
“Tok…tok…” “Akira…” ketukan pintu tersusul panggilan yang berasal dari Daniel membuyarkan suasana. Akira dan Daylan celingukan panik dan bingung akan apa yang harus mereka lakukan.
“Aku akan keluar…” ucap Daylan bingung. Akira menarik kerah bajunya dari belakang.
“Bodoh, kau mau bunuh diri?” Daylan berbalik.
“Akira, kau baik-baik saja?” tanya Daniel khawatir lagi dari balik pintu.
“Lalu apa yang harus ku lakukan?”
“Sembunyi, Bodoh!”
“Dimana…?” keduanya kembali celingukan mencari tempat sembunyi yang aman.
“Akira… bisakah kau membuka pintunya sejenak saja?” ucap Daniel lagi.
“Ah, aku tahu…! Masuk kesini!” Akira mendorong Daylan masuk ke bawah kolong tempat tidurnya.
“Hey, Akira! Ini terlalu…”
“Diam dan jangan berpindah sejengkalpun dari situ! Jika kau melanggarnya, aku akan membatalkan semua kesepakatan kita…” ancam Akira yang membuat Daylan seketika bungkam dan menurut.
Akira melangkah menuju pintu lalu membukanya sedikit. “Aku baik-baik sa…”
Grab. Daniel menarik Akira refleks ke dalam rengkuhannya. “Syukurlah kau tak terluka…” ucap Daniel kemudian sembari mengeratkan rengkuhannya dan tersenyum lega dengan mata terpejam. Daylan terdiam menahan sesak yang tiba-tiba saja menyeruak dari lubuk hatinya sesaat setelah melihat apa yang ada di hadapannya. Daniel melepas rengkuhannya. “Apa yang terjadi? Maura bilang kau tiba-tiba menangis. Aku khawatir dan langsung lari kesini.”
“Aku tidak papa. Aku hanya terbawa suasana dan tiba-tiba ingin menangis.”
“Oh, begitu. Wanita memang suka menangis seperti itu, ya. Ibuku juga kadang seperti itu. Aku benar-benar tak mengerti wanita. Tapi, kalau memang begitu, aku lega.”
-Bagaimana si bodoh itu bisa percaya pada kebohongan macam itu?- Daylan membatin. –Meski syukurlah, keadaan akan baik-baik saja.-
“Ayo kita keluar dan sarapan! Maura sudah menyiapkannya. Aku rasa kau mungkin akan merasa baikkan setelah makan…”
“Hmm… maaf membuatmu khawatir! Ayo kita sarapan!” Daniel tersenyum lalu menggandeng Akira keluar dari kamar menuju ruang makan. Keduanya berlalu. Daylan keluar dari persembunyiannya. Ia duduk bersandar pada bagian samping dipan.
“Hhhh… ini tak semudah yang ku bayangkan. Aku tak pernah tahu akan seberat ini menghadapi semua ini… melihatnya bersama Erlangga seperti tadi… aku benar-benar…”
“Saranghae… saranghae…” ponsel Daylan berdering menghentikan perkataannya untuk dirinya sendiri. Ia mengangkatnya. “Halo… aku ada di tempat rahasia di vila ini… Hmm, aku akan segera menyusul ke ruang makan… Aku baik-baik saja. Kau tak perlu khawatir! Aku kesana sekarang.” Daylan mengakhiri panggilan masuk dari Maura lalu beranjak keluar kamar menuju ruang makan.
Langkah Daylan terhenti tepat saat hampir memasuki ruang makan. Visualnya memaksa kedua ujung bibirnya tersenyum getir melihat Daniel dan Akira yang begitu menikmati sarapan mereka sembari tertawa dan mengobrol dengan elegan dan romantisnya.
