Couple In Love

Couple In Love
Episode 61


__ADS_3

                                                              



 


 


Hhhh… Revan mendesah. Wanita di hadapannya ini benar-benar berbeda dari wanita-wanita yang selama ini ditemuinya. “Kau sangat khawatir pada perasaannya, ya?” Akira tak menjawab. “Jika kau begitu takut dia terluka lebih dalam karena dirimu, kenapa kau tak memilihnya saja dan meninggalkan Daylan?” Akira mengangat kedua bola matanya tersentak menatap sosok di hadapannya. Ia tak pernah menyangka sosok itu akan mengatakan hal seperti itu padanya. Bukankah dia dulu yang meminta dirinya untuk memilih Daylan? “Kenapa kau tampak seterkejut itu? Kau kaget aku mengatakannya?” Akira masih terdiam tak mampu menjawab dalam keterperangahannya. “Aku rasa kau benar-benar terkejut mendengarku mengatakannya sampai kau speechless begitu. Dengarkan aku, jangan mengorbankan kebahagiaanmu untuk orang lain jika kau tak yakin kau akan sekuat karang untuk menanggung resikonya! Kau juga berhak untuk bahagia.” Mata Revan nampak menyakinkan dengan senyum berat yang sedetik kemudian ia sunggingkan.


“Ya… kau benar. Aku kaget. Aku kaget karena dirimu.” Revan menatap Akira bingung akan maksud ucapannya.


“Karena aku yang mengatakannya?”


“Jawab aku…! Bagaimana dengan dirimu? Bukankah kau juga mengorbankan kebahagia-anmu untuk orang lain?” mata Revan membulat tak percaya. Dia tahu? Tidak mungkin. Tidak ada yang tahu tentang dirinya dan Maura selain mereka berdua. Orang lain hanya tahu jika mereka teman kecil yang sangat dekat. Bahkan Daylan kemungkinan besar tak sadar dan tak mengetahui hal itu. Akira tidak mungkin tahu… “Bagaimana kau bisa mengatakan hal yang kau sendiri tak mampu melakukannya?” senyum peduli di tengah rasa sakit yang entah datang dari mana saat melihat Akira membuat Revan seketika tertunduk, tersenyum enggan seolah berusaha mengatakan itu tak benar, namun juga merupakan sebuah kekaguman.


“Itu sudah sangat lama… jauh sebelum aku…”


“Apakah kau cukup sekuat karang menahan semuanya saat kau bahkan sekarang seperti ini hanya untuk menjawab tanya yang baru saja kau bilang sudah sangat lama?” ucapan berat Revan terpotong tanya Akira yang begitu menyesakkan hatinya. Revan mengangkat kepalanya memandang Akira dengan senyum menyakitkan yang ia ukirkan di bibirnya. Ia tak mampu lagi berbohong.


“Kau cukup tajam… itu menyakitkan…”


“Kenapa kau tiba-tiba mengatakan hal itu padaku setelah kau memintaku untuk kembali dan memilih Daylan? Aku tahu ekspresimu saat itu tulus. Kau benar-benar khawatir pada Daylan. Lalu, kenapa sekarang tiba-tiba kau memintaku berubah seperti ini?”


“Bukankah itu jelas…? Ini sangat menyakitkan… sangat menyakitkan dan aku tak ingin kau merasakannya…” tess. Setetes air mata jatuh dari pelupuk Revan menyentak Akira. “Aku tak bisa serakah untuk mendapatkan kebahagiaan kami berdua bersamaan.  Dan saat menentukan pilihan antara kebahagiaanku dan kebahagiaannya, bagaimana aku bisa tetap egois untuk mempertahankan kebahagiaanku dan menghancurkan kebahagiaannya? Setidaknya dia bisa bahagia dengan pilihannya, lagi pula dia mencintainya…”


Hhh. Akira mendesah sejenak sebelum tiba-tiba air matanya menyeruak. Tangannya  menutup terangkat menutup mulutnya. Sesak. “Maafkan aku untuk menanyakannya… aku tahu, keduanya berat untukmu… dan pilihan manapun yang ku ambil, pada akhirnya kau juga akan tatap terluka…”


“Hhh… I am not that heroic![1]Aku bahkan tak mampu menyelamatkan salah satu dari mereka…”


“Maafkan aku…!”


“Ini bukan salahmu… lagi pula, kau terlalu berlebihan untuk mengatakannya seperti itu.”


“Tapi…keputusanku akan berdampak padamu, manapun yang ku pilih… dan aku tak punya pilihan untuk menyelamatkanmu dari luka itu…”


“Apa maksudmu? Itu sama sekali tak benar… aku tak berhak untuk merasa terluka…” mata Akira sontak melebar seolah luka di hatinya kian melebar beriringan dengan luka yang saat ini berusaha ditutupi sosok di hadapannya. Ia menatap dalam Revan yang berusaha tetap mengukir senyum berat di bibirnya. Bibirnya bergerak pelan.


