
Dua tahun berlalu dari perceraian bunda dan ayahnya. Keluarga bunda memaksa bunda untuk menikah lagi karena usia bunda yang masih muda. Namun, tentu saja trauma itu belum hilang dari bunda, mungkin juga… sebagian rasa dan hatinya yang meski ia benci untuk mengakuinya masih ada pada ayahnya.
Namun, tak lama setelah itu bunda menerima perjodohan yang ditawarkan keluarganya, entah kenapa. Bunda tak mau langsung menikah dan lelaki itupun tak memaksa. Dengan sabar ia menunggu bunda. Sesekali ia dating menjenguk dengan oleh-oleh dari berbagai Negara dan daerah yang katanya baru saja ia kunjungi karena proyek kantornya. Ya, Maura akui dia sangat perhatian pada Maura dan keluarga bundanya. Setahun kemudian bunda menikah dengan lelaki itu.
Hal yang di luar perkiraan pun terjadi. Sebuah keajaiban. Maura mampu melihat kembali
senyum dan tawa bundanya yang secerah dulu sebelum ayahnya berubah berkelakuan
seperti itu. Tak lama kemudian bundanya hamil, dan keharmonisan serta kehangatan it uterus bertahan dan diberikan oleh lelaki yang kini menjadi papanya itu. Saat itu ia mulai berpikir kalau mungkin dari setumpuk lelaki yang seperti ayahnya masih tersisa sosok yang bisa dihitung jari seperti papanya dan sosok ‘itu’. Sayang, awal keyakinan barunya yang tumbuh saat bertemu dengan
Daylan yang secara tak ia sadari member kesan mendalam pada dirinya membuatnya
akhirnya membuat keputusan bodoh yang tak akan pernah mampu ia perbaiki.
Maura masih ingat benar bagaimana wajah sosok itu saat ia memintanya untuk menjauh. Rasa sakit, kecewa, namun tetap beriring senyum tulus mencoba untuk mengerti dan
memahami pintanya yang terkesan egois itu. Saat itu, sebenarnya Maura hanya tak ingin menjadi sosok egois seperti ayahnya. Maura tahu sosok itu memiliki perasaan padanya yang lebih dari sekedar ‘sahabat’ beberapa waktu lalu, dan dia sendiri telah jadian dengan Daylan yang notabenya adalah sahabat sosok itu. Karena itu ia tak ingin egois dan terus menyakiti soso malaikatnya dulu yang memiliki nama yang beberapa tahun ini tak pernah dipanggilnya, REVAN. Air mata Maura kembali jatuh saat hatinya kembali menyeruakkan nama itu.
Setelah dipikir-pikir ia sendiri bingung. Sebenarnya mana yang sesungguhnya pantas dan bisa disebut ‘egois’ 1. Saat kita meminta seseorang yang memiliki perasaan
khusus pada kita menjauh karena kita tak bisa membalas perasaannya dan takbingin menyakitinya lebih jauh tanpa menanyakan pendapatnya, atau 2. Saat kita tahu seseorang memiliki perasaan khusus pada kita namun kita telah memiliki orang khusus tapi tetap menginginkan orang yang perasaannya tak bisa kita balas itu sebagai teman/ sahabat? Bisa kau bantu aku menjawabnya?
*******
Sepatu casual mulai nampak muncul saat kaki tegak lelaki yang selalu tahu bagaimana menghibur dan mengerti orang lain tanpa
terlalu memikirkan dirinya itu menginjakkan kaki kanannya di tanah. Perlahan namun pasti didorongnya pintu mobil lebih lebar lalu bersamaan itu ia memutuskan mendorong keluar sosok dirinya yang tampak begitu memukau namun berwajah sembab. Memunculkan diri yang selama ini lebih memilih berdiam untuk kebahagiaan orang-orang di sekitarnya meski harus mengorbankan perasaannya sendiri, Revan Rahardian. Sosok oriental yang ketampanan dan kekayaan keluarganya tidak perlu dipertanyakan.
