Couple In Love

Couple In Love
Episode 54


__ADS_3

                                                            



 


Waktu tak terasa terus berlalu begitu saja dalam kadaan itu. Tangis tanpa kata penjelasan apapun.Namun, Daylan juga tak mengomentari apapun tentang itu dan hanya terus memeluknya erat. Pelukan dan tangis Akira tiba tiba melemah. Daylan mengelusnya pelan membatin, “Ah, dia pasti sudah kelelahan terus menangis dari tadi…” Daylan tersenyum tipis lalu melepas pelukannya dan mengangkat Akira yang tertidur sembab dengan kedua tangannya menuju kamarnya. Daylan merebahkan Akira di atas tempat tidurnya. Ia lalu menyelimutinya dengan


bed cover. “Hhh…, wajahmu sampai sembab begitu…” komentarnya kemudian. Jemarinya mengusap sisa-sisa air mata di pipi Akira. “Hey, Akira…jangan menangis seperti itu lagi sendiri… hey… jika kau mengis lagi, aku tak akan


mampu menahan diriku lagi…aku mungkin akan menghajar Erlangga jika dia yang membuatmu menangis…” mata Daylan berkaca-kaca. hati kecilnya seolah mengatakan bahwa Erlangga tak mungkin membuatnya menangis, orang seperti dirinya… “…dan jika aku lah penyebabmu menangis…aku… akan pergi seperti yang kau ingin kan…” Daylan tersenyum menundukkan badannya dan memberi kecupan di kening Akira. “Maafkan aku untuk melakukannya lagi tanpa izinmu…” Daylan beranjak keluar kamar. Namun, langkah pertamanya segera terhenti oleh tarikan tangan Akira. Daylan tercekat sembari khawatir untuk menoleh. –Dia sadar?-


“Jangan tinggalkan aku…” suara lemah itu menembus telinga Daylan. Ia menoleh kembali ke arah Akira. “…Daylan…” mata Daylan melebar. Ia tersenyum lalu kembali mendekat ke ranjang Akira. Dilihatnya mata terpejam Akira meneteskan air mata. Dia berbicara dalam tidurnya?  Mimpi apa yang dilihatnya hingga ia mengatakan hal itu?


Air mata Daylan menetes. “Hey… kau tidak adil…! Bagaimana kau bisa mengatakannya saat kau lah yang akan meninggalkanku…?” Daylan jatuh terduduk di samping ranjang Akira sembari menggenggam tangan Akira erat dengan deraian air mata yang berjatuhan di wajahnya.


 


********


Daniel menghembuskan napas panjang. Ah, sudah beberapa hari ini ia tak berjumpa dengan Akira. Rasa-rasanya dirinya sudah sangat lama tak bertemu dengannya. “Aku merindukannya…” Daniel berkata pada dirinya sendiri. Otaknya yang tengah berpikir menemukan cara jitu untuk melepas kerinduannya. Ia akan pergi langsung ke apartemen Akira dan memberinya kejutan. Kedua ujung bibirnya tertarik mengukir senyum. Ia beranjak menuju apartemen Akira.


“Tet…tet…tet…” telunjunk Daniel menekan-nekan bel sebuah apartemen yang ditunjukkan oleh seseorang yang ditemuinya sebagai apartemen Akira. Seyumnya merekah. Bahagianya menyeruak. Jika ini adalah alamat yang benar, harusnya ia tidak salah menekan bel, kan? Tadi sebelum kesini ia juga telah memastikan menelpon seorang adik kelas yang dikenalnya sekelas dengan Akira dan dia bilang hari ini tidak ada kuliah. Batin Erlangga mulai dihinggapi keraguan karena pintu tak kunjung dibuka. “Tet…tet… tet…” jemarinya kembali menekan bel.


Daylan terperanjat kesal dari usahanya untuk tidur yang terganggu suara bel berulang-ulang yang menyebalkan. “Aish, siapa sih pagi-pagi udah ganggu orang?!” Daylan melirik jam, 10 : 30. “Tuh, kan masih pagi! Agak siang, sih.


Tapi, jangan-jagan Akira nih yang niat buat ngerjain aku karena tahu hari ini aku libur. Hhh… jangan harap, gak mempan!” Daylan menarik selimutnya lalu beranjak untuk kembali tidur. “Tet…tet…tet…” suara bel kembali menggema. “Aish!” Daylan bangkit terduduk. “Bukannya nggak ada yang tahu alamat ini, ya? Apa dia bener-bener lupa password, sih?! Jadi kamu bener-bener mau main-main, ya?!”


“Tet…tet…tet…” wajah Daylan berubah kian pasi dan jengkel. “Oh, well… if you want so! I am coming, Honey…!”[1] jerit Daylan sembari bangkit setengah jengkel.


