mengulurkan tagannya ke Akira. “Ayo!” Akira meraih tangan Daniel lalu berdiri dan berjalan menyusuri pantai bersama Daniel menuju mobil.
*******
“Ayo masuk!” ajak Daniel sembari menarik lengan Akira. Akira melangkah masuk bersama Daniel ke dalam sebuah restoran megah dengan menu korea yang lengkap dan berbagai masakan internasional dari berbagai Negara, termasuk Indonesia.
__ADS_1
Interiornya sangat-sangat bagus. Menggabungkan unsure klasik dan modern di setiap sudut ruangan dengan apik. Suasananya ramai namun sangat nyaman. Hingga saat itu tiba…
Daniel dan Akira memilih meja di dekat jendela. Makan malam bersama orang yang disukai sembari menikmati pemandangan sekitar yang berhiaskan berbagai lampu warna-warni sepertinya sangat menyenangkan. Keduanya tersenyum bahagia. Daniel segera melambaikan tangan dengan jari kelingking setengah dilipat memberi isyarat pada waiter yang kemudian segera menghampiri mejanya dan menyodorkan daftar menu pada Daniel dan Akira.
“Kau mau makan apa?”
“Aku rasa akan lebih menyenangkan jika kau yang menentukan menu yang akan kita makan, menu yang kau sukai…”
“Baiklah…” Daniel kemudian memesan menu-menu kesukaannya beserta minumannya. Waiter segera beranjak usai mencatat pesanan Daniel.
“Hey Akira, kau sungguh tak ingin memesan sesuatu yang kau suka?”
Akira tersenyum. “Aku akan menyukai apa yang kau suka, dan akan belajar menyukainya jika sebenarnya aku tidak suka…”
“Heeeh… itu hanya dilakukan seseorang saat dia mencintai orang itu… apa ini sebuah jawaban?”
“Kau bilang bisa memberiku waktu sampai aku siap memberikan jawaban, kan? Apa itu secepat ini?”
“Lebih cepat akan lebih baik. Lagi pula, aku serius.”
“Hah, serius?” Akira membatin berpikir dengan senyum yang ia pasang sebagai ganti ucapan balasan untuk Daniel. “Andai aku bertemu dirimu lebih dulu… Ah, apa yang seenarnya sedang ku lakukan…?” pikir Akira lagi.
“Ah, suasana disini benar-benar menyenangkan! Indah dan nyaman meski seramai ini… apa kau sering datang ke sini?”
“Tidak juga. Hanya saat aku ingin saja. Aku lebih suka masak sendiri…”
“Heeh… benarkah?”
“Tentu saja! Itu akan mengasah kemampuan memasakku dan dapat ku jadikan refrensi untuk membuka restoran saat di Indonesia, selain juga akan bermanfaat saat aku sudah menikah nanti jika istriku sewaktu-waktu sakit atau tak bisa memasak untuk kami…”
“Wah, kau berpikir sejauh itu! Wanita yang menikah dengan mu pasti sangat bahagia!” Daniel tertawa.”Kenapa kau tertawa? Ada yang lucu?”
“Bukankah aku telah menawarkan padamu untuk menjadi wanita itu?”
__________________________
Bersambung ya guys.... Kira-kira apa nih reaksi Akira? :):)
Thanks my beloved readers. Please support Author by like, comment, vote, share, & favorite for notification update. See you next time on the next episode ^_^
Author don't own the picture.... Just hope you will be happier by it. it was taken from pinterest:)
Follow me on instagram : Nabila ubaidah
Oh ya, terima kasih banyak untuk para pembaca yang sudah memberikan dukugannya. In sya Allah cerita kesayangan kita ini sebentar lagi akan dikontrak dan bila lulus proses kelanjutan kontrak kita akan bisa lebih sering update. So, buat teman-teman, tolong untuk terus berikan dukungan berupa like, comment, vote, share, & favorite untuk Couple in Love ini ya ^_^
__ADS_1
Love you,
Yurizhia Ninawa