Revan menghembuskan napas berat meyakinkan diri untuk melangkah mencari sosok yang mungkin saat ini membutuhkan kehadirannya. Entahlah, ini mungkin memang bodoh, namun apa yang harus ia lakukan saat kebodohan itu telah mendarah daging dalam
dirinya. Ya, kebodohan untuk tak mampu mengabaikan sosok yang disayanginya bahkan meski sosok itu tak peduli padanya. Sejumput kalut dan takut tiba-tiba menyeruak dari dalam hatinya. Bagaimana jika sosok itu kembali menolaknya dan memintanya menjauh seperti dulu? Apa yang akan ia lakukan jika hal itu sampai terjadi? Bukankah ia akan semakin hancur? Sejenak kakinya melangkah mundur tak yakin. Ia tak siap untuk totally broken saat ini, saat ia masih serapuh dirinya beberapa tahun itu di hadapan sosok ‘itu’. “Maura menangis.” Bisikan yang entah datang dari mana itu seketika membuat matanya melebar dan implus kakinya melangkah pasti ke depan. Ia mulai mencari sosok bernama Maura di tempat yang telah di deskripsikan Daylan padanya itu.
Revan terus berjalan sembari menyapukan visualnya ke berbagai arah berharap akan mendapati gadis yang ia cari. Maura. Gadis itu pasti sangat hancur saat ini. Bagaimana
tidak, ia tahu benar siapa Maura dan bagaimana keluarganya dulu dan sekarang.
Trauma yang dimilikinya akan lelaki dan sikap bencinya pada hampir semua laki-laki kecuali dirinya mungkin akan kembali menghantamnya, ya walaupun tentu saja ia berharap Maura telah berubah dan tak lagi seperti itu karena nyatanya ia mampu bertahan selama ini dengan Daylan. Mungkin saja Daylan telah berhasil merubahnya. Ya, ia harap begitu. Setidaknya meski ada bagian hatinya yang mungkin akan kembali teriris dengan kenyataan itu, tapi kemungkinan besar Maura akan baik-baik saja membuatnya mengabaikan rasa itu.
Kemana sosok yang selalu menolak lelaki itu pergi? Kemana sosok yang hanya menerimanya dari jenis pria untuk menjadi sahabat dan berada di dekatnya itu menghilang? Tanya itu sontak menyeruak saat visualnya menangkap sosok gadis yang tengah duduk meringkuk di bibir pantai dengan kepala yang ia sembunyikan di balik lipatan kakinya. Ah, kenapa bahkan setelah bertahun-tahun tak menemuinya ia masih saja ingat punggung dan rambut indah itu? Revan salah. Harapannya tak terkabul, ia
tahu pasti itu saat melihat bahu sosok itu bergetar. Dia pasti masih menangis sekarang. Apa yang harus ku lakukan? Tanyanya pada dirinya sendiri. Sosok itu mengangkat kepalanya. Ia menatap sekitar pandangannya tiba-tiba berubah kesal. Namun tak lama kemudian setetes air mata kembali mengalir dan secara implus menarik kaki Revan bergerak mendekat sembari melepas jaket yang melekat ditubuhnya lalu dengan hati-hati ia memakaikannya pada Maura dari belakang.
Maura terkejut saat merasakan ada sesuatu yang tiba-iba melekat dan menghangatkan tubuhnya di tengah dinginnya angin yang melambai. Maura hendak menolehkan kepalanya untuk mengetahui apa yang terjadi, namun saat kepalanya masih di angka jam sebelas sebuah suara menginterupsinya. “Semuanya akan baik-baik saja.” Mata Maura melebar menegang akan apa yang baru saja ia dengar. Ia kenal suara itu. Sangat. Suara yang membisikkan mantra yang sama seperti yang selalu diucapkan sosok Revan padanya dulu saat ia memiliki masalah. Namun,
mungkinkah suara ini nyata? Bagaimana bisa ia ada di sini? Rasa kerinduan yang membuncah dan segenap kebersalahan yang seketika menyentaknya membuatnya merasa
tmakin tak pantas. Tak pantas mendapatkan semua keistimewaan yang dulu diterimanya lagi. Apa yang akan ia katakana padanya jika suara ini benar miliknya ? bagaimana menghadapinya jika suara ini adalah milik sosok…?
Pertanyaan Maura tak sempat selesai karena dua detik kemudian sosok yang dirindukan-nya menampakkan wujudnya dengan senyum tulus yang tak pernah lekang dari ingatannya. Senyum yang dulu ia hancurkan berkeping-keping karena permintaan bodohnya dan kini kembali padanya dengan wajah yang sembab. Maura menggigit bibir bawahnya. Mengapa sosok di hadapannya sesembab itu? Apa dia baru saja menangis? Karena apa? Karena aku? Tanya Maura tak terjawab karena sedetik kemudian Revan meraihnya masuk dalam rengkuhannya. “Semuanya akan baik-baik saja. Aku tahu kau kuat.” Maura berusaha meronta merasa tak pantas diperlakukan sebaik ini setelah semuanya. Namun, ia kalah kuat dari Revan yang untuk pertama kali memaksakan kehendaknya atas Maura. “Biarkan seperti ini sejenak. Kau bisa mengusirku lagi nanti setelah kau baik-baik saja.” Ucap Revan kemudian yang sontak justru membuat Maura menumpahkan tangisnya. Bagaimana… bagaimana ia bisa menyakiti sosok malaikatnya hanya demi lelaki seperti Daylan? Tuhan… apa yang harus ku lakukan?
