Couple In Love

Couple In Love
Episode 40


__ADS_3

                                                            



“Kau harus mengangkatnya! Dia pasti menyipakan sesuatu yang istimewa untukmu karena ini pertama kalinya sejak kalian bertemu di si…”


“Jangan melanjutkannya…aku sednag tidak mood…” Daylan tersenyum pasi.


“A-aku tidak papa. Lihat, aku baik-baik saja sekarang! Dan kau juga sudah merayakannya denganku, jadi kau bisa merayakannya dengannya. Aku tak keberatan jika kau pergi seka-rang…” Akira beranjak berdiri. Ponsel Daylan kembali berdering. “Aku akan ke kamar mandi sebentar…” Akira mengambil langkah pertamanya melewati Daylan.


“Grab…” tangan Daylan menarik lengan Akira. “Aku tak akan membiarkanmu ke kamar mandi untuk menangis…”


“Hhhh… apa yang kau…” Daylan berbalik menatap Akira. Akira menghindari pandangannya. “Aku tak akan mennagis… karena itu… karena itu kau bisa pergi seka…” “Syuut…bug…” Daylan menarik Akira dalam rengkuhannya. Mata Akira melebar kaget. Kata-katanya terputus. Apa yang sedang Daylan lakukan? Akira berusaha melepaskan pelukan Daylan. Namun, Daylan justru mempereratnya. “Daylan… kita tidak…”


“Bagaimana kau bisa mengatakan jika kau baik-baik saja dengan badan gemetar seperti ini?” Akira tersentak diam dalam rengkuhannya. “Bagaimana bisa kau bisa berpikir aku akan percaya bahwa kau tak berbohong saat kau bahkan tak mampu menatapku saat mengatakannya? Kau sama sekali tak baik-baik saja….”


“Saranghae… saranghae…” deringan itu kembali menyadarkan Akira.


“Daylan… dia menunggumu… itu akan berbahaya jika dia sampai marah padamu…” Daylan melepas pelukannya. Tangannya meraih ponselnya. Akira terdiam memandangnya. Ia yang memintanya, tapi rasanya saat melihat tangan Daylan bergerak meraihnya… apa ini? Kenapa aku merasa seperti ini?


“Klik. Tiiit….” Akira tersentak karena Daylan justru mematikan ponselnya.


“Daylan! Apa yang kau lakukan?! Dia itu pacarmu…”


“Lalu kenapa jika dia pacarku?! Kau tahu jelas jika kau istriku! Bagaimana kau bisa memintaku meninggalkanmu untuk wanita lain di saat seperti ini?!”


Akira terperanjat kaget. “ Daylan… Apa yang kau katakan ? Kita… “


“Hhhh… menyedihkan! Maaf, anggap saja kau tak mendengar apa yang ku katakan… sekarang istirahatlah… aku akan duduk di sini lebih lama… aku akan bertanggung jawab untuk menghabiskan semua ini. Jika kau butuh sesuatu, katakan padaku!”


Mata Akira berkaca-kaca. “Bodoh! Bagaimana bisa kau menghabiskan semuanya sendirian? Aku akan membantumu menghabiskannya…”


Daylan tertawa. “Ah, aku tak suka adegan menangis…”


“Apa maksudmu adegan?”


“Kau tak perlu tahu itu. Sekarang yang terpenting adalah, kau harus bertanggung jawab untuk membuat ulang tahunku menyenangkan! Jangan sampai aku bosan!”


“Kalau begitu bagaimana kalau kita makan sambil nonton sesuatu?”


“Ide bagus. Ayo kita nonton!”


 


******


“Apa yang kau lakukan semalam? Kenapa kau tak mengangkat telponku?” Maura bertanya dengan wajah sebalnya usai menyerahkan kado ulang tahun Daylan padanya.


“Aku terkejut karena kau tak marah saat pertama aku datang. Ternyata kau sengaja mau marah setelah memberikan hadiah, ya? Ah, aku sedang malas membahas apa yang ku lakukan semalam. Bisa bicarakan yang lain?” Maura melengos tanpa jawaban.“ Kau selalu seperti itu! Tak berubah sama sekali! Baiklah, dengarkan! Seorang teman dekatku dalam posisi yang sangat tidak baik dan tidak mungkin untuk ku tinggalkan. Jadi aku menemaninya semalam.”

__ADS_1


“Daylan, kau tak melakukan hal itu dengannya, kan?”


“Apa yang kau pikir sedang kau katakan? Aku ini masih normal, tahu!”


“Oh, tentu saja… kau sudah punya aku. Bagaimana bisa kau suka laki-laki…”


-Aku tak pernah bilang teman dekatku laki-laki, kan?-


“Baiklah, kali ini aku akan memaafkanmu…”


“Hmm. Terima kasih…” –Dan maaf…-


 


******


Sinar mentari menembus masuk jendela kamar Daylan. Membangunkannya yang masih nyennyak tertidur sedetik lalu. Ditengoknya jam di atas meja di sampingnya, 06.30. Daylan duduk lalu beranjak turun dari tempat tidurnya. Tangannya bergerak merapikan tempat tidurnya. Usai melakukannya Daylan melangkah mendekat ke arah jendela. Jemarinya menyingkap tirai penutup jendela pelan. Matanya menerawang. Pagi yang indah. Akhir pekan yang pasti akan menyenangkan. Daylan melangkah keluar kamar, menggosok gigi, dan mencuci muka.