“Kau… benar-benar setegar karang…” ucap Akira kemudian dengan senyum yang ia usahakan mengukir di bibirnya. “…tapi, kau pasti lebih tahu dari siapapun di sini, bahwa bahkan meski kau tak berhak merasa terluka, kau tetap saja terlukai, bukan?”


“Hhh… ini pertama kalinya seseorang sepersisten ini padaku… apa yang sebenarnya membuatmu begitu yakin jika aku akan terluka karena keputusanmu?”


Mata Akira kembali melebar menatap sosok di hadapannya yang tengah berusaha sebisa mungkin untuk tampak tenang dan compose. Akhirnya ia menanyakan alasannya seolah benar-benar tak mengerti. Haruskah ia menjawab tanya tanya polos Revan itu? Kepolosan yang mungkin ia tampakkan hanya untuk mendengar jawaban dari Akira


yang sebenarnya sudah jelas dalam pikirnya. Namun, bahkan jika ia sudah menyadarinya, mengapa ia masih menanyakannya? Bukankah mendengarnya akan membuatnya lebih terluka?


Revan tersenyum meyakinkan. “Kau tak perlu khawatir akan perasaanku atau apapun. Hanya jujur dan katakan padaku apa yang sebenarnya membuatmu sepersisten itu bahwa aku akan terluka!” Akira menggigit bibirnya pelan menahan luapan empatinya. Bibirnya mulai terangkat membuka untuk bicara.


“Karena baik aku memilih Daylan atau Daniel, kau akan terkena dampaknya…”


“Ya, aku tahu itu. Tapi, coba katakan dengan lebih jelas, apa yang menurutmu akan membuatku terluka!” kali ini wajah Revan tampak sedikit lebih rileks.


“Jika aku memilih Daniel, maka Daylan akan terluka. Dan Daylan adalah sahabat baik yang penting bagimu, melihatnya terluka dan hancur pasti juga akan melukaimu…”

__ADS_1


“Ya, kau benar. Lalu?”


“Lalu jika aku memilih Daylan, maka Daniel yang akan terluka. Dan karena dia terluka dan tak lagi memiliki hubungan dengan wanita, maka aku akan membuka kesempatan bagi orang yang kau sukai untuk kembali mendekat padanya dan mungkin berakhir menjalin hubungan serius dengan Daniel. Dan dengan begitu, bukankah kau akan hancur juga?” Revan memiringkan kepalanya ke kanan memandang Akira mengernyit.


“Hah? Apa maksudmu dengan memberi kesempatan pada orang yang ku sukai untuk kembali dekat dengan Daniel?”


Mata Akira berganti melebar. Dia tak paham juga?! tangan Akira menggebrak meja refleks. “Kau tak perlu menyembunyikannya lagi dariku! Aku tahu semuanya. Kau suka Tara, kan?!” mulut Revan menganga mencerna kata-kata yang baru didengarnya.


“Ta-ra?” ulang Revan terbata meyakinkan yang ia dengar benar.


“Ya. Kau suka Tara, kan?!” jawab Akira dengan tanya kembali penuh percaya diri.


“Hhh…” senyum tipis mengawali bibir Revan. “Kau bilang aku suka Tara…?! Haa…ha.. ha… dari mana kau bisa dapat kesimpulan seperti itu?!” tawa terbahak Revan menggema dalam restoran. Membuat semua mata pengunjung tertuju pada mereka. Dan membuat Akira kian bingung tak paham mengapa Revan justru tertawa terbahak seperti itu.


Ah, aku kira dia benar-benar tahu apa yang terjadi! Bagaimana bisa dia justru mengira jika aku menyukai Tara? Padahal aku merasa sedikit lega karena rahasia ini tak lagi ku pegang  seorang diri. Ah, ini lucu sekali! Revan membatin tergelak.


“Hey, kau sudah gila?! Berhenti tertawa seperti orang gila begitu! Orang-orang melihat kita!” Akira sontak menegur Revan. Revan memandang Akira sembari menahan tawanya. Ia lalu menyetabilkan emosinya dan membenarkan duduknya kembali seperti semula.


“Maaf… aku hanya kaget kau bisa berpikiran seperti itu.”


“Bagaimana kau bisa tertawa seperti itu? Bukankah kau benar-benar menyukai Tara?


“Tidak. Aku tidak pernah memiliki perasaan seperti itu pada Tara. Sama sekali. Tapi, aku akui dia cantik dan memiliki charm tersendiri yang mampu memikat banyak pria di sekitarnya. Aku tak tahu sudah berapa lelaki yang ditolaknya. Sia-sia sekali…!”