“Day… ayo duduk di sini! Aku sudah menyiapkan tempat ini untukmu.” seru Maura menyadari kehadiran Daylan. Visual Daylan merunduk. Ia memasukkan tangan kanannya ke dalam saku celananya lalu berjalan pelan menuju kursi di samping Maura lalu menariknya dan duduk. “Kau baik-baik saja?” tanya Maura kemudian.
“Hmm.” Daylan meraih pisau dan garpu lalu memotong makanan di hadapannya.
“Kau tidak sedang baik-baik saja.” Ucap Maura yang masih memandang Daylan dalam. Daylan memasukkan makanan yang baru diirisnya tanpa menghiraukan ucapan Maura. Sedang Daniel dan Akira yang tadi bercengkrama riang pun turut terdiam mengunyah makanan mereka masing-masing. “Dari mana kau tadi?”
“Sudah ku bilang tempat rahasia.” Sahut Daylan malas.
Makanan di sendok Daniel tertahan pikirannya, “Apa yang bocah ini lakukan? Jangan bilang padaku dia ke tempat rahasia untuk menelpon istrinya atau semacamnya! Ah, itulah adik bodohku, Daylan untukmu….-
Akira merunduk membatin, “Dia kenapa? Tadi dia baik-baik saja sebelum aku pergi. Tunggu, mungkinkah itu karena…” Akira mengangkat kembali kepalanya memandang Daylan. “…dia melihatku dan Daniel…?”
“Hhhh…” Maura mendesah panjang. “Syukurlah jika kau baik-baik saja. Aku khawatir karena tadi kau langsung berlari bahkan sebelum aku menyudahi penjelasanku. Aku kira mungkin kau akan memberitahu Kak Erlangga, tapi karena aku ragu aku lalu menelponnya dan memberitahunya untuk datang ke kamar Akira.”
“Kau melakukan hal yang benar. Kau tahu benar aku tak akan peduli padanya, kan?” kesemuanya terkejut. Daniel menggenggam sendoknya erat menahan marah. “Aku sudah kenyang. Aku akan ke kamar sebentar.” Daylan pamit tanpa menghabiskan makanannya.
“Apa kau akan melarikan diri sekarang?”
Daylan menoleh berbalik. “Apa kau bercanda? Aku tak akan lari hanya untuk menghindari berhadapan dengan seseorang sepertimu…” Daylan terus berlalu setelah kalimatnya membuat semuanya terdiam.
“Bocah menyebalkan itu….”
“Ah, maaf untuk itu, Kak! Kau tahu benar bagaimana dia…” Maura mewakili minta maaf.
“Dia benar-benar tak pernah belajar…”
“Sudahlah! Dia memang seperti itu. Sekarang lebih baik kita habiskan makanan kita lalu bersiap untuk ke pantai bersama.”
“Apa kau yakin kita bisa pergi dengan keadaan Daylan yang seperti itu?”
__ADS_1
“Apa maksudmu? Dia baik-baik saja. Dia akan ikut. Tenang saja!”
“Hhhh, aku benar-benar tak mengerti bagaimana bisa kau jatuh cinta pada orang sepertinya…”
Maura tertawa. “Meski dia kadang bersikap menyebalkan, dia adalah laki-laki yang baertanggung jawab akan apa yang sudah ia katakan… maksudku ia tak akan mengingkari sesuatu setelah berjanji untuk melakukannya…”
“Kau benar-benar hebat untuk bertahan selama ini dan mengerti sebanyak ini tentangnya!”
Akira tersenyum paksa. –Ah, apa yang ku lakukan di sini?-
*******
“Wah, lautnya benar-benar indah!” Maura berseru girang sesaat setelah keluar dari mobil. Akira tersenyum menyeka rambutnya ke balik telinga dengan topi indah berhias bunga yang diberikan Daniel sebelum mereka berangkat. Ia berdiri tepat di samping pintu mobil yang masih terbuka dengan sambutan angin yang berhembus membelainya dan mengibarkan rok yang dipakainya. Daniel turut tersenyum sembari menyangga dagunya dengan kedua tangannya di atas pintu mobil yang juga terbuka. Sedang Daylan berdiri dengan tangan melipat bersandar di depan pintu mobil yang baru saja ditutupnya.