Revan tak mengerti mengapa Maura justru menangis hebat saat ia melontarkan kata-kata itu. sebegitu tak inginnya kah Maura akan kehadirannya? Baiklah. Terserah. Ia akan keras kepala kali ini. Hanya sampai sosok dalam pelukannya ini mampu berdiri di
atas kakinya sendiri. Setidaknya….
“Maaf… maafkan aku…” ucap suara parau Maura memotong angannya. “Maafkan aku… sunnguh… aku sadar aku mungkin tak pantas, tapi aku mohon, maafkan aku…” Revan menarik bibirnya membentuk garis lengkung tulus. “Kau tak perlu minta maaf, kau tak bersalah.” Maura hendak menyanggah, namun Revan berucap kembali menduluinya, “Bahkan jika kau memang bersalah, aku telah memaafkanmu. Karena itu mulailah untuk memaafkanlah dirimu sendiri.” Maura hanya terdiam dalam isaknya. Ya, Tuhan… dimana ia akan menemukan lelaki seperti Revan di dunia ini?!
******
__ADS_1
“Hmm, dia cantik juga.” komentar salah seorang lelaki berambut pirang sembari menatap lekat wajah tak sadar Akira yang tengah diikat di sebuah kursi.
“Hey, jika kau masih ingin hidup, sebaiknya kau hentikan sikapmu itu! Kau tahu dia bukan
hanya seorang gadis biasa bagi bos.” tegur sosok pria berambut panjang.
“Ya, ya. Aku tak mengerti apa yang terjadi, tapi dengan nada suara bos yang mengancam akan membuat kita menyesal jika gadis ini sampai terluka, aku tahu dia istimewa bagi
bos.”
“Ya, aku rasa juga begitu. Tapi jika memang benar, harusnya bos tidak menggunakannya sebagai umpan. Ini terlalu beresiko untuknya. Bahkan aku tidak yakin ini karena masalah
Geum yang terluka akibat ulah lelaki yang sedang kita tunggu.” Tambah sosok berambuk hitam cepak.
“Sudahlah, kita hanya di sini untuk menjalankan tugas. Jangan banyak bicara. Kita di sini dengan sepuluh anggota terpercaya bos untuk menghandle satu lelaki yang sepertinya memang memiliki hubungan dekat dengan wanita ini, kalau aku tidak salah suaminya. Bos bilang ingin kita memberi suaminya itu shock terapi.” Tambah si rambut panjang.
“Hmm… aku jadi tertarik untuk tahu cerita mereka bertiga.” Sambung si pirang.
“Maksudmu?”
“Ya, hubungan bos, wanita ini, dan suaminya.”
“Engh…” semua orang dalam ruangan itu menoleh ke arah Akira yang mulai mengerjap dan mendapatkan kesadarannya.
“Ah, dia sudah sadar!” seru si rambut pirang. Yang seketika membuat Akira membelala-kan
mata dan menyadari kondisinya.
“Apa yang terjadi? Dimana ini…?” tanya Akira yang akhirnya membuka mata mulai meraih
kesadarannya.
“Hmmm… bagaimana menjelaskannya ya…?” tanya si pirang yang tentu saja tak butuh
“Hentikan, Jun! Dia tak perlu tahu itu.” potong si rambut panjang. Sosok berambut pirang
yang bernama Jun itu pun hanya diam tak melanjutkan ucapannya.
“Apa yang kalian lakukan padaku?!” tanya Akira menjerit saat akhirnya menyadari
keadaannya yang terikat.
“ Well, sebenarnya bukan kau yang salah, tapi suamimu.” Sahut si pirang spontan. Mata
Akira melebar, namun sejenak kemudian Akira dapat mengendalikan emosinya.
“Suamiku? Apa maksudmu?”