Daniel tersenyum puas. Entah berapa lama lagi ia akan menunggu pintu dibuka. Namun, hatinya senang, jemarinya menekan bel pintu berulang-ulang tak sabar. “Aku akan menunggu satu jam di sini… satu jam untukmu, Akira…” ucapnya dalam sembari berbalik membelakangi pintu.


Daylan langsung menuju pintu tanpa melihat siapa yang dating dari intercome lebih dulu. –Lebih cepat lebih baik, aku bisa langsung melanjutkan tidurku setelah semalam tak tidur mengurus thesisku.-


Klek. Daylan membuka pintu.dilihatnya sesosok lelaki dengan tinggi semampai berdiri membelakanginya. “Maaf baru membuka pintu! Ada urusan apa Anda datang kemari?”


Daniel tersentak oleh suara yang didengarnya. Seorang laki-laki?? Jadi, aku salah alamat?! Daniel memutar tubuhnya menghadap pintu dengan seulas senyum yang diukirnya sebagai bentuk ungkapan awal permintaan maaf.


Mata Daniel dan Daylan bertemu. Keduanya tercekat. Jantung Daniel seolah mau copot. Tangan Daylan terlepas dari knop pintu yang di pegangnya. Dia??! Keduanya tercengang dalam diam. Daylan mengalihkan pandangannya. “Masuklah…!” Daylan mempersilakan Daniel dengan satu kata yang akhirnya mampu terlontar dari lidahnya sembari memutar tubuhnya menuju ruang tamu.


“Tunggu! Apa yang sebenarnya terjadi?! Apa yang kau lakukan di sini?!” tanya Daniel yang lebih terdengar seperti teriakan kemarahan. Langkah Daylan terhenti.


“Bukankah harusnya aku yang bertanya padamu? Apa yang kau lakukan di sini?”


“Ah, maaf! Sepertinya aku salah alamat… aku akan segera pergi…” Daniel mencoba dan berharap perspektifnya kali ini tak benar. -Ku mohon… kali ini saja…!-


“Aku rasa kau tak salah alamat. Mungkin kau hanya kaget saja. Lagi pula kenyataan memang biasanya menyakitkan…”


“Hhhh… kau masih tak berubah. Kau pikir ini lucu?!”


“Kau juga selalu begitu. Tak peduli apa yang kukatakan benar atau salah, kau tak pernah percaya padaku!”


“Bukannya kau yang membuatku seperti ini? Kau yang selalu memusuhiku karena aku memiliki apa yang kau inginkan? Kau yang selalu menolakku menjadi orang terdekatmu!”


“Hhh…cukup! Aku sedang tak ingin marah-marah. Jika kau tak mau masuk, pergilah!” Daylan beranjak masuk ke dalam. Erlangga berlari cepat menyahut lengan Daylan untuk menahannya.


“Beraninya kau melakukan ini padaku….”

__ADS_1


“Hhh… kau akhirnya masuk juga…”


“Daylan!”


“Duduklah! Kau mencari Akira, bukan?” tangan Daniel melemas. Bola matanya terangkat melebar. “Aku tahu kau tidak mau, jadi pergilah! Aku tak akan mengatakan apapun.” Daylan menarik tangannya dari Erlangga lalu beranjak menuju dapur.


“Aku duduk.” Ucap Daniel setuju akhirnya. Daylan tersenyum sembari menuangkan air ke dalam gelas untuk Daniel. Ia tahu Erlangga yang ia kenal akan seperti ini. Dia masih tidak berubah.


“Minumlah!” ucap Daylan sembari meletakkan segelas minum di atas meja.


“Hhh… kau mau meracuniku?” canda Erlangga setengah serius. Daylan duduk di kursi tepat berhadapan dengan Erlangga.


“Tak ada untungnya membunuhmu.”


“Ah, kau tahu aku tak suka basa-basi denganmu! Langsung saja…”


“Maaf… sungguh maafkan aku…”


“Kau tak perlu bermain drama di sini!”


“Aku tak begitu mengerti sejahat apa aku di matamu, tapi aku sungguh tak ingin mengatakannya padamu… mintalah penjelasan dari Akira…”


“Hey, Daylan… jangan bercanda…! Kau yang mengatakan padaku bahwa kau akan mengatakan sesuatu, bukan?! Aku benar-benar tak mengerti semua ini! Katakan apa yang sebenarnya terjadi!”


“Kakak…” Daylan tertunduk.


“Apa lagi ini?”


“Maafkan aku… aku telah berjanji untuk tak mengatakannya pada siapapun di sini…”


“Hhh… Kau takut mengatakannya? Kau mau menggunakan perspektifku lagi untuk mengetahui apa yang terjadi?! Kau tak mau dirimu menjadi korban lagi seperti dulu…?”