“Hah…?! Apa kau bercanda?! Tadi kau terlihat sedih dan…”


“Apa yang membuatmu berpikir bahwa aku menyukainya?”


“Eh…? I…itu… kau terlihat sangat peduli dan menyayanginya saat itu…”


“Ya saat itu. Pokoknya saat itu!”


“Ah, saat aku memeluknya!?” bola mata Akira berputar mencari celah untuk lari dari tanya yang akan membuat Revan menyadari bahwa ia telah mendengar tentang pembicaraannya dengan Tara. “Jadi kau tahu tentang Tara dan Daniel. Dan itulah alasan kenapa kau bersikap aneh saat menerima telpon tadi dan melihatnya, iya kan?”


“Ah, itu…”


“Kau benar. Aku mungkin menyayanginya, tapi bukan sebagai seorang kekasih atau semacam itu. Aku hanya tahu bahwa apa yang dia rasakan sangat… sangat menyakitkan…”


“Aku tidak percaya…”


“Kau merasa tak enak pada Tara setelah mengetahui cinta sepihaknya pada Daniel selama bertahun-tahun?” Akira terdiam. Pelan namun pasti kepalanya tertunduk tanpa jawaban. Revan yang seorang womanizer itu cukup tahu arti dari prilaku gadis di hadapannya tanpa perlu bertanya. Ia tak melanjutkan keingintahuannya. Mungkin diam dan menunggu adalah hal terbaik yang saat ini mampu dilakukannya. Ia hanya memandangi sosok Akira yang masih tertunduk di hadapannya. Matanya memerah berkaca-kaca. Ah, gadis ini benar-benar sesuatu! Aku rasa sekarang aku tahu kenapa Daylan bisa jatuh cinta pada Akira dan rela meninggalkan Maura. Hhh… Revan tersenyum. “Kau tak perlu menahannya… jika dadamu terasa sesak dan ingin menjerit serta meraung menangisi sesuatu, maka lepaskanlah… itu bukan hal yang buruk untuk mengakui bahwa kau terluka…” adalah apa yang ingin dikatakannya


pada Akira. Namun…


“Aku selalu penasaran…” ucap Akira tiba-tiba sebelum Revan sempat mengucapkan kalimatnya. “…kenapa sampai tahun kedua kuliahnya dia tak juga memiliki pacar. Aku selalu ingin tahu alasan seorang gadis seperti dirinya tak mempunyai seorang kekasih. Karena itu dirinya… karena dia sangat berbeda dariku dan aku yakin ada sangat banyak lelaki yang menyukainya… aku selalu ingin tahu kenapa… dan dia hanya menjawab jika menemui orang yang menyukainya itu mudah, tapi menemukan orang yang dia cintai bukanlah hal yang terjadi setiap hari… aku… aku… tak pernah menyadari maksud kata-katanya hingga hari saat aku tak sengaja mendengarnya… bahkan sejak


awal… dia yang secara tak langsung mengenalkan dan memberi kesempatan padaku dan Daniel Oppa… untuk berkenalan. Aku pikir… aku pikir Tara tak memiliki perasaan apapun padanya… bagaimana dia bisa… membiarkan lelaki yang dicintainya berkesempatan dekat dengan wanita lain… bagaimana…” ungkapan panjang lebar Akira terhenti tangisnya yang seketika menyeruak di ujung mata dan tengorokkannya. It hurts.


“Itu bukan  salahmu… aku rasa hampir semua orang yang berada pada posisinya akan melakukan hal yang sama, bahkan diriku. Setelah orang yang kau cintai menghempaskanmu bahkan tanpa kau nyatakan perasaanmu yang terpendam bertahun-tahun untuknya, dan tersingkirkan dari sisinya hanya karena asumsinya yang entah menomor berapakan perasaanmu, bertemu dengannya akan mengingatkanmu kembali tentang luka itu, seberapa banyak pun kau tak menginginkannya… karena itu, mungkin melihatnya bahagia dan baik-baik saja dari kejauhan akan lebih baik…”


“Tapi, dia tampak baik-baik saja dan sangat ceria saat mengenalkanku dan Daniel…”


“Hhh… itu tidak seperti Daniel membencinya… dia hanya mengatakan pada Tara untuk menghentikan sikapnya yang cukup jelas di matanya tanpa perlu penjelasan dan ungkapan lain darinya. Dengan kata lain Daniel memintanya berhenti menyukainya karena ia menyukai gadis lain. Dan setelah menyembunyikan perasaannya

__ADS_1


bertahun-tahun dari Daniel dan semua orang, meski nyatanya Daniel menyadarinya, kembali menyembunyikannya selama beberapa menit di depanmu bukanlah suatu hal yang sulit dilakukannya… terutama karena mereka cukup dekat sebelum peristiwa itu…”


“Apa…?” Akira teringat ungkapan Daniel bahwa ia telah menyukainya beberapa tahun sebelum pertemuan mereka di rumahnya. Mungkinkah gadis yang disukainya itu… aku? “Bukankah… menyembunyikannya dengan senyum seperti itu akan lebih menyakitkan…?”