“Kau sudah bangun?” tanya Akira yang tengah masak mengalihkan perhatian Daylan. Daylan tersenyum lalu berjalan mendekat ke arah dapur.


Waktu berlalu begitu cepat. Hampir setahun mereka tinggal bersama. Dan sejak begitu banyak kejadian yang terjadi itu keduanya hidup akur dan damai.


“Kau makin pintar masak saja!” puji Daylan yang telah berhadapan dengan Akira.


“Benarkah? Aku senang mendengarnya. Itu berarti nanti saat aku menikah aku bisa langsung memasak untuk…”


“Kau mengatakannya lagi…”


“Ah, terserahlah! Ngomong-ngomong bagaimana kabar kekasihmu?”


“Baik. Dia orang yang baik, jadi dia pasti selalu baik.”


“Hubungan kalian?”


“Lebih baik. Bagaimana denganmu?”


“Aku rasa aku juga begitu. Hari ini saja aku ada janji dengannya untuk bertemu di Taman Nam-san.”


“Benarkah? Padahal aku juga ada janji untuk bertemu dengannya di sana.”


“Heeeh… kau mencuri ideku lagi?”


“Ah, kau selalu begitu! Apa tidak ada pendapat yang lebih baik tetangku?”


-Tentu saja ada, Bodoh! Karena kau terlalu baik aku tak bisa bahkan untuk mengatakannya dengan kata-kata…- “Bagaimana jika kita bertemu saja?”


“Apa kau mulai gila lagi?! Tapi, mungkin tidak papa asalkan kau bisa pegang kendali dan tak mengaku-aku sebagai suamiku saat melihatnya saja.”


“Jangan khawatir! Aku tak akan macam-macam. Aku hanya ingin melihat seperti apa orang yang selalu kau bangga-bangakan itu.”

__ADS_1


“Bukankah kau sudah pernah melihatnya saat kita pertama makan malam di restoran internasional itu?”


“Ah, waktu itu? Aku sebenarnya tidak bisa melihatnya dengan jelas karena dia duduk membelakangiku.”


“Baiklah, kalau begitu ayo bersiap!”


 


*******


“Bagaimana jika kita jalan saja?” tanya Daylan usai bersiap hendak berangkat.


“Jaraknya lumayan. Dan mungkin cukup melelahkan untuk berjalan dengan kaki bagi orang yang suka membaca sepertimu…”


“Apa maksudnya itu? Aku yang menyarankan, tentu saja aku akan baik-baik saja. Yang perlu kau tanya itu dirimu sanggup atau tidak.”


“Hhh… memangnya kenapa kau ingin kita berjalan saja?”


“Mmmm… agar aku bisa berjalan lebih lama bersamamu dibanding kekasihmu…”


“Alasan macam apa itu?”


“Itu alasanku. Dan aku se-ri-us…” Daylan tersenyum manis.


“Bagaimana jika kekasihmu melihatnya?”


“Mmmm, kemungkinan besar… aku akan putus.”


“Dan kau masih ingin jalan bersamaku?”


“Ah, kau terlalu banyak tanya! Sudah, ayo jalan!” Daylan menarik paksa tangan Akira untuk berjalan mengikutinya.


“Hey, kau yakin kau tidak masalah jika nanti sampai dia melihatmu dan kalian putus?”


“Aku rasa tak masalah. Aku mulai suka apa yang kita jalani. Lagi pula jika aku putus aku masih memilikimu, rumah, dan suasana damainya, itu cukup.”


“Kau mulai lagi… Kau pikir siapa wanita yang mau terus tinggal bersama laki-laki sepertimu? Sepertinya cinta yang dulu kau banggakan itu mulai memudar. Apa dia membuatmu bosan? Apa kau lelah bertahan seperti itu?”


 


___________


Thanks my beloved readers. Please support Author by like, comment, vote, share, & favorite for notification update. See you next time on the next episode ^_^


Author don't own the picture.... Just hope you will be happier by it. it was taken from pinterest:)


Follow me on instagram : nabila ubaidah


Oh ya, terima kasih banyak untuk para pembaca yang sudah memberikan dukugannya. Alhamdulillah cerita kesayangan kita ini resmi dikontrak -KISS & LOVE from Author-  Nah, Supaya Author lebih semangat untuk menulis lebih dari satu chapter perminggu,  teman-teman, tolong untuk terus berikan dukungan berupa like, comment, vote, share, & favorite untuk Couple in Love ini ya ^_^ Thanks a bunch Guys!

__ADS_1


Love you,


Yurizhia Ninawa


__ADS_2