“Entahlah. Suamimu melukai salah satu anggota kami dan kami ingin memberinya pelajaran. Jadi, kami akan menggunakanmu sebagai umpan dan agen balas dendam kami,” jelas sosok yang tiba-tiba muncul dari luar. Semua yang ada di dalam menunduk member hormat setelah menyapa ‘Hyung’. Sosok itu tersenyum menatap Akira yang mendengaus seolah tak peduli dan mengatakan terserah. “Hey, kau kelihatan pasrah, ini tidak menyenangkan!”
“Hhh.. lalu apa mau kalian? Lelaki itu tidak akan datang.”
“OH, benarkah? aku juga penasaran akan hal itu! Jujur saja aku tidak ingin dia datang, karena dengan begitu kau bisa menjadi bayarannya.” Mata Akira membelalak kaget akan apa yang baru saja ia dengar. Apa yang akan terjadi padanya? Sosok itu tak akan datang. Ia sedang bersama wanita lain di luar sana. Mungkin saat ini mereka tengah bersenang-senang. Ah, sudahlah, tidak peduli!
“Apa yang akan kau lakukan padaku jika ia tak datang?” tanya malas untuk memastikan apa
yang akan terjadi pada dirinya dan bersiap untuk menghadapinya itu pun terlontar.
“Hmm… menurutmu apa?”
__ADS_1
“Sudahlah, aku hanya ingin tahu apa yang akan terjadi padaku karena ia tak mungkin
datang.”
“Benarkah? Aku tak yakin dengan itu. Aku rasa dia akan dating karena kau penting baginya.” Akira memutar bola matanya jengah. Sosok lelaki di hadapannya itu tertawa pendek tak menyangka. “Apa ini, kau tak percaya dia akan datang?” tanya dengan
tawa mengejek itu pun terpampang jelas.
“Aku sudah bilang dia tak akan datang.” Terang Akira malas.
“Hey, Nona, apa kau bahkan benar istrinya?”
“Hhhh… entahlah, aku juga tak yakin. Kau tanya saja padanya.”
“Bagaimana bisa aku bertanya padanya saat kau bilang dia tak akan datang kemari? Wah, aku benar-benar tak percaya ini!”
“Justru karena itu, baik kau maupun aku tak akan tahu jawaban dari pertanyaan
menyebalkanmu itu.”
“Hmmm… kau menjawab semua dengan begitu tenang, aku rasa kau tak begitu buruk.”
“Apa maksudmu?”
Sosok itu tersenyum menyeringai. “Aku rasa kau juga tidak begitu tertarik pada suamimu,
jadi aku akan membantumu menjauh darinya. Dia tak salah memperjuangkanmu.” Ucapnya menggantung begitu banyak tanda tanya di kepala Akira lalu berlalu begitu saja sembari menyentuh wireless headset di telinganya dan mengatakan sesuatu yang tak didengar lagi oleh Akira. Dia? Dia siapa?
******
“Hey, apa maksudmu berkata seperti itu? kau tahu aku melihat dan mendengar semua yang kau lakukan dan katakana melalui cctv, kan?” tanya Ren dari sebrang sembari terus melihat layar penampang cctv di hadapannya.
“Well, kau tahu aku tak begitu menyukai wanita. They are too weak.”
“Ha…ha..ha… kau hanya belum menemukan yang tepat, Sang.”
“Yah, tapi sepertinya gadis ini sedikit berbeda. Kau pantas memperjuangkannya.”
“Ah, aku tak ingin mendengarnya darimu.”
“Yeah, aku tahu aku tak pantas berkomentar. Tapi, kau mempertaruhkan semuanya dengan
melakukan ini. Maksudku, kau tahu konsekuensi dari apa yang kau lakukan,
kan?”
“Hhh… I don't really have a chance with her to begin with.”[1]
______________
[1] Lagi pula dari awal aku tak pernah mempunyai kesempatan dengannya .
Thanks my beloved readers. Please support Author by like, comment, vote, share, & favorite for notification update. See you next time on the next episode ^_^
Author don't own the picture.... Just hope you will be happier by it. it was taken from pinterest:)
Follow me on instagram : @nabilaubaidah
Oh ya, terima kasih banyak untuk para pembaca yang sudah memberikan dukugannya. Alhamdulillah cerita kesayangan kita ini resmi dikontrak -KISS & LOVE from Author- Nah, Supaya Author lebih semangat untuk menulis lebih dari satu chapter perminggu, teman-teman, tolong untuk terus berikan dukungan berupa like, comment, vote, share, & favorite untuk Couple in Love ini ya ^_^ Thanks a bunch Guys!
__ADS_1
Love you,
Yurizhia Ninawa