“Itu tidak seperti dia memiliki pilihan lain. Kadang aku juga tak habis pikir, setelah bahkan disingkirkan baik secara sadar atau tidak oleh orang yang dicintainya, bagaimana bisa dia lebih memilih untuk kembali menyakiti dirinya dari pada sosok yang menghancurkan hatinya?” tanya berujar Revan itu membuat Akira terdiam. Seketika itu ia merasa hatinya begitu nyeri. “Mungkin itulah alasan mengapa aku tampak memeluknya penuh rasa sayang… karena aku merasa… kita begitu mirip…”


“M-maksudmu?”


“Kita mengalami kejadian yang sangat mirip. Dan jika aku yang laki-laki seterluka ini, bagaimana dengannya? Aku selalu penasaran akan itu… dia terlalu baik untuk dilukai…” Akira mengangkat wajahnya yang sembab menatap Revan setengah terbengong.


“Kata-katamu… itu terdengar seperti kau memang memiliki perasaan padanya. Kau khawatir tentangnya, bukan?”


“Ya, aku khawatir. Aku khawatir dia tak bisa atau tak mau lagi jatuh cinta setelah merasakan sakitnya mencintai seseorang.” Mata Akira kembali melebar. Kekhawatiran akan hal itu turut menggelayuti kepalanya. “Tapi, apa hubungannya khawatir dengan menyukainya?” tanya Revan kembali merilekskan Akira.


“Kau tidak tahu? Khawatir adalah salah satu bukti paling tampak saat seorang lelaki mencintai seorang wanita, atau setidaknya menyukainya. Dan saat kau mengatakan kau mengkhawatirkannya, sebenarnya itu tak jauh berbeda seperti kau mengatakan bahwa kau mencintainya.”


“Benarkah? Lalu jika aku khawatir Daylan akan kembali menyakitimu dan kau akan kembali  terluka karenanya, apakah itu berarti aku mencintaimu?” Akira terkesiap tanpa kata. Revan tersenyum. “Mungkin itu benar bahwa khawatir adalah salah satu indikasi terkuat cinta. Tapi, intensitas khawatir yang berbeda memiliki arti yang berbeda pula. Selain juga, bagaimana aku bisa mengatakan bahwa aku mencintainya saat aku menginginkan wanita selain dirinya?”


“Revan…”


“Kau tak perlu memikirkan masalahku! Sekarang kau perlu lebih fokus pada dirimu sendiri. Dengar Akira, kau mungkin merasa bersalah pada Tara. Tapi, semua yang terjadi antara Tara dan Daniel terjadi sebelum kau masuk dalam kehidupan mereka, itu bukan salahmu. Dan sekarang yang terpenting untuk kau lakukan adalah memutuskan. Putuskan kemana kau akan berlabuh. Dan setelah kau membuat keputusan itu, maka tak ada lagi jalan kembali. Kau harus mempertanggungjawabkan pilihanmu hingga akhir, kau tak bisa mengambil balik keputusanmu apapun itu. Mengerti?”


“Hmm. Aku tahu itu…”


“Aku tahu ini berat, dan mungkin aku tidak berhak untuk berbicara disini, tapi Ra…” Revan member jeda panjang pda kalimatnya. “…kalau kau tak segera menjelaskan keputusanmu ke mereka…


 


 


 


 


 


 


 


 


______________


[1] Hhh… aku tak seheroik itu!


Thanks my beloved readers. Please support Author by like, comment, vote, share, & favorite for notification update. See you next time on the next episode ^_^


Author don't own the picture.... Just hope you will be happier by it. it was taken from pinterest:)


Follow me on instagram : @nabilaubaidah


Oh ya, terima kasih banyak untuk para pembaca yang sudah memberikan dukugannya. Alhamdulillah cerita kesayangan kita ini resmi dikontrak -KISS & LOVE from Author-  Nah, Supaya Author lebih semangat untuk menulis lebih dari satu chapter perminggu,  teman-teman, tolong untuk terus berikan dukungan berupa like, comment, vote, share, & favorite untuk Couple in Love ini ya ^_^ Thanks a bunch Guys!

__ADS_1


Love you,


Yurizhia Ninawa


__ADS_2