“Ayo kita bersenang-senang!” Maura berseru lalu lari ke arah laut riang. Daniel, Akira dan Daylan pun menyusul.
“Daylan kemarilah! Ombaknya benar-benar menyenangkan!” Maura berputar dengan senyum bahagianya saat kakinya menyentuh ombak.
Daylan mendekat. “Benarkah? Aku penasaran.” Maura tersenyum lalu mencipratkan air laut dengan dua tangannya ke arah Daylan. “Hey, apa yang kau lakukan? Bajuku bisa basah!”
“Itu justru aneh jika kau pergi ke laut dan tak membasahinya…”
“Kalau begitu, dari pada membasahi bajuku sendiri, aku lebih suka untuk…” Daylan tiba-tiba membalas cipratan Maura dengan tawa mengiringinya. “…membasahi bajumu…” keduanya begitu menikmati momen itu dengan tawa dan lari serta cipratan air bersama.
“Ini seperti nostalgia… kapan terakhir kita pergi ke pantai bersama?” ujar dan tanya Daniel yang tengah berjalan bersampingan dengan Akira.
“Ah, kau benar! Kapan, ya…?”
Keduanya tersenyum. “Pantai benar-benar menakjubkan…”
“Hati manusia lebih menakjubkan…”
“Hah? Bagaimana bisa?”
“Tak peduli seberapa buruk perasaan seseorang, ia dapat dengan segera lupa dengan penyebab semuanya saat hatinya mengijinkannya untuk merasa bahagia di detik dan hari selanjutnya. Bukankah itu luar biasa?”
“Hmm… sepanjang hati manusia mengijinkannya untuk merasa bahagia, mereka akan bahagia…”
“Hey Akira, lihatlah!” Daniel duduk berjongkok menunjuk seekor bintang laut ular.
Daniel mengeluarkan ponselnya. “Aku akan mengabadikannya…” cpret. Blitz dari ponselnya berkilau mangabadikan bintang laut ular yang mereka temukan. Daniel lalu menarik Akira menempel ke arahnya tanpa permisi. Cpret. Ia kembali mengabadikan sebuah momen bersama Akira yang bahkan tampak masih terkejut dalam gambar yang diambil tanpa aba-aba itu.
“Haah… hapus itu! Aku kelihatan jelek!”
“Heeeh… menurutku kau tetap cantik! Aku tak mau hanya menyimpan foto disaat kau siap dan cantik. Akan ku pastikan aku mengabadikan semua ekspresi wajahmu dalam memoriku…” Daniel tersenyum sembari memasukkan ponselnya kembali ke saku celananya. Akira turut tersenyum tersipu tanpa kata lebih untuk mencegah Daniel menyimpannya. Keduanya terus berjalan beriringan hingga beberapa saat kemudian.
Daniel tiba-tiba duduk di atas pasir. “Duduklah di sini!” pinta Daniel sembari menepuk-nepuk pasih di sebelahnya. Akira menyusul duduk. “Coba tekuk kakimu sedikit dan peluk seperti ini!” Daniel memperagakannya. Akira mengikuti instruksinya. “Sekarang lihatlah ke arah laut!” keduanya mengarahkan pandangannya ke laut. “Ini adalah posisi terbaik untuk menikmati indahnya laut…” tangan Daniel kemudian meraih kepala Akira dan menyandarkannya di bahunya. “Tapi posisi ini jauh lebih baik…” Akira menarik pandangannya menatap Daniel lalu tersenyum.
“Hmm… ini posisi yang jauh lebih baik…”
Maura terus berlari menghindari kejaran Daylan hingga tiba di dekat Akira dan Daniel. Ia berlindung di balik Daniel dan Akira. “Lindungi aku!” ujar Maura kemudian. Daylan berusaha mendekat meraih Maura yang masih terus bergerak ke kanan dan ke kiri menghindar di balik Akira dan Daniel.