“Kau… kau…” Daniel mengeratkan gigi-giginya menahan air matanya dan kemarahan-nya. “…sampai kapan kau akan membuatku terlihat menyedihkan seperti ini?! Kau bahagia melihatku seperti ini? Membiarkan pikiranku menerka apa yang sebenarnya terjadi dengan segala kemungkinan terburuknya… kau senang sekarang…?!”


“Maafkan aku, Kakak…”


“Jika kau sungguh ingin aku memaafkanmu, katakan! Katakana padaku apa yang sebenarnya terjadi dengan mulutmu! Jelaskan padaku! Kau laki-laki, kan?!” runtutan kalimat Daniel membuat mata Daylan melebar terperanjat. “Bagaimana kau bisa bermimpi untuk memilikinya jika kau bahkan tak mampu untuk mengakui hubunganmu dengannya pada orang lain? Jangan bercanda! Apa kau tahu bagaimana perasaan seorang wanita menerima perlakuan itu?! Bagaimana bisa kau mengatakan kau tak ingin menyakitinya, ketika kau telah melakukan-nya sejak awal?”


Daylan mendesah dalam tangis tertahan senyum palsunya. –Maafkan aku, Akira…-  “Kami telah menerima hadiahmu, terima kasih.”


“Apa itu? Sebuah kode untukku?”


“Kau ingat kau tak bisa datang di salah satu upacara sakral dalam hidupku dan hanya bisa mengirimkan hadiah dan permintaan maafmu, kan?”


Mata Erlangga kian berkaca-kaca. Perspektifnya telah menduga apa yang akan Daylan katakana selanjutnya. Daniel menganguk pelan. “Hmm…” jawabnya mengiyakan akhirnya. Daylan masih diam sembari memandang Daniel. Ia tahu, ini akan sangat menyakitkan bagi Daniel. Karena itu ia berusaha mengimbanginya dan melanjutkan


ucapannya saat Daniel telah siap mendengarnya. “Kenapa kau diam? Kau mengasihani ku? Yang benar saja… lanjutkan…”


“Kau mungkin tak percaya, tapi kami benar-benar telah menikah.”


Daniel menggenggamkan kedua tangannya menahan luapan perasaan di dadanya dan air mata yang meski telah ia tahan tetap menetes. Bahkan setelah ia mendengar penjelasan itu langsung dari mulut Daylan seperti yang ia minta. Kenapa rasanya masih sangat menyakitkan? “Kau mencintainya?” tanya Daniel akhirnya.


“Ya, aku mencintainya.”


“Benarkah? Aku tak percaya ucapanmu kali ini…”


“Meski aku tahu orang lain tak percaya karena aku sendiri juga masih tak mempercayai-nya. Tapi, aku ingin tahu alasanmu tak mempercayai ucapanku… jika kau tak keberatan mengatakannya…”

__ADS_1


“Jika kau mencintainya, kenapa kau tak pernah melindunginya? Kenapa dia begitu sering menangis dan berwajah sedih saat awal-awal dia kembali bertemu dneganku di sini? Kenapa kau tak mencoba melarangnya mendekat padaku?” Daniel beranjak meraih bahu Daylan. “Daylan… katakan padaku ini bohong! Katakan padaku ini tidak benar!” jemarinya meremas kuat setengah gemetar bahu Daylan. –Aku mohon, bangunkan aku dari mimpi ini…-


Daylan turut mengeratkan giginya. Air matanya menetes. “Maafkan aku, Kak… tapi inilah yang sebenarnya terjadi.”


Cengkraman tangan Daniel di bahu Daylan seketika melemas jatuh seiring Daniel yang jatuh terduduk di hadapan Daylan dengan air mata dan hati yang hancur berkeping-keping. Harapan dan mimpinya… pupus…hancur berantakan. “Jika kau benar-benar mencintainya… kenapa kau melakukan semua itu padanya…?”


“Hhhh…awalnya aku juga sama sekali tak menyangka aku akan mencintainya. Kau tahu aku sangat mencintai Maura dan memiliki hubungan yang sangat baik dengannya meski kita hanya bertemu beberapa kali dalam satu tahun. Aku sangat serius dan berencana untuk menikahinya setelah masa studiku berakhir dan memulai menggambil bagian mengatur perusahaan. Namun, setelah wisuda Mama tiba-tiba memintaku untuk segera pulang ke Indonesia untuk membicarakan hal penting. Aku sangat menyangi Mama, karena itu aku segera pulang. Dan saat makan malam tiba, kabar yang tak ku harapkan itu ku dengar. Aku tersedak kaget. Bagaimana bisa mereka


melakukannya padaku? Aku berusaha menolak dnegan kabur bersamanya, tapi tak berhasil. Awalnya aku snagat membencimu dan kakek untuk hal ini. tapi, sekarang aku berterimakasih padamu dan kakek untuk mempertemukanku dengannya… ”


“Kenapa kau membenciku dan kakek? Apa hubungannya dnegan ini?”