“Hey, apa yang kalian lakukan?” timpal Daniel sambil tertawa kecil. Mata Daylan dan mata Akira bertemu. Namun, keduanya hanya tersenyum tanpa kata.
“Aku hanya akan menangkapnya, jadi serahkan saja dia!” jelas dan pinta Daylan singkat
“Tidak, jangan serahkan aku! Lindungi aku!”
“Seett…” tangan Daylan meraih pergelangan Maura.
-Ah, sial!- batin Maura. “Sseett…” tangan Daniel menahan tangan Daylan.
“Maaf Tuan, gadis ini tak mau ikut bersamamu, jadi tolong lepaskan dia!”
“Heehh… apa kau bercanda?!” Daylan menarik tangan Maura yang kemudian tumbang ke arahnya sedang Daniel yang juga turut menarik tangan Daylan juga membuat keseimbangan Daylan tiba-tiba meroboh ke arah yang sama dengan Maura.
“Hwaaaa….BUK…” Daylan dan Maura jatuh ke arah Daniel dan Akira yang juga turut jatuh bersama mereka. Mereka terjatuh tidur di atas pasir. Mereka mulai mengerjap lalu saling memandang dan tertawa.
“Aku tak menyangka double date bisa semenyenangkan ini!” ucap Daniel dalam tawanya.
“Wah, kita tak boleh melewatkan momen ini begitu saja! Kita harus mengabadikannya bersama!” Maura menyahut senang lalu beranjak duduk.
“Hah, maksudmu…” Akira berujar menebak.
Maura mengeluarkan ponsel. Cpret. Ia mengambil foto mereka. “Haaah… itu curang! Kita ambil foto bersama lagi!”
__ADS_1
“Cepret… cpret… cpret….” Cahaya blitzt terus menemani dua pasang kekasih yang tengah berpose ria mengabadikan hari mereka bersama dengan tawa bahagia.
******
“Wah, kita dapat ikan yang cukup besar untuk makan malam!” Maura berujar senang memegang ikan hasil tangkapan mereka setelah bermain di pantai tadi.
“Aku juga tak menyangka akan ada ikan sebesar ini yang tersangkut di pancing kita.” Akira menambahkan.
“Hey, Daylan! Tolong siapkan pemanggangan di luar! Mintalah Kak Erlangga mencari sedikit kayu di belakang! Kita akan pesta di area luar vila malam ini!” pinta Maura kemudian. Daylan hanya tersenyum mengiyakan lalu beranjak menemui Daniel dan menyiapkan pemanggangan.
“Wah, sepertinya kau benar-benar terbiasa dengan dapur ini! Apa kau selalu pergi ke sini saat liburan?”
“Mmmm, kadang-kadang…” Maura mulai memotong daging ikan tangkapan mereka. “Wah, sayang sekali! Sepertinya aku tak bisa membuat rendang di sini.”
“Hah, rendang?”
“Ya, rendang.”
“Kenapa kau ingin masak makanan seperti itu?”
“Apa maksudmu seperti itu? Aku bilang tak bisa masak karena itu sedikit rumit dan butuh waktu lama, jadi tak cocok untuk kita yang ingin cepat selesai dan kembali bersama-sama dengan orang yang kita inginkan…”
Akira tertawa. “Lalu kenapa kau ingin membuatnya?”
“Itu makanan favorit Daylan.”
“Hah…?” Akira tertegun diam. Ditatapnya Maura yang masih fokus memotong daging ikan di depannya. –Dia benar-benar tahu banyak tentang Daylan. Aku bahkan tak pernah menanyakan apa makanan yang paling dia sukai setelah ia mengajariku masak. Ia juga tak pernah mengatakan tentang apa yang dia suka dan tak suka padaku. Aku
tak tahu apapun tentangnya…- Akira membatin dengan seulas senyum tipis paksanya.