“Sebenarya dia adalah gadis yang tadinya akan kakek jodohkan denganmu.” Mata Daniel melebar kaget. “Tapi entah karena alasan apa, ia akhirnya menggantikanmu denganku. Aku dengar kakek ingin kau memilih pasangan hidupmu sendiri karena kau sudah terlalu menurut padanya. Dia ingin kau bahagia. Aku sangat terluka untuk mengetahuinya. Tapi, itulah kenyataan. Dan meski kami tak memiliki perasaan sama sekali, kami akhirnya memustuskan untuk menikah. Kami tinggal bersama di sini. Awalnya aku berusaha tak peduli padanya dan berusaha selalu bersikap dingin. Tapi, setelah selama ini bersama, aku… tak bisa melepasnya… dan aku menyadari satu kenyataan lain bahwa aku sebenarnya telah jatuh cinta padanya…”


“Jangan bercanda…! Hentikan omong kosong ini…!” Daniel menjerit. Sanubarinya berteriak dan menolak untuk percaya pada apa yang baru saja didengarnya.


“Aku tahu ini menyakitkan, tapi sebagai adikmu, aku mohon pada Kakak untuk tidak menyukai Akira dengan cara seperti ini lagi…”


Erlangga maju menarik kerah Daylan lalu menekan kalimat terakhirnya lantang. “Katakan padaku ini hanya mimpi! Katakan padaku ini hanya khayalanmu! Cepat katakan padaku…!” Daylan terdiam sejenak, lemas, air matanya jatuh.


“Maaf, Kak… tapi sekali lagi… ini bukan mimpi…” Erlangga melepas cengkramannya pelan. Harapannya kembali pupus. Raganya kembali terhempas di atas sofa dengan deraian bulir hangat yang kembali mengalir dari pelupuk matanya. –Baru kali ini Erlangga menginginkan apa yang ku miliki. Tapi, kenapa hatiku rasanya sakit sekali…?-


 Erlangga bangkit dari duduknya. “Kalau begitu aku yang minta maaf…” Daylan mengangkat pandangannya lalu menatap Erlangga lekat-lekat. Erlangga melanjutkan ucapannya, “…sebagaimana dirimu yang tak bisa melepaskan Akira… aku… juga tak bisa melepaskan-nya…” Daylan terperanjat.


“Kakak…!” potongnya memekik.


“Kau tahu aku…aku tak bisa mengalah untuk ini…” tandas Erlangga tegas lalu berlalu dari hadapan Daylan. Daylan terperanjat kaget dan segera bergerak cepat meraih lengan Erlangga.


“Jangan nekat! Dia adalah istri sahku. Keluarga kita tahu benar akan hal itu. ini bisa merusak semuanya!”


“Aku tak peduli!”


“Setidaknya jangan lakukan ini demi keluarga kita! Kita telah bertahan dengan sangat baik selama ini sesuai permintaan kakek. Kesehatan kakek sangat sensitive dengan kabar buruk. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi padanya jika ia mengetahui ini…”


“Aku bilang, ‘aku tak peduli…’”


“Kakak! Apa lagi yang sebenarnya kau inginkan dariku?! Bukankah kau sudah memiliki semuanya bahkan apa yang harusnya menjadi milikku?! Apa itu masih tak cukup?!” Daylan terengah karena mengucapkan kalimatya dengan nada tinggi. Erlangga menoleh lalu menatap Daylan tajam.


“Kalau begitu, kita tukar saja! Aku akan berikan semuanya padamu, dan berikan Akira padaku…!” tanggap Erlangga serius. Daylan kembali tercekat melemas mendengar tanggapan Erlangga. Erlangga menarik tangannya lalu beranjak meninggalkan Daylan cepat.


 


_________________


[1] Oh, baiklah… kalau itu yang kau mau! Aku datang, Sayang…!


Thanks my beloved readers. Please support Author by like, comment, vote, share, & favorite for notification update. See you next time on the next episode ^_^


Author don't own the picture.... Just hope you will be happier by it. it was taken from pinterest:)


Follow me on instagram : @nabilaubaidah


Oh ya, terima kasih banyak untuk para pembaca yang sudah memberikan dukugannya. Alhamdulillah cerita kesayangan kita ini resmi dikontrak -KISS & LOVE from Author-  Nah, Supaya Author lebih semangat untuk menulis lebih dari satu chapter perminggu,  teman-teman, tolong untuk terus berikan dukungan berupa like, comment, vote, share, & favorite untuk Couple in Love ini ya ^_^ Thanks a bunch Guys!


Love you,


Yurizhia Ninawa

__ADS_1


 


 


__ADS_2