******
Daylan memandang bintang malam dari luar vila sendirian usai pesta bakar ikan hasil pancingan mereka. “Menikmati indahnya bintang di langit Jeju sendiri?” ucap sebuah suara yang tiba-tiba muncul tersusul pemiliknya. Daylan menoleh sejenak lalu kembali menatap bintang.
“Hhhh… apa yang kau lakukan di sini? Kau mengganggu imajinasiku.”
“Imajinasi? Kenapa imajinasimu itu menyedihkan sekali?”
“Apa maksudmu?”
“Hey Daylan, apa kau tak sadar apa yang kau lakukan itu keterlaluan?”
“Aku tak mau mendengarnya darimu.”
Sosok itu tertawa. “Aku mungkin bukan orang yang pantas mengatakannya. Tapi, harusnya kau sadar, aku tahu satu hal pasti yang kau sembunyikan dari Maura.”
Daylan tersentak. Ia mulai memahami alur bicara orang yang kini berdiri di sampinyanya. “Apa yang aku sembunyikan dari Maura?” Daylan masih berlaga tak mengerti.
“Maaf tak bisa datang di hari pentingmu! Tapi, terlepas dari itu, apa kau tak memikirkan perasaan wanita yang kau tinggalkan untuk Maura?”
“Berhentilah bicara! Aku makin tak mengerti apa maksudmu.” Daylan beranjak meninggalkan sosok itu.
“Kau belum memberitahu Maura bahwa kau sudah menikah, bukan?!” langkah kaki Daylan ia paksa melangkah meski berat. “Jika kau tak mau mendengarkanku aku yang akan memberitahunya sekarang!” ancam sosok itu yakin.
Langkah Daylan terhenti kesal. Tangan kanannya mengepal menahan luapan kekesalannya. “Ini bukan urusanmu. Berhenti mengganggu hidupku!” Daylan kembali melangkah.
“Baiklah, aku akan menelpon Maura dan mengatakannya!”
“Erlangga!” Daylan menjerit kesal lalu berbalik menatap Erlangga tajam.
“Kau bukan orang yang cukup bodoh untuk melakukan suatu kesalahan fatal. Bagaimana bisa kau melakukan ini?” mata Erlangga berkaca-kaca. Daylan terkesima tak menyangka. Apa yang sebenarnya ingin dikatakan kakak bodonya itu? “Aku tahu ini berat. Aku tahu kau sangat mencintainya… tapi, apa kau tak berpikir bagaimana perasaan istrimu jika dia mengetahui ini?! Dia akan sangat terluka. Bahkan Maura, apa yang kau rencanakan dengan tak memberitahunya? Ia bilang padaku bahwa ia berniat menikah denganmu. Dia berharap dan percaya padamu sebanyak itu, tapi apa yang kau lakukan?! Apa kau berencana menceraikan istrimu lalu menikah dengan Maura? Atau kau hanya mengulur waktu karena tak siap berpisah dengan Maura?”
_____________
Thanks my beloved readers. Please support Author by like, comment, vote, share, & favorite for notification update. See you next time on the next episode ^_^
Author don't own the picture.... Just hope you will be happier by it. it was taken from pinterest:)
Follow me on instagram : @nabilaubaidah
Oh ya, terima kasih banyak untuk para pembaca yang sudah memberikan dukugannya. Alhamdulillah cerita kesayangan kita ini resmi dikontrak -KISS & LOVE from Author- Nah, Supaya Author lebih semangat untuk menulis lebih dari satu chapter perminggu, teman-teman, tolong untuk terus berikan dukungan berupa like, comment, vote, share, & favorite untuk Couple in Love ini ya ^_^ Thanks a bunch Guys!
Love you,
Yurizhia Ninawa
__ADS_1